Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 222. Tetua Pho Hong Menjadi Tetua Agung


__ADS_3

Di aula utama sekte Phoenix Api, seluruh petinggi kini sudah hadir di tempat itu.


Patriak pun langsung berdiri dan memulaikan pertemuan itu.


"Para tetua sekte yang saya hormati dan banggakan! Kita melakukan pertemuan kali ini untuk membicarakan bagaimana langkah kita kedepan untuk menjalankan serta membangun kembali sekte kita ini setelah mengalami kejadian barusan."


"Yang pertama - tama tentunya kita harus berterima kasih kepada pendekar Ma Guang yang sudah membantu kita untuk mengusir anggota sekte Phoenix Api sehingga korban jiwa di pihak kita tidak bertambah lagi". Ucap patriak sambil menunjuk kearah Ma Guang agar semua yang hadir bisa mengetahui sosok yang baru di sebutkan itu.


Semua mata langsung memandang kearah seorang pendekar muda yang duduk juga di dalam ruangan aula tersebut.


"Jadi pemuda ini yang melukai patriak sekte Iblis Hitam!?".


"Masih terlihat sangat muda, tetapi tingkat kultivasinya sudah berada di tahap pendekar dewa bumi! Sangat jenius!".


Para tetua terus mengeluarkan pendapat saat melihat sosok Ma Guang.


Patriak pun kembali melanjutkan perkataannya. "Dan perlu kalian semua ingat, mulai saat ini, seluruh anggota sekte Phoenix Api tidak boleh sedikit pun untuk menyinggung sekte Naga Surgawi atau pun sekte Bambu Kuning, sebab pendekar Ma Guang berasal dari sekte tersebut".


"Dan jika kalian melihat ada seorang murid atau anggota dari dua sekte itu sedang mendapatkan masalah dan membutuhkan bantuan, kalian jangan sungkan - sungkan untuk membantunya".


"Siap! Kami akan selalu mengingat serta akan melakukan apa yang telah patriak perintahkan". Seru seluruh tetua yang hadir di dalam ruangan tersebut.


"Kejadian yang menimpa sekte kita kali ini, itu akan menjadi pembelajaran bagi kita semua, bahwa ingin berkuasa dengan cara yang tidak baik adalah suatu hal yang akan merugikan kita semua".


"Oleh karena itu, mulai saat ini, aturan sekte akan lebih di pertegas lagi, agar supaya, apa yang di tanamkan oleh para leluhur untuk menjadi dasar pikiran serta tujuan dari sekte kita ini akan tetap bertahan sampai ke generasi berikutnya".


"Apakah ada yang ingin bertanya?". Ujar Patriak memberikan kesempatan kepada para tetua untuk bertanya.


"Ijin patriak!". Seru seorang tetua.


"Silahkan jika ada hal yang ingin anda sampaikan atau tanyakan". Sambut patriak.


"Saat ini posisi tetua agung sedang kosong, ada baiknya patriak sudah bisa menunjuk seseorang untuk mengisi posisi tersebut". Ujar seorang tetua memberikan saran kepada patriak.


"Untuk hal itu, aku harus memikirkannya terlebih dahulu, sebab para tetua yang ada di sekte kita saat ini, menurutKu belum ada sosok yang pantas untuk menjabat sebagai tetua agung yang bisa menggantikan posisiKu di saat aku tak berada di sekte ini atau menjadi penggantiKu sebagai perwakilan dari sekte ini". Jawab patriak terhadap pertanyaan seorang tetua.

__ADS_1


Mendengar perkataan patriak tersebut, seorang tetua tingkat tinggi langsung mengangkat tangannya untuk meminta waktu kepada patriak.


"Silahkan tetua Yeshe!". Kata patriak untuk mempersilahkan kepada tetua tingkat tinggi tersebut agar berbicara.


"Patriak! MenurutKu ada satu sosok yang tepat untuk menjabat sebagai tetua agung". Ujar tetua Yeshe.


"Menurut tetua Yeshe, siapa orangnya!?". Tanya patriak menyangga perkataan tetua Yeshe.


"MenurutKu orang yang tepat untuk menjabat sebagai tetua agung adalah tetua Pho Hong!". Ujar tetua Yeshe dengan penuh semangat dan kepastian.


Setelah tetua Yeshe menyebutkan sosok yang pantas untuk menjadi tetua agung, seluruh petinggi di dalam ruangan itu, sikap mereka langsung sangat berantusias.


Banyak pata tetua yang menyetujui perkataan dari tetua Yeshe untuk menunjuk tetua Pho Hong sebagai tetua agung yang baru di sekte itu.


Melihat situasi tersebut, tetua Pho Hong langsung berdiri dan ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya.


Saat tetua Pho Hong berdiri, situasi yang awalnya sangat bersik kini kembali menjadi tenang.


"Tetua Yeshe dan juga para tetua! Apa yang tetua Yeshe sampaikan itu, memang sudah patriak sampaikan juga secara pribadi kepadaKu, tetapi aku sendiri yang menolaknya, sebab aku sendiri belum mampu untuk memikul tanggung jawab tersebut". Ujar tetua Pho Hong.


Sebelum tetua Pho Hong melanjutkan kata - katanya, tetua Yeshe sudah kembali bersuara untuk memotong perkataan tetua Pho Hong.


"Setuju!". Teriak serentak semua tetua yang ada.


"Saya sangat setuju!". Teriak salah satu tetua tingkat tinggi.


"Iya! Saya setuju jika tetua Pho Hong menjadi tetua agung". Teriak tetua tingkat tinggi lainnya.


Tetua Pho Hong tidak bisa melanjutkan lagi kata - katanya.


Pria tua itu kini hanya kembali duduk dan menyerahkan hal itu kepada patriak Huang Siwei.


Patriak kembali berdiri sambil kedua tangannya memberikan isyarat agar semuanya tenang.


Situasi di dalam ruangan itu pun kembali tenang dan patriak langsung berbicara.

__ADS_1


"Para tetua sekalian, memang benar apa yang telah di sampaikan oleh tetua Pho Hong tadi, sehingga itulah mengapa aku tidak lagi ingin memaksakan posisi itu kepada tetua Pho Hong".


"Namun karena pada saat ini, para tetua sekalian sangat menginginkan posisi itu di isi oleh tetua Pho, maka aku juga dengan senang hati menyetujuinya juga dan menyatakan...".


Patriak Huang Siwei tidak dapat melanjutkan perkataannya karena tetua Pho Hong langsung menyela perkataannya. "Sebelumnya aku mohon maaf yang sedalam - dalamnya kepada patriak dan juga kepada para tetua sekalian! Aku tidak menerima posisi tersebut tentunya juga memiliki alasan yang kuat, dan alasannya karena saya...."


Sebelum tetua Pho Hong mengungkapkan alasan mengapa dirinya menolak posisi sebagai tetua agung, Ma Guang langsung memotong kata - kata pria tua itu. "Tetua Pho Hong! Maaf sebelumnya karena menyela perkataan tetua!". Ucap Ma Guang sambil berdiri dan menangkupkan tangannya. Setelah itu pemuda itu kemudian melanjutkan lagi maksud dirinya yang memotong perkataan tetua Pho Hong.


"Patriak, tetua Pho Hong dan juga para tetua sekalian, karena pada saat pembahasan ini diriKu juga ada bersama - sama dengan kalian semua di tempat ini, sehingga saya ingin juga meminta waktu dan kesempatan untuk berbicara...apakah aku bisa di berikan waktu dan kesempatan untuk berbicara?". Ujar Ma Guang sambil bertanya untuk di berikan kesempatan agar bisa berbicara.


"Bagaimana menurut para tetua sekalian?". Tanya patriak Huang Siwei.


"Iya! Silahkan pendekar Ma berbicara". Secara serentak para tetua bersuara.


"Silahkan pendekar Ma!". Ucap patriak Huang Siwei sambil tangannya memberikan isyarat untuk mempersilahkan Ma Guang berbicara.


"Baiklah! Sebelum itu tentunya saya berterima kasih kepada patriak dan tetua sekalian yang telah memberikan kesempatan kepadaKu untuk berbicara...tetua Pho! Setelah aku mendengar semua perkataan para tetua dan juga karena saya sendiri telah mendengarkan alasan mengapa tetua Pho Hong menolak posisi tersebut saat berbicara dengan patriak Huang, sehingga menurutKu, tetua Pho Hong sangat tepat untuk menempati posisi sebagai tetua agung di sekte ini! Tetua Pho Hong saat ini sudah menjadi bagian dari sekte Phoenix Api ini, dan sudah seperti keluarga bagi para tetua dan juga bagi para murid sekte, sehingga untuk masala lalu yang tetua Pho hadapi, anggap saja hal itu juga akan menjadi masalah sekte ini, sebaiknya tetua Pho menatap untuk berjalan kedepan bersama dengan sekte ini agar sekte ini kedepan bisa menjadi lebih besar dan lebih kuat lagi".


"Sekali lagi saya minta maaf kepada tetua Pho Hong karena sebagai orang yang usianya jauh lebih muda dari tetua Pho namun sudah lancang memberikan sedikit nasihat". Ucap Ma Guang menutup perkataannya sambil kembali duduk.


Tetua Pho Hong yang mendengar perkataan serta permintaan maaf dari Ma Guang langsung menanggapi kata - kata pemuda tersebut.


"Pendekar Ma tidak perlu sungkan seperti itu, apa yang pendekar Ma katakan ada benarnya juga, sehingga saran dari pendekar Ma dan juga keinginan dari patriak dan juga para tetua sekalian, sehingga pada saat ini saya menerima posisi tetua agung tersebut...dan untuk kepercayaan ini, saya sangat berterima kasih!". Tutup tetua Pho Hong sambil membungkuk dan menangkupkan tangan.


Patriak pun langsung berdiri dan kembali bertanya. "Apa ada lagi yang ingin bertanya?". Tanya patriak lagi.


Setelah beberapa saat tidak ada yang memberikan tanggapan, patriak pun langsung menetapkan waktu untuk pengukuhan tetua Pho Hong sebagai tetua agung.


Setelah itu patriak langsung menutup pertemuan tersebut, sehingga para tetua yang hadir satu persatu mulai meninggalkan ruangan aula itu.


Ma Guang pun langsung berpamitan dengan patriak, tetua Pho Hong, tetua Sangyal dan juga tetua Sai Kam untuk melanjutkan perjalanannya menuju ke benua tengah.


Keempat petinggi sekte pun langsung mengiyahkan walau pun dengan berat hati, sebab mereka juga sempat berusaha agar Ma Guang menunda perjalanannya terlebih dahulu dan untuk sementara waktu menetap di sekte Phoenix Api.


Ma Guang akhirnya melesat pergi meninggalkan sekte Phoenix api dengan cara terbang.

__ADS_1


Pemuda itu sudah banyak mendapatkan informasi dari tetua Pho Hong tentang bagaimana situasi serta kondisi di benua tengah.


~Bersambung~


__ADS_2