Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 142. Identitas Yang Di Ketahui


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, rombongan pasukan sudah mengepung kedai yang di singgahi oleh Xue Jian dan juga empat orang lainnya.


Seorang pemuda dan juga seorang pria tua dengan penuh wibawa juga bersama berjalan di depan di dampingi oleh beberapa orang yang menggunakan baju zirah lengkap.


Mata pemuda itu langsung menatap ke arah dimana Xue Jian berada.


Namun setelah pemuda itu melihat dan mencoba menelusuri setiap sudut kedai tersebut, dia tidak mendapatkan sosok yang dicarinya.


Pemuda itu langsung memanggil pelayan di kedai tersebut.


"Hei pelayan! Kesini kamu".


"I...iya tuan muda!". Sahut pelayan sambil berjalan mendekat ke arah Fu Zhi.


"Dimana orang - orang yang duduk di tempat itu?". Tanya Fu Zhi.


"Mereka baru saja meninggalkan kedai kami tuan muda". Jawab sang pelayan.


"Mereka berjalan kearah mana?". Tanya Fu Zhi lagi.


"Hamba tidak memperhatikannya tuan muda". Jawab sang pelayan lagi.


"Mereka mungkin berjalan menuju ke arah utara, sebab kita tidak bertemu dengan mereka saat berjalan menuju kesini". Ucap pria tua yang selalu mendampingi Fu Zhi.


"Ayo kita kejar mereka ke arah utara". Ucap ayah Fu Jian sambil berbalik dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kedai tersebut.


Rombongan mereka pun langsung bergerak ke arah utara untuk mengejar kelompok Xue Jian.


Kelompok Xue Jian sendiri kini sudah meninggalkan kota Ganyu sambil menunggang kuda mereka masing - masing.


"Tuan Muda! Mengapa kita meninggalkan kota itu?". Tanya salah satu tetua.


"Jika kita berlama - lama di kota itu, pasti kita akan menghadapi suatu masalah yang besar, sebab anak manja dan sombong tersebut, pasti tidak akan membiarkan kita hidup dengan tenang di dalam kota itu". Jawab Xue Jian.


"Itu akan lebih bagus buat kita, agar supaya kita bisa membuat kesombongan anak itu menjadi neraka bagi dirinya sendiri". Ucap tetua yang lain.


"Jika kita tidak memiliki tujuan dan juga jika ayahKu tidak memperingatkan diriKu untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat rencana kita menjadi berantakan, pasti aku sudah membunuhnya saat kita tadi berada di kedai itu". Ucap Xue Jian.


Saat sudah berada di luar tembok kota Ganyu, laju lari kuda mereka berlima kini sudah menurun.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ternyata rombongan pasukan penguasa kota Ganyu kini sudah dapat melihat mereka berlima dari ke jauhan saat melewati pintu gerbang kota.


"Itu mereka berlima, ayo kita kejar". Ucap Fu Zhi.


Rombongan mereka pun langsung melaju mengejar kelompok Xue Jian.


Mendengar derap kaki kuda yang mulai mendekat kearah mereka berlima, Xue Jian langsung menoleh ke belakang bersama dengan empat orang lainnya untuk memastikan rombongan siapa yang melaju dari arah belakang mereka.


Saat Xue menajamkan penglihatannya, dia langsung bisa mengenali seorang pemuda yang berada di depan sambil menunggang kuda.


"Ternyata mereka juga telah menyusul kita, apa yang harus kita lakukan?". Tanya seorang tetua.


"Kita tunggu saja apa maksud dan tujuan mereka, jika pertarungan sudah tidak bisa terelakkan, kita harus bertarung dan membunuh mereka". Ujar Xue Jian.


Akhirnya kelompok Xue Jian tersusul oleh rombongan pasukan yang di pimpin langsung oleh penguasa kota Ganyu, yaitu Fu Quon ayah dari Fu Zhi.


"Berhenti! Kalian sudah melakukan kesalahan di kotaKu, sehingga kalian tidak bisa meninggalkan kotaKu ini". Ucap penguasa kota.


Pasukan kota Ganyu langsung mengepung kelima orang tersebut.


"Mohon maaf sebelumnya, bukannya hamba ingin lancang, tetapi apakah saya boleh bertanya kepada anda?". Ucap Xue Jian dengan santai seperti situasi tersebut bukanlah menjadi masalah bagi dirinya.


"Apakah anda penguasa di kota Ganyu ini?". Tanya Xue Jian.


"Iya! Aku adalah penguasa kota Ganyu ini, dan kamu telah melakukan kesalahan di dalam kotaKu ini".


"Oh, seperti itu yah!? Apakah pemuda ini adalah putraMu?". Tanya Xue Jian.


"Iya! Dia adalah putraKu, dan kalian sudah bersikap tidak sopan terhadapnya serta sudah menghajar para pengawalnya juga".


"Hamba mohon maaf jika sudah lancang kepada penguasa kota, tetapi apakah kami terlihat seperti orang - orang yang suka mencari masalah dengan orang lain? Jika demikian, apakah kami akan menunggang kuda kami dan membiarkan kalian untuk bisa menyusul kami?". Ujar Xue Jian.


Mendengar perkataan Xue Jian, penguasa kota langsung terdiam dan berpikir sejenak.


"Benar juga apa yang pria ini katakan". Gumam Fu Quon di dalam hatinya.


Melihat sang penguasa kota sedang memikirkan apa yang dia katakan, Xue Jian langsung kembali bersuara.


"Tuan penguasa kota, segala sesuatu haruslah di pikirkan dengan matang dan bijaksana, agar tidak mudah untuk mendapatkan masalah dengan orang lain, tuan tanyakan sendiri kepada putra tuan dan juga pria tua yang di sampingnya itu, siapa sebenarnya yang membuat masalah di kedai tersebut". Ujar Xue Jian sambil tersenyum penuh kelicikan.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mempertimbangkan apa yang di katakan oleh Xue Jian, akhirnya Fu Quon langsung membiarkan mereka berlima melanjutkan perjalanan.


"Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang tuan - tuan alami di kota kami, jika memiliki waktu lagi untuk berkunjung di kota kami, jangan sungkan - sungkan untuk mampir di kediamanKu". Ucap Fu Quon sambil menangkupkan tangannya.


"Terima kasih atas kebaikan dari tuan, kami tidak akan melupakan undangan dari tuan jika kami kembali berkunjung di kota tuan ini". Ucap Xue Jian sambil juga menangkupkan tangannya yang di ikuti juga oleh empat orang lainnya.


"Kalau begitu, kami akan melanjutkan kembali perjalanan kami". Lanjut Xue Jian.


"Silahkan, semoga perjalanannya berjalan dengan lancar". Ujar Fu Quon.


Xue Jian dan yang lainnya langsung melanjutkan kembali perjalanan mereka.


Saat kelompok Xue Jian sudah tidak terlihat lagi, Fu Quon langsung menatap ke arah putranya tersebut dengan tatapan yang penuh emosi.


"Kamu hampir saja membuat kota kita mendapatkan masalah yang besar, kamu tahu siapa orang yang baru saja kamu ganggu itu?". Ucap Fu Quon.


"Aku tahu, dia adalah seorang pendekar raja tingkat puncak dan juga bersama dengan empat orang pendekar raja lainnya". Jawab Fu Zhi.


"Anak bodoh! Dia itu adalah putra ketua sekte Lembah Tengkorak Xue Lugu". Ujar Fu Quon.


"Ayo kita kembali dan mengirimkan pesan ke ibu kota kerajaan untuk memberitahukan pergerakan orang - orang sekte Lembah Tengkorak". Ucap Fu Quon sambil memacu kudanya untuk kembali memasuki kota Ganyu.


Setelah mendengar apa yang di katakan oleh ayahnya, Fu Zhi merasa belum yakin jika orang yang baru saja di ganggunya itu adalah putra dari ketua sekte aliran hitam, sebab sifat serta tingkah dari Xue Jian tidak sombong serta anarkis.


"Tuan muda! Mengapa penguasa kota itu tidak menyerang dan menangkap kita?". Tanya salah satu tetua.


"Aku melihat, sepertinya orang tua itu sudah mengenali diriKu, saat kita akan memasuki kota Ju, kita harus merubah penampilan kita dan juga harus di bagi menjadi dua kelompok agar kita tidak bisa di kenali oleh para prajurit yang berjaga di pintu gerbang mau pun yang berada di dalam kota, karena aku merasa orang tua itu pasti akan mengabarkan kepada penguasa kota Ju yang akan kita lewati". Ujar Xue Jian.


"Baik tuan muda!". Ucap ke empatnya secara bersama - sama.


Setelah menerima kabar dari penguasa kota Ganyu, para pasukan yang berada di kota Ju langsung di persiapkan oleh penguasa kota Ju untuk menyambut kedatangan Xue Jian.


Namun pasukan yang di siapkan bukanlah pasukan terbaik mereka, sebab para prajurit terbaik mereka telah di kirim untuk membantu pasukan yang berada di kota Mengyin yang sedang bertempur dengan pasukan dari kerajaan Lu.


Pasukan dari kota Ju kini sudah bersiap untuk menyerang ke lima orang tersebut secara gerilya.


Para prajurit pemanah sudah menyebar di atas pepohonan yang berjejer di sepanjang jalan yang menuju ke arah kota Ju.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2