
Beberapa sosok yang mengawasi pergerakan rombongan Ma Guang langsung mendekati salah satu pengawal Yun Yelu dan memberitahukan sesuatu tentang rombongan Ma Guang.
Pengawal tersebut langsung mendekati sang komandan dan melaporkan apa yang baru di dengarnya.
"Apa! Orang tua itu adalah salah satu dari keluarga bangsawan Su!?." Ucap sang komandan.
"Apa yang kamu katakan!? Kakek itu salah satu dari keluarga bangsawan Su? Bukankah semua orang tau bahwa tidak ada satu pun dari anggota keluarga bangsawan Su yang selamat dari pembantaian tersebut!?." Ucap Yun Yelu.
"Apakah mereka akan datang untuk membalaskan dendam keluarga Su!?." Ucap Yun Yelu lagi.
"Tidak mungkin tuan muda! Walau pun pendekar muda itu adalah pendekar suci, namun jika mereka membuat keributan di ibu kota kerajaan Ji, mereka semua tidak akan lolos dan bisa melarikan diri dari kota Ji." Ucap sang komandan.
"Benar juga! Dan momentum itu harus aku gunakan sebaik - baiknya untuk mendapatkan nona Xia Jiao." Gumam Yun Yelu.
Pengawal yang di perintahkan oleh sang komandan langsung menuju ke suatu tempat untuk menyewa beberapa orang pembunuh bayaran yang berada di kota Guanping tersebut.
"Kakek! Nona Xia! Nona Yuan! Tuan muda! Bagaimana jika kita kembali melakukan perjalanan bersama lagi!?." Ucap Yun Yelu ramah.
"Terima kasih tuan muda atas tawarannya! Tetapi kami akan melakukan perjalanan kami sendiri saja." Ucap Su Tian.
"Baiklah kalau begitu! Kami akan melakukan perjalanan lebih dulu." Ucap Yun Yelu.
"Silahkan tuan muda!." Ucap Su Tian.
Rombongan Yun Yelu langsung melanjutkan perjalanan mereka.
Akhirnya rombongan Ma Guang juga kembali melanjutkan perjalanan mereka dan meninggalkan rumah makan tersebut.
"Kita harus lebih berhati - hati lagi, sebab pergerakan kita selalu di awasi oleh beberapa orang yang terus mengikuti kita sejak dari desa yang kita lewati sebelumnya." Ucap Ma Guang.
"Baik!." Ucap mereka bertiga.
Mereka melakukan perjalanan dengan santai.
Setelah tiba di suatu hutan yang lebat, rombongan mereka di serang oleh sekelompok orang yang mengunakan baju serba hitam dengan wajah yang tertutup dan menyisahkan matanya saja.
Asap putih tebal menyebar di seluruh area tempat mereka berempat berdiri.
Mereka berempat langsung menajamkan persepsi mereka sambil menghindari serangan anak panah yang meluncur kearah mereka.
Duar...duar...duar
Bunyi ledakan yang di hasilkan dari mata panah yang jatuh menyentuh tanah.
"Awas! Senjata mereka sangat berbahaya." Ucap Ma Guang.
"Sepertinya senjata mereka seperti senjata yang di gunakan oleh anggota sekte Seribu Racun." Ucap Xia Jiao.
"Jala Sutra Besi!." Ucap sang pemimpin.
Ma Guang langsung menarik pedangnya dan menebas jala yang menjadi perangkap untuk mereka bertiga.
__ADS_1
Namun usahanya sia - sia. Jala itu tidak bisa di potong oleh pedang miliknya yang sudah di baluti dengan energi perubahan bentuk.
Setelah mereka berempat terperangkap di dalam jala tersebut. Sang pemimpin kelompok yang menyerang langsung keluar dan tertawa dengan bangga karena sudah bisa melumpuhkan keempat orang tersebut.
"Walau pun seorang pendekar suci sekali pun, pasti tidak akan lolos dengan kemampuan kelompok kami." Ucap sang pemimpin bangga sambil menatap kearah keempat orang tersebut.
Ma Guang hanya tersenyum menatap pria tersebut.
"Hei pria tua! Dengan apa yang audah kamu lakukan ini, apakah sudah bisa menangkap diriKu ini? Kamu hanya bermimpi." Ucap Ma Guang sambil tersenyum sinis menatap orang tua itu.
"Hei anak muda! Ternyata kemampuanMu tidak seperti pendekar suci lainnya yang sudah puas dan berpengalaman dalam menghadapi setiap musuh - musuh yang menyerang mereka." Ucap pria tua itu.
"Mungkin! Tetapi mereka juga mungkin belum memiliki kemampuan seperti yang aku miliki karena walau pun dalam keadaan seperti ini, aku masih bisa membunuhMu." Ucap Ma Guang sambil tertawa menatap pria itu.
"Nyawa sudah berada di ujung tanduk, masih juga berani mengoceh seperti itu!? Sungguh sangat kasihan.
Mendengar perkataan pria tua itu, Ma Guang langsung menutup matanya dan jiwanya langsung keluar dari tubuhnya dan menyerang jiwa ke enam orang yang memegang ujung jala sutra besi yang mengurung mereka berempat.
Hanya dalam hitungan detik saja, tubuh keenam orang tersebut langsung jatuh tersungkur di tanah.
"Apa! Mengapa bisa seperti itu!?." Ucap sang pemimpin.
Jiwa Ma Guang kembali masuk ketubuhnya dan langsung bangun kembali dan melepaskan jala sutra besi yang mengurung mereka.
"Apakah kamu sudah menyadari dengan siapa kamu berhadapan saat ini?." Ucap Ma Guang sambil tersenyum menghina pemimpin tersebut.
"Silahkan! Cepat selesaikan mereka semua, dan untuk orang tua itu, biarkan dia bermain - main denganKu." Ucap Ma Guang lagi.
Sedangkan Ma Guang masih tetap tenang menatap pemimpin penyerang tersebut.
"Bagaimana pak tua!? Apakah anda sudah mengetahui kemampuan kami?." Ucap Ma Guang.
"Saya akan memberiMu satu kesempatan untuk menjawab pertanyaan yang akan aku lontarkan, apakah kamu siap?." Tanya Ma Guang.
"Baiklah! Aku akan menjawab pertanyaanMu." Ucap orang tua itu.
"Siapa yang menyuruhMu untuk menyerang kami?." Tanya Ma Guang.
"Yang menyuruh kami untuk menyerang kalian adalah.... accchhhkkk!."
Kata - kata pria tua itu tidak bisa di lanjutkan karena sebuah senjata rahasia yang mengandung racun sudah menancap di lehernya.
Ketiga orang yang melihat asal senjata rahasia itu langsung menuju ketempat arah senjata tersebut.
Mereka bertiga melesat dengan cepat menuju ke arah datangnya senjata itu, akhirnya mereka dapat menyusul orang tersebut.
Setelah merasa dirinya tidak bisa melarikan diri lagi, akhirnya orang itu melepaskan beberapa senjata rahasia lagi untuk menyerang ketiga orang tersebut.
Namun serangan senjata rahasia tersebut masih bisa di hindari oleh ketiga orang yang mengejarnya.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya seorang pemuda sudah berdiri di depan pria yang melarikan diri tersebut.
__ADS_1
Pria itu langsung menyerang pemuda yang berdiri menghadangnya.
Serangan senjata rahasia yang di ikuti tebasan pedang pria itu mampu di hindari oleh Ma Guang.
Brakkk...Brukkk
Bunyi suara pukulan Tinju Peremuk Tulang yang menghantam dada dan langsung membuat tubuh pria itu langsung ambruk ke tanah.
"Siapa yang menyuruhMu!?." Ucap Ma Guang.
"Cepat katakan!." Ucap Xia Jiao.
"Bunuh saja aku! Sampai mati pun, aku tidak akan memberitahukannya kepada kalian." Ucap pria itu.
"Baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan." Ucap Ma Guang sambil mendekati tubuh pria tersebut.
Tuk
"Arrrggghhh."
Teriak pria tersebut karena jari kakinya di pukul oleh Ma Guang dengan gagang pedang miliknya.
"Bagaimana? Masih tidak ingin memberitahukannya?." Ucap Ma Guang.
"Bunuh saja aku! Bunuh saja aku!."
Teriak pria itu lagi.
Tuk
"Aaacccchhhkkk."
Ma Guang kembali memukul salah satu jari kaki milik pria tersebut.
"Aku akan membunuhMu, tetapi kamu harus melalui penderitaan terlebih dahulu." Ucap Ma Guang sambil sekali lagi memukul salah satu jari kaki pria tersebut.
"Aaaaccchhhkkkk."
"Baiklah! Baiklah! Aku akan memberitahukannya." Ucap pria tersebut.
"Bagus! Kalau begitu sekarang katakan, siapa yang menyuruh kalian!?." Ucap Ma Guang.
"Aku di suruh oleh komandan pengawal tuan muda Yun Yelu yang bekerja sama dengan orang - orang klan Jiulong." Ucap pria tersebut.
"Oh, seperti itu yah!? Baiklah kalau begitu! Sekarang kamu sudah bisa mati dengan cepat." Ucap Ma Guang sambil menebaskan pedangnya keleher pria tersebut.
Kepala pria itu langsung terpisah dari tubuhnya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Jadi tuan muda keluarga Yun ingin bermain - main denganKu!? Baiklah, aku akan melayaninya." Ucap Ma Guang dengan wajah yang penuh kebencian.
~Bersambung~
__ADS_1