Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 435. Menerima Permohonan Hao Dong


__ADS_3

Ketiganya diundang oleh penguasa kota Quwo untuk beristirahan di kediamannya.


Mereka pun kini mulai berbincang - bincang di ruangan khusus penguasa kota.


"Tuan Hao! Jika ingin jujur, sebetulnya kami tidak ingin lagi untuk mencampuri urusan duniawi seperti itu, sebab Yang Mulia Ma Guang telah memerintahkan kami untuk menutup diri dari dunia luar".


"Sekte kami akan campur tangan jika gangguan yang ada itu disebabkan oleh kekuatan yang datang dari luar dunia kita".


"Jika sekte kita turun tangan hanya dengan situasi sepele ini, bagaimana nantinya jika datang saat dimana kami semua akan pergi meninggalkan dunia manusia ini karena sudah waktunya untuk naik ke alam surgawi!?".


"Pasti kalian akan merasa lebih sulit lagi, sebab kalian sudah terlalu bergantung kepada sekte kami".


Jiangjun menjelaskan alasan mengapa sekte Naga Surgawi tidak lagi mau campur tangan untuk menangani permasalahan yang terjadi di wilayah kekaisaran Zhou.


Akan tetapi Jiangjun juga tidak mengetahui mengapa Ma Guang yang saat ini sudah memiliki tingkat kultivasi sebagai seorang Raja Dewa belum juga di tarik naik ke dunia surgawi.


Padahal, seseorang yang sudah memiliki kekuatan sebagai dewa sejati atau kekuatan di tingkat dewa biasa saja, pasti akan di tarik ke dunia surgawi.


"Jenderal Jiangjun, tetapi situasi yang terjadi di wilayah kekaisaran Zhou saat ini sudah di luar kemampuan kami".


"Seluruh murid dari setiap sekte serta perguruan ilmu bela diri telah di sewa untuk membantu menyelesaikan permasalahan ini".


"Akan tetapi banyak juga dari mereka yang terluka saat melawan setiap kelompok para perampok".


"Sekuat apa para murid dari sekte serta perguruan ilmu bela diri itu?". Tanya Jiangjun.


"Mereka masih berada di tingkat pendekar Suci yang di pimpin oleh seorang pendekar langit".


"Ada juga sekelompok pendekar langit yang datang untuk membantu".


"Tetapi mereka juga di kalahkan oleh kelompok perampok tersebut".


Jiangjun langsung mengerti situasi serta tingkat kultivasi para perampok.


"Bagaimana tanggapan patriark dan para tetua sekte serta para Ketua perguruan ilmu bela diri?".


"Mereka juga jumlahnya hanya sedikit, sehingga tidak bisa membantu seluruh desa dan kota yang di serang oleh kelompok perampok".


"Jadi menurutMu pergerakan mereka di lakukan secara serentak?".


"Bisa dikatakan seperti itu". Jawab Hao Dong dengan penuh keyakinan.


"Siapa mereka? Apakah mereka murid dari salah satu sekte di wilayah kekaisaran Zhou ini? Ataukah mereka berasal dari luar wilayah kekaisaran Zhou!?".


Jiangjun terus berpikir tentang apa yang baru saja dia dengar dari Hao Dong.


"Bagaimana Paman? Apa yang harus kita lakukan?". Tanya Ma Tian Shen.


"MenurutKu, kita cari dan habisi saja mereka, agar supaya kita bisa menikmati lagi perjalanan kita". Ucap Hong Yilan menimpali.


"Penguasa Putri, di dunia ini memiliki aturan yang tidak boleh seenaknya kita langgar".


"Oleh karena itu, kita tidak boleh juga seenaknya membunuh". Jiangjun menasehati Hong Yilan.

__ADS_1


"Iya, tetapi perjalanan kita saat ini sudah terganggu oleh masalah yang mereka hadapi".


"Menyebalkan!". Tutup Hong Yilan dengan nada ketus.


"Penguasa Putri, Mohon maafkan kami jika kami sudah melakukan kesalahan kepada kalian".


"Sudahlah Bibi Hong, aku akan menangkap para perampok itu".


"Sepertinya ini akan menyenangkan".


"Bibi harus mencobanya juga, anggap saja saat ini kita sedang main petak umpet".


"Bagaimana menurut Bibi?".


"Ok, aku akan mencobanya, kalian tunggulah aku, pasti kalian tidak akan merasa sakit di saat tubuh dan jiwa kalian berpisah".


Hao Dong merasa ngeri saat mendengar perkataan Hong Yilan.


"Gadis ini terlihat sangat cantik, tetapi ternyata dia juga bisa melakukan tindakan yang kejam". Pikir seorang komandan pasukan yang saat itu sedang berdiri di dalam ruangan tersebut.


"Tuan, terima kasih atas pujiannya".


"Tetapi kata - kata terakhirMu itu akan ku buktikan jika nanti aku bertemu dengan para perampok itu".


"Ataukah kamu ingin menjadi orang yang pertama merasakan kekejamanKu?". Ujar Hong Yilan sambil menatap kearah komandan itu.


"Ampun Penguasa Putri, hamba tidak bermaksud untuk menyinggung Penguasa Putri!". Kata - kata yang keluar dari sang komandan sambil bersujud.


"Jangan pernah berpikir yang tidak - tidak di hadapan kami, karena kami bisa mengetahui isi hati kalian".


"Baik jenderal, aku pasti tidak akan melakukan hal itu lagi". Ucap sang komandan setelah mendengar perkataan Jiangjun.


"Kira - kira kapan para perampok itu bertindak?". Lanjut Jiangjun bertanya kepada Hao Dong.


"Mereka selalu melakukan hal itu saat malam hari". Jawab Hao Dong.


"Kalau begitu, kita akan menunggu mereka saat malam tiba, jadi untuk saat ini kami terlebih dahulu akan pergi menikmati suasana di kota ini". Tutup Jiangjun sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Iya, aku setuju dengan ide Paman itu". Ucap Ma Tian Shen menanggapi perkataan Jiangjun.


"Terima kasih karena telah bersedia untuk membantu kami". Ucap Hao Dong.


Dalam sekejab, tiga orang tersebut kini sudah menghilang dari hadapan mereka.


Pakaian sang komandan pun kini telah di basahi oleh keringatnya sendiri karena merasa takut.


"Benar - benar seorang dewa". Gumam Hao Dong.


Mereka bertiga pun kembali menikmati suasana kota Quwo dengan berjalan kaki.


Seorang pemuda dengan menggunakan pakaian yang terlihat terbuat dari bahan yang sangat mahal menatap ke arah seorang gadis.


"Siapa gadis itu? Apakah ini bidadari dari khayangan yang diturunkan untuk menjadi milikKu!?". Pikir pemuda itu sambil menatap ke arah Hong Yilan.

__ADS_1


Karena merasa tidak tahan dengan kecantikan Hong Yilan, pemuda itu pun segera mendekati ketiganya.


"Hai Nona! Apakah ada yang bisa saya bantu?". Kata yang keluar dari mulut pemuda itu sekedar basa - basi.


"Apa yang bisa kamu bantu?".


"Penguasa kota saja memohon bantuan kepada kami, bagaimana mungkin kamu bisa membantu kami jika kami dalam kesulitan!?". Hong Yilan menanggapi kata - kata sang pemuda.


"Penguasa kota meminta bantuan kepada kalian?". Pemuda itu balik bertanya ingin kejelasan.


"Iya! Kenapa? Apakah kamu pikir kami membutuhkan bantuanMu!? Pergi sana! Saat ini kami tidak ingin di ganggu". Ujar Ma Tian Shen.


"Bukan seperti itu maksudKu, aku bisa membantu untuk memandu kalian ke tempat - tempat yang indah di kota ini". Balas pemuda itu.


"Perkenalkan, namaKu adalah Feng Qi, aku adalah putra keluarga terpandang di kota ini". Ucap pemuda itu dengan penuh rasa percaya diri.


"Oh, jadi seperti itu!? Tetapi maaf tuan muda yang terpandang di kota ini, kami benar - benar tidak membutuhkan bantuan dari siapa pun, termasuk diriMu!". Tutur Hong Yilan dengan nada suara yang sedikit menekan.


"Nona! Bisakah kamu memberiKu sedikit waktu untuk bisa mengenali diriMu?". Tanya Feng Qi tanpa rasa malu sedikit pun.


"Hei, apakah kamu sudah merasa bosan untuk hidup?".


"Besar juga nyaliMu sehingga berani mengganggu Bibi Hong!?".


"Apakah kamu saat ini ingin mati?".


Kata - kata yang keluar dari mulut Ma Tian Shen menanggapi sikap pemuda itu.


"Maaf tuan muda, aku berharap kamu segera menjauh dari jalan kami". Ucap Jiangjun dengan dingin sambil melangkah maju dan membuat tubuh pemuda itu bergerak ke samping.


Setelah Jiangjun melangkah maju, Hong Yilan dan juga Ma Tian Shen pun melangkah maju mengikuti Jiangjun.


Pemuda itu hanya bisa terdiam saat melihat sikap tiga orang tersebut.


"Siapa mereka? Mengapa mereka tidak menghargaiKu meskipun aku sudah memberitahukan siapa aku!?". Gumam pemuda itu di dalam hatinya di saat tiga orang tersebut telah menjauh.


"Jangan pikir aku akan menyerah hanya dengan sikap dingin kalian, aku akan terus berusaha untuk mendekati bidadariKu". Tutur Feng Qi sambil melangkahkan kakinya untuk menyusul ketiga orang tersebut.


"Paman! Rupanya pemuda itu akan sangat mengganggu, apa yang harus kita lakukan?". Tanya Ma Tian Shen karena telah mengetahui bahwa pemuda itu sedang mengikuti mereka.


"Sebaiknya kita segera berjalan kearah gang itu kemudian menghilang dari pandangannya". Jawab Jiangjun.


"Baik!". Jawab keduanya sambil mengikuti Jiangjun dari belakang.


Saat mereka sudah sampai di sebuah gang yang sunyi, ketiganya pun segera melesat dengan cepat untuk pergi dari tempat itu.


Pemuda itu pun mengikuti mereka dari belakang.


Disaat dirinya tiba di gang itu, dia tidak mendapati tiga orang yang dia buntuti.


"Sial, kemana perginya ketiga orang itu? Bagaimana mungki mereka dengan cepat bisa menghilang!?".


Pertanyaan yang muncul dibenak Feng Qi.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2