
Ma Guang dan juga tiga orang lainnya sedang melatih prajurit serta lima orang komandan pemimpin 100 prajurit.
Sedangkan Ma Guang dan juga tiga orang lainnya berlatih juga cara bertempur dengan menunggang kuda dan mengunakan tombak serta menggunakan pedang.
Satu bulan telah berlalu, bangunan paviliun dan juga bangunan panti sudah selesai di kerjakan.
Tetua Sim Lan langsung mengirimkan surat kepada Su Tian dan juga Kakak tertuanya untuk datang ke ibu kota kerajaan dalam rangka untuk menghadiri peresmian paviliun dan juga panti.
Ma Guang langsung menyampaikan nama untuk paviliun dan juga panti yang mereka dirikan.
"Nama untuk paviliun ini adalah Paviliun Bunga Bakung dan juga yayasan Putra Ma untuk nama panti!." Ucap Ma Guang dengan tegas.
Tetua Sim Lan langsung mencari seorang tukang untuk membuat papan nama bagi paviliun dan juga bagi panti. Dan juga sekalian membuat tanda pengenal yang terbuat dari emas bagi pemimpin paviliun pusat dan cabang. Ada sembilan tanda pengenal yang terbuat dari emas dengan nama masing - masing pemegang tanda pengenal tersebut di tulis di sisi yang bersebelahan dengan tulisan nama paviliun.
Sedangkan untuk anggota biasa hanya terbuat dari besi dan perunggu sesuai dengan jabatan yang akan di berikan.
Raja Qi Guan Zhong sendiri yang meresmikan paviliun dan juga panti tersebut.
Kemeriahan di kedua gedung itu berlangsung dengan lancar dan tanpa ada gangguan sedikit pun.
Akhirnya keempat Su bersaudara langsung kembali ke kota mereka masing - masing untuk meresmikan juga cabang paviliun dan panti yang mereka tangani. Dan itu di resmikan juga oleh penguasa kota setempat serta di hadiri juga oleh para bangsawan yang ada di kedua kota tempat cabang paviliun dan panti berada.
Sedangkan Ma Guang kini sudah kembali melakukan aktivitasnya dalam berlatih cara bertempur dan melatih para prajurit ilmu bela diri kepada mereka.
Setelah dua bulan berlalu, akhirnya pasukan Ma Guang langsung menguji kemampuan mereka dengan pasukan yang lain.
Baik bertempur dengan menunggang kuda, bertarung dengan menggunakan tombak, bertarung dengan menggunakan pedang dan juga bertarung dengan tangan kosong. Semua prajurit yang di pimpin oleh Ma Guang memenangkan pertarungan tersebut.
Raja langsung tersenyum saat melihat pencapaian prajurit yang di pimpin oleh Ma Guang.
__ADS_1
"Ternyata pemuda ini mampu membuat kekuatan prajurit - prajurit Ku bertambah kuat. Hal inilah yang selalu menjadi harapanKu, agar pasukan dari kerajaan lain tidak bisa menganggap remeh kekuatan tempur para prajuritKu." Gumam sang raja.
Acara itu akhirnya selesai dan senyum kebanggaan dari pasukan yang di pimpin oleh Ma Guang sangat terlihat di wajah mereka masing - masing.
Hal itu di sebabkan karena prajurit yang mengikuti uji tanding dengan prajurit yang lain dari pasukan kerajaan tersebut adalah prajurit yang paling lemah di antara pasukan yang Ma Guang miliki.
Sedangkan prajurit yang menjadi lawan - lawan mereka adalah prajurit yang terbaik di antara pasukan yang di pimpin oleh jenderal - jenderal besar kerajaan Qi.
"Apa yang baru saja kita alami bukanlah hal yang perlu kita banggakan, karena hal ini belum pertempuran yang sesungguhnya. Jadi kita harus tetap berlatih untuk terus meningkatkan kemampuan bertempur kita." Ucap Ma Guang kepada seluruh pasukannya.
Setelah merayakan kemenangan dalam uji tanding, Ma Guang lalu mengumpulkan lima orang komandan pasukan seratus untuk berdiskusi dengannya tentang kepemimpinan dalam suatu pasukan yang akan mereka pimpin.
Hal itu di sebabkan karena Ma Guang belum memiliki pengalaman yang matang dalam memimpin sebuah pasukan untuk berperang. Sehingga dirinya ingin mendengarkan setiap masukan serta pengalaman yang di alami oleh lima orang komandan yang menjadi bawahannya saat ini.
"Jenderal Ma! Di dalam pertempuran yang pernah kami alami, pada awalnya kita harus memiliki keberanian dan disiplin yang tinggi untuk menghadapi setiap musuh yang ada di depan kita, jika tidak memiliki keberanian, tentunya kita akan mengalami kekalahan sebelum kita berperang. Dan walau pun kita sudah memiliki keberanian, tetapi jika kita tidak disiplin dalam melakukan setiap formasi yang telah kita latih selama ini, hal itu juga akan membuat pasukan kita membuka celah kepada lawan dan akan menjadi kelemahan kita." Ucap seorang komandan yang paling senior diantara lima orang tersebut.
Ma Guang hanya menganggukkan kepalanya menanggapi penjelasan dari salah seorang komandan seratus yang menjadi bawahannya.
"Kekuatan seperti apa yang anda maksudkan itu?." Tanya Ma Guang.
"Kekuatan itu adalah jumlah pasukan musuh, kekuatan fisik musuh, perlengkapan perang musuh, strategi perang musuh, perbekalan musuh, serta formasi perang musuh. Itu yang saya maksudkan." Ucap komandan itu lagi.
"Biasanya strategi dan formasi seperti apa yang sering di gunakan saat berperang?." Tanya Ma Guang lagi.
"Jika berbicara strategi. Hal itu harus di lihat dari situasi medan serta posisi kita berada. Sebab di saat kita di serang dan juga di saat kita menyerang, tentunya kita akan memperhitungkan akan kekuatan lawan yang akan kita hadapi, sehingga strateginya juga akan selalu berbeda untuk kita gunakan agar kita bisa memenangkan pertempuran yang akan kita hadapi." Ucap sang komandan.
"Jika berbicara formasi. Hal itu bisa kita gunakan saat kita melakukan peperangan secara terbuka dan saling menunjukkan kekuatan pasukan masing - masing. Dan hal itulah yang selalu kita latih selama ini." Lanjut sang komandan.
"Hal yang mana?." Tanya Ma Guang penasaran.
__ADS_1
"Seperti saat kita menggunakan perisai dan berjalan rapat sambil memegang tombak dan mengarahkan mata tombak kedepan secara bersama - sama. Hal itu agar pasukan musuh tidak bisa untuk menghancurkan pertahanan kita dan agar kita bisa mematahkan juga serangan dari pasukan berkuda musuh." Ucap sang komandan.
Kelima komandan pasukan seratus tersebut, masing - masing mulai menceritakan setiap pengalaman mereka dalam menghadapi pertempuran. Serta mereka juga memberikan masukan kepada Ma Guang tentang situasi yang mereka hadapi dan hal apa yang mereka lakukan di tengah - tengah pertempuran berlangsung.
Setelah mendengar setiap masukan serta pengalaman dari lima orang komandan itu, akhirnya Ma Guang sudah mulai bisa memahami hal - hal yang harus dia lakukan untuk prajurit yang dia pimpin.
"Oh, jadi seperti itu gambaran singkatnya! Baiklah kalau begitu! Mulai besok, saya akan meningkatkan kedisiplinan kalian sebagai komandan pasukan dan juga kedisiplinan para prajurit kita. Siapa pun yang tidak mengikuti aturan yang akan aku terapkan dalam melakukan latihan, maka orang tersebut akan di hukum."
"Aku juga akan melatih kalian untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan fisik, kecepatan dan ketepatan serangan dalam menghabisi musuh serta membentuk formasi yang kuat dan juga efektif dalam melakukan serangan. Serta tetap melatih kemampuan ilmu bela diri kalian secara individu sesuai dengan cara pertempur seorang prajurit." Ucap Ma Guang dengan nada suara yang penuh wibawa.
Mendengar apa yang di ucapkan oleh Ma Guang, para komandan pasukan seratus yang ada, langsung memberi hormat dan langsung menyetujuinya. Dan setelah itu mereka langsung membubarkan diri untuk kembali ke tempat mereka masing - masing.
Malam itu, Ma Guang terus memikirkan setiap masukan serta pengalaman dari ke lima komandan pasukan seratus.
Akhirnya pemuda itu menemukan cara untuk melatih kekuatan serta ketahanan fisik prajuritnya. Juga untuk melatih kekuatan serta pertahanan formasi yang nantinya mereka gunakan saat bertempur dan formasi itu juga bisa di gunakan untuk menyerang serta bisa menghancurkan pertahanan lawan.
"Aku harus melatih setiap prajurit serta komandan yang ada, agar bisa menjadi pasukan yang bisa di andalkan dan di banggakan bagi kerajaan Qi." Gumam Ma Guang dalam hatinya.
"Nona Xia! Nona Yuan! Paman Yuan! Kalian juga sudah bisa kembali ke tempat kalian masing - masing untuk beristirahat. Aku juga saat ini sudah mau beristirahat." Ucap Ma Guang kepada tiga orang yang masih tetap menemaninya.
Akhirnya ketiga orang tersebut pamit undur diri dan kembali ketempat mereka masing - masing.
Sedangkan Ma Guang langsung memasuki kediamannya yang telah di sediakan khusus untuk seorang yang memimpin pasukan tersebut.
Xia Jiao dan juga Yuan Jiali. Pikiran kedua gadis itu kini sudah merasa semakin jauh untuk memiliki hati Ma Guang, hal itu di sebabkan karena situasi Ma Guang yang saat ini sudah mendapatkan lagi suatu tanggung jawab yang besar dari raja Qi Guan Zhong.
"Kapan Ma Guang memikirkan hati dan perasaanKu ini!? Sepertinya dia terlalu sibuk memikirkan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin pasukan ini." Gumam Xia Jiao dalam hatinya dengan mimik muka yang datar tanpa ekspresi.
"Apakah pendekar Ma tidak menyukai seorang wanita? Jika dia tertarik dengan seorang wanita, mana mungkin dia tidak merasa tergoda dengan kecantikan nona Xia dan juga diriKu ini!?." Gumam Yuan Jiali dalam hatinya, karena merasa tidak percaya dengan sikap yang Ma Guang tunjukan selama ini.
__ADS_1
~Bersambung~