Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 127. Rencana Untuk Memasuki Kota Laoling


__ADS_3

Keesokan harinya, pasukan kerajaan Lu kini terlihat sudah siap untuk berangkat dan melakukan penyerangan ke wilayah kerajaan Qi.


Seluruh perlengkapan perang serta perbekalan mereka selama melakukan penyerangan sudah tersedia.


Seluruh pasukan di berikan waktu bertemu dengan orang - orang tercinta mereka masing - masing untuk berpamitan.


***


Di sebuah kedai sederhana di desa yang terletak tidak jauh dari kota Qiansheng propinsi Linzi. Seorang pria yang perawakannya seperti tidak terurus sedang menikmati arak dan daging yang berada di atas meja yang terletak di depannya.


Pria itu sedang mendengarkan pembicaraan dari setiap pengunjung yang berada di kedai tersebut untuk menggali informasi tentang keberadaan Ma Guang.


Pria itu tidak lain adalah Ki Kebo Pengging.


Letak desa tersebut sudah berada di perbatasan propinsi Linzi dan juga propinsi Jibei.


Ki Kebo Pengging tidak ingin memasuki wilayah kota Laoling dengan ceroboh, sebab sesuai dengan informasi yang beredar, kota Laoling, Kota Qiantong dan juga kota Nanpi sangat mendukung Ma Guang. Dan setelah desa yang dia singgahi tersebut, dirinya akan memasuki wilayah perbatasan propinsi Nanpi dan juga wilayah kota Laoling.


"Kita tidak bisa memasuki kota Laoling jika identitas kita belum pernah terdaftar sebagai pedagang atau pun sebagai masyarakat di kota tersebut". Ucap salah seorang dari pengunjung di kedai itu.


"Bukan hanya itu saja, tetapi setiap pergerakan kita saat berada di dalam kota akan tetap di awasi oleh setiap prajurit yang ada di dalam kota". Sambung yang lain.


"Iya! Memang benar seperti itu. Tetapi ada hal yang lebih parah lagi, jika seekor burung terbang di atas kota tersebut, mereka akan memanahnya hingga jatuh".


"Iya! Aku juga baru saja meninggalkan kota Laoling dan aku melihat ada begitu banyak orang - orang yang membuat tenda - tenda di luar tembok kota Laoling, rupanya para prajurit yang berjaga di pintu gerbang kota tersebut, melakukan pemerikasaan yang ketat bagi setiap orang yang ingin memasuki kota itu". Ucap seorang lagi.


"Jadi kamu baru saja meninggalkan kota Laoling?". Tanya salah seorang dari mereka.


"Apakah anda memang penduduk di kota itu?". Tanya seorang lagi.


"Tidak! Aku bukan penduduk kota itu, tetapi identitasKu sudah terdaftar di kota tersebut, jadi aku bisa masuk membawa hasil kebunKu dan keluar dari kota itu". Jawab orang tersebut.


Mendengar perkataan pria itu, Ki Kebo Pengging langsung mendapatkan cara agar bisa memasuki kota Laoling.


Walau pun Ki Kebo Pengging bisa memasuki kota itu tanpa melalui pintu gerbang kota, namun jika para prajurit atau pun komandan pasukan yang berjaga di atas tembok kota bisa melihatnya, itu akan membuat rencananya akan berantakan, sehingga dirinya harus menggunakan cara yang lain yang tidak bisa di curigai oleh para pasukan yang berjaga atau pun pasukan yang bertugas untuk mengawasi setiap pergerakan orang - orang yang berada di dalam kota.


Ki Kebo Pengging langsung memanggil pelayan dan memesan arak serta daging untuk di berikan kepada pria yang baru saja keluar dari kota Laoling tersebut.


Setelah pelayan mengantarkan arak dan daging ke meja pria itu, sontak saja pria itu menjadi heran.


"Maaf! Tetapi aku tidak memesan arak dan daging ini". Ucap pria tersebut.


"Ini di pesan tuan yang duduk di meja sana untuk di berikan kepada tuan". Ucap pelayan tersebut sambil menunjuk kearah Ki Kebo Pengging.


Pria itu pun langsung menatap ke arah Ki Kebo Pengging.

__ADS_1


Karena merasa penasaran, pria itu langsung menyuruh pelayan untuk membawa pesanan itu ke meja pria yang memesannya seraya berdiri dari tempat duduknya dan langsung berjalan mendekati posisi dimana Ki Kebo Pengging berada.


Setelah tiba di depan Ki Kebo Pengging, pria itu langsung menyapanya.


"Maafkan aku sebelumnya! Tetapi kenapa tuan memesan arak dan daging bakar untuk diriKu? Apakah tuan mengenaliKu?". Tanya pria tersebut.


"Tidak! Aku tidak mengenal diriMu". Jawab Ki Kebo Pengging dengan santai.


"Jadi! Mengapa tuan memesan semua ini untukKu?". Tanya pria itu lagi dengan penuh rasa penasaran.


"Hal itu aku lakukan, agar kamu bisa membantu diriKu untuk memasuki kota Laoling, dan jangan kamu khawatir, sebab aku juga akan memberikan imbalan kepadaMu". Ucap Ki Kebo Pengging.


Pria itu terdiam sejenak dan mulai memikirkan situasi serta perkataan dari pria yang ada di depannya.


"Mendengar dari dialeknya, orang ini sepertinya tidak berasal dari wilayah kekaisaran Zhou ini, tetapi tutur katanya seperti sudah sangat menguasai bahasa kita, siapa seberanya orang ini?". Gumam pria itu di dalam hatinya.


"Iya! Memang aku berasal jauh dari luar wilayah kekaisaran ini, dan namaKu adalah Ki Kebo Pengging".


Pria itu langsung tersentak kaget dan kulit wajahnya langsung berubah menjadi berwarna merah saat mendengar perkataan Ki Kebo Pengging.


Pria itu langsung menyadari bahwa orang yang berada di depannya ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu bela diri yang sangat tinggi, sehingga dia sudah bisa mendengarkan kata hati orang lain.


"Maafkan aku tuan pendekar...maafkan jika aku telah menyinggung diriMu". Ucap pria itu.


"Apa itu tuan? Hal apa yang bisa aku bantu?". Tanya pria itu.


"Apakah kamu bisa membawa diriKu untuk memasuki kota Laoling?".


Pria itu kemudian berpikir apakah dirinya bisa menyanggupi atau tidak permintaan orang yang ada di depannya itu.


"Maafkan diriKu tuan pendekar, tetapi aku tidak bisa memenuhi permintaan tuan tersebut, sebab diriKu tidak memiliki kemampuan untuk hal itu".


Mendengar perkataan dari pria tersebut, Ki Kebo Pengging tetap tersenyum dingin menatap pria itu.


"Oh, jadi seperti itu yah!? Baiklah! Tidak mengapa, ayo di nikmati arak dan juga daging bakarnya". Ucap Ki Kebo Pengging dengan santai.


Pandangan Orang - orang yang sedang berada di kedai tersebut terus menatap dengan curiga ke arah kedua orang yang sedang berbincang itu.


Salah seorang pengunjung di kedai tersebut langsung membayar pesanannya dan keluar meninggalkan tempat itu.


Mendengar perkataan Ki Kebo Pengging, akhirnya pria itu merasa lega dan mulai menikmati arak dan juga daging bakar yang sudah tersedia di depannya.


Tidak lama kemudian datang juga dua orang memasuki kedai tersebut, dan dari pakaian serta masing - masing membawa golok dan juga pedang, sehingga sudah bisa di pastikan bahwa keduanya adalah seorang pendekar.


Namun pakaian yang mereka gunakan bukanlah pakaian yang biasa di pakai oleh setiap murid sekte atau pun perguruan ilmu bela diri yang berada di wilayah kekaisaran Zhou.

__ADS_1


Hal itu membuat tatapan pengunjung di kedai tersebut, semuanya seperti memiliki pertanyaan yang sama terhadap kedua orang tersebut.


Pandangan Ki Kebo Pengging juga langsung mengarah kepada kedua orang yang baru saja memasuki tempat itu.


"Silahkan duduk tuan! Apakah tuan - tuan ingin memesan sesuat?". Sambut pelayan sambil bertanya kepada kedua orang tersebut.


Kedua orang itu langsung duduk dan memesan arak serta daging bakar.


Di sudut ruangan tersebut, juga duduk seorang pria dengan penampilan yang tidak terlalu menyolok, namun pria itu duduk dan terus menikmati arak dan makanan yang sudah tersedia di depannya.


Sangat berbeda dengan penampilan Ki Kebo Pengging yang begitu terlihat mencolok dari pengunjung yang lain.


"Kakak! Disini ada dua pendekar tingkat tinggi juga, kira - kira apa tujuan mereka sehingga berada di wilayah ini? Karena melihat dari penampilan mereka, pasti mereka juga berasal dari luar wilayah kekaisaran ini". Ucap seorang kepada yang lain dengan bahasa daerah asal mereka.


Karena persepsi dari Ki Kebo Pengging dan juga seorang pria yang duduk di sudut ruangan tempat itu sudah di pertajam, sehingga keduanya bisa mendengar apa yang di katakan oleh pria tersebut.


Namun pria yang berada di sudut ruangan itu, tidak bisa mengerti dengan ucapan salah satu pria yang baru saja memasuki kedai itu.


Berbeda dengan Ki Kebo Pengging, pria itu bisa mengerti perkataan orang tersebut.


"Apa juga tujuan kalian berdua di wilayah ini? Bukankah kalian juga berasal dari luar wilayah kekaisaran ini!? Jadi, apa bedanya kalian berdua dengan diriKu dan juga pria yang berada di sudut ruangan itu?". Ucap Ki Kebo Pengging.


Kedua pria yang baru memasuki kedai itu langsung tersentak mendengar perkataan Ki Kebo Pengging.


"Siapa kamu? Mengapa kamu bisa berbicara menggunakan bahasa kami?". Tanya salah satu dari keduanya.


Orang yang di panggil kakak itu langsung mengisyaratkan kepada pria yang bertanya tersebut untuk duduk dan tetap tenang.


Semua pengunjung di kedai itu langsung kembali menatap ke arah ke tiga orang itu secara bergantian.


"Adik, kamu harus tenang. Kamu sudah mengetahui bahwa keduanya adalah pendekar tingkat tinggi, jadi jangan bersikap seperti itu, sebab kita datang kesini memiliki tujuan, dan itu harus kita berdua selesaikan". Ucap seorang yang di tuakan tersebut.


"Tetapi pria itu mengerti dengan apa yang kita bicarakan".


"Adik! Melihat dari gaya berpakaiannya, pria itu berasal dari wilayah yang terletak di sebelah selatan tempat asal kita".


"Ternyata kakakMu lebih memiliki wawasan yang lebih luas dari diriMu". Ucap Ki Kebo Pengging sambil tersenyum.


"Maafkan atas kecerobohan adik seperguruanKu jika itu telah menyinggung perasaan Kisanak". Ucap pendekar tersebut.


Mendengar perkataan pria itu, Ki Kebo Pengging langsung tersenyum ramah kepada pendekar tersebut.


"Sudahlah, hal itu tidak perlu di besar - besarkan". Ucap Ki Kebo Pengging.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2