
Akhirnya Ma Guang bersama dengan keempat orang lainnya meninggalkan sekte Bambu Kuning.
Kelima orang tersebut menyeberangi sungai yang berada di dekat sekte Bambu Kuning. Sungai yang dahulunya menghanyutkan tubuh Ma Guang dan di temukan oleh Duan Meng.
Setelah tiba di seberang, akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan darat.
Jalan yang mereka lewati menyusuri sungai tersebut.
Xia Jiao berjalan disamping kanan Ma Guang dan tetua Sim Lan di sebelah kanannya.
Sedangkan Yuan Jiali berjalan di samping kiri Ma Guang dan Yuan Gao di sebelah kirinya.
***
Wilayah yang berada di perbatasan bagian utara kerajaan Qi situasinya tidak berbeda jauh dengan wilayah di bagian barat.
Walau pun kekuatan pasukan dari kerajaan Qi sangat di perhitungkan oleh kerajaan yang lain, namun jumlahnya sangat terbatas.
Sehingga cukup ada beberapa desa yang luput dari perlindungan pasukan kerajaan Qi.
Upaya yang di tempuh oleh warga setiap desa yang tidak dapat dilindungi oleh pasukan kerajaan Qi adalah menyewa pendekar - pendekar bebas atau pun pendekar - pendekar dari sekte aliran netral mau pun sekte aliran putih.
Situasi politik di kekaisaran Zhou saat itu tidak stabil, karena setiap kerajaan yang berada di wilayah kekuasaannya sudah mulai saling beperang secara tertutup.
Kerajaan Zhao di sebelah utara dari kerajaan Qi, walau pun wilayahnya lebih besar dari kerajaan Qi, namun kekuatan militernya masih lebih lemah dari kekuatan militer keragaan Qi, sehingga pasukan kerajaan Zhao tidak akan berani untuk mengganggu wilayah kerajaan Qi.
Kekacauan yang sering terjadi di wilayah bagian utara kerajaan Qi itu sering di lakukan oleh dua sekte aliran hitam, yaitu sekte Kalajengking Merah dan Juga sekte 1000 Racun.
Ketua kelompok dari sekte Kalajengking Merah yang menjadi momok menakutkan di wilayah bagian utara kerajaan Qi adalah Hong Mogui.
Pria yang bertubuh kekar itulah yang memimpin anggota kelompoknya untuk menghancurkan desa Quanshui. Yang adalah desa Ma Guang serta Xia Jiao berasal.
***
"Dimana letak desa yang pernah kita singgahi?." Tanya Ma Guang.
"Tetua! Dimana letak desa Shitou?." Tanya Xia Jiao.
"Kita harus terus berjalan di jalan ini untuk menyusuri pinggiran sungai sehingga kita bisa tiba di desa Shitou." Ucap tetua Sim Lan.
"Jika kita sudah tiba di desa Shitou, barulah kita berjalan menuju kearah utara dimana desa yang kita singgahi itu berada." Ucap Xia Jiao.
"Oh, begitu yah!?." Ucap Ma Guang.
Setelah setengah hari berjalan, akhirnya mereka menjumpai sebuah desa.
Keadaan di desa itu terlihat biasa - biasa saja. Tetapi Ma Guang tidak menurunkan kewaspadaannya.
Mata pemuda itu memperhatikan setiap gerak gerik penduduk desa tersebut.
__ADS_1
Saat mereka berlima memasuki desa itu, mata setiap penduduk yang menatap mereka seakan tidak bersahabat.
Ma Guang lalu mengajak keempat orang lainnya untuk mencari sebuah kedai atau rumah makan untuk mereka singgahi untuk makan, agar supaya menghemat perbekalan yang mereka bawah.
"Paman! Apakah di desa ini memiliki kedai atau rumah makan?." Tanya Ma Guang kepada seorang pria dewasa yang mereka temui.
"Ada tuan muda! Jaraknya dari sini sudah dekat, tetapi kalian harus berhati - hati." Ucap pria itu sambil mengecilkan suaranya.
"Apakah sesuatu telah terjadi di desa ini?." Tanya Ma Guang.
Namun bukan menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Ma Guang, melainkan pria itu langsung bergegas meninggalkan mereka.
"Ada apa dengan pria itu? Rupanya ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi di desa ini." Gumam Ma Guang.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan untuk menuju ke tempat yang di maksudkan oleh pria yang baru saja di tanyai oleh Ma Guang.
Setelah tiba di depan pintu kedai tersebut, mereka langsung memasukinya.
Ma Guang langsung mengedarkan pandangannya untuk memperhatikan situasi di dalam kedai tersebut.
Mereka langsung di sambut oleh seorang gadis yang bertindak sebagai pelayan di tempat itu.
"Tuan dan Nona sekalian, apakah ada yang bisa saya bantu?." Tanya gadis tersebut.
Melihat tingkah serta mendengar nada suara sang gadis, Ma Guang sudah bisa menyimpulkan, bahwa situasi di kedai ini tidak berbeda dengan situasi yang pernah dirinya alami.
"Nona! Apakah ada sesuatu yang terjadi di tempat ini?." Tanya Ma Guang dengan nada suara yang di kecilkan.
"Jangan takut nona, kami akan membantuMu." Ucap Ma Guang ucap Ma Guang sambil bebisik.
"Desa ini telah di kuasai oleh anggota sekte aliran hitam sekte 1000 Racun dan orang - orang yang duduk di sudut ruangan itu adalah anggota mereka juga." Ucap gadis tersebut sambil berbisik.
"Ehem!." Suara berdehem salah satu dari orang yang di maksudkan oleh gadis tersebut.
"Terima kasih untuk informasinya." Ucap Ma Guang kepada gadis tersebut.
"Siapkan pil untuk penawar racun." Perintah Ma Guang kepada keempat orang lainnya.
"Silahkan duduk tuan!.: Ucap gadis itu.
Setelah mereka duduk, pelayan tersebut langsung bertanya kepada mereka.
"Makanan apa yang akan kalian pesan?."
"Makanan serta minuman yang terbaik di kedai ini untuk kami berlima." Ucap Ma Guang.
"Baik tuan!." Ucap gadis tersebut sambil membalikkan badan dan berjalan untuk menuju ke arah dapur.
Setelah sampai di dapur, seorang pria langsung keluar dan mengalangi jalannya.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan kepada pemuda itu?." Tanya pria tersebut.
"Hanya seperti biasa tuan, tidak lebih." Ucap gadis itu.
"Awas jika kamu berbohong, aku akan langsung membunuhMu." Ucap pria itu.
Berbeda dengan sekte Kalajengking Merah, ketua sekte 1000 Racun tidak menginstruksikan kepada para anggotanya untuk menghindari permasalahan dengan murid - murid sekte Bambu Kuning. Sehingga setelah melihat pakaian sekte Bambu Kuning yang di pakai oleh Ma Guang. Pria itu merasa lebih bersemangat untuk menghabisinya.
"Akhirnya aku bisa membunuh murid dari sekte Bambu Kuning."
"Tetapi untuk ketiga wanita itu, pasti akan sangat menyenangkan bila mereka menemaniKu dan juga Ketua untuk sebentar malam." Ucap wakil ketua kelompok itu dengan senyum mesumnya.
Pria itu langsung menatap ke arah angotanya yang sedang duduk di sudut ruangan kedai tersebut. Pria itu seakan memberi isyarat kepada mereka.
Akhirnya salah satu dari mereka langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ke arah meja kasir.
"Tuan! Posisi toiletnya ada dimana?." Tanya pria anggota sekte Kalajengking Merah.
"Di belakang tuan! Berjalanlah melewati lorong itu." Jawab sang kasir sambil mengarahkan dengan tangannya.
"Oh begitu yah!?." Ucap pria itu yang langsung berjalan.
Ma Guang tidak melewatkan apa yang di lakukan oleh pria tersebut.
"Kalian tunggu disini serta selalu berhati - hati." Ucap Ma Guang kepada keempat orang yang bersamanya.
Setelah selesai mengingatkan kepada keempat orang lainnya, Akhirnya Ma Guang juga bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja kasir. Dan hal yang sama pula yang di lakukan oleh Ma Guang seperti yang di lakukan oleh pria yang akan di awasinya.
"Tuan! Dimana letak toilet di tempat ini.? Tanya Ma Guang.
Sang kasir pun langsung menjawab persis seperti yang di katakannya kepada pria sebelumnya.
"Tuan! Berhati - hatilah!." Ucap sambil berbisik sang kasir setelah selesai menunjukan arah toilet.
Ma Guang langsung menganggukan kepalanya tanda dia sudah mengerti.
Pendekar muda itu langsung berjalan kearah bagian belakang bangunan kedai tersebut.
Pemuda itu sangat berhati - hati saat melangkah kebelakang.
Persepsi pemuda itu sudah di pertajam.
Akhirnya Ma Guang bisa mendengar pembicaraan wakil ketua kelompok dengan pria yang di ikuti olehnya.
"Terlalu menganggap remeh lawan, maka kalian akan merasakan akibatnya." Gumam Ma Guang di dalam hatinya.
Akhirnya pemuda itu kembali ketempat yang mereka tempati.
"Kalian harus bersiap - siap untuk bertarung melawan anggota sekte 1000 Racun." Ucap Ma Guang sambil berbisik.
__ADS_1
"Dimana mereka?." Tanya tetua Sim Lan.
"Mereka berada di belakang dan sedang merencanakan trik untuk menghabisi kita semua." Ucap Ma Guang sambil berbisik.