
Hong Jianan terus memperhatikan Ma Guang saat pesta sedang berlangsung.
Remaja itu sangat bangga melihat kakak satu ibunya itu yang sering di hormati oleh setiap orang yang ada di acara tersebut.
Sedangkan Ma Guang sendiri sama halnya dengan remaja tersebut, walau pun dia sangat membenci Hong Mogui, tetapi saat ini dirinya merasa senang karena memiliki keluarga yang lain lagi selain keluarga yang baru dia bentuk empat tahun yang lalu.
Di acara penutupan kompetisi tersebut, patriak Huang Siwei bersama patriak Yangkey terus menghabiskan waktu mereka duduk bersama Ma Guang dan juga patriak Yao Han sambil berbincang - bincang serta menikmati arak dan daging bakar yang tersedia.
Karena melihat patriak Tien Chou seperti merasa belum terlalu mengenal Ma Guang dan juga patriak Yao Han, patriak Huang Siwei pun mengajaknya untuk bergabung.
Tien Chou pun ikut bergabung bersama keempat orang tersebut.
Mereka pun berbincang - bincang sampai pesta tersebut selesai.
Setelah pesta yang diadakan tersebut telah selesai, setiap patriak merasa sangat senang bisa bertemu dengan para patriak dari wilayah kekaisaran lain dan saling bertukar pengalaman dalam dunia persilatan serta tentang situasi yang ada di masing - masing wilayah kekaisaran dimana mereka berada.
Para patriak pun berharap, kompetisi tersebut selalu di adakan oleh Ma Guang.
Namun Ma Guang berharap kepada para patriak bisa untuk bekerjasama dengan pihak kekaisaran mereka agar bisa mengadakan kompetisi tersebut di setiap wilayah kekaisaran mereka.
Hal itu agar supaya setiap patriak yang ada bisa saling mengunjungi satu dengan yang lain.
Namun tentang waktunya mereka akan menyesuaikan dengan kompetisi yang akan diadakan antar benua tersebut.
Tidak hanya itu saja, para patriak itu merasa sangat bahagia karena mereka masing - masing telah di berikan buah abadi oleh Ma Guang.
Para jenius muda itu pun langsung diberikan masing - masing sumber daya untuk mempersiapkan diri mereka dalam mengikuti kompetisi di benua tengah.
Sedangkan senjata pusaka langit yang akan di berikan oleh Ma Guang itu, akan dia berikan satu bulan sebelum berangkat ke benua tengah.
Senjata pusaka itu akan di sesuaikan dengan keistimewaan setiap jenius muda tersebut.
Akhirnya semua telah kembali ke wilayah kekaisaran mereka masing - masing.
Berbeda dengan patriak Huang Siwei, sebelum dia kembali ke sektenya, pria paruh baya itu menyempatkan dirinya untuk berbicara dengan Ma Guang terlebih dahulu.
"Pemimpin Ma! Sebenarnya masih ada hal yang ingin aku bicarakan dengan anda tetang kejadian empat tahun yang lalu!." Tutur Huang Siwei.
"Hal apa yang ingin patriak bicarakan itu!?." Tanya Ma Guang.
"Begini pemimpin Ma! Empat tahun yang lalu, sekte Iblis Hitam awalnya telah di serang oleh seorang pendekar wanita! Namun serangan tersebut tidak membuat sekte tersebut tidak mendapatkan kerugian yang sangat berarti!."
"Namun tidak lama kemudian, sekte itu kembali di serang oleh seorang pendekar muda pria dan telah membuat sekte tersebut menjadi rata dengan tanah!."
"Saya merasa penasaran dengan pendekar tersebut!."
"Apakah itu pemimpin Ma yang melakukannya!? Sebab menurutKu, tidak ada seorang pendekar yang bisa melakukan hal itu sendiri selain anda!."
Tutur Huang Siwei menutup kata - katanya.
__ADS_1
Mendengar apa yang di katakan oleh patriak Huang Siwei, Ma Guang pun langsung berkata.
"Hal itu memang aku yang melakukannya! Dan wanita yang pertama menyerang sekte mereka itu, dia adalah istriKu!." Jawab Ma Guang.
"Jadi wanita itu adalah isteri pemimpin Ma!?." Tutur Huang Siwei terkejut.
"Iya! Dia adalah isteriKu!." Tutur Ma Guang meyakinkan.
"Pasangan yang sangat serasi! Keduanya memiliki kemampuan yang hebat!." Pikir Huang Siwei.
"Patriak terlalu melebih - lebihkan tentang hal itu! MenurutKu, kami berdua belem tentu juga yang terbaik jika di bandingkan dengan para pendekar yang berada di benua tengah!." Ujar Ma Guang merendah.
"Pemimpin Ma! Sebenarnya sekte yang paling senang dengan kejadian tersebut adalah sekte kami! Sebab pada saat itu, kami sedang bersih tegang untuk saling menyerang satu sama lain, buntut dari penyerangan yang telah mereka lakukan terhadap sekte kami saat pemimpin Ma berada di sekte kami itu!." Ujar Huang Siwei.
"Kenapa patriak tidak memberitahukan kepadaKu tentang hal itu!? Jika patriak sudah memberitahukannya kepadaKu, sudah bisa di pastikan aku akan langsung meratakan sekte itu sebelumnya!." Tutur Ma Guang.
"Memang saat itu, aku ingin memberitahukannya kepada pemimpin Ma, tetapi aku merasa akan membuat pemimpin Ma merasa di bebankan dengan permasalahan sekte kami!." Ujar Huang Siwei menganggapi perkataan Ma Guang.
"Patriak Huang! Aku juga memiliki hutang budi terhadap sekte Phoenix Api! Jika para murid sekte kalian yang telah menolong diriKu, sudah bisa di pastikan, diriKu tidak akan berdiri lagi di hadapan patriak Huang saat ini!."
"Oleh karena itu! Jangan sungkan - sungkan untuk meminta bantuanKu jika itu sangat di perlukan!." Tutur Ma Guang tulus.
Saat keduanya sedang berbincang - bincang, seorang pendekar dewa langit puncak mendekati mereka.
"Hormat kepada pemimpin!." Ucap pendekar pria tersebut sambil bersujud di depan Ma Guang.
"Berdirilah!." Ucap Ma Guang menanggapi sikap pendekar dewa langit tersebut.
"Terima kasih pemimpin!." Ucap pendekar tersebut sambil menangkupkan tangannya.
"Bagaimana pendekar Huzhao? Apakah ada hal yang ingin anda sampaikan?." Tanya Ma Guang.
"Pemimpin! Sepertinya sudah mulai ada pergerakan yang di lakukan oleh setiap sekte dan organisasi aliran hitam yang ada di ibu kota! Aku mendapatkan kabar ini dari sahabatKu yang ada di benua tengah!." Tutur Huzhao.
"Pergerakan seperti apa yang mereka lakukan?." Tanya Ma Guang penasaran.
"Mereka mulai mengumpulkan kekuatan untuk menyerang sekte Bulan Perak saat kompetisi akan di lakukan!." Ujar Huzhao.
"Oh, jadi seperti itu yah!?." Tutur Ma Guang.
"Iya pemimpin!." Tutur Huzhao.
"Siapa sahabatMu itu?." Tanya Ma Guang kepada Huzhao.
Dia adalah salah satu tetua tingkat tinggi di sekte Kelabang Neraka!." Jawab Huzhao.
"Apakah informasinya itu bisa di percayah!?." Ujar Ma Guang bertanya.
"Iya pemimpin! Karena sekte Kelabang Neraka adalah salah satu dari empat sekte terkuat di benua tengah!." Ujar Huzhao meyakinkan.
__ADS_1
"Dan beberapa waktu yang lalu, keempat sekte aliran hitam tersebut telah bersepakat untuk bersatu menyerang sekte Bulan Perak!."
"Sehingga mereka mulai mendatangi setiap sekte aliran hitam yang ada di wilayah benua tengah untuk bersama - sama dengan mereka dalam rencana penyerangan tersebut!."
Huzhao memberitahukan apa yang baru saja dia ketahui.
Pateiak Huang Siwei yang mendengar hal itu langsung terkejut.
"Pelindung Ma! Bagaimana dengan nasib kita serta para jenius kita jika di serang oleh anggota sekte aliran hitam yang ingin menyerang tersebut!?." Tanya Huang Siwei penasaran.
"Patriak tidak perlu khawatir! Sebab mereka semua akan mengantarkan nyawa mereka jika menyerang rombongan kita!." Tutur Ma Guang meyakinkan.
"Baiklah! Aku sangat percayah jika itu pelindung Ma yang mengatakannya!." Tutur Huang Siwei merasa lega.
Huzhao pun langsung berniat untuk pamit undur diri.
"Pemimpin! Aku pamit undur diri dulu untuk kembali mendapatkan informasi penting lainnya!." Tutur Huzhao.
Mendengar perkataan Huzhao, Ma Guang langsung berkata.
"Pendekar Huzhao! Bagaimana kabar anak dan isteriMu!?." Tanya Ma Guang.
Huzhao langsung menghentikan niatnya untuk pergi di saat mendapatkan pertanyaan dari Ma Guang.
"Isteri dan anak - anakKu kini dalam keadaan baik - baik saja!." Jawab Huzhao.
"Jadi seperti itu? Kalau begitu, berikan cincin penyimpanan milikMu itu kepadaKu!." Tutur Ma Guang.
Huzhao tidak menunda atau mempertanyakan alasan Ma Guang meminta cincin penyimpanan miliknya itu.
Pendekar tersebut langsung memberikan cincin penyimpanan miliknya.
Ma Guang pun langsung meraihnya dan langsung melihat isi dari cincin penyimpanan milik Huzhao.
Setelah melihat isi penyimpanan cincin tersebut, Ma Guang langsung mengeluarkan ratusan koin emas serta satu buah abadi dan langsung memasukkannya kedalam cincin penyimpanan milik Huzhao.
Mata pendekar tersebut langsung terbelalak melihat apa yang Ma Guang lakukan.
Ma Guang pun langsung menyerahkan kembali cincin miliknya.
"Ambil ini untuk meningkatkan kultivasiMu dan juga untuk biaya keluargaMu!." Tutur Ma Guang sambil menyerahkan cincin tersebut.
Huzhao tidak langsung mengambilnya, pria itu langsung bersujud dan memberi hormat kepada Ma Guang.
"Terima kasih pemimpin! Terima kasih pemimpin!." Tutur Huzhao sambil melakukan sujud sebanyak tiga kali kepada Ma Guang.
Setelah ketiganya selesai, patriak Huang Siwei bersama Huzhao langsung pamit undur diri.
Sedangkan Ma Guang pun langsung kembali juga ke dunia dewa surgawi untuk bersama dengan istri - istrinya dan juga anak - anaknya.
__ADS_1
~Bersambung~