Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 117. Pembicaraan Di Kediaman Tetua Duan


__ADS_3

Putri Zhou Lu Yun langsung memeluk tubuh Ma Guang.


Sedangkan Duan Meng, saat mendengar suara tiga orang di pekarangan rumahnya secara bersama - sama menyebut nama seseorang yang sangat dinantikannya itu, langsung keluar dari pintu samping kediamannya, tetapi dia tidak mendapati ketiga orang tersebut dan juga sosok pemuda yang di sebutkan namanya.


Mata gadis itu langsung di edarkan ke segala arah hingga akhirnya dia mendapati seorang gadis sedang memeluk tubuh pemuda yang menjadi idaman hatinya.


Hati gadis itu kini terasa perih, Duan Meng langsung kembali memasuki kediamannya dan masuk kedalam kamar miliknya.


Gadis itu langsung menangis di dalam kamarnya.


Ma Guang yang tidak melihat Duan Meng langsung menajamkan persepsinya untuk mencari tahu keberadaan gadis itu.


Akhirnya dia bisa mendengarkan tangisan gadis itu.


"Kenapa dia menangis? Apa yang membuatnya menangis?". Gumam Ma Guang di dalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, Zhou Lu Yun melepaskan pelukannya dari tubuh Ma Guang.


"Kenapa kamu baru datang? Apakah kamu tidak lagi memikirkan kami disini yang selalu merindukan diriMu?". Tanya Zhou Lu Yun.


"Sebenarnya, aku ingin terlebih dahulu menyelesaikan tujuan awal hidupKu untuk membalaskan dendam kepada salah satu sekte aliran hitam yang telah membantai seluruh warga desaKu dan juga kedua orang tuaKu. Setelah itu, barulah aku ingin fokus dengan perjalanan hidupKu sendiri". Ucap Ma Guang.


"Apakah diriMu akan tetap menjadi seorang jenderal di kerajaan Qi?". Tanya Zhou Lu Yun.


"Tidak! Aku tidak ingin menjadi bagian di dalam suatu pemerintahan, sebab ada begitu banyak hal yang sering terjadi di antara setiap pejabat di pemerintahan. Semuanya ingin memiliki jabatan yang lebih tinggi dari yang lain. Dan cara yang mereka tempuh, yaitu saling menjatuhkan satu dengan yang lain". Ucap Ma Guang.


"Kakak Jun! Bagaimana dengan perkembangan pelatihanMu?". Tanya Ma Guang.


"Saat ini aku sudah mencapai pendekar raja tingkat puncak!". Ucap Duan Jun sambil tersenyum.


"Bagus! Berarti kakak Jun sudah siap untuk menerobos menjadi pendekar suci". Ucap Ma Guang.


"Tidak seperti itu juga". Ucap Duan Jun.


"Kenapa? Hal apa lagi yang belum bisa di selesaikan oleh kakak Jun?". Tanya Ma Guang.


"Aku belum bisa membuka titik jalur meridianKu yang terhambat". Ucap Duan Jun.


"Oh, seperti itu yah! Sudah, nanti aku akan membantu kakak Jun". Ucap Ma Guang.


"Terus, bagaimana dengan perkembangan nona Tjia?". Ucap Ma Guang sambil menatap ke arah gadis tersebut.


"Aku sudah siap untuk membuka ruang dantian bagian bawahku agar sudah bisa menjadi pendekar ahli". Ucap nona Tjia.


"Bagaimana dengan perkembangan tuan putri!? Apakah sudah siap juga untuk membuka ruang dantian juga?". Tanya Ma Guang.


"Iya! Aku juga sudah siap untuk membuka ruang dantianKu!". Jawab Zhou Lu Yun.


" Apakah tamu kita tidak di persilahkan masuk?".

__ADS_1


Tiba - tiba suara pria terdengar membuat semua mata mengarah ke arah suara tersebut.


"Tetua Duan!".


"Ayah!".


Ucap mereka bersama - sama.


"Oh, iya! Aku sampai lupa untuk mempersilahkan masuk". Ucap Duan Jun sambil tersenyum malu.


"Ayo Guang'er dan kalian semua juga, kita masuk dahulu, ceritanya nanti di lanjutkan di dalam sambil kita menikmati secangkir teh". Ucap Duan Dazhong sambil melangkah masuk ke kediamannya dan di ikuti oleh ke empat muda - mudi tersebut.


Setelah tiba di ruang tamu kediaman tersebut, mereka akhirnya duduk di tempat duduk yang telah tersedia.


Jia Dawei langsung melihat kehadiran Ma Guang dan menyambutnya dengan senyuman yang manis.


"Guang'er! Kamu sudah kembali?". Tanya Jia Dawei.


"Iya! Aku belum lama tiba". Jawab Ma Guang.


"Mengapa aku tidak melihat nona Duan?". Tanya Ma Guang.


Walau pun dirinya sudah mengetahui tempat serta apa yang sedang gadis itu lakukan, tetapi dirinya tetap bertanya sekedar basa - basi di depan semua yang ada di tempat itu.


Mendengar apa yang di tanyakan oleh Ma Guang, mereka langsung saling berpandangan seperti saling mengisyaratkan untuk bertanya kepada masing - masing.


"Yang aku tahu, Meng'er sedang bersama - sama dengan ibu di dapur". Jawab Duan Jun.


"Iya! Awalnya Meng'er bersama - sama denganKu, akan tetapi tadi dia sudah bergegas kedepan, entah apa yang akan dia lakukan karena begitu terburu - buru". Jawab Jia Dawei.


"Apa mungkin nona Duan Meng sedang berada di kamarnya?". Ucap Ma Guang sambil meninggikan nada suaranya.


Duan Meng yang memang sedang berada di kamarnya kini langsung mengusap air matanya dan berpura - pura tertidur.


Jia Dawei langsung berjalan menuju ke kamar putrinya.


Dan benar saja, Jia Dawei langsung mendapati bahwa gadis itu sedang tertidur di ranjang.


Jia Dawei langsung mulai mengerti dengan apa yang baru saja putrinya rasakan.


"Apakah dia sudah mengetahui akan kedatangan Guang'er sehingga dia langsung bergegas kedepan untuk bertemu dengan pemuda itu? Tetapi mengapa dia kini sedang tertidur? Apakah ada hal yang tidak di inginkannya telah terjadi dan di lihatnya?". Gumam Jia Dawei dalam hatinya.


Wanita itu langsung mendekati ranjang putrinya dan langsung menyentu tubuh gadis itu untuk di bangunkan.


"Meng'er! Meng'er! Ayo bangun, Ma Guang sedang bertanya tentang diriMu". Ucap Jia Dawei.


Gadis itu belum merespon apa yang ibunya katakan.


"Meng'er! Ibu tahu bahwa kamu tidak tertidur, jadi kamu katakan saja, apakah ada suatu hal yang telah terjadi?".

__ADS_1


Gadis itu pun langsung membalikan tubuhnya dan menghadap ke arah dimana ibunya berada.


"Ti...tidak ada bu! Aku hanya merasa sangat bahagia saja karena telah melihat Ma Guang telah kembali, tetapi aku juga tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, sehingga aku masuk saja kekamarKu, itu saja!".


"Kalau begitu, ayo kita keluar, dan kamu langsung saja temui Ma Guang". Ucap Jia Dawei.


Keduanya langsung keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu.


Melihat kedua wanita itu telah keluar dari kamar, Ma Guang langsung menyambut dengan kata - kata menggodanya.


"Apakah kamu tidak ingin melihat dan menyambut kedatanganKu?".


"Ataukah memang kamu sudah tidak lagi merindukan kehadiranKu?".


Mendengar perkataan yang keluar dari mulut pemuda itu, wajah Duan Meng langsung memerah.


"Siapa juga yang tidak ingin melihat dan juga tidak merindukanMu? Tetapi karena sudah pergi terlalu lama, aku jadi membenci diriMu". Ucap Duan Meng dengan nada suara yang ketus.


"Oh, jadi saat ini kamu sudah membenci diriKu? Baiklah, kalau begitu aku lebih baik pergi saja". Ucap Ma Guang yang langsung berdiri dari tempat duduknya seraya melangkahkan kakinya.


"Tidak...tidak...bukan...bukan seperti itu". Ucap Duan Meng gelagapan.


Ma Guang langsung menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap kearah gadis itu.


"Terus seperti apa?". Tanya Ma Guang.


"Aku akan menjawabnya, tetapi kamu duduk harus kembali duduk lagi". Ucap Duan Meng.


Ma Guang pun langsung kembali duduk sambil tersenyum.


Melihat tingkah Ma Guang dan juga Duan Meng, putri Zhou Lu Yun langsung memahami akan hubungan kedua orang tersebut. Tetapi karena dari kecil dirinya sudah terbiasa dengan didikan di lingkungan keluarga kekaisaran, sehingga gadis itu mampu untuk menghadapi situasi yang ada di dalam pikirannya.


"Kalau begitu, aku akan ke dapur untuk menyiapkan teh hangat untuk kalian". Ucap Duan Meng.


"Katanya tadi ingin memberitahukan apa yang sebenarnya di pikirkannya, setelah aku sudah duduk kembali, dia langsung beralasan untuk pergi menyiapkan teh bagi kita". Gumam Ma Guang sambil tersenyum.


Mendengar perkataan Ma Guang, mereka yang ada di ruang tamu tersebut langsung tertawa secara bersama - sama.


"Kapan kamu akan kembali?". Tanya Duan Dazhong.


"Besok pagi aku akan kembali ke kota Nanpi, dan kami akan melanjutkan perjalanan kami untuk kembali ke ibu kota kerajaan". Ucap Ma Guang.


"Oh, seperti itu yah!?". Ucap Duan Dazhong.


"Tetapi, sebelum aku berharap kepada kakak Jun dan juga nona Duan Meng untuk bisa pergi bersama - sama denganKu, hal ini juga akan bisa menambah wawasan serta pengalaman keduanya di dunia persilatan". Ucap Ma Guang.


Tjia Annchi dan Zhou Lu Yun yang mendengar hal itu langsung bersuara secara serentak.


"Aku juga mau ikut!". Ucap keduanya dan langsung saling bertatapan karena mereka mengatakan hal itu secara bersama - sama.

__ADS_1


Tuan putri! Nona Tjia! Perjalanan kita kedepan akan sangat berbahaya, dan jika melihat kemampuan kalian berdua, hal itu akan membahayakan nyawa kalian. Apa lagi untuk keselamatan tuan putri, aku tidak bisa mempertanggung jawabkan jika terjadi sesuatu dengan tuan putri.


~Bersambung~


__ADS_2