
Saat matahari baru saja mulai menyinari alam. Terlihat suatu rombongan sedang melakukan perjalanan untuk menuju ke arah selatan.
Rombongan itu terdiri dari empat orang yang sudah berusia paru baya, seorang pria yang berusia 40-an tahun, seorang pria yang baru berusia 20 tahun, dua orang wanita muda, seorang wanita yang berusia mendekati 40- an tahun dan juga seorang bayi laki - laki yang berada di pelukannya.
Tiga orang wanita dan seorang bayi laki - laki berada di dalam kereta kuda.
Sedangkan Yuan Gao menjadi kusirnya.
Ma Guang dan juga ketiga Su bersaudara melakukan perjalanan dengan menunggang kuda mereka masing - masing.
Sembilan koin emas dan hasil pertanian berada di gerobak di belakang kereta kuda yang di tempati para wanita.
Yang menjadi kusir untuk gerobak itu adalah Su Tian.
Su Pang yang adalah Kakak tertua Su Tian dan Su zheng yang adalah kakak kedua Su Tian berjalan di belakang gerobak yang membawa harta benda mereka.
Sedangkan Ma Guang dan Su Cen yang adalah kakak ketiga Su Tian, berjalan memimpin di depan kereta kuda.
Saat memasuki desa yang pernah mereka lewati. Akhirnya mereka mampir sebentar untuk membeli makanan sebagai bekal mereka di tengah perjalanan.
Situasi desa itu kini sudah di jaga oleh prajurit kerajaan Qi. Sehingga di saat Ma Guang dan juga rombongannya memasuki desa, prajurit yang memeriksa mereka langsung membiarkan mereka melanjutkan perjalanan saat Ma Guang menunjukan tanda pengenal dari sekte Bambu Kuning.
Beberapa orang yang berada di lantai dasar penginapan tersebut langsung menatap penuh selidik kearah Ma Guang dan juga seorang pria tua yang bersamanya.
Setelah makanan dan minuman serta arak yang di pesan oleh Ma Guang sudah siap. Mereka berdua langsung membawanya dan meninggalkan penginapan sekaligus rumah makan tersebut.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah beberapa hari mereka melakukan perjalanan melewati beberapa desa, menyeberangi sungai, akhirnya mereka memasuki kota Lu.
Rombongan Ma Guang bermaksud untuk melewati kota tersebut. Namun karena informasi yang cepat sampai ke telinga penguasa kota Lu, yaitu Gongshu Ban. Sehingga penguasa kota tersebut langsung menyusul rombongan Ma Guang dan meminta mereka untuk mampir ke istanahnya.
Ma Guang dan juga lainnya tidak bisa menolak undangan pria tersebut. Mereka akhirnya langsung bergerak menuju kediaman penguasa kota.
Saat mendapatkan jamuan yang sangat spesial untuk mereka, Ma Guang mulai menceritakan tujuan mereka untuk menuju ke kota Yingqiu.
Mendengar apa yang Ma Guang rencanakan, Gongshu Ban langsung menghibahkan suatu lokasi di dalam kota Lu untuk bisa di jadikan cabang pavilium yang akan mereka buat.
Ma Guang langsung menyambut tawaran itu dengan sangat gembira.
"Terima kasih atas kebaikan hati tuan Gongshu!." Ucap Ma Guang sambil memberikan hormat.
"Kalau begitu! Kita akan membangun terlebih dahulu bangunan pavilium dan juga panti asuhan di kota ini." Ucap Ma Guang.
Satu bulan kemudian, akhirnya pembangunan yang mereka kerjakan telah selesai.
Ma Guang langsung menunjuk Su Zheng dan juga Su Tian untuk mengelola cabang pavilium di kota itu.
Dengan meninggalkan dua kantong besar koin emas sebagai modal awal mereka.
Akhirnya mereka melanjutkan kembali perjalanan ke kota Yingqiu.
__ADS_1
Situasi di setiap desa yang mereka lewati begitu tenang, seakan tidak ada gangguan sedikit pun di setiap desa yang mereka lewati.
Akhirnya mereka memasuki kota Chingli.
Saat baru memasuki gerbang kota, mereka melewati pemeriksaan dari prajurit penjaga pintu gerbang kota.
Rombongan Ma Guang juga mengantri di belakang rombongan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya giliran rombongan Ma Guang akan mendapatkan pemeriksaan.
Ma Guang langsung menunjukan tanda pengenal sekte Bambu Kuning kepada prajurit yang memeriksanya.
Setelah melihat tanda pengenal yang di tunjukkan oleh Ma Guang, akhirnya rombongan mereka di persilahkan untuk memasuki kota Chingli.
Setelah memasuki kota Chingli, Ma Guang juga berniat untuk membuka cabang paviliun dan juga panti asuhan yang akan didirikannya.
Su Pang dan Su Cen di berikan tanggung jawab untuk mengurus cabang paviliun di kota tersebut.
Tiga kantong koin emas di berikan kepada kedua orang tua itu untuk membangun bangunan cabang paviliun dan bangunan untuk panti asuhan, serta sebagai modal untuk merekrut pendekar - pendekar yang ingin bekerja di paviliun tersebut.
Ma Guang sudah tidak ingin berlama - lama lagi di kota Chingli. Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke kota Yingqiu.
Setelah beberapa jam melakukan perjalanan, akhirnya mereka memasuki suatu desa.
Rombongan Ma Guang mampir di suatu kedai yang sederhana.
Ma Guang seperti biasa menempati meja yang berada di sudut ruangan.
Tiga orang tersebut masing - masing membawa pedang, golok dan juga tombak.
Ketiga pendekar tersebut terus memperhatikan Ma Guang dan yang lainnya.
Setelah pesanan mereka sudah tersaji, mereka langsung menyantapnya.
Saat mereka sedang bercakap - cakap sambil menikmati makanan yang berada di depan mereka, Yuan Gao memanggil nama Ma Guang dan dapat di dengar oleh ketiga pendekar tersebut.
"Apakah kamu mendengar pria itu memanggil pemuda yang duduk di sampingnya?." Tanya pendekar yang membawa golok di belakangnya.
"Iya! Aku juga mendengarnya!." Jawab pendekar yang membawa tombak.
"Apakah pemuda itu yang kita cari?." Tanya pendekar itu lagi.
"Aku akan pergi untuk memastikannya!." Ucap pendekar yang membawa pedang.
Kedua rekannya menganggukkan kepala mereka seakan menyetujui apa yang di ucapkan oleh rekan mereka.
Pendekar yang membawa pedang tersebut langsung mendekati meja Ma Guang.
"Mohon maaf sebelumnya karena aku mengganggu makan siang kalian. Tetapi apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepada pemuda ini?." Tanya pendekar tersebut dengan ramah.
"Tidak apa - apa! Apa yang ingin tuan tanyakan?." Ucap Ma Guang.
__ADS_1
"Apakah anda yang bernama Ma Guang?." Tanya pendekar tersebut.
"Iya! Aku adalah Ma Guang dari sekte Bambu Kuning!." Ucap Ma Guang.
"Oh, ternyata anda memang benar adalah Ma Guang yang kami cari!." Ucap pendekar itu lagi.
"Kenapa kalian mencariKu? Apakah ada hal yang bisa aku bantu?." Ucap Ma Guang.
"Ada! Kamu harus mengikuti kami ke kerajaan Chu!." Ucap pria tersebut.
"Untuk apa aku mengikuti kalian untuk menuju ke kota Danyang? Apakah aku memiliki urusan disana?." Tanya Ma Guang.
Mendengar apa yang di katakan oleh pendekar tersebut. Yuan Gao, Sim Lan, Yuan Jiali serta Xia Jiao merasa terkejut.
"Siapa sebenarnya pria ini? Apakah dia sama halnya dengan lima orang pendekar yang menyerang kami waktu lalu?." Gumam Xia Jiao dalam hatinya.
"Jika kamu ingin selamat, saya harap kamu mengikuti kami bertiga secara baik - baik." Ucap pendekar itu lagi.
Bagaimana jika aku tidak mau mengikuti kalian, apa yang akan kalian lakukan?."
"Jika kamu tidak mau mengikuti kami, maka kami akan bertindak tidak sopan kepada diriMu dan juga bagi orang - orang yang bersamaMu." Ucap pendekar itu lagi.
"Oh, jadi seperti itu yah!?". Ucap Ma Guang.
"Apakah kalian bisa untuk memaksa diriKu?." Lanjutnya lagi.
"Anak muda! Sepertinya diriMu sangat percaya diri untuk menghadapi kami." Ucap pendekar itu lagi.
"Baiklah! Silahkan kalian lakukan apa yang menurut kalian itu benar untuk di lakukan." Ucap Ma Guang.
"Jika kamu menginginkan hal itu, jangan salahkan kami jika diriMu dan juga yang lainnya terluka." Ucap pendekar itu sambil memberi isyarat kepada kedua orang lainnya.
Kedua pendekar yang adalah rekannya langsung melesat mendekati meja yang Ma Guang dan yang lainnya berada.
"Serang mereka!." Teriak salah satu dari mereka.
Pendekar yang membawa golok langsung menebas Ma Guang dengan goloknya.
Ma Guang dan juga yang lainnya langsung menghindari serangat tersebut.
Blaaarrr
Bunyi meja yang kini sudah hancur berserahkan.
Serangan tombak juga langsung menyusul serangan pedang tersebut.
Ma Guang masih bisa menghindari serangan tersebut dengan tenang.
Tiga buah senjata terus menggempur Ma Guang.
~Bersambung~
__ADS_1