
Jiangjun tidak bisa berbuat apa - apa lagi dengan apa yang Ma Tian Shen lakukan. Begitu juga dengan Hong Yilan.
Namun di sisi lain Hong Yilan sangat setuju dengan apa yang ponakannya lakukan.
Sebab dirinya juga ingin bebas dan tidak suka dengan adanya batasan aturan dari orang lain untuk hidupnya.
Wanita itu hanya menghormati aturan dari kedua orang tuanya serta kedua kakaknya.
Dengan senyum yang mengembang Hong Yilan pun berjalan di samping ponakannya dan diikuti oleh Jiangjun dari belakang.
Seorang prajurit segera menunggang seekor kuda dan melaporkan hal itu kepada penguasa kota Quwo.
Sedangkan ketiganya tidak ingin di kawal atau pun diikuti oleh para prajurit, sebab Ma Tian Shen serta Hong Yilan ingin menikmati suasana di kota itu tanpa ada rasa hormat dari para penduduk maupun para pendatang di kota itu.
***
Di gerbang Balai Kota, seorang penjaga langsung menghentikan prajurit yang ingin melaporkan kedatangan tiga orang yang baru saja memasuki kota mereka.
"Mengapa kamu terburu - buru?". Tanya sang penjaga gerbang balai kota.
"Ada hal yang sangat penting yang harus aku laporkan". Jawab sang prajurit.
"Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan?". Tanya penjaga itu lagi.
"Biarkan aku masuk, jika aku terlambat menyampaikan berita ini dan mereka sudah tidak bisa di temukan di kota kita ini, kamu harus bertangjung jawab". Ucap sang prajurit mengingatkan kepada penjaga yang menghentikannya.
Mendengar perkataan sang prajurit, penjaga itupun menyuruhnya untuk menunggu.
Penjaga itu kemudian memasuki aula utama balai kota dan melaporkan kepada penguasa kota.
"Hamba menghadap!".
"Ada hal penting apa?". Tanya sang penguasa kota.
"Ada seorang prajurit penjaga gerbang utara kota yang ingin menyampaikan berita penting kepada Penguasa". Jawab penjaga tersebut.
"Suruh dia masuk". Perintah sang penguasa kota.
Penjaga itupun segera berbalik dan menuju ke gerbang balai kota.
"Silahkan masuk". Ucap sang penjaga gerbang balai kota kepada penjaga gerbang utara kota.
Prajurit itupun dengan cepat masuk dan langsung berlutut memberi hormat kepada penguasa kota.
"Apa yang ingin kamu sampaikan?". Tanya penguasa kota dengan santai, seperti setiap berita yang selalu di terima olehnya adalah laporan yang biasa saja.
"Tuan, tadi kami baru saja bertemu dengan Jenderal Jiangjun yang sedang mengawal putra dan adik Dewa Ma Guang". Ucap sang prajurit.
"Apa...!? Apa yang baru saja kamu katakan?". Ucap sang penguasa kota dengan sangat terkejut.
Prajurit itupun kembali menyampaikan apa yang baru saja dia sampaikan.
"Apa benar berita yang kamu sampaikan itu?". Tanya penguasa kota Quwo.
"Iya tuan!". Jawab prajurit itu lagi.
__ADS_1
"Dimana mereka saat ini?". Tanya sang penguasa kota.
"Mereka sedang menikmati suasana di kota kita ini".
"Apakah ada yang mengikuti mereka?".
"Kami tidak diijinkan untuk mengikuti mereka".
"Karena kami takut untuk menyinggung mereka, sehingga kami juga melakukan apa yang di katakan oleh putra Dewa Ma".
"Kalau begitu, aku akan menyusul untuk bertemu dengan mereka".
Sang penguasa kota Quwo segera bangkit dari kursi kebesarannya dan segera berjalan keluar dari balai kota dan di ikuti oleh prajurit tersebut.
Rombongan penguasa kota segera pergi menuju ke arah yang menurut mereka akan di lalui oleh Jiangjun dan dua orang lainnya.
***
Ma Tian Shen yang melihat sebuah pertunjukan seni bela diri berhenti sejenak untuk melihat pertunjukan tersebut.
Tidak lama kemudian, tanpa di duga, remaja itupun melesat naik ke panggung.
Seorang pendekar yang berdiri di atas panggung pun di kejutkan dengan kehadiran sosok remaja di depannya yang muncul dengan tiba - tiba.
Pria itu tidak tahu bagaimana caranya sehingga remaja itu bisa ada di depannya.
"Hei, ilmu bela diriMu itu masihlah sangat rendah, mengapa kamu mempertontonkan hal seperti itu di muka umum?".
"Apakah kamu merasa lebih hebat dari yang lain?". Tanya Ma Tian Shen.
Pria yang berada di atas panggung itu belum sempat menjawab pertanyaan tersebut, namun kini remaja yang berdiri di depannya itu sudah hilang lagi dari pandangannya.
Jiangjun segera mengajak keduanya untuk menjauh dari tempat itu.
Bukan hanya pria yang berdiri di atas panggung, melainkan semua mata yang sempat menyaksikan hal itu dibuat terkejut juga.
"Siapa sosok yang baru saja berdiri di atas panggung!?".
"Siapa remaja yang baru saja muncul di atas panggung itu!?".
Kata - kata yang keluar dari mulut setiap orang yang melihat kejadian itu berdasarkan sudut pandang mereka.
"Penguasa Muda, apa yang baru saja anda lakukan itu akan mendatangkan kesulitan bagi kita".
"Sebaiknya Penguasa Muda tidak melakukannya lagi". Jiangjun mengingatkan.
"Dengan kemampuanKu dan juga kemampuan Bibi Hong saat ini serta di dampingi oleh paman Jiangjun, aku pikir kita tidak akan mendapatkan kesulitan". Balas Ma Tian Shen.
Tanpa mereka bertiga sadari, kejadian itu kini mulai tersebar di kota Quwo.
"Sepertinya di kota kita ini kedatangan seorang pendekar yang sangat hebat, kita harus mencari keberadaannya agar bisa membantu kita untuk membasmi para perampok yang selalu meresahkan kita".
Akhirnya mereka bertiga memasuki salah satu restoran yang termewa di kota itu.
Ketiganya duduk di salah satu meja yang terletak di sudut ruangan.
__ADS_1
Hal itu untuk mencegah agar tidak menjadi pusat perhatian.
Namun karena para pendekar langit yang di sewa oleh penguasa kota untuk mengawasi dan untuk menjaga keamanan kota sudah mengetahui ciri - ciri ketiganya, sehingga mereka bisa mengenalinya dan melaporkan hal itu kepada penguasa kota.
Penguasa kota yang mendapatkan berita itu segera menuju ke restoran dimana Ma Tian Shen berada.
Pria berusia 50 tahun itu pun langsung di sambut oleh seorang pendekar langut nda mengantarkannya ke meja dimana orang yang mereka cari itu berada.
"Hamba memberi hotmat kepada Penguasa Muda!".
"Hamba memberi hormat kepada Penguasa Putri!".
"Hamba memberi hormat kepada jenderal Jiangjun!". Ucap penguasa kota sambil bersujud.
"Akhirnya kesulitan itu datang juga". Gumam Jiangjun di dalam hatinya.
"Siapa kamu? Mengapa kamu bersujud kepada kami!?". Kata - kata yang keluar dari mulut Ma Tian Shen.
Tindakan sang penguasa kota menarik perhatian seluruh pengunjung restoran tersebut.
Sesaat mereka bingung dengan apa yang di lakukan oleh penguasa kota.
Akan tetapi setelah sedikit berpikir, mereka pun kini menyadari mengapa penguasa kota melakukan hal tersebut.
Itu karena nama Jiangjun telah disebutkan oleh penguasa kota.
Semuanya pun langsung bersujud dan memberi hormat kepada ketiga orang itu.
Ma Tian Shen yang melihat sikap semua orang di restoran itu menjadi semakin bingung.
"Nama hamba Hao Dong, hamba adalah penguasa di kota Quwo ini". Jawab pria yang bersujud didepan Ma Tian Shen.
"Mengapa kalian seperti ini? Cepat berdiri". Ucap remaja itu.
"Terima kasih Penguasa Muda!". Ucap mereka serentak.
"Penguasa Muda! Hal inilah yang aku maksudkan". Ucap Jiangjun mengingatkan.
"Maksud Paman!?". Tanya Ma Tian Shen.
"Inilah awal kesulitan yang akan kita hadapi". Jawab Jiangjun.
Keduanya berkomunikasi dengan kekuatan spiritual, sehingga tidak di ketahui oleh orang lain.
"Apa yang kalian inginkan?". Tanya remaja itu lagi.
"Kami memohon bantuan dari Penguasa Muda, Penguasa Putri dan juga jenderal Jiangjun untuk memberantas para perampok yang selalu meresahkan warga kotaKu ini". Jawab penguasa kota.
"Siapa mereka? Dimana mereka berada?". Tanya Ma Tian Shen.
"Kami tidak mengetahuinya".
"Itulah mengapa kami meminta bantuan kepada Penguasa Muda dan yang lainnya untuk bisa menemukan dan menangkap mereka".
"Oh, jadi seperti itu yah!? Baiklah, aku akan membantu kalian untuk menangkap perampok itu". Jawaban yang diberikan oleh Ma Tian Shen.
__ADS_1
~Bersambung~