
Bangsawan Zhi segera memohon ampun kepada Hong Jiannan dan juga Huaiying karena telah bersikap tidak sopan serta telah membela putranya yang sudah menyinggung kedua pendekar muda itu karena telah mengganggu kebersamaan keduanya yang sedang menikmati keindahan sungai Jiang.
Hong Jiannan tidak memberikan hukuman bagi tuan muda bangsawan Zhi serta kepada ayahnya.
Hal itu adalah sebagai bentuk mengapresiasi perkataan yang Zhuo Yihang sampaikan kepadanya bahwa tidak serta merta untuk mengangap para pendekar aliran hitamlah yang sering melakukan perbuatan jahat di dunia ini.
Pemuda itu hanya mengingatkan mereka agar tidak memberitahukan identitas keduanya dan juga untuk tidak lagi melakukan tindakan yang arogan serta tidak terpuji tersebut.
Mereka pun menyanggupinya dan pergi meninggalkan kedua pendekar muda itu dengan rasa syukur.
Sedangkan Hong Jiannan dan juga Huaiying kembali melanjutkan aktivitas mereka.
Setelah selesai menikmati semua pemandangan yang berada di kota Yong, mereka kembali melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota yang mereka lewati.
Sosok Hong Jiannan selalu bisa di kenali oleh para pendekar senior di setiap kota yang mereka singgah.
Hal itu karena ciri - cirinya yang mudah diingat, yaitu berambut merah.
Ciri - ciri tersebut sangatlah menyolok, sebab seseorang yang memiliki rambut merah, sulit di temukan di wilayah kekaisaran Zhou.
Setelah memasuki wilayah kekaisaran Qiang, mereka juga menyempatkan diri untuk mampir sebentar di kota Nanggu sebelum melanjutkan kembali perjalanan untuk menuju ke kota Rulong yang letaknya berada sudah tidak jauh lagi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi keduanya hingga bisa tiba di kota Rulong.
Setelah tiba di kediaman keluarga Ngapoi, sosok Huaiying segera di kenali oleh para pelayan.
"Nona! Silahkan masuk!". Sambut sang pelayan.
"Tuan! Nyonya! Nona Huaiying telah kembali!". Teriak sang pelayan sambil berlari kedalam kediaman keluarga Ngapoi.
Mendengar suara sang pelayan, seorang pria yang adalah adik ketiga Zhong Yi serta seorang wanita segera keluar dan menyambut Huaiying.
"Ayah! Ibu!". Ucap Huaiying yang langsung memeluk ibunya.
Lelaki dan wanita yang adalah orang tua dari Huaiying segera menatap kearah Hong Jiannan dengan rasa penasaran.
"Tuan! Nyonya! Perkenalkan, namaKu adalah Hong Jiannan". Ucap pemuda tersebut segera memperkenalkan namanya.
Sebelum mereka melanjutkan pembicaraan, Ngapoi Zhong Yi pun segera tiba.
"Ying'er! Kamu sudah kembali? Siapa pemuda ini?". Sambut Zhong Yi yang di lanjutkan dengan pertanyaan.
"Dia adalah Hong Jiannan, adik Penguasa Ma Guang". Jawab Huaiying.
Mendengar perkataan Huaiying, seluruh hadir di tempat itu segera bersujud.
"Hormat kepada Penguasa Muda!".
"Ampuni hamba ini yang tidak mengenal Penguasa Muda!". Lanjut Zhong Yi.
"Jangan melakukan hal itu! Silahkan berdiri!". Ucap Hong Jiannan.
"Kita akan menjadi keluarga, jadi tidak sepantasnya kalian melakukan hal itu". Sambung Hong Jiannan.
Mendengar perkataan pemuda di depan mereka, membuat pikiran orang - orang di tempat itu semakin bingung.
"Ayo, semuanya cepat berdiri! Jika tidak, aku akan sangat merasa bersalah dengan apa yang telah kalian lakukan ini". Lanjut Hong Jiannan.
"Terima kasih atas kebaikan Penguasa Muda!". Jawab mereka serentak sambil berdiri.
"Sebelum kita melanjutkan pembicaraan kita, sebaiknya Penguasa Muda dan juga Ying'er masuk dulu". Tutur Zhong Yi.
Mereka pun memasuki kediaman keluarga Ngapoi.
__ADS_1
Semuanya berkumpul di ruang utama keluarga.
"Tuan - tuan serta nyonya keluarga Ngapoi...maksud kedatanganKu bersama Ying'er kali ini adalah untuk memohon restu dari orang tua serta seluruh keluarga Ngapoi tentang hubungan kami berdua".
"Itulah mengapa aku merasa tidak pantas untuk mendapatkan sembah sujud kalian". Hong Jiannan mengungkapkan maksud kedatangannya dengan Huaiying.
Mendengar maksud dan tujuan kedatangan keduanya, Zhong Yi dan juga kedua orang tua Huaiying seperti sedang bermimpi.
Tidak hanya ketiga orang tersebut yang merasakan hal itu, akan tetapi seluruh keluarga Ngapoi sangat merasa senang setelah mendengar perkataan Hong Jiannan.
Mereka pun segera menyetujui serta merestui hubungan keduanya.
Hong Jiannan juga mengatakan bahwa mereka berdua akan pergi meminta restu dari kedua orang tuanya yang saat ini tinggal di sekte Beruang Matahari yang terletak di wilayah kekaisaran Baiyue.
Mereka pun menghabiskan beberapa hari di kota Rulong sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke arah Tenggara untuk menuju ke wilayah kekaisaran Baiyue.
***
Perjalanan Jiangjun, Ma Tian Shen dan juga Hong Yilan berjalan tanpa ada hambatan sedikit pun.
Kini Ma Tian Shen sering mendapatkan bimbingan dari Jiangjun dan juga Hong Yilan tentang bagaimana harus bersosialisasi dengan orang - orang pada umumnya.
Keduanya juga menjelaskan bagaimana sifat, sikap serta cara manusia dalam berinteraksi dengan yang lain.
Saat mereka singgah di salah satu kota yang masuk dalam wilayah kerajaan Chu, yaitu kota Zhen, Ma Tian Shen sudah mampu untuk bersikap baik.
Perjalanan mereka pun di lanjutkan untuk menuju ke markas sekte Beruang Matahari.
Setelah memasuki wilayah sekte Beruang Matahari, para murid sekte tersebut segera menghadang mereka.
"Mohon maaf jika kami sudah mengganggu perjalanan kalian! Akan tetapi hal ini sudah menjadi aturan di sekte kami untuk memeriksa setiap orang yang akan memasuki wilayah sekte kami". Ujar seorang pria yang adalah pemimpin dari kelompok tersebut.
"Tidak mengapa, apa yang hendak kalian tanyakan?". Tanya Hong Yilan.
"Aku adalah Hong Yilan! Putri dari tetua Hong Mogui". Jawab Hong Yilan.
"Maafkan atas kelancangan kami!". Tutur kelompok murid tersebut secara serentak.
Hal itu karena mereka telah mengetahui identitas istri Hong Mogui yang adalah ibu dari Ma Guang.
Sehingga mereka sangat menghormati siapa pun yang berhubungan dengan Hong Mogui.
Apa lagi Hong Yilan adalah adik dari Ma Guang.
"Nona Hong! Silahkan melanjutkan perjalanannya". Lanjut sang pemimpin.
"Terima kasih! Kami pergi dulu". Balas Hong Yilan.
Ma Tian Shen hanya diam saja dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun begitu juga dengan Jiangjun.
Mereka bertiga pun kembali melanjutkan perjalanan untuk memasuki wilayah sekte Beruang Matahari.
Para murid yang awalnya menghadang mereka segera memberitahukan kedatangan Hong Yilan kepada Hong Mogui dan juga kepada patriark sekte.
Kedatangan ketiganya langsung di sambut oleh para petinggi sekte dan juga kedua orang tuanya.
Mereka belum mengetahui bahwa ada putra Ma Guang yang juga ikut bersama - sama dengan Hong Yilan.
"Selamat datang Nona Hong! Senang bisa melihatMu kembali". Ucap patriark Tien Chou sambil menangkupkan tangannya yang diikuti oleh para petinggi sekte lainnya.
"PutriKu! Ternyata kamu sudah dewasa! Ibu selalu merindukanMu!". Ucap Li Yan menyambut Hong Yilan yang langsung memeluk putrinya tersebut.
"Bagaimana keadaan kedua kakakMu?". Lanjut Li Yan bertanya kepada putrinya.
__ADS_1
"IstriKu! Sudahlah! Mari kita pergi ke aula utama sekte untuk melanjutkan pembicaraan". Ucap Hong Mogui memotong kata - kata istrinya.
"Mereka bertiga baru saja melakukan perjalanan yang jauh, sehingga mereka juga butuh untuk beristirahat". Lanjut Hong Mogui lagi.
"Mohon maaf jika kami lancang! Jika orang tua ini boleh tahu, siapa kedua pendekar ini?". Tanya patriark Tien Chou lagi dengan penuh rasa hormat.
"Oh iya ibu! Aku telah melupakan hal terpenting saat ini". Tutur Hong Yilan.
"Lan'er! Hal penting apa yang kamu lupakan?". Tanya Li Yan dengan penasaran.
"Semuanya, perkenalkan, ini adalah jenderal Naga Jiangjun! Sebagai pengawal pribadi kakak Ma Guang yang adalah seorang Dewa Surgawi".
Mendengar perkataan Hong Yilan, semuanya bak di sambar petir dan segera bersujud memberi hormat.
"Kami memberi hormat kepada Dewa Naga Jiangjun!".
Mereka mengucapkan kata - kata itu sebanyak tiga kali.
"Maaf nyonya! Aku tidak layak menerima sujudMu!". Ucap Jiangjun yang segera mencegah Li Yan bersujud di depannya.
"Dan ini adalah Ma Tian Shen, putra tertua kakak Ma Guang". Ucap Hong Yilan memperkenalkan ponakannya.
Mendengar Hong Yilan menyebutkan identitas Ma Tian Shen, mereka tidak kalah terkejutnya.
Li Yan pun merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Namun hal yang berbeda dengannya bahwa rasa senang, sedih, rindu, bahagia semuanya bercampur aduk di dalam hati dan pikiran serta perasaannya.
"Kami memberi hormat kepada Penguasa Muda!".
Mereka mengucapkan kata - kata itu sebanyak tiga kali.
"Mohon ampuni kami karena tidak bisa mengenal Penguasa Muda dan juga Dewa Naga Jiangjun!". Tutur mereka serentak seperti sudah berlatih terlebih dahulu.
Sedangkan Ma Tian Shen tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Jiangjun terhadap Li Yan.
Remaja itu hanya bersikap seperti biasa saja.
Sikapnya itu juga adalah agar dia tidak melakukan kesalahan lagi, pikirnya.
"Semuanya silahkan berdiri!". Ucap Jiangjun.
Ma Tian Shen merasa senang dengan penghormatan yang di berikan oleh para petinggi sekte.
Sebab, saat menyambut Hong Yilan, semuanya hanya memberi hormat dengan menangkupkan tangan mereka.
Namun sangat berbeda dengan penghormatan mereka saat mengetahui identitasnya dan juga identitas Jiangjun.
Remaja itu belum bereaksi lebih dengan situasi tersebut walau pun di depannya hadir juga Li Yan yang adalah neneknya sendiri.
"Penguasa Muda! Cepat kamu pergi untuk memberi hormat kepada nenekMu!". Ucap Jiangjun lewat kekuatan spiritualnya.
"Oh begitu yah...!?". Balas Ma Tian Shen yang masih belum mengerti dengan aturan tersebut.
Remaja itu pun segera melangkah mendekati Li Yan dan bersujud untuk memberi hormat.
"Ma Tian Shen memberi hormat kepada nenek!". Ucap remaja itu sambil berlutut dan menangkupkan tangannya.
"Silahkan berdiri cucuKu!". Ucap Li Yan sambil memegang kedua tangan remaja itu dan mengisyaratkan untuk berdiri.
Setelah Ma Tian Shen berdiri, wanita itu segera memeluknya.
~Bersambung~
__ADS_1