
Sepertinya untuk menguasai jiwa senjata akan sangat sulit juga. Tetapi hal itu harus aku kuasai, agar aku bisa menghadapi lawan - lawan yang berat sekali pun.
"Walau pun diriKu sudah mencapai tingkat tertinggi dari pendekar suci, namun karena pencapaian yang kuraih dengan mengambil jalan pintas, sehingga kekuatan sejatinya belum juga aku miliki. Serta pengalaman dan juga wawasanKu tentang dunia persilatan masih sangat terbatas. Aku harus sering berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan ketiga paman guru tersebut. Agar aku bisa menambah pengetahuanKu di dalam dunia persilatan." Gumam Ma Guang.
Memang kemampuan Ma Guang sebenarnya sudah berada di puncak. Namun hal itu belum ada apa - apanya jika di bandingkan dengan para patriak sekte - sekte besar yang sudah memiliki pengalaman yang melimpah di dunia persilatan.
Pengalaman bertarung Ma Guang belum ada apa - apanya jika di bandingkan dengan para patriak sekte - sekte besar.
Ma Guang langsung duduk berbincang - bincang dengan keempat orang tua bersaudara tersebut.
Ma Guang menanyakan tentang kemampuan ilmu bela diri yang tidak pernah dia ketahui.
Sedangkan kakak tertua Su Tian langsung menjelaskan bermacam ilmu bela diri yang pernah dia temui.
Pria tua itu menjelaskan agar Ma Guang menguasai jiwa senjata yang dia gunakan.
Agar disaat menghadapi seorang ahli ilmu bela diri jarak jauh, Ma Guang bisa menghadapinya dengan jiwa senjata.
Ada juga aliran ilmu bela diri asli di wilayah kekaisaran Zhou, yang terbagi antara wilayah bagian selatan dan juga wilayah bagian utara.
Ilmu bela diri aliran utara lebih dominan oleh kuda2 melebar, kecepatan & kekuatan yang terefleksi pada tendangan, kaitan dan sapuan kaki.
Sedangkan ilmu bela diri aliran selatan lebih dominan kuda2 pendek, kecepatan, kelembutan dan kekuatan yang terefleksi pada pukulan, kuncian, totokan, lemparan dan bantingan. Kombinasi atas kedua aliran tersebut terkenal dengan Tendangan dari Utara dan Tinju dari Selatan.
Akan tetapi Ma Guang baru saja mempelajari salah satu teknik tersebut, yaitu teknik ilmu bela diri dari selatan.
Sebab jurus yang dia miliki banyak mengandalkan serangan dengan menggunakan tangannya. Yaitu Tinju Peremuk Tulang, Cakar Harimau dan juga Cakar Elang.
Mendengar penjelasan dari kakak tertua Su Tian, akhirnya Ma Guang mulai mengerti tentang ilmu bela diri yang ada di wilayah kekaisaran Zhou mau pun beberapa ilmu bela diri di luar wilayah kekaisaran Zhou yang pria tua itu perna temui.
Ma Guang langsung bertambah semangatnya untuk berlatih dan menguasai jiwa senjata.
Sedangkan aliran ilmu bela diri yang berasal dari aliran Shaolin ada begitu banyak, namun belum seluruhnya terekspos keluar.
Ada juga ilmu bela diri dari aliran Dao yang juga belum nampak di dunia persilatan.
__ADS_1
Ma Guang langsung berpikir, jika dirinya sudah bisa menguasai jiwa senjata yang di pelajarinya, dia akan berpetualang untuk mempelajari setiap aliran ilmu bela diri yang ada.
"KemampuanKu saat ini belum ada apa - apanya untuk merasa paling terkuat dalam menguasai ilmu bela diri. Sedangkan bagi ilmu bela diri yang lain, kemampuanKu ini baru dasar dari kemampuan mereka. Jadi aku harus lebih meningkatkan lagi kemampuanKu." Gumam Ma Guang dalam hatinya.
Aliran Dao berpikir untuk menuju ke abadian, apa yang telah Ma Guang capai, hal itu baru menjadi dasar untuk melangkah lebih jauh lagi. Karena masih ada tingkatan yang lebih tinggi dari apa yang telah Ma Guang capai.
Dan untuk mencapainya, hal itu adalah sesuatu yang mustahil untuk di lakukan. Namun bagi seseorang yang telah menekuni aliran Dao, hal itu adalah hal yang wajar untuk di capai.
Pikiran Ma Guang kini sudah mulai terbuka, dan dirinya sudah mulai mengetahui bahwa kemampuannya saat ini bukanlah suatu kemampuan yang tidak bisa tertandingi, sebab masih ada kemampuan yang bisa melakukan banyak hal yang melebihi apa yang bisa dirinya lakukan.
Kakak tertua Su Tian merasa kemampuannya untuk orang lain yang berada di wilayah kekaisaran Zhou, sangatlah tidak bisa di lawan oleh orang lain yang berada di wilayah itu. Namun kenyataannya, sudah ada seorang pria muda yang mampu melewati pencapaianya serta bisa juga untuk mengalahkan dirinya.
Malam itu Ma Guang lewati dengan rasa penuh kejutan yang membangkitkan semangatnya untuk berusaha mencapai kemampuan ilmu bela dirinya yang dia rasa masih sangat minim tersebut setelah mendengar penjelasan dari tiga pria tua di depannya.
Keesokan harinya Ma Guang kembali berlatih dengan giat agar bisa secepatnya menguasai jiwa senjata.
Ma Guang belum bisa melanjutkan rencananya untuk pergi menghancurkan markas pusat sekte Kalajengking Merah. Hal itu di sebabkan karena apa yang telah di ceritakan oleh ketiga pria tua saudara Su Tian.
Bahwa kemampuan mereka harus lebih di tingkatkan, sebab akan banyak pendekar yang akan memburuh Ma Guang. Dan hal itu akan menguras kemampuan mereka sebelum tiba di tempat tujuan mereka yaitu Sekte Kalajengking Merah.
Sudah tiga bulan berlalu, namun Ma Guang belum juga bisa menguasai jiwa senjata sepenuhnya.
Jarak pengendalian untuk pedangnya masih sejauh satu meter dan hal itu juga tidak terlalu kuat untuk sebuah serangan.
"Berapa lama lagi aku baru bisa menguasai jiwa senjata ini?." Gumam Ma Guang yang sudah merasa frustasi dengan pelatihannya.
Untuk menguasai jiwa senjata, biasanya secara normal bisa menghabiskan waktu selama puluhan tahun, dan jika bagi seorang jenius, hal itu bisa di kuasai hanya dalam waktu sepuluh tahun atau belasan tahun.
Kasus yang berbeda bagi Ma Guang. Walau pun belum sepenuhnya menguasai jiwa pedang, tetapi Ma Guang sudah bisa di kategorikan sebagai seorang yang super jenius, sebab baru dalam hitungan bulan, dirinya sudah bisa melakukan hal itu walau pun belum menguasai sepenuhnya.
Di samping Ma Guang berlatih untuk menguasai jiwa senjata. Pemuda itu juga berlatih untuk menggunakan kekuatan jiwanya untuk menyerang lawannya.
Pemuda itu mengembangkan teknik untuk mempertahankan tubuhnya di saat dirinya melakukan serangan dengan menggunakan jiwanya. Teknik itulah yang sudah benar - benar Ma Guang kuasai.
Tiga bulan kemudian, pemuda itu sudah bisa melakukan serangan dengan menggunakan jiwa pedang dengan jarak jangkauan sejauh dua meter. Dan hal itu sudah bisa mengalahkan kakak tertua Su Tian.
__ADS_1
Pemuda itu juga telah mengembangkan pembentukan pedang dengan tenaga dalam miliknya. Hal itu sudah bisa di lakukan karena telah memiliki jiwa pedang. Dan dirinya ingin membuat pembentukan pedang dengan jumlah yang banyak. Namun hal itu tentunya akan menguras energi tenaga dalam yang banyak.
Setelah sudah setahun berlalu, akhirnya Ma Guang berniat untuk melakukan perjalanan kembali, karena dirinya merasa sudah siap untuk meratakan sekte Kalajengking Merah.
Xia Jiao dan juga ketiga saudara Su Tian kini sudah membuka gerbang kedelapan yaitu puncak pendekar suci.
Sedangkan untuk Yuan Jiali, Yuan Gao, Sim Lan dan juga Su Tian, mereka baru bisa membuka gerbang kelima pendekar suci.
Pada suatu malam, di saat mereka semua duduk di ruang tamu, Ma Guang langsung menyampaikan idenya kepada mereka.
Ma Guang ingin mendirikan suatu pavilium di kota Yingqiu untuk membuka usaha yang bergerak di bidang jasa. Yaitu jasa pengawalan dan juga jasa informasi.
Dan mereka harus merekrut pendekar - pendekar bebas yang mau bekerja di bawah perintah mereka.
Dan mereka akan menerima bayaran 50 persen dari pembayaran yang akan di berikan oleh para pedagang yang akan menggunakan jasa pengawalan mereka.
Dan untuk pengawalan awal, akan di pimpin langsung oleh masing - masing dari mereka, yaitu Empat Su bersaudara dan juga Yuan Gao.
Sedangkan untuk Sim Lan dan Yuan Jiali, mereka berdua tetap akan mengurus pavilium di kota Yingqiu.
Selain menidirikan pavilium untuk menawarkan jasa, mereka juga akan mendirikan sebuah panti asuhan untuk menampung anak - anak yang sudah tidak memiliki orang tua mau pun keluarga. Dan anak - anak tersebut akan didik dan di latih ilmu bela diri agar mereka bisa bekerja untuk pavilium disaat mereka sudah pantas di pekerjakan.
Sedangkan Ma Guang dan juga Xia Jiao akan melakukan perjalanan untuk melakukan petualangan, hal itu untuk menambah wawasan serta pengalaman di dunia persilatan.
Mereka semua menerima dan menyetujui apa yang di sampaikan oleh Ma Guang.
"Baiklah! Kalau begitu, kapan kita akan memulai hal itu?." Ucap Ma Guang.
"Menurut saya, lebih cepat kita melakukan hal itu, akan lebih baik!." Ucap Kakak tertua Su Tian.
"Iya! Jika kita sudah siap, besok kita sudah boleh berangkat untuk menuju ke ibu kota kerajaan Qi!." Ucap Su Tian.
"Bagaimana menurut paman Yuan?." Tanya Ma Guang.
"Baiklah! Kita berangkat besok pagi, jadi malam ini kita sudah boleh menyiapkan apa yang akan kita bawah." Jawab Yuan Gao yang di tanggapi dengan anggukan kepala semua orang yang ada di situ.
__ADS_1
~Bersambung~