
Akhirnya Ma Guang sudah bisa menghasilkan energi api yang berwarna kuning.
Dirinya kemudian mencoba untuk membuat bola api di kedua tangannya, serta memadatkan energi api tersebut, hal itu untuk mencoba segala sesuatu agar bisa dia gunakan saat membuat pil dan juga untuk menyerang lawannya saat bertarung.
Setelah dirinya memadatkan energi api miliknya, pemuda itu langsung melemparkan energi api yang sudah berbentuk bulat seperti bola tenis ke sebuah bongkahan batu besar yang berada di dekatnya.
Duuuaaarrrr
Bunyi ledakan yang di hasilkan oleh terjangan bola api ke sebuah bongkahan batu yang di tuju.
Batu tersebut hancur berkeping - keping.
Melihat hasil dari serangannya, Ma Guang kemudian berpikir untuk lebih meningkatkan lagi kekuatan serangannya agar serangan yang di hasilkan hanya meninggalkan tanda yang berbentuk lubang di setiap objek yang akan di serangnya.
Pemuda itu pun kembali membuat bola api di telapak tangannya.
Setelah selesai membuat bola api, Ma Guang pun kembali melemparkan bola api tersebut ke salah satu batu besar yang juga berada di dekatnya.
Hasilnya, batu besar itu pun masih hancur juga, namun pecahan batu tersebut memiliki ukuran yang besar tidak seperti serangan awal yang dia lakukan.
Wajah pemuda itu semakin sumringah melihat hasil tersebut.
"Aku akan menamakan teknik ini dengan Bola Api Naga". Gumam Ma Guang sambil tersenyum.
"Menurut guru Guang Zhi, jika tidak memiliki inti api, aku hanya bisa mencapai ke tingkat api biru walau pun aku akan berlatih sampai berapa lama pun, karena untuk mencapai tingkat api putih harus memiliki inti api". Gumam Ma Guang lagi.
Pemuda itu pun mulai berpikir untuk berburu hewan buas yang memiliki permata untuk diserap esensi yang berada di dalam permata tersebut agar bisa meningkatkan kemampuannya.
"Dimana hutan yang bisa di temukan hewan buas yang sudah memiliki permata? Aku harus segera menemukannya agar bisa dengan cepat untuk meningkatkan kemampuanKu". Gumam Ma Guang.
Akhirnya pemuda itu menghentikan aktivitasnya dan kembali memasuki kediamannya.
Di tanah lapang yang luas, Duan Jun sedang melatih para murid yang baru saja bergabung di sekte tersebut.
Para murid ini telah di pilih langsung oleh para tetua di ketiga kota yang sesuai dengan perintah patriak Yao Han.
Yang terbanyak dari mereka berasal dari keturunan keluarga bangsawan, namun ada juga beberapa orang yang di rekrut berasal dari luar keluarga bangsawan.
Ada tiga orang yang berasal dari keluarga miskin, namun kualitas tulang serta kekuatannya sangat berbeda jauh dengan anak - anak yang berasal dari keluarga bangsawan.
__ADS_1
Anak - anak yang berasal dari keluarga bangsawan, mereka sudah berlatih ilmu bela diri dari keluarga mereka, sehingga ada yang sudah mencapai pendekar awal tingkat ke enam dan sudah berusia 17 tahun.
Sedangkan tiga orang anak yang berasal dari keluarga miskin tersebut telah berusia 14, 15, dan 16 tahun.
Jumlah murid baru mencapai seratus lebih orang.
Mereka pun kemudian di latih kembali untuk membentuk otot, tulang, kekuatan serta ketahanan fisik serta kecepatan mereka.
Ketiga anak miskin tersebut secara mengejutkan tetap bisa melewatinya dengan sangat mulus saat melakukan latihan tersebut.
Duan Jun dan juga seorang tetua tingkat rendah yang melatih mereka merasa tertarik dengan ketiga anak tersebut.
Namun ketiganya belum memiliki dasar ilmu bela diri.
Sebab mereka bertiga belum pernah untuk berlatih ilmu bela diri sedikit pun, sehingga untuk melatih mereka, akan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk bisa menjadi seorang pendekar awal tingkat enam agar bisa mengikuti kompetisi.
Duan Jun mulai menilai karakter ketiga anak tersebut.
Sikap, tingkah laku serta tutur kata mereka sangat mirip dengan Ma Guang, sehingga Duan Jun merasa tertarik dengan ketiganya dan ingin bertemu dengan Ma Guang untuk menanyakan sesuatu kepadanya.
Duan Jun langsung melangkah dan meninggalkan tempat tersebut untuk menuju ke kediaman Ma Guang.
Setelah tiba di kediaman Ma Guang, pemuda itu langsung di persilahkan masuk oleh murid yang berjaga di depan pintu masuk kediaman.
"Ada hal penting apa sehingga membuat kakak Jun datang kekediamanKu ini?".
"Ada hal yang ingin aku tanyakan kepadaMu". Ucap Duan Jun.
"Tentang apa itu?". Tanya Ma Guang.
Duan Jun langsung menjelaskan hal yang di pikirkannya.
Ma Guang yang mendengar hal itu langsung merasa tertarik.
"Apakah aku boleh melihat ketiga anak itu?". Tanya Ma Guang.
"Tentu saja bisa, jika kamu menginginkan hal tersebut, mari kita pergi untuk melihat ketiganya". Ujar Duan Jun.
Mereka berdua langsung beranjak dan bergerak menuju ke tempat dimana para murid berada.
__ADS_1
Setelah tiba di tempat yang mereka tuju, Duan Jun langsung memberikan isyarat untuk menunjuk ketiga anak tersebut.
Ma Guang langsung mengaktivkan mata ke tiga miliknya untuk melihat struktur tubuh dari ketiga anak tersebut.
Wajah Ma Guang langsung terlihat senang setelah selesai memeriksa tubuh ketiga anak tersebut.
"Sangat beruntung bisa memiliki murid seperti mereka bertiga". Ujar Ma Guang.
"Kenapa bisa seperti itu?". Tanya Duan Jun penasaran dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut pemuda tersebut.
"Mereka bertiga memiliki tulang seorang pendekar, sehingga jika mereka sudah berlatih dasar dari ilmu bela diri, ketiganya sudah bisa mengalahkan seseorang yang berada dua tingkat di atas mereka". Jawab Ma Guang.
"Apakah mereka bisa di latih dalam beberapa bulan ini dan bisa mengikuti kompetisi yang akan di adakan di ibu kota kekaisaran?". Tanya Duan Jun.
"MenurutKu hal itu tergantung kemampuan mereka untuk berlatih ilmu bela diri, sebab jika hanya mengandalkan tulang mereka, itu tidak bisa membuat mereka siap untuk mengikuti kompetisi". Jawab Ma Guang.
"Jadi harus bagaimana?". Tanya Duan Jun lagi.
"Latihlah mereka terlebih dahulu untuk menajamkan indera pendengaran, indera penglihatan mereka, serta teknik - tenik jurus dasar ilmu bela diri jika mereka bisa menguasainya dalam waktu satu bulan saja, maka mereka bisa untuk mengikuti kompetisi tersebut". Ujar Ma Guang.
"Baiklah, aku akan melatih mereka bertiga secara khusus, setelah satu bulan kemudian, aku akan memberitahukan perkembangannya". Ujar Duan Jun.
"Jika ketiganya bisa menguasai dalam satu bulan kedepan, selanjutnya serahkan kepadaKu untuk memberikan bimbingan kepada ketiganya". Ucap Ma Guang.
"Terus, bagaimana dengan perkembangan hubungan Kakak Jun dengan nona Tjia?". Tanya Ma Guang mengalihkan pembicaraan.
Mendengar pertanyaan Ma Guang, Duan Jun langsung tersenyum dan dengan malu - malu memberitahukan kepada Ma Guang.
"Kami berdua akan menikah satu minggu kedepan, dan hal itu akan di lakukan di sekte kita ini". Jawab Duan Jun.
"Selamat yah, akhirnya kakak Jun tidak lama lagi akan melepaskan masa lajangnya". Ucap Ma Guang sambil tersenyum jahil menatap Duan Jun.
"Iya, terus bagaimana dengan diriMu? Kamu hanya selalu fokus dengan peningkatan kemampuan ilmu bela diriMu saja dan tidak memikirkan untuk memiliki seorang kekasih". Ujar Duan Jun.
"Memikirkan hal itu nanti saja, jika semua tujuanKu sudah tercapai, pasti aku akan memfokuskan diriKu untuk memikirkan hal itu". Ujar Ma Guang.
"Tetapi menurutKu, kamu harus memastikan terlebih dahulu siapa yang akan menjadi kekasihMu, agar supaya gadis yang kamu sukai tidak akan jatuh hati kepada pria lain". Ujar Duan Jun sambil tersenyum menatap Ma Guang.
Mendengar perkataan Duan Jun, Ma Guang pun berpikir sejenak tentang sikap yang di tunjukkan oleh Xia Jiao.
__ADS_1
"Apakah benar apa yang di katakan oleh kakak Jun itu? Apakah mereka bisa menyukai pria lain?". Gumam Ma Guang di dalam hatinya.
~Bersambung~