
Setelah tiba di aula utama sekte, Ma Guang langsung di sambut dengan senyuman oleh seluruh tetua yang telah berada di dalam aula tersebut.
Ma Guang langsung menuju kursi yang telah mereka siapkan untuknya.
Sedangkan Duan Dazhong duduk di kursi yang tersedia juga untuknya. Namun tidak berada di dekat Ma Guang, sebab pemuda itu kini duduk di jajaran para leluhur dan juga tiga orang pemimpin tertinggi sekte.
Pesta malam itu berjalan dengan penuh dengan kegembiraan dan kebahagiaan yang tidak terhingga di rasakan oleh setiap petinggi sekte.
Saat matahari baru muncul di ufuk timur, Ma Guang kini sudah mulai bersiap untuk kembali ke kota Nanpi.
Dirinya kini sedang berada di ruangan tamu kediamannya dan di temani oleh Duan Meng, Duan Jun, Tjia Annchi dan juga Zhou Lu Yun.
Mereka berlima kini sedang menikmati hidangan yang telah di siapkan oleh pelayan yang berada di kediamannya.
"Kakak Jun! Saat aku kembali, aku berharap tuan putri dan juga nona Tjia sudah bisa menguasai perubahan bentuk energi tenaga dalam mereka masing - masing. Jadi aku berharap kakak Jun dan juga nona Duan agar bisa membantu mereka berdua untuk bisa menguasai hal itu". Ucap Ma Guang.
"Baik! Aku akan selalu memberikan petunjuk serta arahan kepada mereka berdua". Ucap Duan Jun.
"Aku juga akan membantu mereka berdua sesuai apa yang aku sebisa". Ucap Duan Meng.
"Nona Duan! Aku juga berharap, kamu sudah bisa mencapai pendekar raja tingkat tinggi agar kamu sudah siap juga untuk menerobos menjadi pendekar suci". Ucap Ma Guang.
Ma Guang juga telah memberikan petunjuk bagi Duan Dazhong dan Duan Jun bagaimana caranya untuk menerobos menjadi pendekar suci.
***
Di aula utama sekte Kalajengking Merah, masuk seorang anggota melaporkan kepada Ketua Sekte.
"Hormat kepada ketua! Hamba ingin melaporkan sesuatu kepada ketua". Ucap seorang anggota tersebut.
"Apa yang ingin kamu laporkan?". Tanya ketua sekte.
"Ketua! Ternyata pemuda yang bernama Ma Guang itu, memiliki teknik yang bisa mempermudah untuk meningkatkan kemampuan ilmu bela diri". Ucap anggota tersebut.
"Maksudnya?". Tanya ketua sekte.
"Maksudnya, pemuda itu memiliki teknik untuk bisa cepat menerobos setiap tingkatan ilmu bela diri hingga ketingkat yang tertinggi, yaitu pendekar suci gerbang kedelapan". Ucap anggota tersebut.
"Berarti dirinya kini sudah menjadi seorang pendekar suci yang sudah membuka gerbang kedelapan!?". Gumam sang ketua.
"Iya ketua! Hal itulah yang telah aku dengar dari setiap murid sekte Bambu Kuning". Ucap anggotanya itu.
__ADS_1
"Sialan! Pantas saja setiap pembunuh bayaran yang di utus oleh Yang Mulia Raja tidak bisa menghabisinya, ternyata itu yang menjadi alasannya". Gumam ketua sekte lagi.
"Baiklah, kalau begitu kamu kembali dan terus mengumpulkan informasi tentang pemuda itu dan juga tentang situasi di sekte itu". Perintah ketua sekte.
"Siap ketua! Hamba mohon undur diri". Ucap pria tersebut sambil berbalik dan meninggalkan tempat itu.
"Aku harus menyampaikan hal ini kepada yang mulia raja". Gumam ketua sekte lagi.
Pria paru baya tersebut langsung melangkahkan kakinya untuk meninggalkan aula tersebut dan hendak menuju ke ibu kota kerajaan untuk bertemu dengan raja Ma Yen.
***
Setelah selesai berpamitan dengan orang - orang terdekatnya dan juga kepada patriak dan para tetua sekte serta memberikan petunjuk kepada tetua Ying Zhao dan juga tetua Fei Yu yang juga adalah gurunya untuk menerobos menjadi pendekar suci. Akhirnya Ma Guang meninggalkan sekte Bambu Kuning dan menuju ke kota Nanpi.
Pemuda itu memacu kudanya dengan cepat sehingga hanya membutuhkan waktu satu jam saja sehingga dirinya kini sudah berada di depan pintu gerbang kota Nanpi.
Pemuda itu langsung menuju ke pintu gerbang untuk memasuki kota Nanpi. Namun dia langsung di hentikan oleh prajurit penjaga pintu gerbang.
Hal itu terjadi karena Ma Guang tidak memakai baju zirahnya sebagai seorang jenderal serta wajahnya belum di kenali oleh para prajurit.
Ma Guang langsung merasa heran dengan apa yang prajurit itu lakukan.
"Ada apa? Kenapa kalian menghalangi jalangi jalanKu?". Tanya Ma Guang.
"Apa? Apakah kalian tidak mengenali diriKu?". Tanya Ma Guang lagi dengan nada suara yang keras.
"Tidak! Kami tidak mengenal diriMu! Siapa kamu?". Ucap prajurit itu lagi.
"Aku adalah.....".
Ma Guang tidak bisa melanjutkan kata - katanya.
"Sialan! Mengapa aku sudah menjadi seperti ini? Apakah ini karena sudah mulai terbiasa dengan statusKu sebagai seorang jenderal? Tidak! Aku ingin menjadi seorang Ma Guang seperti dahulu". Gumam Ma Guang di dalam hatinya.
Pemuda itu pun langsung berbalik dan langsung mengantri.
Beberapa saat kemudian, akhirnya pemuda itu pun mendapatkan giliran untuk di periksa.
"Tolong tunjukan tanda pengenal anda!". Ucap seorang prajurit kepada Ma Guang.
Pemuda itu pun langsung menunjukan lencana yang di berikan oleh raja kepada prajurit tersebut.
__ADS_1
Melihat rencana tersebut, semua prajurit yang berada di tempat itu langsung berlutut dengan posisi salah satu kaki berada di depan sambil menangkupkan tangan mereka.
"Hormat kepada jenderal Ma Guang!". Ucap para prajurit secara serentak.
Keringat dingin langsung mengucur deras di wajah para prajurit yang ada.
Jantung prajurit yang awalnya telah menghadang Ma Guang, kini seperti mau copot, karena merasa sangat bersalah telah menyinggung seorang jenderal yang kini namanya sedang menjadi perbincangan di seluruh wilayah kekaisaran mau pun dunia persilatan.
Komandan yang menjadi pemimpin mereka langsung terkejut menatap tingkah para bawahannya itu.
Sang komandan pun langsung berjalan mendekati mereka dan ingin mempertanyakan apa yang mereka lakukan.
Setelah berada di dekat mereka, sang komandan pun langsung bisa melihat dan mengenali benda yang berada di tangan seorang pemuda di depan para bawahannya itu.
Sang komandan pun langsung melakukan hal yang sama seperti yang sedang di lakukan oleh oleh para bawahannya.
"Hormat kepada jenderal Ma Guang!". Ucap sang komandan.
Walau pun mereka tidak mengenal wajah pemuda tersebut, tetapi lencana yang di tunjukan oleh Ma Guang adalah satu - satunya lencana yang berada di kota tersebut, dan itu adalah milik seorang jenderal utusan dari ibu kota kerajaan, yaitu Ma Guang.
Karena itu, para prajurit mau pun sang komandan langsung menyebut nama Ma Guang.
Pemuda itu tetap diam sesaat menatap mereka semua yang sedang memberikan hormat kepadanya, hingga akhirnya bersuara kepada mereka.
"Kalian semua silahkan berdiri!". Ucap Ma Guang.
"Terima kasih jenderal!". Ucap mereka serentak dan langsung berdiri.
"Mohon maaf jika ada sikap para bawahanKu yang telah menyinggung perasaan jenderal". Ucap sang komandan sambil menangkupkan tangannya lagi.
"Jenderal! Maaf atas sikapKu sebelumnya!". Ucap Prajurit yang awalnya menghentikan Ma Guang.
"Hal itu tidak perlu di pikirkan lagi, dan saya berharap, jika ada hal yang terjadi seperti itu lagi, kalian boleh menghentikannya, namun harus langsung menanyakan tanda pengenal orang tersebut". Ucap Ma Guang.
"Siap jenderal! Kedepannya kami akan melakukan serti apa yang jenderal katakan". Ucap sang komandan.
"Baiklah! Kalau begitu aku pamit dulu untuk melanjutkan perjalananKu". Ucap Ma Guang.
"Silahkan jenderal!". Ucap mereka secara serentak sambil membungkuk dengan tangan di tangkupkan.
Prajurit yang awalnya merasa sangat ketakutan, kini merasa lega karena Ma Guang tidak mengambil hati dengan apa yang telah dia lakukan.
__ADS_1
Mereka pun kembali melakukan tugas pemeriksaan kepada setiap orang yang telah mengantri untuk memasuki kota Nanpi.
~Bersambung~