Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 158. Kedatangan Bangsawan Tjia


__ADS_3

Tjia Annchi yang telah mengetahui akan kedatangan ayah dan juga anggota keluarganya yang lain langsung melesat dengan cepat untuk menuju ke kediamannya.


Setelah sampai di kediamannya, gadis itu langsung meneteskan air matanya karena tidak mampu menahan kebahagiaan saat bertemu dengan kedua orang tuanya.


"Ayah! Ibu! Aku sangat merindukan kalian, bagaimana dengan keadaan kalian? Apakah kalian baik - baik saja?". Ucap Tjia Annchi yang langsung memberondong kedua orang tuanya dengan pertanyaan.


"Iya, kami baik - baik saja....bagaimana dengan keadaanMu, apakah kamu baik - baik saja?". Tanya Tjia Zihan ayah Tjia Annchi.


"Iya ayah, Annchi baik - baik saja". Jawab gadis itu sambil memeluk ayahnya yang juga langsung memeluk ibunya.


"An'er! Ayo kita duduk dulu, sebab ada sesuatu yang akan ayah bicarakan denganMu". Ujar Tjia Zihan.


Mereka pun akhirnya kembali duduk.


Tjia Annchi masih terus memeluk ibunya.


Setelah sesaat kemudian, gadis itu pun langsung menanyakan hal apa yang akan di bicarakan oleh ayahnya.


"Ayah, hal apa yang akan di bicarakan denganKu?".


"An'er! Situasi politik di ibu kota kerajaan saat ini sedang dalam keadaan tidak stabil, pangeran Qi Yuan sedang melakukan hal - hal yang sangat merugikan bagi rakyat kerajaan Qi, dan hal itu juga berdampak kepada keluarga kita, jadi saat ini keluarga kita untuk sementara ini telah meninggalkan ibu kota kerajaan dan kini menetap di kota Qiantong". Tjia Zihan menjelaskan kepada putrinya.


"Ayah...mengapa hal itu bisa terjadi?". Tanya Tjia Annchi penasaran.


"Hal itu terjadi karena pangeran mengetahui bahwa diriMu adalah salah satu murid sekte Bambu Kuning ini, sehingga keberadaan keluarga kita di jadikan musuh olehnya". Ujar Tjia Zihan.


Setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh ayahnya, Tjia Annchi langsung menyadari hubungan antara pangeran dan juga Ma Guang beberapa saat yang lalu, sehingga dirinya langsung mengerti kenapa sang pangeran sangat tidak menyukai setiap orang yang berhubungan dengan sekte Bambu Kuning.


"Terus apa yang akan di lakukan ayah untuk kedepannya?". Tanya Tjia Annchi.


"Kita harus menunggu hingga situasi di ibu kota kerajaan Qi bisa kembali seperti semula, agar kita bisa kembali lagi ke ibu kota kerajaan". Jelas Tjia Zihan.


"Maafkan aku ayah, sebab karena diriKu sehingga keluarga kita menjadi seperti sekarang ini". Ucap Tjia Annchi yang merasa bersalah dengan apa yang di alami oleh keluarganya.


"An'er...!!! Hal ini juga semata bukan sepenuhnya di akibatkan oleh diriMu yang masuk di sekte ini, tetapi memang hal itu di akibatkan karena kecongkakan dari pangeran sendiri". Ujar Tjia Zihan untuk menenangkan putrinya agar tidak menyalahkan dirinya sendiri.


Pelayan pun langsung menghidangkan makanan untuk menjamu keluarga bangsawan Tjia.


Mereka semua menikmati jamuan tersebut sambil berbincang - bincang melepas kerinduan mereka dengan Tjia Annchi.

__ADS_1


Setelah mereka selesai menikmati jamuan makan tersebut, tidak lama kemudian patriak Yao Han tiba di kediaman tersebut di dampingi oleh tetua agung dan juga tetua penegak hukum.


"Murid memberi hormat kepada patriak! Hormat kepada tetua agung dan tetua penegak hukum". Ucap Tjia Annchi.


"Hormat kepada patriak Yao Han, dan juga kepada para tetua". Ucap Tjia Zihan yang di ikuti juga oleh yang lain.


"Ayo silahkan duduk". Ucap Patriak.


Mereka semua pun kembali duduk dan patriak mulai membuka pembicaraan mereka.


"Terima kasih atas kunjungan dari kepala keluarga bangsawan Tjia ke sekte kami ini".


"Tentunya maksud serta tujuan dari kedatangan bangsawan Tjia ini pastinya untuk memastikan keadaan nona Tjia...apakah benar seperti itu?". Ucap patriak Yao Han menebak tujuan kedatangan kepala keluarga bangsawan Tjia.


"Memang benar apa yang di katakan oleh patriak itu, akan tetapi ada juga hal yang lain di samping apa yang patriak katakan tersebut". Ujar Tjia Zihan menanggapi perkataan patriak.


"Hal apa lagi yang menjadi tujuan dari bangsawan Tjia hingga datang ke sekte kami ini?". Tanya patriak dengan penasaran.


"Begini patriak, maksud kedatanganKu kali ini, hendak meminta bantuan dari sekte Bambu Kuning agar bisa berbicara dengan penguasa kota Qiantong untuk kami bisa menetap sementara waktu di kota tersebut". Tjia Zihan menjelaskan.


"Kenapa bisa demikian? Apakah telah terjadi sesuatu dengan keluarga anda?". Tanya patriak penasaran.


"Semua itu ada hubungannya dengan pangeran Qi Yuan, dia tidak menyukai keluarga kami karena An'er adalah murid dari sekte ini, sehingga dia secara terang - terangan terus melakukan provokasi mau pun intimidasi kepada setiap anggota keluargaKu dan juga kepada setiap orang - orang yang berhubungan dengan keluarga kami".


Patriak dan juga dua tetua lainnya sangat bersimpati setelah mendengar penjelasan dari Tjia Zihan.


Mereka pun terus berbicara tentang hal - hal apa yang terjadi di ibu kota kerajaan Qi saat raja masih berada di kota Liangfu karena sedang menghadapi serangan yang di lakukan oleh kerajaan Lu.


"Baiklah, aku akan mengutus tetua agung Xiang Zhang ikut bersama rombongan kalian untuk menghadap dan berbicara dengan penguasa kota Qiantong". Ujar patriak.


Hal itu memang harus di lakukan, karena keluarga bangsawan Tjia adalah seorang pengusaha.


Dan di kota Qiantong sendiri juga terdapat beberapa pengusaha yang mengelolah usaha mereka serta menjadi pilar di kota tersebut.


Hal itulah mengapa bangsawan Tjia harus menggunakan status sekte Bambu Kuning agar bisa tinggal untuk sementara waktu di kota tersebut.


Jika hanya berstatus sebagai wisatawan atau mengantarkan barang - barang dagangan serta hanya lewat di kota tersebut, itu tidak akan menjadi masalah.


Tetapi jika untuk tinggal apa lagi ingin membuka usaha di kota itu, hal itu akan mendapatkan pertentangan bagi keluarga bangsawan yang berada di kota tersebut.

__ADS_1


Jika saja tidak terjadi perselisihan di antara sekte Bambu Kuning dalam hal ini secara langsung dengan Ma Guang dan pihak kerajaan Qi, sudah pasti tidak ada bangsawan di kota Qiantong yang bisa menyinggung keluarga bangsawan Tjia, sebab kedudukan keluarga bangsawan Tjia sangat penting bagi kerajaan Qi sendiri, karena keluarga bangsawan Tjia adalah salah satu pilar kekuatan kerajaan Qi.


Namun karena masalah tersebut, sehingga kini posisi bangsawan Tjia tidak akan ada apa - apanya di mata para bangsawan yang berada di kota Qiantong.


Sebab mereka lebih memilih mendukung sekte Bambu Kuning dari pada berpihak ke kerajaan Qi.


Dan tentunya mereka sudah tahu apa konsekwensi yang akan mereka terima karena mengambil langkah tersebut.


Akhirnya patriak dan juga kedua tetua sekte itu pamit undur diri untuk kembali ke kediaman mereka masing - masing.


Setelah selesai berbincang dengan para petinggi sekte, Tjia Annchi langsung memberitahukan suatu hal kepada ayahnya.


"Ayah! Ibu! Ada hal yang ingin Annchi beritahukan kepada ayah dan ibu".


"Hal apa yang ingin An'er beritahukan itu?". Tanya Tjia Zihan.


"Annchi saat ini sudah memilih seorang pemuda untuk menjadi pasangan hidupKu". Ujar gadis tersebut.


"Apa!? Jadi gadis kecil ayah ini sudah mendapatkan seorang pemuda untuk menjadi pendamping hidupnya!? Siapa gerangan pemuda yang sudah membuat hati putriKu untuk luluh kepadanya?". Ucap Tjia Zihan.


"Ayah sebelumnya sudah pernah melihatnya". Jawab Tjia Annchi dengan malu - malu.


"Apakah yang An'er maksudkan adalah pendekar Ma!?". Ujar Tjia Zihan dengan penuh semangat.


"Tidak ayah, bukan pendekar Ma yang aku maksudkan". Terang gadis tersebut.


"Terus siapa pemuda itu?". Tanya Tjia Zihan lagi dengan tatapan yang penasaran.


"Pemuda itu adalah salah satu pendekar muda dari sekte ini yang sama - sama mengikuti turnamen di ibu kota kekaisaran waktu itu". Ujar Tjia Annchi.


"Oh, iya...seingat saya, memang ada seorang pendekar muda juga yang saat itu bersama dengan patriak dan juga pendekar Ma, tetapi aku sudah tidak mengingat lagi siapa nama pemuda itu". Tjia Zihan menjelaskan.


"Pemuda itu saat ini adalah tetua tingkat tinggi termuda yang di miliki oleh sekte ini, kini dirinya sudah menjadi seorang pendekar suci". Ucap Tjia Annchi dengan bangga memberitahukan hal itu kepada orang tuanya.


"Apa!? Sudah menjadi pendekar suci di usia yang masih muda? Sekte ini benar - benar sangat mengerikan". Ujar Tjia Zihan sangat terkejut mendengar apa yang putrinya sampaikan.


"Apakah ayah dan ibuMu bisa bertemu dengannya?". Tanya Tjia Annchi.


"Tentu saja ayah, dia itukan calon menantunya ayah, jadi sudah seharusnya dia bertemu dengan ayah dan ibu". Ucap Tjia Annchi sambil tersenyum malu.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2