Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 160. Pembicaraan Di Dua Kediaman Yang Berbeda


__ADS_3

Akhirnya Ma Guang tiba di kediaman keluarga Duan.


Tetua Duan Dazhong serta istrinya yang melihat kedatangan pendekar muda itu langsung berdiri dari tempat duduk mereka masing - masing serta langsung menyambut pemuda itu dengan memberi hormat kepadanya.


"Hormat kepada pelindung sekte!". Ucap kedua orang tuan Duan Meng tersebut.


"Sudah, jangan terlalu formal begitu, akhir - akhir ini aku sering merasa tidak nyaman dengan sikap dan tingkah laku para tetua serta para murid di sekte ini, sebab aku masih ingin merasakan kebiasaan yang lama yang sering kalian tunjukkan kepadaKu sebelum diriKu menerima gelar yamg baru ku dapatkan itu". Ujar Ma Guang dengan jujur.


Mendengar suara seseorang yang sangat di kenalnya, Duan Meng langsung bergegas ke ruang tamu untuk memastikan hal itu.


Dan benar saja, setelah dirinya tiba di ruang tamu, gadis itu langsung tersenyum karena telah mendapati orang yang di pikirkannya itu benar - benar berada di ruang tamu dan sedang berbincang - bincang dengan kedua orang tuanya.


"Oh, ternyata benar tebakanKu, bahwa pelindung sekte kita sedang berkunjung ke kediamanKu". Ujar Duan Meng dengan nada yang sedikit menyindir Ma Guang karena gelar yang baru saja dia terima.


"Siapa juga yang berkunjung ke kediamanMu? Yang aku tahu ini adalah kediaman dari tetua Duan, bukan kediamanMu". Ujar Ma Guang yang balas menyindir gadis tersebut.


"Heh...kediaman ayahKu adalah kediamanKu juga...itu berarti saat ini kamu sedang datang ke kediamanKu juga...mengerti!?". Ujar Duan Meng dengan nada suara yang ketus.


"Meng'er, kamu tidak boleh berbicara seperti itu kepada pelindung sekte kita, itu sikap yang tidak baik". Ujar Duan Dazhong mengingatkan gadis itu.


"Jadi ayah tidak mengakuinya kalau ini juga adalah kediamanKu!?". Balas gadis tersebut dengan sedih.


"Bukan begitu maksud ayah, tetapi.....".


"Paman Duan...sudahlah, aku dan nona Duang Meng sudah selalu seperti ini, jadi hal itu tidak perlu di bahas lagi. Sebenarnya sikap yang sepertilah yang selalu aku rindukan, karena tidak berubah di saat aku mendapatkan gelar sebagai pelindung sekte ini". Ucap Ma Guang menyelah perkataan Duan Dazhong.


Wajah gadis itu langsung kembali ceria setelah mendengar perkataan Ma Guang yang merindukan tingkah konyolnya itu.


Tetua Duan Dazhong langsung mengiyahkan perkataan Ma Guang dan tidak melanjutkan lagi kata - katanya.


"Paman Duan! Sebenarnya saat ini juga diriKu sedang merasa haus, tetapi apalah daya, walau pun ada seorang gadis cantik di kediaman paman ini, tetapi gadis itu selalu bersikap tidak ramah kepadaKu, jadi biarlah aku menahan rasa hausKu ini". Ujar Ma Guang menyindir Duan Meng.


Mendengar kata - kata sindiran dari pemuda yang di sukainya itu, gadis itu pun langsung merasa malu dan bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan teh hangat buat pemuda tersebut.


Ketiga orang yang duduk tersebut saling berpandangan dan tersenyum saat melihat tikah Duan Meng.


"Pelindung sekte, mohon maaf atas tingkah laku dari putriKu". Ucap Duan Dazhong.


"Paman! Jangan memanggilKu seperti itu lagi jika situasinya seperti ini, sebab aku sangat merasa risih dengan panggilan tersebut. Panggillah aku seperti sebelumnya yang bisa paman memanggil diriKu". Ujar Ma Guang.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan". Ucap Duan Dazhong.

__ADS_1


Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan mereka sambil menunggu teh hangat yang sedang di siapkan oleh Duan Meng.


Tidak lama kemudian, akhirnya teh hangat yang di tunggu - tunggu pun tiba.


Duan Meng langsung menyuguhkan kepada orang - orang yang di kasihinya itu.


"Ayo, silahkan di minum tehnya selagi masih hangat". Ujar Duan Meng.


"Terima kasih karena sudah repot - repot membuatkan teh untukKu". Ujar Ma Guang sambil tersenyum menatap gadis tersebut.


"Ternyata seorang pelindung sekte kita mata keranjang juga, apakah hal itu yang membuat nona Xia Jiao sampai minggat secara diam - diam!?". Ujar Duan Meng menyindir Ma Guang sambil tersenyum sinis.


Mendengar apa yang di katakan oleh Duan Meng, Ma Guang lansung tersedak saat meminum teh miliknya.


"Uhuk...uhuk...uhuk..".


"Guang'er...apakah kamu tidak apa - apa?". Tanya Duan Dazhong.


"Oh, tidak apa - apa paman...uhuk...uhuk...". Jawab Ma Guang yang masih terbatuk.


Duan Meng hanya tersenyum senang karena merasakan bahwa apa yang baru di katakannya kemungkinan besar adalah benar adanya.


"Meng'er...!!! Kalau bercanda jangan seperti itu!". Seru Duan Dazhong.


Duan Meng langsung beranjak dan pergi lagi meninggalkan ketiga orang tersebut.


Ma Guang pun langsung melanjutkan pembicaraan mereka.


"Paman tentunya sudah mengetahui atas keputusan yang semua petinggi sekte ambil saat melakukan pertemuan tadi. MenurutKu hal itu sangat baik untuk menunjukkan kepada seluruh sekte aliran hitam bahwa penyerangan yang telah mereka lakukan kepada sekte kita baru - baru itu tidak membuat sekte kita gentar sedikit pun dan hal itu akan menunjukkan bahwa kemampuan kita tidak boleh untuk di singgung lagi". Ucap Ma Guang dengan penuh percaya diri.


"Tetapi menurut paman masih ada dua lagi sekte besar aliran hitam yang belum melakukan pergerakan akhir - akhir ini, dan semua itu pasti ada alasannya sehingga mereka tidak lagi melakukan pergerakan". Ujar Duan Dazhong mengingatkan Ma Guang.


"Memang benar apa yang paman katakan itu, tetapi menurut pemikiranKu, kedua sekte itu kini mulai berhati - hati dan tidak mau melakukan pergerakan yang berlebihan, sebab aku sudah sering menghajar setiap kelompok yang berasal dari kedua sekte besar itu".


"Apa lagi kedua sekte itu memiliki dendam pribadi denganKu dan juga dengan keluarga guru Su Tian, sehingga mereka adalah tujuan utama aku dan juga guru Su Tian".


"Kemungkinan besar setelah aku mengantarkan tuan putri ke ibu kota kekaisaran, aku akan pergi untuk menyambangi sekte Kalajengking Merah terlebih dahulu". Tutup Ma Guang.


"Memang apa yang kamu katakan itu ada benarnya juga, tetapi menurut paman, kita harus lebih berhati - hati lagi dan harus selalu siap menghadapi kemungkinan yang tidak bisa kita duga, sebab berita penyerangan terhadap sekte kita ini pasti telah menyebar dan sudah sampai ke telinga kedua pimpinan sekte tersebut, paman hanya berpikir, jangan sampai mereka memanfaatkan situasi sekte kita yang dalam pemulihan ini untuk di serang oleh mereka". Ucap Duan Dazhong mengingatkan Ma Guang lagi.


"Hal itu kemungkinan besar belum akan terjadi dalam waktu dekat ini, sebab menurutKu, jika kekuatan mereka sudah bisa untuk melakukan hal itu, mereka sudah melakukannya sejak lalu disaat aku selalu menghancurkan orang - orang mereka". Lanjut Ma Guang lagi meyakinkan Duan Dazhong.

__ADS_1


Duan Dazhong menganggukkan kepalanya menanggapi penjelasan yang di sampaikan oleh pemuda yang duduk di depannya itu.


Di kediaman Tjia Annchi.


Keluarga bangsawan Tjia yang sedang menantikan seseorang yang akan menjadi menantu di keluarganya sedang duduk dengan sabar di temani oleh putri mereka Tjia Annchi.


Dari kejauhan kini sudah terlihat seorang pemuda yang tampan dengan tubuh yang proporsional sedang melangkah untuk menuju ke kediaman tersebut.


Setelah pemuda itu tiba di depan pintu kediaman nona Tjia, dirinya langsung di sambut oleh beberapa murid serta langsung mempersilahkan pemuda itu untuk memasuki kediaman tersebut.


Setelah pemuda itu memasuki kediaman itu, dirinya langsung di suguhkan dengan pemandangan yang membuat jantungnya berdegup sangat kencang saat semua mata menatap kearahnya.


"Salam kepada kepala keluarga bangsawan Tjia...perkenalkan, nama saya adalah Duan Jun, anak dari tetua Duan Dazhong". Ucap Duan Jun sambil menangkupkan tangannya.


"Jun gege...ayo, silahkan duduk". Ujar Tjia Annchi sambil tersenyum.


Duan Jun pun langsung duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.


Kepala keluarga bangsawan Tjia langsung lebih dahulu membuka pembicaraan di ruangan tersebut.


"Oh...ternyata pemuda ini yah? Iya...iya...aku sudah pernah melihatnya saat kalian kembali dari kompetisi di ibu kota kekaisaran dan mampir di kediaman keluargaKu". Ujar Tjia Zihan.


"Apakah benar kamu adalah kekasih dari putriKu?". Lanjut Tjia Zihan melontarkan pertanyaan kepada Duan Jun.


"Iya, aku adalah kekasih nona Tjia, dan aku mohon untuk menerimaKu sebagai menantu di keluarga Tjia!". Ucap Duan Jun yang tidak ingin lagi bertele - tele dengan hubungannya itu.


Kepala keluarga Tjia langsung tertawa saat mendengar perkataan Duan Jun dan langsung berkata : "Ha...ha...ha...ha...ha...ha...ternyata putriKu memiliki seorang kekasih yang sangat bersemangat".


"Apakah kamu benar - benar sangat mencintai putriKu?". Lanjut Tjia Zihan bertanya kepada Duan Jun.


"Iya...!!! Aku sangat mencintainya, dan jika kepala keluarga Tjia menyetujuinya, aku akan mengajak kedua orang tuaKu untuk melamar nona Tjia dan secepatnya kita menikah". Jawab Duan Jun.


"Ha...ha...ha...ha...ha...ha...sebenarnya menurutKu, bukan aku yang bisa menentukan hal itu, tetapi semua itu tergantung kepada putriKu, jika dirinya menginginkan hal itu, aku tidak bisa berbuat apa - apa lagi". Ujar Tjia Zihan.


"Chi'er...apakah kamu menyetujui apa yang baru saja aku katakan itu!?". Tanya Duan Jun dengan tatapan yang penuh harap.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan Duan Jun sambil tersenyum dengan wajah yang bersemu merah.


"An'er! Apakah keputusanMu ini sudah bulat? Jika benar demikian, ada baiknya kita secepatnya bertemu dengan kedua orang tua dari tetua Jun dan membicarakan hal ini". Ucap Tjia Zihan.


"Mohon ayah mertua jangan memanggilKu dengan sebutan tetua, karena hal itu menurutKu terlalu berlebihan". Ujar Duan Jun sambil tersenyum malu.

__ADS_1


"Ha...ha...ha...ha...ha...panggilan itu sudah sepantasnya, sebab hal itu benar adanya". Balas Tjia Zihan menanggapi ucapan Duan Jun.


~Bersambung~


__ADS_2