
Di kursi utama di aula sekte Teratai Hitam, Gu Rong duduk dengan penuh wibawah.
Pria tua itu pun segera bertanya kepada Kha Gui.
"Mengapa kalian tidak bisa menerobos untuk menjadi seorang pendekar dewa?".
"Kendala apa yang kalian temui?". Lanjut Gu Rong.
"Leluhur, kami saat ini tidak bisa mengetahui cara untuk menerobosnya".
"Kenapa bisa seperti itu?".
"Sangat memalukan!". Bentak Gu Rong.
"Leluhur, saat sekte kami di serang, usiaKu pada saat itu baru 17 tahun, dan tingkat kultivasiKu masih sebagai pendekar Petapa tingkat menengah".
"Anggota sekte kami di bantai oleh sekte Pedang Seribu dan hanya tersisa diriKu sendiri".
"Saat itu, selama Sepuluh tahun barulah aku kembali lagi mengunjungi markas ini".
"Dengan susah payah, akhirnya aku bisa membangunnya kembali sampai seperti saat sekarang ini".
Kha Gui menjelaskan bagaimana perjuangannya untuk kembali membesarkan kembali sekte Teratai Hitam serta membangkitkan para leluhur sektenya itu.
"Rupanya seperti itu ceritanya, baiklah, aku tidak akan lagi merasa kecewa kepadaMu".
"Sepertinya jika kekuatan tertinggi para pendekar dari sekte aliran putih di benua ini hanya setingkat pendekar Dewa Surgawi, aku bisa menjungkir balikkan markas dari setiap sekte mereka". Tutur Gu Rong.
"Namun saat ini kita belum bisa melakukannya, sebab kita terlebih dahulu harus memulihkan kekuatan kita". Lanjut Gu Rong.
"Ayah, menurutKu kita harus meningkatkan kultivasi para murid ini".
"Hal itu agar mereka bisa membantu setiap rencana - rencana kita".
"Lan'er, mereka itu membutuhkan sumber daya agar bisa meningkatkan tingkat kultivasi mereka".
"Jadi, untuk saat ini, kita harus memasuki dunia kecil untuk mendapatkan hal tersebut".
"Baik ayah, bagaimana jika aku saja yang melakukannya!?". Ucap Gu Lan.
"Pergilah, bawah juga beberapa tetua bersamaMu". Lanjut Gu Rong.
Gu Lan pun segera meninggalkan tempat tersebut dan diikuti oleh beberapa tetua yang juga adalah patriark dan juga para petinggi sekte sebelumnya dan sesudah Tan Lai.
Karena Gu Rong adalah patriark yang juga sebagai pendiri sekte tersebut, sehingga yang lainnya hanya menjadi sebagai tetua saja.
Sedangkan Kha Gui kini di posisi murid senior.
"Aku akan meningkatkan seluruh kemampuan kalian, semuanya harus memiliki kultivasi sebagai seorang pendekar dewa".
"Jika tidak, sekte kita ini tidak akan ada gunanya di hadapan kekuatan sekte aliran putih di benua tengah yang bisa mengalahkan pasukan makhluk surgawi".
Mendengar perkataan Gu Rong, semua anggota sekte Teratai Hitam segera bersorak.
"Setelah meningkatkan kekuatan kalian, aku akan menugaskan kalian untuk mempelajari kekuatan semua sekte aliran putih yang berada di lima benua".
__ADS_1
"Jika ada pendekar sekte yang memiliki kekuatan dewa sejati, kita harus berhati - hati, karena aku tidak ingin lagi kegagalan yang dulu pernah aku rasakan akan kembali terjadi".
***
Setelah pertarungan tingkat dewa terjadi, situasi di wilayah lima benua kini masih terlihat biasa - biasa saja.
Tidak ada pergerakan - pergerakan yang menyolok yang dilakukan oleh sekte aliran hitam maupun sekte aliran putih.
Sekte - sekte aliran putih maupun sekte - sekte aliran hitam yang berada di wilayah benua Utara dan juga benua yang lain terus meningkatkan kekuatan mereka.
Tidak terkecuali dengan sekte Naga Surgawi.
Setelah beberapa tahun kemudian, kini tingkat kultivasi Ma Guang sudah berada di tingkat Raja Dewa puncak.
Sedangkan Xia Jiao, Yuan Jiali serta Duan Meng kini berada di tingkat Dewa Bumi puncak.
Kini usia Ma Tian Shen sudah 15 Tahun dengan tingkat kultivasinya yang telah menerobos menjadi Pendekar Dewa Agung dan telah bersiap untuk menerobos menjadi Dewa sejati.
Di usia yang sudah remaja itu, Ma Tian Shen mulai merasa bosan dengan kehidupannya selama ini.
Sebab dirinya belum mengetahui bagaimana situasi kehidupan di dunia manusia.
Karena pada saat itu mereka sudah tinggal di dunia kecil yang berada di sekte Naga Surgawi, sehingga Ma Guang juga berada di tempat tersebut.
"Ayah, kapan aku bisa melihat - lihat dunia manusia?". Tanya Ma Tian Shen.
Apakah kamu sudah menutupi aura tubuh Dewa Naga SurgawiMu itu?". Ma Guang balik bertanya.
"Iya ayah". Jawab Ma Tian Shen dengan penuh percaya diri.
"Ajak jenderal Jiangjun untuk mendampingiMu". Tutup Ma Guang.
Mendengar ayahnya telah memberikan ijin, Ma Tian Shen dengan penuh semangat segera melesat ke tempat dimana Jiangjun berada.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi remaja itu untuk bisa tiba di tempat Jiangjun.
"Hormat kepada Penguasa Muda". Ucap Jiangjun menyambut kedatangan remaja itu.
"Sudahlah Paman, tidak perlu berbasa - basi lagi, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Paman".
"Apa itu?". Tanya Jiangjun penasaran.
"Aku akan keluar dari dunia kecil ini dan ingin melihat - lihat bagaimana kehidupan manusia di luar sana".
"Apakah Penguasa telah memberi ijin untuk hal itu?". Tanya Jiangjun.
"Iya, AyahKu telah mengijinkan dan Pamanlah yang akan menemaniKu".
"Jadi maksud kedatangan Penguasa Muda kesini, untuk memberitahukan bahwa aku akan mendampingi Penguasa Muda di luar sana!?".
"Iya Paman".
"Tetapi Paman harus ingat, jika sudah berada di luar sana, Paman tidak perlu lagi memanggilKu dengan sebutan Penguasa Muda, sebab itu terdengar terlalu melebih - lebihkan".
"Baik Penguasa Muda".
__ADS_1
Didalam hati, pikiran dan perasaan Jiangjun kini merasa antara percaya dan tidak percaya dengan apa yang bara saja dia dengar.
"Sejak kapan anak ini bisa berpikir seperti itu?".
"Mungkin saja Penguasa Putri yang telah mengajarkan hal itu kepadaNya".
Melihat Jiangjun yang masih terdiam, Ma Tian Shen pun segera berkata.
"Paman! Apa lagi yang sedang Paman pikirkan? Ayo kita pergi untuk menghadap ayahKu". Ajak Ma Tian Shen.
Saat keduanya terbang menuju kediaman Ma Guang, Hong Yilan melihat keduanya.
"Ada apa dengan ponakanKu itu?".
"Mengapa mereka berdua terlihat tergesa - gesa menuju ke kediaman Guang gege?".
Karena merasa penasaran, akhirnya Hong Yilan pun segera pergi menyusul keduanya.
Saat keduanya tiba di depan pintu gerbang kediaman Ma Guang, mereka di kejutkan dengan kehadiran Hong Mogui.
"Hormat kepada Penguasa Putri". Ucap Jiangjun menyambut kedatangan Hong Yilan.
"Bibi Hong, kenapa aku baru melihatMu? Apa yang selama ini kamu lakukan?". Tanya Tian Shen.
"Aku saat ini sudah merasa bosan berdiam terus di dalam dunia kecil ini".
"KehidupanKu hampir di habiskan untuk berkultivasi".
"Setelah sudah menerobos menjadi Pendekar Dewa Agung, entah apa lagi yang akan ayahMu perintahkan kepadaKu".
"Aku sudah lelah dengan semua ini, aku ingin meminta ijin kepadanya agar bisa keluar dan bisa mengunjungi ibu dan ayahKu". Tutup Hong Yilan.
"Bibi Hong, aku sudah di ijinkan oleh ayah untuk melihat - lihat dunia luar, Bibi mintalah ijin dari ayah, pasti ayah akan segera mengabulkannya".
"Apa benar yang kamu katakan itu?".
"Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk meminta ijin darinya". Pikir Hong Yilan sambil melangkah maju mendahului Tian Shen dan juga Jiangjun.
Sang jenderal Naga hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Hong Yilan yang masih belum berubah.
Keduanya pun segera melangkah mengikuti Hong Yilan dari belakang.
Setelah memasuki kediaman Ma Guang, mereka bertiga langsung di sambut oleh Ma Guang.
Hong Yilan saat bertemu dengan Ma Guang segera berlari dan memeluk kakaknya tersebut.
Xia Jiao, Duan Meng serta Yuan Jiali hanya bisa tersenyum melihat tingkah Hong Yilan yang masih tetap bermanja - manja kepada Ma Guang.
"Guang gege! Aku juga ingin keluar dari dunia kecil ini, aku ingin mengunjungi ibu dan ayahKu". Ucap Hong Yilan dengan manja.
"Ayah, aku sudah membawa Paman, kapan aku bisa berangkat?". Tanya Tian Shen.
"Sudah - sudah, ayo kita duduk". Ajak Ma Guang kepada ketiga sosok yang baru saja tiba itu.
~Bersambung~
__ADS_1