Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 361. Perjalanan Patriak Yangkey


__ADS_3

Saat patriak Yangkey melihat sebuah kota yang terletak di wilayah kerajaan Wei, pria tua itu melihat aktivitas yang ramai dan sangat bersahabat.


Pria tua itu pun segera mengisyaratkan kepada kedua pria tua lainnya untuk turun di suatu tempat yang sepi di dalam kota tersebut agar tidak menarik perhatian banyak orang.


Setelah sudah mendarat di tanah, ketiganya segera berjalan menuju ke keramaian kota untuk membaur dengan orang - orang yang sedang beraktivitas.


Patriak Yangkey mengajak kedua tetua untuk pergi ke suatu kedai sederhana di kota itu agar bisa memperoleh informasi tentang letak sekte Bambu Kuning atau pun sekte Naga Surgawi.


Setelah melihat sebuah kedai, ketiganya segera memasuki kedai tersebut.


"Selamat datang tuan - tuan! Silahkan masuk!." Sambut seorang pelayan yang langsung mengantarkan ketiga orang itu menuju ke tempat yang masih belum di tempati orang.


"Tuan - tuan! Silahkan duduk! Apa yang ingin tuan - tuan pesan?." Ucap sang pelayan sambil bertanya.


"Kami ingin memesan makanan serta minuman yang terbaik di tempat ini!." Ucap patriak Yangkey menanggapi pertanyaan pelayan tersebut.


"Baiklah! Mohon untuk bersabar sebentar, karena kami akan mempersiapkannya terlebih dahulu!." Balas sang pelayan yang kemudian pergi meninggalkan ketiganya.


Setelah pelayan itu pergi, patriak Yangkey segera mempertajam persepsinya.


Pria tua itu kemudian mulai mendengar setiap pembicaraan para pengunjung di kedai tersebut.


Beberapa sast kemudian, akhirnya informasi yang ingin dia ketahui pun mulai di bicarakan oleh tiga orang pengunjung yang juga sedang berada di kedai itu.


"Kakak! MenurutKu mengapa sekte Bambu Kuning dan juga sekte Naga Surgawi harus di pisahkan?."


"Padahal menurut yang aku dengar, Ma Guang adalah murid dari sekte Bambu Kuning!."


"Sedangkan sekte Naga Surgawi adalah sekte yang telah dia dirikan! Jadi seharusnya kedua sekte itu tetap berada di posisi yang sama!."


Tutur seorang pria yang terlihat berpenampilan sederhana dan berusia sekitar empat puluh tahun lebih.


"Adik! Hal itu tidak sesederhana seperti yang kamu pikirkan itu!."


"Didalam suatu sekte tentunya memiliki suatu aturan yang harus di jalankan serta yang harus di taati oleh setiap anggotanya!."


"Jika ada suatu kehendak bebas yang ingin melakukan suatu hal akan tetapi bertentangan dengan aturan yang berlaku di dalam sekte itu, pasti para petinggi sekte tidak akan menyetujuinya!."


"Sehingga menurutKu, kemungkinan besar hal itulah yang membuat kedua sekte itu telah di nyatakan bahwa keduanya adalah dua sekte yang berbeda!."


Seorang pria yang terlihat lebih tua dari pria sebelumnya menjelaskan kepada kedua orang yang juga bersamanya.


Keduanya langsung mengangukkan kepala karena seperti sudah mengerti dengan apa yang di jelaskan oleh pria yang lebih tua dari mereka berdua.


"Kakak! Tetapi sebenarnya dimana letak dari markas sekte Naga Surgawi? Yang aku ketahui hanyalah sekte Bambu Kuning yang letaknya di dekat kota Qiantong, propinsi Jibei kerajaan Qi!."

__ADS_1


"Iya! Markas sekte Bambu Kuning memang terletak disana! Karena aku juga sempat mengunjungi kota Qiantong yang bertepatan terjadi penyerangan pasukan kerajaan Qi di kota Laoling dan juga sekaligus penyerangan para pendekar aliran hitam ke markas sekte Bambu Kuning!." Sambung pria tua itu membenarkan.


Setelah mendengar pembicaraan ketiganya, patriak Yangkey kini sudah mengetahui letak dari sekte Bambu Kuning.


Akan tetapi letak sekte Naga Surgawi tidak ada yang mengetahuinya.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka pun di antarkan oleh beberapa orang pelayan.


Hidangan terbaik yang menjadi pesanan mereka pun kini menarik perhatian para pengunjung di kedai itu.


Hal itu karena di kedai sederhana tersebut, jarang terlihat ada seseorang yang memesan semua makanan serta minuman spesial di tempat itu.


Ada pun yang memesannya pasti hanya salah satu menunya saja.


Sedangkan patriak Yangkey juga tidak mengetahui jika menu terbaik di kedai itu ada beberapa jenis.


Sehingga pesanan yang datang dihidangkan untuk mereka itu adalah semua menu kelas mewah.


"Sepertinya mereka tidak pantas duduk di kedai ini jika pesanan mereka seperti itu!."


"Apakah mereka ini terlihat seperti seorang bangsawan atau pedangang?."


"Aku pikir mereka ini adalah seorang pendekar dari sekte besar!."


"Apakah mereka sedang menguji kesabaranKu untuk merampok mereka?."


Mereka bertiga segera menyantap hidangan yang telah tersedia di depan mereka.


Walau pun tanpa mereka sadari bahwa pesanan tersebut telah mengundang kecurigaan serta akan mendatangkan masalah bagi mereka bertiga.


Setelah selesai menyantap makanan serta arak terbaik di kedai tersebut, patriak Yangkey segera membayar biaya pesanan itu.


Setelah selesai akhirnya mereka bertiga keluar untuk meninggalkan kedai itu.


Saat ketiganya meninggalkan kedai tersebut, mereka bertiga kini sedang diikuti oleh beberapa orang yang jumlahnya ada sekitar belasan orang.


"Patriak! Sepertinya kita bertiga sedang di ikuti!." Ucap seorang tetua mengingatkan.


"Iya! Aku tahu! Sepertinya mereka adalah perampok!." Sambung seorang tetua lainnya.


"Kita harus lebih berhati - hati lagi, sebab tingkat kultivasi para pendekar di wilayah kekaisaran Zhou saat ini sudah banyak yang berada di tingkat pendekar dewa!."


"Sehingga kita tidak boleh menganggap remeh mereka!."


"Apa lagi memiliki jumlah belasan orang! Itu akan sangat menyulitkan kita!."

__ADS_1


Patriak Yangkey terus mengingatkan kepada kedua tetua yang bersama dengannya.


"Baik patriak! Kami tidak akan meremehkan mereka!." Jawab keduanya.


Patriak Yangkey menginstruksikan kepada keduanya untuk segera bergerak dengan kecepat puncak mereka agar bisa mengelabui orang - orang yang sedang membuntuti mereka.


Rencana mereka adalah, jika mereka telah mengelabui orang - orang tersebut, ketiganya akan langsung melesat terbang untuk menuju ke wilayah kerajaan Qi agar bisa menemukan letak markas sekte Bambu Kuning.


Secara serentak ketiganya langsung bergerak dengan cepat menuju ke arah kegelapan.


Saat ketiganya merasa aman, mereka bertiga segera melesat terbang untuk meninggalkan kota tersebut.


Belasan orang tersebut yang adalah pendekar langit tidak bisa mengejar ketiga buruan mereka yang kultivasinya adalah sebagai seorang pendekar dewa.


Setelah terbang sejauh puluhan kilo meter, akhirnya patriak Yangkey memberikan untuk melakukan perjalanan tanpa harus tergesa - gesa.


Tidak lama kemudian, mereka bertiga kini sudah memasuki wilayah kerajaan Qi.


Sama halnya seperti semula, mereka bertiga kini mulai memilih kota mana yang akan di singgahi oleh mereka.


Tidak lama kemudian mereka tiba di kota Lu yaitu ibu kota dari propinsi Jibei.


Melihat situasi di kota Lu, patriak Yangkey merasa tidak terlalu tertarik untuk memasuki kota besar tersebut.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Beberapa saat mereka pun melewati hutan belantara hingga akhirnya tiba di suatu kota.


Melihat kota itu, patriak Yangkey merasa tertarik untuk singgah di kota itu.


Apa lagi mereka memang harus beristirahat.


Setelah memasuki kota itu, ketiganya tidak menyadari bahwa kehadiran mereka di kota tersebut sudah di ketahui oleh para penjaga kota tersebut.


Mereka bertiga langsung di kepung oleh pasukan dari kota tersebut.


"Siapa kalian? Mengapa memasuki kota kami tanpa ijin?." Tanya komandan pasukan.


"Kami memasuki kota ini hanya mau singgah saja dan untuk beristirahat sejenak!." Jawab Patriak Yangkey.


"Tetapi mengapa cara kalian memasuki kota ini sama seperti seorang pencuri?." Tanya komandan pasukan.


"Maafkan kami jika telah melakukan kesalahan! Jika kami tidak di perkenankan untuk memasuki kota ini, kami mohon pamit undur diri!." Ucap patriak lagi yang ingin pergi meninggalkan tempat itu.


"Kalian tidak boleh pergi dari kota ini sebelum kami ijinkan!." Tutur sang komandan.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2