Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 146. Penyerangan (II)


__ADS_3

Yuan Jiali langsung memeluk tubuh Ma Guang yang kini mulai terkulai lemas seperti sudah tidak memiliki tulang lagi.


"Tolong ambilkan pil penguat jiwa serta pil pemulih energi tenaga dalam yang berada di kantong". Ucap Ma Guang.


Yuan Jiali langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh pemuda yang berada di pelukannya itu.


Beberapa saat kemudian Yuan Jiali langsung menemukan kantong tersebut dan meraih beberapa pil yang terdapat di dalamnya.


"Ini...ayo telan agar kekuatan jiwaMu dan juga energi tenaga dalamMu bisa dengan cepat untuk pulih lagi". Ucap Yuan Jiali sambil memberikan pil tersebut.


Ma Guang pun langsung menelan pil yang di berikan oleh Yuan Jiali dan langsung bermeditasi sambil di bantu oleh gadis yang selalu berada di sampingnya itu.


Beberapa saat kemudian, energi tenaga dalam milik Ma Guang telah kembali pulih walau pun belum sepenuhnya. Namun kekuatan jiwa pemuda tersebut, belum bisa untuk di gunakan lagi, sebab dirinya akan membutuhkan beberapa hari lagi agar bisa memulihkan sepenuhnya kekuatan jiwanya untuk bisa menggunakan teknik tersebut.


Di pihak jenderal Wang Xuesi sendiri, para prajurit dan juga para komandannya, kini merasa trauma dengan apa yang baru saja di alami oleh pasukan mereka.


Sekitar enam belas ribu lebih prajurit mereka yang kini telah terbaring lemah di tanah.


Saat ini hanya ada sekitar tujuh ribuan prajurit di pihak jenderal Wang Xuesi yang tidak terluka atau pun tidak menerima serangan kekuatan jiwa milik Ma Guang.


"Lapor jenderal...!!! Setelah kami memeriksa kondisi para prajurit kita, mereka semua masih dalam keadaan hidup, tetapi tubuh mereka seperti sudah tidak memiliki kekuatan sedikit pun". Ucap seorang komandan.


"Mereka itu sudah tidak bisa tertolong lagi, sebab jiwa mereka sudah hancur". Terang jenderal Wang.


"Jadi, saat ini apa yang harus kita lakukan?". Tanya komandan tersebut.


"Bagaimana dengan situasi pasukan yang berada di kota itu!? Apakah serangan kita telah melumpuhkan mereka?". Tanya jenderal Wang.


"Jenderal...!!! Kelihatannya serangan kita telah berhasil melumpuhkan pasukan mereka". Jawab sang komandan.


"Jadi seperti itu...kalau begitu, kita akan kembali untuk menyerang mereka...kita harus bisa menguasai kota tersebut dan membunuh Ma Guang, sebab saat ini dia sudah dalam keadaan yang sangat lemah". Ucap jenderal Wang.


"Kumpulkan semua prajurit yang masih bugar untuk melakukan penyerangan kembali". Perintah jenderal Wang.


Sang komandan tersebut langsung pamit undur diri dan melakukan apa yang di perintahkan oleh sang jenderal.


Setelah sekitar tujuh ribu prajurit yang terkumpul dan di tambah dengan dua ribu prajurit yang terluka ringan dan sudah merasa bisa kembali melakukan pertempuran. Sehingga jumlah keseluruhan pasukan mereka menjadi sembilan ribuan.


"Lapor jenderal...!!! Semua prajurit yang masih bugar sudah terkumpul, dan kini tinggal menunggu perintah dari jenderal". Ucap sang komandan.


Jenderal Wang langsung bangkit dan keluar untuk pergi menemui pasukannya.

__ADS_1


Di saat jenderal Wang Xuesi melihat situasi pasukannya, pria itu langsung mengerti apa yang pasukannya pikirkan.


"Apa yang baru saja terjadi dengan rekan - rekan kalian, itu semua adalah perbuatan dari Ma Guang dan setelah dirinya melakukan hal itu, kini dia dalam keadaan kritis dan tidak bisa lagi untuk kembali melakukan hal itu, oleh karena itu, mari kita kembali menyerang mereka untuk membalaskan apa yang telah mereka lakukan kepada rekan - rekan seperjuangan kita". Ucap sang jenderal untuk membakar kembali semangat para prajuritnya yang telah mengalami trauma dengan apa yang di lakukan oleh Ma Guang.


Gemuruh suara pasukan yang di pimpin oleh jenderal Wang langsung terdengar sampai ke telinga penguasa kota yang kini sudah terbebas dari pengaruh racun dan juga ke telinga Ma Guang.


Sedangkan untuk pasukan Ma Guang dan juga para murid dari sekte Bambu Kuning juga mengalami hal yang sama dengan apa yang penguasa kota alami.


Hal itu di sebabkan oleh karena masing - masing dari mereka memiliki penawar racun yang di racik oleh Xia Jiao.


Berbeda halnya dengan sebagian besar pasukan milik penguasa kota, mereka kini tinggal tersisa lima ratus orang saja, sedangkan untuk yang lainnya, mereka sudah tewas karena racun yang telah mereka hirup tersebut.


Jumlah pasukan mereka yang tersisa, jumlahnya masih jauh di bawah dari jumlah pasukan yang di miliki oleh jenderal Wang.


Tidak lama kemudian, ribuan pasukan musuh kini sudah terlihat dari atas tembok pertahanan kota untuk kembali menyerang kota itu.


"Pendekar Ma...!!! Apa yang akan kita lakukan saat ini?". Tanya penguasa kota.


"Kita akan menghadapi mereka, biarkan mereka merasa bahwa pasukan kita sudah tidak berdaya lagi agar membuat pertahanan mereka menjadi lebih lengah". Terang Ma Guang.


Pasukan Ma Guang sendiri bersama dengan para murid sekte Bambu Kuning dan prajurit kota Laoling kini belum menampakkan diri mereka, namun sudah bersiap untuk melepaskan setiap anak panah di tangan mereka masing - masing.


Pasukan tersebut memacu kuda mereka masing - masing untuk menuju ke gerbang kota.


Saat pasukan mereka sudah memasuki jarak tembak anak panah milik pasukan Ma Guang. Pemuda tersebut langsung memerintahkan agar segera melepaskan anak panah kearah pasukan musuh yang sedang menuju ke gerbang kota.


Pasukan yang di pimpin oleh jenderal Wang langsung terkejut dan kelabakan menghadapi hujan anak panah dari atas tembok pertahanan lawan.


"Sialan...!!! Rupanya kita telah memasuki jebakan mereka...ayo semuanya mundur". Teriak jenderal Wang.


Mendengar perintah tersebut, pasukannya langsung berbalik dan mundur.


Tetapi tidak demikian dengan kurang lebih seribu pasukan lainnya, mereka telah tewas karena di terjang anak panah milik pasukan lawan.


Sedangkan ratusan prajurit lainnya juga kini mendapatkan luka berat mau pun luka ringan karena terkena anak panah.


Dengan situasi yang di alami oleh pasukannya, jenderal Wang Xuesi langsung mengurungkan niatnya untuk menyerang lagi kota Laoling.


Jenderal Wang Xuesi menarik mundur pasukannya dan kembali ke kota Qiansheng untuk menunggu hasil serangan yang di lakukan oleh sekte aliran hitam yang di pimpin langsung oleh ketua sekte Lembah Tengkorak.


Dan karena informasi tentang kerja sama yang di lakukan oleh sekte Lembah Tengkorak dengan pangeran Qi Yuan telah sampai ke telinga ketua sekte Gagak Hitam, sehingga sekte tersebut bersama dengan sekte aliran hitam menengah dan kecil yang bergabung dengan sekte mereka langsung menuju ke kota Qiansheng untuk bergabung.

__ADS_1


Karena sekte aliran hitam yang di pimpin oleh ketua sekte Lembah Tengkorak sudah terlebih dahulu bergerak untuk menyerang sekte Bambu Kuning, akhirnya sekte Gagak Hitam menyusul mereka untuk bersama - sama menghancurkan sekte aliran putih tersebut.


Tidak hanya sekte aliran hitam saja yang bergabung untuk menyerang sekte aliran putih itu, akan tetapi ada juga beberapa sekte menengah dan sekte kecil aliran netral yang bergabung untuk mendapatkan kitab yang di miliki oleh Ma Guang.


Karena dengan demikian, sekte mereka bisa bangkit dengan cepat untuk menjadi sebuah sekte besar.


Keadaan di sekte Bambu Kuning sendiri kini sudah menjadi medan pertempuran di antara sekte yang menyerang mereka dengan para murid dan juga para tetua sekte.


Patriak Yao Han bersama para tetua tingkat tinggi lainnya kini sedang di sibukkan dengan lawan mereka masing - masing.


Para murid yang masih muda dengan kemampuan yang masih berada di ditingkat keempat kebawah pendekar tahap awal kini sudah tidak ada lagi yang masih hidup, semuanya sudah terbujur kaku dengan mulut yang berbusa.


Hal itu di akibatkan oleh serangan racun yang di lancarkan oleh pihak lawan.


Sedangkan para murid yang sudah berada di tingkat ke lima, mereka masing - masing sudah di berikan penawar racun, karena mereka sudah mendapatkan tugas untuk berjaga di wilayah sekte.


Patriak Yao Han saat ini sedang berhadapan dengan ketua sekte Lembah Tengkorak Xue Lugu.


Terlihat sebuah pedang yang berwarna putih seperti warna tulang kini berada di genggaman Xue Lugu yang siap untuk menebas tubuh patriak Yao Han.


Sedangkan di tangan patriak Yao Han terlihat sebuah tombak yang siap di gunakan untuk mengimbangi serangangan pedang lawan di depannya itu.


"Hal apa yang membuat kalian menyerang sekte kami ini?". Tanya patriak Yao Han.


"Kamu tidak perlu untuk berbasa - basi lagi, cepat serahkan kitab yang kalian miliki". Ucap Xue Lugu.


"Kitab apa yang kamu maksudkan?". Tanya patriak Yao Han.


"Kitab yang bisa meningkatkan kemampuan ilmu bela diri kalian dengan cepat". Jawab Xue Lugu.


Patriak Yao Han terdiam sejenak dan langsung tertawa menanggapi perkataan Xue Lugu.


"Ha...ha...ha...ha...ha...ha... keinginan kalian ini terlihat sangat konyol...di sekte kami ini tidak memiliki kitab yang kamu maksudkan itu".


"Cepat kamu serahkan, jangan memaksaKu untuk membunuh semua murid dan juga tetua yang ada di sekte ini". Ucap Xue Lugu dengan tegas.


"Apakah kamu mampu untuk melakukan hal itu? Aku rasa kamu hanya membual saja". Ucap patriak Yao Han menimpali perkataan Xue Lugu.


"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan". Ucap Xue Lugu sambil melesat dan menyerang patriak Yao Han.


~Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2