
Akhirnya raja Qi Guan Zhong mengiyahkan keinginan Ma Guang untuk mengundurkan diri dari jabatan yang di berikan olehnya.
Tetapi ada hal lain yang di mintakan oleh sang raja, yaitu Xia Jiao dan Yuan Jiali.
Karena pada saat itu, duduk juga pangeran Qi Yuan, sehingga pemuda itu menginginkan Xia Jiao untuk menjadi istrinya.
Sedangkan Yuan Jiali tetap tinggal di dan menggantikan posisi Ma Guang sebagai seorang jenderal.
Mendengar hal itu, wajah Ma Guang langsung berubah menjadi dingin.
"Maafkan hamba yang mulia! Mereka berdua adalah orang - orang yang selalu bersama - sama denganKu selama ini, jadi saya tidak bisa mengiyahkan persyaratan tersebut". Ucap Ma Guang.
Jenderal Wang Xuesi langsung berdiri dan membentak Ma Guang.
"Berani sekali kamu menolak permintaan dari yang mulia raja! Apakah kamu ingin melawan perintahnya?". Ucap pria yang selalu mengawal pangeran Qi Yuan.
Raja Qi Guang Zhong langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan sang jenderal.
Jenderal Wang Xuesi langsung duduk kembali saat melihat apa yang di lakukan oleh sang raja.
"Hal inilah yang membuat diriKu tidak menginginkan lagi jabatan yang di berikan oleh yang mulia, karena aku tidak menginginkan terjadi hal - hal yang bertentangan dengan hati dan pikiranKu". Ucap Ma Guang dengan nada suara yang datar.
Mendengar hal itu, pasukan rahasia pengawal raja yang biasanya bersembunyi langsung keluar dari tempat persembunyian mereka dan mengepung tempat itu.
Pemuda itu tetap duduk tenang dan menanti apa yang akan raja ucapkan.
Raja pun berdiri dari singgasananya dan berjalan turun mendekati Ma Guang.
Jenderal Wang Xuesi, pangeran Qi Yuan dan juga pasukan rahasia pengawal raja langsung juga mendekati pemuda itu dengan posisi seperti mengepung posisi keberadaan Ma Guang.
Komandan pasukan yang di pimpin oleh Ma Guang kini sudah bersiap untuk bertarung.
Sedangkan Xia Jiao kini sedang menatap tajam kearah pangeran Qi Yuan.
Para prajurit yang berada di depan pintu masuk istana kini mulai merasakan situasi yang tidak bersahabat.
Ma Guang yang melihat situasi tersebut langsung memberikan perintah melalui kekuatan jiwanya kepada para komandan pleton yang sedang berada bersama - sama dengan prajurit di luar untuk bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Hal itu di lakukan karena, jika kesepakatan tidak terjadi, pasti Ma Guang, Xia Jiao dan juga Yuan Jiali bisa meninggalkan istana tersebut. Namun hal itu tidak akan bisa di lakukan oleh para komandan dan juga para prajurit yang mengikutinya. Apa lagi para komandan kini sudah bersiap untuk bertarung melawan para prajurit yang berada di pihak sang raja.
__ADS_1
"Jenderal Ma! Apakah begini caraMu menghormatiKu sebagai seorang raja?". Ucap sang raja.
"Apakah seperti ini juga cara seorang raja menghargai seorang prajurit yang sudah berjuang demi kepentingan kerajaannya?". Ucap Ma Guang menanggapi perkataan sang raja.
Kini Ma Guang sudah tidak menaruh rasa hormat lagi kepada sang raja di depannya itu.
"Aku memerintahkan kamu untuk menyuruh seluruh pasukanMu melucuti semua senjata mereka dan membiarkan mereka berdua untuk tetap tinggal disini". Ucap sang raja dengan suara yang penuh dengan ketegasan.
"Jika kalian ingin memaksa diriKu untuk melakukan hal yang bisa merugikan kerajaan ini demi keserakahan pribadi kalian, silahkan saja!". Ucap Ma Guang.
Pasukan Ma Guang kini sudah mengepung istana tersebut dan membuat pertahanan di gerbang pintu masuk ke istana.
"Jadi kamu berpikir bisa untuk menyelamatkan semua orang - orang terdekatMu? Kamu sangat naif. Semua orang - orang terdekatMu kini sudah dalam pengawasan pasukanKu". Ucap sang raja.
"Jadi anda ingin mengancamKu? Apakah kamu ingin aku ratakan istana ini menjadi debu bersama diriMu?". Ucap Ma Guang dengan nada suara yang meninggi.
Aura membunuh yang kuat keluar dari dalam tubuh pemuda itu. Orang - orang di sekitarnya kini tertekan dengan apa yang Ma Guang lakukan.
"Jika aku membunuh raja, pasti rakyat yang berada di wilayah kerajaan Qi akan merasakan penderitaan, karena kerajaan yang menginginkan kejatuhan kerajaan ini, pasti akan memanfaatkan situasi ini. Tetapi jika dia terus memaksakan kehendaknya, aku tidak segan - segan untuk membunuhnya". Gumam Ma Guang di dalam hatinya.
Yuan Jiali kini tetap tenang dan Ma Guang juga mengetahui apa yang gadis itu lakukan.
Yuan Jiali sedang bermeditasi dan memberitahukan situasi yang terjadi kepada ayahnya yang berada di paviliun Bunga Bakung.
"Apa maksud dari perkataan yang kamu ucapkan barusan? Apakah ada hal serius yang sedang terjadi?". Tanya istrinya Sim Lan.
"Iya! Raja tidak menerima pengunduran diri yang di ajukan oleh Guang'er dan menginginkan untuk nona Xia untuk menjadi istri pangeran Qi Yuan dan juga Li'er untuk tinggal dan menggantikan Guang'er". Ucap Yuan Gao.
Yuan Gao juga menjelaskan apa yang Yuan Jiali katakan kepadanya, bahwa mereka selalu di awasi oleh paaukan kerajaan.
Mendengar hal itu, wajah Sim Lan langsung berubah menjadi serius dan langsung menuju ke jendela untuk memeriksa apa yang baru saja di ketahuinya.
Yuan Gao dan juga Sim Lan sama - sama menajamkan persepsi mereka untuk menemukan orang - orang yang sedang mengawasi mereka.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka berdua bisa menemukan beberapa sosok yang bersembunyi di tengah kegelapan.
"Ternyata, apa yang Li'er katakan adalah benar adanya! Kita harus mempersiapkan para pendekar kita untuk menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi". Ucap Yuan Gao.
"Aku akan mengawasi mereka! Kamu cepat menyiapkan semua pendekar kita yang ada dan juga anak kita". Ucap Yuan Gao kepada Sim Lan.
__ADS_1
Akirnya, wanita itu menuruti apa yang suaminya perintahkan.
Di istana kerajaan.
Raja Qi Guan Zhong langsung menarik pasukan yang mengepung rombongan Ma Guang.
Sedangkan Ma Guang dan juga rombongannya langsung menarik mundur pasukan mereka dan meninggalkan istana kerajaan.
"Kita harus secepatnya kembali ke paviliun Bunga Bakung untuk mengantisipasi apa yang raja pikirkan". Ucap Ma Guang.
Ada kurang lebih seribu dua ratus orang prajurit yang mengikuti Ma Guang. Dan kesemuanya itu adalah empat ratus lima puluh pasukan yang memang di pimpin langsung oleh Ma Guang dari ibu kota kerajaan dan delapan ratus lebih pasukan adalah prajurit yang di ambil dari pasukan jenderal Fan Gui.
Rombongan mereka kini kembali ke paviliun Bunga Bakung.
Dan seperti biasanya, puluhan prajurit Ma Guang sudah mendahului rombongan mereka untuk mengawasi setiap situasi di radius dua ratus meter dari pasukan yang di pimpin oleh Ma Guang.
Yuan Jiali sendiri langsung melesat dengan cepat untuk menuju ke pavilium, dan setiap prajurit yang dia temui, semuanya langsung di bunuh.
Kekecewaan tergambar di setiap wajah pasukan yang mengikuti Ma Guang.
Mereka tidak menyangka jika raja mereka akan melakukan hal serendah itu.
Jiwa dan raga mereka telah di pertaruhkan untuk kejayaan kerajaan Qi, tetapi raja mereka tidak menghargai hal itu dan menghianati mereka.
Sedangkan sang raja langsung mengumpulkan semua petinggi kerajaanNya.
Para menteri dan jenderal serta para komandan pasukan kini sudah berada di aula istana kerajaan.
"Jenderal Ma Guang kini sudah mengkhianati kerajaan kita, jadi aku ingin menyerang setiap orang dan tempat yang berhubungan dengannya! Bagaimana menurut kalian?". Ucap sang raja.
"Maaf yang mulia! Menurut hamba, hal itu sepertinya tidak mungkin terjadi, karena sesuai dengan rumor yang beredar, jenderal Ma sangat berperan penting di dalam pertempuran yang terjadi di wilayah yang berbatasan dengan kerajaan Qi". Ucap salah satu menteri.
"Dia baru saja melawan apa yang aku perintahkan kepadanya. Oleh karena itu dia harus di tangkap dan di berikan hukuman yang berat". Ucap sang raja dengan nada suara yang penuh amarah.
"Ampun yang mulia! Tetapi menurut hamba, kita tidak bisa melakukan hal itu kepadanya, sebab hal itu akan membuat semangat dan mental para prajurit akan jatuh dan juga masalah ini akan sangat berpengaruh bagi politik yang ada di dalam kerajaan kita serta jika hal ini di manfaatkan oleh kerajaan lain untuk menyerang kerajaan kita, ini akan sangat berbahaya". Ucap salah seorang menteri lagi.
Hampir seluruh orang yang hadir di dalam aula tersebut menyetujui apa yang kedua menteri itu katakan.
"Jadi, siapa yang kalian hormati saat ini? Pengkhianat itu atau raja kita?". Ucap jenderal Wang Xuesi dengan suara yang lantang.
__ADS_1
"Jenderal Wang! Kita juga harus memikirkan tentang kepercayaan dari rakyat kita, jika rakyat sudah tidak percayah lagi kepada kita, akan muncul pergolakan di tengah - tengah masyarakat dan hal itu akan sangat merugikan bagi kita". Ucap seorang menteri lagi.
~Bersambung~