
Setelah semua mendengar nama baru dari sekte mereka, wajah semuanya langsung berubah menjadi ceria.
"Ternyata pelindung sangat bijaksana dalam memilih naga baru dari sekte kita ini, aku sangat senang mendengarnya dan sangat menyetujui nama baru itu". Ujar leluhur Yao Fan.
Semua yang hadir di ruangan tersebut juga menyetujui dengan nama baru dari sekte mereka yang di pilih oleh Ma Guang itu.
"Sekte Naga Surgawi terdengar sangat elegan dan penuh dengan makna intimidasi bagi setiap pendekar yang berada di wilayah kekaisaran ini mendengarnya". Tutur patriak Yao Fan.
"Jadi kapan kita mulai bergerak untuk menuju ke tempat yang baru itu!?". Tanya salah satu leluhur agung.
"Kita akan bergerak menuju kesana melalui udara". Tutur Ma Guang.
"Gagaimana bisa kita melakukan hal itu!?". Tanya patriak yang merasa bingung dengan ide yang Ma Guang kemukakan.
"Aku sendiri yang akan melakukan hal itu!". Ujar Ma Guang.
"Orang - orang yang akan aku antarkan kesana terlebih dahulu adalah para leluhur dan juga nona Yuan Jiali, karena mereka sudah memiliki kemampuan pendekar suci tingkat puncak".
"Hal itu aku lakukan karena, di tempat yang akan kita tuju nanti adalah tempat yang sangat berbahaya bagi para pendekar yang memiliki kemampuan ilmu bela diri di tingkat yang rendah, sebab disana banyak hewan buas serta para siluman yang sudah berusia ratusan mau pun yang sudah berusia ribuan tahun".
Mereka yang berada di ruangan itu langsung terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh Ma Guang.
"Jadi itulah alasan mengapa Ma Guang mengatakan tempat itu akan sulit untuk di temukan oleh para pendekar yang berada di wilayah kekaisaran Zhou ini. Ternyata seperti itu situasinya". Gumam patriak Yao Han di dalam hatinya sambil menganggukkan kepalanya.
"Besok saya berharap para leluhur sudah mempersiapkan diri untuk segera berangkat kesana". Tutur Ma Guang sambil menatap ke arah para leluhur.
Semua leluhur saling berpandangan satu dengan yang lain sambil menyetujui apa yang Ma Guang katakan itu.
"Setelah itu, aku akan membawa para murid yang memiliki kemampuan serta keahlian untuk membangun sebuah bangunan sementara serta membuat benteng pertahanan di sekte kita yang baru itu, agar bisa mencegah para hewan buas serta para siluman untuk bisa memasuki area sekte kita". Lanjut Ma Guang lagi.
"Tetapi jika itu siluman, mereka tetap bisa memasuki area sekte kita walau pun sudah memiliki tembok pembatas". Ujar seorang leluhur.
"Hal itu akan menjadi urusanKu pribadi, karena aku yang akan mencegah sehingga hal itu tidak terjadi". Jawab Ma Guang.
"Setelah para murid dan juga para tetua sudah aku antarkan kesana, barulah patriak, tetua agung, tetua penegak hukum akan aku antarkan kesana". Tutup Ma Guang.
Setelah selasai, akhirnya semua yang hadir di tempat itu pun langsung membubarkan diri.
Yuan Jiali langsung memasuki kamar yang pernah di tempati olehnya untuk beristirahat.
Sedangkan Ma Guang menyusul patriak Yao Han kekediamannya untuk memberikan tombak yang telah dia janjikan.
__ADS_1
Setelah tiba di kediaman patriak Yao Han, Ma Guang langsung di biarkan masuk oleh murid yang berjaga.
Pemuda itu langsung melangkahkan kakinya memasuki kediaman yang megah itu.
Saat sudah sampai di aula kediaman, patriak langsung menyambutnya.
Sebuah tombak sudah berada di tangan Ma Guang.
Namun berbeda dengan pedang milik Yuan Jiali, tomabak tersebut tidak memancarkan aura intimidasi dari dalam batang tombak tersebut.
Hal itu karena Ma Guang telah merancangnya agar tidak bisa di ketahui oleh orang lain jika tombak itu adalah senjata pusaka tingkat langit.
Dan benar saja, patriak pun seakan tidak percaya dengan tingkat kualitas dari tombak tersebut, sebab tidak ada aura intimidasi yang keluar dari senjata itu.
Melihat sikap patriak, Ma Guang langsung mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh pria tua itu.
"Sepertinya patriak tidak merasa yakin dengan kualitas dari tombak ini".
"Memang tombak ini sangat berbeda dengan pedang milik nona Yuan, hal itu karena, jika aku tidak membuat aura tombak ini tidak merembes keluar, maka hal itu akan berdampak buruk bagi para murid yang baru menjadi seorang pendekar raja kebawa".
"Mereka akan terluka para hingga meninggal karena menerima aura intimidasi dari tombak ini".
"Patriak pun tidak akan bisa bertahan jika sedang berada di jarak yang dekat seperti sekarang ini".
"Sudahlah! Itu adalah hal yang wajar, sebab patriak sudah pernah melihat senjata dengan tingkatan yang sama".
"Baiklah! Saat ini patriak harus meneteskan beberapa tetes darah untuk melakukan kontrak darah dengan tombak ini, agar patriak sudah bisa untuk memegang serta menggunakannya, jika hal itu tidak di lakukan, tubuh patriak bisa hancur saat menyentuh tombak ini". Ujar Ma Guang.
"Apa!? Sehebat itukah tombak ini!?". Gumam patriak.
"Iya! Memang sehebat itu tombak ini". Ucap Ma Guang dengan serius.
Akhirnya patriak melakukan apa yang di katakan oleh Ma Guang.
Saat darahnya telah menetes ke batang tombak itu, suara mendengung yang berasal dari tombak itu langsung terdengar.
Tidak lama kemudian, sinar terang langsung memancar keluar dari seluruh batang tombak.
Patriak yang melihat hal itu langsung merasa takjub.
Setelah itu, Ma Guang pun langsung menyerahkan tombak itu kepada patriak.
__ADS_1
Saat pria tua itu memegang tombak tersebut, sebuah energi yang sangat kuat merembet keluar dari tombak itu dan memasuki tubuh patriak.
Akhirnya tombak itu kini terasa sangat ringan untuk di genggam.
"Guang'er! Terima kasih atas pemberianMu ini, aku akan menjaga dan menggunakannya sebaik mungkin". Ucap Patriak dengan sangat bersyukur.
Setelah itu, Ma Guang pun langsung pamit undur diri untuk kembali ke kediaman miliknya.
Setelah tiba di kediaman miliknya, Ma Guang langsung bermeditasi dan mulai mencari suatu teknik di dalam pikirannya agar bisa membawa orang - orang dalam jumlah yang banyak hanya dengan sekali perjalanan.
Pemuda itu tidak bisa menemukan teknik lain selain teknik formasi segel yang berbentuk seperti sebuah bola yang besar untuk mengurung puluhan orang di dalamnya agar bisa dibawanya dengan cara terbang.
Akhirnya pemuda itu keluar ke pekarangannya untuk mempraktekkan teknik formasi segel itu.
Setelah hari menjelang pagi, akhirnya Ma Guang sudah bisa menguasai teknik tersebut dengan sempurna.
Pemuda itu langsung meraih sebutir pil dari dalam cincin ruang miliknya untuk mengembalikan energi Qi miliknya yang terkuras banyak saat berlatih teknik formasi segel itu.
Setelah selesai menyerap esensi dari pil tersebut, Ma Guang langsung membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya.
Saat dirinya baru saja ingin pergi dari kediamannya, Yuan Jiali langsung menyapanya.
"Pagi - pagi begini, gege mau pergi kemana!?". Tanya Yuan Jiali dengan panggilan yang kini sudah berbeda dari sebelumnya.
Walau pun usia Yuan Jiali lebih tua sedikit dari Ma Guang, tetapi dia memilih panggilan itu terhadap Ma Guang.
"Li'er! Aku akan pergi ke kediaman paman Duan untuk melihat perkembangan dari nona Duan". Jawab Ma Guang dengan jujur.
"Oh, kalau begitu aku ikut juga bersamaMu". Ucap Yuan Jiali.
"Baiklah, ayo kita jalan". Ujar Ma Guang.
Mereka berdua langsung bergegas menuju ke kediaman keluarga Duan.
Setelah tiba di tempat yang di tuju, keduanya langsung di sambut oleh Duan Jun dan juga Tjia Annchi.
Ma Guang langsung teringat akan pernikahan dari Duan Jun dan juga Tjia Annchi.
"Kakak Jun! Apakah kalian berdua sudah menikah!?". Tanya Ma Guang penasaran.
"Iya! Kami berdua baru seminggu yang lalu melakukan pernikahan". Jawab Tjia Annchi.
__ADS_1
"Kalau begitu aku minta maaf karena tidak bisa menghadiri upacara pernikahan kalian, tetapi aku akan tetap memberikan hadiah kepada kalian berdua". Ucap Ma Guang.
~Bersambung~