
Perdebatan pun terjadi di aula istana kerajaan Qi.
Beberapa menteri tidak menyetujui apa yang akan di lakukan oleh raja Qi Guan Zhong.
Raja pun mulai mengalahkan keegoisan dirinya.
Sedangkan pangeran Qi Yuan terus mengeluhkan kepada ayahnya untuk menangkap Xia Jiao untuk di jadikan istrinya.
Raja pun kini menjadi dilema untuk mengambil keputusan.
Di lain pihak, dirinya ingin mengabulkan keinginan putranya, tetapi di lain pihak dirinya harus memikirkan masa depan kerajaannya.
"Yuan'er! Ayah tidak bisa menuruti kemauanMu saat ini, hal itu akan memicu permasalahan yang serius bagi kerajaan kita". Ucap sang raja kepada putranya.
Sedangkan di ruangan itu juga, hadir kepala keluarga Tjia yang juga adalah salah satu pilar kerajaan Qi.
Pria paru baya tersebut merasa apa yang di sampaikan oleh sang raja sangatlah tidak berdasar dan hal ini juga adalah suatu penghianatan seorang pemimpin kepada seorang pahlawan yang berjuang bagi kerajaan mereka.
"Jadi! Apa yang akan kita lakukan terhadap pasukan yang mengikuti Ma Guang saat ini?". Tanya jenderal Wang Xuesi.
"Biarkan saja mereka meninggalkan ibu kota kerajaan, sebab jika kita mencoba untuk menahannya, itu sama saja kita menjadikan ibu kota kerajaan untuk menjadi medan pertempuran yang akan mengakibatkan kerugian besar bagi kerajaan kita". Ucap seorang menteri lagi.
Sebagian besar yang hadir di tempat itu langsung menyetujui apa yang di katakan menteri tersebut.
"Biarkan saja mereka semua pergi dari ibu kota kerajaan, dan jika mereka semua sudah berada di luar kerajaan, kita utus saja pasukan yang lebih besar untuk menghancurkan mereka". Ucap seorang jenderal.
"Maaf sebelumnya! Tetapi yang aku dengar adalah, sepuluh ribu pasukan dari kerajaan Lai saja, mampu di hancurkan oleh pasukan mereka yang hanya berjumlah ratusan orang saja". Ucap seorang menteri.
"Itu sangat mustahil, dan kemungkinan terbesarnya, itu hanyalah suatu strategi untuk menghancurkan mental pasukan musuh, sehingga di besar - besarkan". Ucap sang jenderal lagi.
"Apakah kamu sudah pernah melihat kemampuan Ma Guang?". Tanya sang raja.
"Ampun yang mulia! Hamba belum pernah melihat kemampuan pemuda itu!". Jawab jenderal tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak meragukan informasi itu, karena aku juga sudah melihat kemampuan pemuda tersebut dan juga kemampuan pasukan yang di latihnya". Ucap sang raja.
"Jangan pernah mengganggu orang - orang yang dekat dengannya, karena jika hal itu tetap kita lakukan, pasti dia akan dengan mudah menghancurkan ibu kota kerajaan kita ini seperti yang dia lakukan di ibu kota kerajaan Yan". Ucap sang raja.
"Memang diriKu yang sudah salah mengajukan keinginanKu kepadanya, sebab aku berpikir, bahwa aku adalah seorang raja, dan setiap keinginanKu pasti akan di setujui oleh setiap orang. Namun dia adalah orang yang tidak seperti itu, sehingga membuat keegoisanKu ingin untuk mengintimidasi dirinya". Ucap raja lagi.
Semua orang yang mendengar apa yang raja katakan langsung terdiam dan merasa lega, karena sang raja tidak memaksakan kehendaknya.
Sedangkan pangeran Qi Yuan, jenderal Wang Xuesi dan juga para jenderal yang belum pernah bertemu dengan Ma Guang sangat tidak senang dengan apa yang raja katakan.
"Baiklah! Mulai saat ini, saya berharap agar masalah ini tidak di ketahui oleh orang luar, dan jika masalah ini di ketahui oleh orang luar, kalianlah yang akan bertanggung jawab". Ucap sang raja.
Semua orang yang hadir langsung menjawab dengan serentak untuk mengiyahkan apa yang di katakan oleh sang raja.
Akhirnya mereka semua bubar dari tempat itu dan kembali ke kediaman mereka masing - masing.
Pangeran dan juga para jenderal yang selalu mendukung dirinya tetap berkumpul di aula kediaman pangeran.
Mereka tetap merencanakan untuk membunuh Ma Guang dan menangkap Xia Jiao dan juga Yuan Jiali untuk menjadi istri dan selirnya.
"Berarti kita harus mengirimkan penyusup untuk menculik setiap orang yang sangat berharga untuk dirinya, agar bisa memaksanya menyerahkan diri". Ucap salah seorang jenderal.
"Aku rasa hal itu tidak mudah juga untuk kita lakukan, sebab yang aku ketahui, orang - orang yang berada di sekitarnya telah menjadi pendekar suci juga". Ucap jenderal Wang Xuesi.
"Apa? Jadi orang - orang terdekatnya sudah menjadi pendekar suci? Kekuatan yang sangat mengerikan". Gumam jenderal yang mengemukakan rencananya terlebih dahulu.
"Kalau begitu, kita harus mengutus seseorang untuk menyusup dan meracuninya. Mungkin hal itu salah satu cara agar kita bisa membunuhnya dan menangkap kedua wanita tersebut". Ucap jenderal Wang Xuesi.
"Kita harus mencari racun yang sangat kuat yang tidak memiliki penawarnya untuk di berikan kepadanya. Karena jika hanya memberikan racun biasa kepadanya, dia pasti bisa bertahan dan terselamatkan". Ucap sang pangeran.
Akhirnya mereka pun membubarkan diri dari aula kediaman pangeran. Dan kesepakatan yang mereka sepakati adalah mencari seorang pendekar bayaran yang memiliki kemampuan ilmu bela diri yang tinggi, dan lebih bagus lagi jika seorang pendekar suci yang menerima misi tersebut.
Ma Guang kini sudah berada di paviliun Bunga Bakung, dan pasukan Ma Guang kini sedang berjaga di depan paviliun dan tersebar di radius empat ratus meter dari paviliun untuk mengantisipasi jika ada serangan yang datang mendekat.
__ADS_1
Mereka kini mulai mengemasi barang - barang untuk meninggalkan ibu kota kerajaan.
Setelah selesai mengemasi barang - barang mereka, akhirnya mereka melakukan perjalanan untuk meninggalkan ibu kota kerajaan.
Prajurit yang bertugas untuk berpatroli kini sudah di tarik oleh komandan pasukan sesuai dengan apa yang sudah di perintahkan oleh raja Qi Guan Zhong. Sehingga perjalanan yang di lakukan oleh rombongan Ma Guang bisa meninggalkan ibu kota kerajaan dengan lancar.
"Kita harus lebih berhati - hati lagi dengan situasi yang kita alami malam ini, sebab rombongan kita terlalu mudah meninggalkan ibu kota kerajaan". Ucap Ma Guang.
"Cepat menyebar dan terus awasi keadaan di sepanjang jalan yang akan kita lalui". Ucap Ma Guang.
Sedangkan Yuan Jiali kini kembali melakukan meditasi dan mengabari Su bersaudara untuk segera mewaspadai setiap serangan yang akan di lancarkan oleh pasukan kerajaan Qi yang telah di tugaskan oleh sang raja.
Setelah mendapatkan informasi tersebut, Su Pang dan Su Zheng langsung mengawasi wilayah di sekitar paviliun mereka.
Dan benar saja, mereka mendapati ada beberapa sosok yang sedang mengawasi pergerakan mereka.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, kedua bersaudara itu langsung melesat dan membunuh para prajurit yang sedang memata - matai mereka.
Setelah selesai melenyapkan mata - mata kerajaan, akhirnya mereka langsung mengemasi barang - barang mereka dan bersiap untuk berangkat menuju sekte Bambu Kuning.
Sedangkan orang - orang yang bekerja untuk mereka, tetap melanjutkan pekerjaan mereka dan akan melaporkan hal tersebut kepada mereka di kota Nanpi atau pun di kota Qiantong dan kota Laoling, karena letak ketiga kota itu berada di dekat sekte Bambu Kuning, dan keamanan mereka juga di percayakan kepada sekte tersebut.
Dan hal itulah yang menjadi harapan terakhir bagi Ma Guang dan juga rombongannya.
Jika ketiga kota itu lebih memihak kepada Ma Guang dan juga sekte Bambu Kuning, kerajaan Qi akan mendapatkan masalah dari dalam yang sangat serius.
Karena posisi sekte Bambu Kuning berada di sebelah timur yang berbatasan langsung dengan teluk Pechili dan di sebelah barat berbatasan dengan kota Nanpi dan kota Qiantong.
Sehingga jika kota Laoling menjadi benteng pertahanan dari serangan yang akan di lancarkan dari sebelah selatan dan di bantu dengan kekuatan pasukan Ma Guang, akan sangat sulit untuk bisa di tembus oleh serangan pasukan kerajaan Qi.
Sedangkan untuk kota Qiantong dan juga kota Nanpi, keduanya bisa menjadi benteng pertahanan mereka di bagian barat.
Dan untuk semua murid yang berada di sekte Bambu Kuning bisa di bagi untuk membantu juga pasukan yang berada di kota Nanpi dan di kota Qiantong.
__ADS_1
Namun jika ketiga penguasa itu lebih memihak ke kerajaan Qi, hal itu akan lebih memberikan kesulitan untuk di hadapi oleh pasukan Ma Guang dan juga sekte Bambu Kuning. Tetapi jika jumlah pendekar suci di sekte tersebut sudah bertambah banyak, akan sangat sulit untuk di tundukan.
~Bersambung~