
"Apakah orang tua itu tidak mengetahui bahwa keluarga bangsawan Su sudah tiada di kota Ji?." Ucap salah satu pendekar yang menjaga pintu masuk desa tersebut.
"Guru! Kelihatannya mereka sangat mengenal keluarga bangsawan Su. Sehingga mereka tidak banyak bertanya lagi dan langsung membiarkan kita masuk." Ucap Ma Guang.
"Siapa yang tidak mengetahui peristiwa kehancuran keluarga kami beberapa puluh tahun yang lalu? Tentunya jika melihat dari usia mereka. Pasti mereka sudah mengetahui dengan baik hal itu." Ucap Su Tian.
Setelah keempat sosok itu sudah tidak terlihat lagi, akhirnya salah satu dari mereka melaporkan kabar tersebut kepada penanggung jawab keamanan desa tersebut.
"Tuan! Tadi baru saja seorang tua dan juga tiga orang yang masih muda telah memasuki desa ini." Ucap sang penjaga pintu masuk desa.
"Terus kenapa? Apakah ada yang istimewa dari mereka?."
"Mungkin tidak terlalu istimewa tuan, namun hal ini juga harus aku sampaikan."
"Orang tua itu menunjukan tanda pengenal dari keluarga Su!."
"Apa!? Tanda pengenal dari keluarga Su? Awasi setiap gerak - gerik mereka, dan harus selalu mengabarkannya kepadaKu." Ucap pria tua itu.
"Baik tuan!." Ucap pendekar itu lalu berjalan meninggalkan pemimpin mereka.
"Bagaimana mungkin masih ada anggota keluarga Su yang masih tersisa? Menurut pengamatan kami, semua anggota keluarga Su sudah di basmi oleh anggota sekte Seribu Racun sampai ke akar - akarnya." Gumam pemimpin keamanan desa tersebut.
Akhirnya pria itu memanggil salah satu pendekar yang selalu ada di sampingnya dan menyuruh untuk menyampaikan hal itu kepada pimpinan klan Jiulong.
Rombongan Ma Guang terus melanjutkan perjalanan mereka hingga tiba di pinggiran sungai, dan untuk menyeberanginya, harus menggunakan kapal.
Mereka berempat langsung membeli tiket dan menaiki kapal yang akan berangkat.
Setelah sudah penuh, akhirnya kapal yang mereka tumpangi pun mulai melakukan pelayaran untuk menyeberangi sungai tersebut.
Pendekar yang di perintah oleh pemimpin keamanan desa, dia juga naik kapal yang sama dengan rombongan Ma Guang.
Pendekar itu terus mengawasi gerak - gerik rombongan Ma Guang.
Setelah satu jam kemudian, akhirnya mereka tiba di seberang sungai tersebut.
Ma Guang dan juga tiga orang lainnya langsung menuruni kapal tersebut. Seorang pemuda yang juga menaiki kapal yang sama. Terus memperhatikan Xia Jiao. Pemuda itu merasa tertarik dengan gadis tersebut.
Kereta kuda mewah dan juga beberapa pengawal sudah berada di dermaga untuk menunggu seseorang.
Ma Guang dan tiga orang lainnya langsung berjalan memasuki kota yang berada di depan mereka, yaitu kota Guangping.
Saat baru mau meninggalkan dermaga, seorang pemuda langsung menyapa rombongan Ma Guang.
"Kakek! Apakah akan pergi ke kota Guangping? Ataukah masih akan lanjut ke kota selanjutnya?." Tanya pemuda tersebut.
"Kami akan menuju ke kota Ji!." Jawab Su Tian.
"Oh, jadi kalian akan menuju ke kota Ji? Kalau begitu, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama?." Ucap pemuda tersebut.
"Maaf tuan muda! Biar saja kami melakukan perjalanan sendiri, karena jika kita melakukan perjalanan bersama, itu akan memperlambat perjalanan tuan muda." Balas Su Tian lagi.
"Begini kakek, jika melakukan perjalanan bersama, tentu saja kakek dan juga tiga orang lainnya akan naik kereta bersama denganKu." Ucap pemuda itu lagi.
__ADS_1
"Bagaimana Guang'er! Apakah kita akan melakukan perjalanan bersama dengan tuan muda tersebut?." Tanya Su Tian kepada Ma Guang.
"Iya guru! Agar supaya nona Xia dan juga nona Yuan bisa duduk dengan nyaman di dalam kereta kuda tersebut. Perjalanan dengan berjalan kaki akan membuat mereka berdua merasa lelah." Ucap Ma Guang.
"Baiklah tuan muda! Kami akan melakukan perjalanan bersama denganMu." Ucap Su Tian.
Pemuda tersebut langsung tersenyum saat mendengar Su Tian menerima tawarannya.
"Baiklah nona - nona sekalian, mari silahkan naik ke kereta kuda bersama dengan kakek." Ucap pemuda tersebut.
Sedangkan Ma Guang langsung di berikan seekor kuda untuk di tungganginya.
Xia Jiao dan juga Yuan Jiali dengan merasa terpaksa naik kedalam kereta kuda tersebut.
"Perkenalkan, aku Yun Yelu!." Ucap pemuda itu menatap kearah Xia Jiao dan juga Yuan Jiali.
"Aku Xia Jiao!."
"Aku Yuan Jiali!."
"Nona Xia! Nona Yuan! Apakah kalian tidak bersaudarah?." Tanya pemuda itu.
"Iya! Tetapi kami sudah seperti bersaudarah." Ucap Xia Jiao.
"Kakek! Apakah apa yang mereka katakan itu benar?." Tanya pemuda itu lagi.
"Iya tuan muda, mereka tidak bersaudarah, tetapi mereka sudah seperti saudarah." Ucap Su Tian.
"Dia adalah Ma Guang! Berasal dari sekte Bambu Kuning!." Ucap Su Tian.
"Apa! Ma Guang!? Pendekar muda yang sudah menjadi pendekar suci itu!?." Ucap pemuda itu tersentak.
"Cerita itu terlalu di besar - besarkan!." Ucap Su Tian.
"Tetapi saat ini sekte Bambu Kuning sudah menjadi sekte yang terkuat dengan memiliki belasan pendekar suci dan itu semua di sebabkan oleh Ma Guang." Ucap pemuda itu lagi.
"Tuan muda! Tetapi saya berharap, anda akan tetap merahasiakan keberadaannya." Ucap Su Tian.
"Baik kakek! Aku akan merahasiakannya." Ucap pemuda itu.
Akhirnya rombongan mereka memasuki kota Guanping dan berhenti di sebuah rumah makan yang terlihat megah.
Rombongan mereka langsung di sambut dengan ramah oleh pelayan dan juga pemilik rumah makan tersebut.
Hal itu disebabkan karena panji yang berada di kereta kuda milik Yun Yelu sangat di kenal di wilayah kerajaan Yan.
Keluarga bangsawan Yun adalah salah satu pilar kekuatan kerajaan Yan bersama dengan klan Jiulong dan juga dua keluarga bangsawan lainnya.
Klan Jiulong sendiri bukan asli dari wilayah kerajaan Yan, melainkan berasal dari kerajaan Chu.
"Silahkan tuan muda Yun!." Ucap sang pemilik rumah makan tersebut sambil mengantarkan rombongan mereka ke ruangan yang berada di tingkat kedua bangunan rumah makan tersebut.
Rombongan mereka berjalan mengikuti dari belakang sang pemilik rumah makan tersebut.
__ADS_1
Yun Yelu di dampingi komandan pasukan pengawalannya dan juga dua orang pengawal lainnya.
Dan yang duduk di meja makan hanya Yun Yelu, Ma Guang, Su Tian, Xia Jiao, Yuan Jiali dan juga komandan pengawalan Yun Yelu.
Sedangkan kedua pengawal lainnya hanya berdiri berjaga di belakang Yun Yelu.
Yun Yelu sendiri duduk di sebelah Xia Jiao.
Pemuda itu melayani Xia Jiao.
Xia Jiao sendiri merasa risih dengan tingkah yang di tunjukan Yun Yelu.
"Maaf tuan muda, biar aku saja yang melayani sendiriKu sendiri." Ucap Xia Jiao.
"Tidak apa - apa nona Xia, biarkan aku yang melayani diriMu." Ucap Yun Yelu sambil tersenyum ramah.
Sang komandan yang melihat Xia Jiao seperti menolak kebaikan tuan mudanya langsung angkat suara.
"Nona! Tuan muda Yun selama ini tidak pernah berbaik hati kepada gadis mana pun. Jadi tolong untuk menghargainya." Ucap sang komandan.
"Sikap baik seseorang juga tidak bisa di paksakan kepada seseorang yang tidak ingin menerimanya." Ucap Ma Guang.
"Lancang! Siapa yang memberiMu kesempatan untuk berbicara?." Ucap sang komandan.
"Komandan Jun Zun! Jaga mulutMu! Kamu harus melihat dengan mataMu." Ucap Yun Yelu menatap marah kepada komandan pengawalannya.
"Hamba mohon maaf tuan muda, tetapi pemuda ini telah lancang untuk berkata - kata di hadapanMu." Ucap sang komandan.
"Baiklah kalau begitu! Sepertinya aku tidak bisa bersama - sama lagi dengan rombongan kalian." Ucap Ma Guang sambil berdiri dan meninggalkan meja makan tersebut.
Melihat apa yang di lakukan oleh Ma Guang. Su Tian, Xia Jiao dan Yuan Jiali langsung berdiri dan mengikutinya.
"Berhenti! Kalian begitu lancang bertindak sembarangan di muka tuan muda!." Ucap komandan Jun Zun.
"Komandan Jun Zun! Kamu telah menyinggung orang yang salah. Dia itu adalah Ma Guang dari sekte Bambu Kuning." Ucap Yun Yelu.
"Apa!? Jadi pemuda itu adalah Ma Guang!." Ucap komandan dengan wajah yang berubah menjadi pucat pasi.
Rombongan Ma Guang langsung duduk di salah satu meja yang kosong dan langsung memesan makanan untuk mereka.
Yun Yelu terus menatap kearah Xia Jiao, namun gadis itu tetap tidak memperhatikannya.
Xia Jiao dan juga Yuan Jiali melayani Ma Guang.
"Komandan Jun Zun! Cepat pikirkan apa yang harus kita lakukan untuk mendapatkan nona Xia Jiao." Tanya Yun Yelu.
"Tuan muda! Bagaimana jika kita menjebak Ma Guang dengan meracuninya, agar tuan muda bisa bebas untuk memiliki nona Xia." Ucap komandan.
Siapa orang yang akan meracuninya dan bagaimana caranya?." Tanya Yun Yelu.
Sang komandan langsung memanggil salah satu pengawal dan memerintahkannya untuk mempersiapkan jebakan kepada rombongan Ma Guang.
~Bersambung~
__ADS_1