
Tetua Sai Kam dan juga beberapa tetua tingkat tinggi lainnya langsung menuju kepusat energi yang menopang formasi pelindung sekte.
Saat mereka tiba di setiap tempat yang di maksud, tetua Sai Kam dan juga para tetua lainnya sangat terkejut dengan apa yang mereka dapatkan.
Kecurigaan patriak Huang Siwei langsung terbukti, karena di setiap tempat tersebut, sudah ada tetua Pha Yun dan juga beberapa tetua tingkat tinggi yang mendukungnya sedang bersiap untuk menghancurkan pusat energi dari formasi pelindung sekte.
Tetua Sai Kam dan juga yang lain langsung melaporkan hal itu kepada patriak.
Patriak yang mendapatkan informasi tersebut langsung menjadi geram terhadap tetua Pha Yun.
"Ternyata memang benar apa yang tetua Pho Hong katakan, pria gila itu memiliki pendukung dari luar untuk melakukan serangan ke sekte kita ini, kita harus memulainya terlebih dahulu sebelum rencananya tercapai". Ujar patriak yang langsung berdiri dari kursi yang di dudukinya serta langsung memerintahkan tetua Sangyal untuk segera mengumpulkan para murid Phoenix Api Hitam, Phoenix Api Biru dan juga Phoenix Api Merah.
Sedangkan tetua Pho Hong langsung memanggil puluhan muridnya untuk berkumpul dan mempersiapkan setiap pil serta sumber daya yang mereka miliki untuk membantu para murid jika terluka nanti.
Tetua Pho Hong sendiri akan selalu berada di dekat patrik Huang Wei untuk siap membantu bersama tetua Sangyal.
Ketiganya langsung melesat menuju ke tempat dimana tetua Pha Yun berada.
Sedangkan posisi Ma Guang, kini sudah tidak di awasi dan tidak lagi di jaga oleh para murid Phoenix Api Hitam, sebab semuanya sudah bersiap untuk pertempuran antar sesama murid sekte.
Saat patriak dan kedua tetua lainnya tiba di tempat dimana tetua agung berada, patriak langsung menyapa pria tua itu dengan nada suara yang tinggi.
"Hei pria tua busuk! Apakah kamu sudah tidak sabar untuk menjadi patriak di sekte ini?". Ujar patriak Huang Siwei.
Tetua agung langsung tersentak karena mendengar suara patriak.
Pria tua itu langsung tertawa dan membalas perkataan patriak "Ha...ha...ha...ha! Ternyata rencanaKu bisa dengan cepat di ketahui olehMu juga".
"Baiklah! Saat ini aku secara terang - terangan mengakui akan hal itu! Memang benar aku sudah tidak sabar untuk menggantikan diriMu, karena aku sudah muak dengan kepemimpinanMu yang hanya mempertahankan aturan dari para leluhur yang tidak ada keuntungan sama sekali bagi kita sebagai seorang petinggi di sekte ini". Ujar tetua Pha Yun dengan senyum liciknya.
"Tetapi sangat di sayangkan, rencanaMu kali ini tidak berjalan dengan mulus". Ujar patriak menyangga perkataan tetua Pha Yun.
"Apa kataMu!? Tidak berjalan mulus!? Kamu sudah terlalu tua, sehingga otakMu tidak lagi bisa di gunakan dengan baik! Coba kamu lihat di belakangMu!". Ujar Pha Yun yang mengejek patriak Huang Siwei.
Saat patriak Huang Siwei dan tiga orang tetua lainnya memalingkan badan mereka dan menatap kebelakang, mereka tidak mendapati apa yang Pha Yun maksudkan.
Saat pandangan mereka berbalik dan ingin menatap kearah Pha Yun dengan tatapan keheranan karena tidak menemukan apa pun di belakang mereka.
Booommm
Bunyi ledakan langsung terjadi dan hal itu juga terjadi di tempat lain tanpa bisa di cegah oleh para tetua yang mendukung patriak.
Pha Yun langsung menertawai kebodohan patriak dan juga tiga tetua lainnya "Ha...ha...ha...ha! Dasar pria tua bodoh! Trik murahanKu saja sudah bisa menipuMu dan juga para penjilat - penjilatMu itu". Kata - kata Pha Yun yang menghina patriak dan juga tiga orang tetua lainnya.
__ADS_1
"Sialan! Ternyata kita telah ditipu oleh pria busuk itu! Tetua Sai Kam! Tetua Sangyal! Ayo, tangkap dia!". Gumam patriak yang langsung memerintahkan dua orang tetua untuk menangkap tetua Pha Yun.
Kedua tetua itu langsung melesat kearah Pha Yun dengan kekuatan puncak mereka berdua.
"Tinju Api Phoenix!". Teriak tetua Sangyal melesatkan serangan ke arah tetua Pha Yun.
"Tendangan Api Phoenix Penghancur!". Teriak tetua Sai Kam juga sambil menyerang.
"Sialan! Hanya berani keroyokan saja!". Ujar Pha Yun sambil melepaskan energi Qi miliknya untuk menyambut serangan dua tetua yang mengarah kepadanya.
"Perisai Energi Kegelapan!". Teriak Pha Yun sambil menciptakan perisai pelindung yang berwarna hitam samar membentengi dirinya.
Booommm....booommm
Ledakan terjadi karena benturan energi Qi dari tiga orang pendekar Agung tingkat puncak dan tingkat awal.
Tubuh tetua Sai Kam langsung terdorong kebelakang oleh energi Qi dari perisai Energi Kegelapan milik tetua Pha Yun.
Pria tua yang memiliki tingkat kultivasi di bawah tetua agung itu langsung mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.
"Brengsek! Ternyata pria tua busuk ini telah mempelajari teknik aliran hitam". Gumam Sai Kam.
Patriak Huang Siwei langsung membantu tetua Sai Kam. "Apakah kamu baik - baik saja!?". Tanya patriak Huang Siwei khawatir.
Patriak langsung memerintahkan seluruh tetua serta murid - murid sekte untuk menangkap para pengikut tetua agung, dan jika mereka melawan langsung di bunuh saja.
Pertempuran pun pecah di sekte Phoenix Api, asap debu beterbangan di seluruh wilayah.
Kekacauan itu tidak terkontrol lagi.
Para tetua saling bertarung satu sama lain yang bertanda bahwa kedua belah pihak adalah pendukung dua kekuatan yang berbeda.
Patriak langsung turun tangan untuk menyerang Pha Yun.
Namun saat serangannya mendekati tetua Pha Yun, serangan lain sedang mengarah ke tubuh patriak.
Melihat hal itu, tetua Sai Kam dengan cepat langsung menghalangi serangan tersebut.
Booommm...booommm
Bunyi dua ledakan secara bersamaan.
Satu serangan membentur perisai pelindung tetua agung dan satu serangan lagi membentur tubuh tetua Sai Kam.
__ADS_1
Serangan patriak langsung menghancurkan perisai tetua agung dan seperempat dari kekuatan serangan patriak mengenai tubuh tetua agung, membuat pria tua itu terhempas ke belakang.
Sedangkan tubuh tetua Sai Kam langsung terlempar ke samping dan membentur tanah hingga tercipta lubang kecil di permukaan tanah tersebut.
Tetua Pho Hong yang melihat kejadian itu langsung menatap ke arah sumber serangan yang mengenai tubuh tetua Sai Kam.
Terlihat di atas udara sedang berdiri lima sosok yang menggunakan pakaian serba hitam sedang bersiap untuk kembali menyerang mereka.
Tetua Sangyal yang melihat tetua Pha Yun terkena serangan dari patriak langsung melesat dan menyusul tubuh tetua agung itu sambil melepaskan serangannya.
"Tinju Api Phoenix". Teriak tetua Sangyal.
Tetua agung yang baru saja terkena serangan patriak tidak dapat mengantisipasi serangan tetua Sangyal tersebut.
Pria tua itu hanya bisa menciptakan perisai pelindung biasa untuk dirinya.
Namun sebelum perisai pelindung itu tercipta dengan sempurna, serangan tetua Sangyal sudah mendarat di tubuhnya.
Duaaarrrr
Tubuh tetua agung langsung terbenam ke tanah yang sudah tercipta sebuah lubang sedalam dua meter dengan diameter tiga meter.
Sedangkan patriak yang terkejut dengan serangan yang hampir mengenai tubuhnya langsung juga menatap ke arah sumber serangan tersebut.
Patriak langsung bisa melihat sosok patriak Rigsang sedang bersiap untuk melakukan serangan susulan kearahnya.
Patriak pun langsung bersiap untuk menyambut serangan tersebut dengan kekuatan energi Qi miliknya.
"Iblis Hitam Pembunuh Dewa!". Teriak patriak Rigsang sambil melepaskan serangan energi hitam yang sudah berbentuk seperti sosok hitam besar yang menakutkan kearah patriak Huang Siwei.
"Phoenix Api Dewa!". Teriak patriak sambil mendorong kekuatan energi api yang sudah berbentuk seekor burung phoenix api untuk menyambut serangan patriak Rigsang.
Dua kekuatan pendekar dewa bumi awal tingkat dasar itu langsung saling berbenturan.
Booommm
Bunyi ledakan saat kedua serangan itu saling berbenturan yang mengakibatkan kehancuran yang hebat di area tersebut.
Tubuh kedua patriak itu langsung terdorong.
Patriak Rigsang terdorong naik ke udara, dan patriak Huang langsung terdorong ke belakang sehingga tercipta dua garis lurus di atas permukaan tanah yang di lewati oleh pijakan kaki dari patriak Huang.
Sedangkan empat sosok lainnya yang bersama dengan patriak Rigsang dan juga para tetua yang berada di area tersebut, tidak luput juga dari dampak kekuatan ledakan kedua energi pendekar dewa bumi itu.
__ADS_1
~Bersambung~