
Sekte - sekte serta perguruan ilmu bela diri aliran putih dan aliran netral yang tersisa selain sekte Naga Surgawi, Bambu Kuning dan sekte Es Abadi tinggal beberapa saja yaitu, Sekte Shaolin, Harimau Putih, Tapak Suci, Naga Kembar, Pedang Terbang, Api Suci dan perguruan Rajawali Perak.
Sedangkan untuk sekte dan perguruan ilmu bela diri yang lain telah di hancurkan dan sudah tidak ada lagi.
Hal itu membuat jumlah para murid gabungan dari 9 sekte serta perguruan ilmu bela diri pada saat ini merasa kelabakan dengan setiap permintaan penduduk desa, penguasa kota mau pun permintaan dari setiap kerajaan yang ada dibawah wilayah kekuasaan kekaisaran Zhou.
Sedangkan sekte Naga Surgawi sendiri sudah beberapa tahun belum juga membuka diri untuk dunia luar.
Hari pertama bagi anggota sekte Naga Surgawi untuk keluar meninggalkan wilayah sekte tersebut.
Dan mereka adalah Jiangjun, Ma Tian Shen dan juga Hong Yilan.
Dengan kekuatan Jiangjun yang sudah berada di tingkat Puncak Dewa Surgawi, Ma Guang merasa tidak khawatir lagi dengan ancaman dari pihak lain untuk adik dan juga putranya tersebut.
Tidak hanya itu saja, Ma Guang juga memerintahkan Hong Jiannan dan juga Huaiying pergi juga untuk menemui keluarga mereka.
Sepasang kekasih yang di mabuk cinta itu segera meninggalkan wilayah sekte Naga Surgawi.
Keduanya terlebih dahulu menuju ke kota Rulong untuk menemui keluarga Ngapoi yang adalah keluarga dari Huaiying.
Tujuan mereka untuk mendapatkan restu dari orang tua serta keluarga Ngapoi agar keduanya bisa di nikahkan.
Sebenarnya untuk menuju ke kota Rulong, tidak akan membutuhkan waktu yang lama bagi Hong Jiannan yang adalah seorang Dewa sejati.
Namun keduanya tetap melakukan perjalanan seperti pendekar pada umumnya yang saat itu berada di tingkat pendekar langit.
Jumlah pendekar langit sendiri tidak begitu banyak, sebab peningkatan untuk menjadi seorang pendekar langit itu terjadi disebabkan oleh Ma Guang yang membagi - bagikan sumberdaya yang dia miliki.
Di setiap sekte yang tersisa, hanya seratus orang murid yang berada di tingkat pendekar Langit, dan ada puluhan orang yang bisa menerobos menjadi Pendekar Dewa Bumi. Mereka itu adalah para patriark serta para tetua.
Sehingga jika di bulatkan hanya ada sekitar sembilan ratusan pendekar langit yang ada di wilayah kekaisaran Zhou.
Serta ada puluhan pendekar dewa di luar sekte Naga Surgawi dan juga sekte Bambu Kuning.
Hanya satu orang saja yang sudah memiliki kekuatan sebagai dewa sejati, dan orang itu adalah Bing Bihai.
Karena kekuatan yang ada di wilayah kekaisaran Zhou seperti itu, sehingga sangat sulit bagi mereka untuk menangani setiap permasalahan yang di lakukan oleh ex pasukan Api Angin yang sudah mengundurkan diri sebagai pasukan yang berada di bawah komando kekaisaran Zhou.
Apa lagi mereka juga di latih untuk melakukan tindakan yang sama seperti yang biasa di lakukan oleh para pendekar dari sekte aliran hitam.
***
Kini Jiangjun, Ma Tian Shen serta Hong Yilan sudah memasuki wilayah kerajaan Zhao.
Karena Ma Tian Shen ingin melihat setiap aktivitas yang di lakukan oleh manusia pada umumnya, sehingga dirinya mengajak dua sosok yang bersamanya untuk singgah sebentar di salah satu kota di wilayah kerajaan Zhao.
"Paman, ayo kita turun untuk melihat - lihat situasi di kota itu".
Jiangjun hanya menganggukkan kepala menanggapi ucapan remaja tersebut dan di iyahkan juga oleh Hong Yilan.
Ketiganya pun mendarat di hutan yang sudah tidak jauh untuk bisa sampai di tanah lapang yang luas sebelum memasuki gerbang kota.
Suasana di depan pintu gerbang hanya terlihat ada beberapa prajurit yang berdiri di atas tembok dan sedang berjaga.
Sedangkan di depan gerbang kota terlihat puluhan prajurit yang sedang melakukan pemeriksaan untuk rombongan yang terlihat seperti sedang membawa barang dagangan.
__ADS_1
Jiangjun dan juga dua orang lainnya kini sedang mengantri untuk mendapatkan giliran pemeriksaan.
"Paman, katakan saja kalau kita berasal dari sekte Naga Surgawi". Ucap Ma Tian Shen melalui kekuatan spiritualnya.
"Kita tidak boleh menggunakan identitas sekte Naga Surgawi, karena hal itu nantinya akan sangat merepotkan bagi kita". Jawab Jiangjun.
"Kenapa bisa begitu?". Tanya remaja itu penasaran.
"Tujuan perjalanan kita kali ini hanyalah untuk jalan - jalan agar bisa melihat situasi kehidupan manusia pada umumnya".
"Jika kita menggunakan identitas sekte Naga Surgawi, akan ada banyak permintaan dari para bangsawan maupun dari penduduk kota untuk bisa membantu kesulitan mereka".
"Jika demikian, kita bantu saja jika mereka membutuhkan bantuan kita". Ucap Ma Tian Shen.
"Hal itu tidak sesederhana yang Penguasa Muda pikirkan". Balas Jiangjun.
"Apakah sulit untuk membantu mereka?". Tanya Ma Tian Shen lagi.
"Iya, kita akan mendapatkan kesulitan". Jawab Jiangjun.
"Ayo maju!". Ujar seorang prajurit sambil menatap ke arah kelompok Jiangjun.
Mereka bertiga secara bersama - sama melangkah maju untuk mendekati Sang prajurit yang memanggil mereka.
"Tunjukkan identitas kalian!". Perintah seorang prajurit.
Mendengar perkataan prajurit itu, Jiangjun pun segera meraih sebuah pelat tanda pengenal dari keluarga Su.
"Mereka berdua adalah ponakanKu". Ucap Jiangjun setelah memberikan pelat tanda pengenal dari keluarga Su.
Prajurit itu pun segera menganggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa dirinya sudah mengerti.
"Sepertinya selama ini aku tidak pernah melihat pelat pengenal itu". Tutur prajurit yang meminta tanda pengenal kepada ketiganya.
"Maaf tuan, kami memang baru kali ini datang berkunjung ke kota kalian ini, jadi sangatlah wajar jika tuan baru pertama kalinya melihat tanda pengenal keluarga kami". Balas Jiangjun dengan santun.
"Kalian berasal dari mana?". Tanya prajurit itu lagi.
"Kami berasal dari wilayah kekaisaran Baiyue". Tutur Hong Jiannan mendahului Jiangjun.
"Apa? Jd kalian berasal dari wilayah kekaisaran Baiyue?".
"Jika demikian, mohon ikuti kami dan jangan melakukan perlawanan". Ujar sang prajurit.
Tindakan prajurit itu juga segera di dukung oleh puluhan prajurit yang lain dengan mengepung tiga orang tersebut.
"Punya kemampuan sebagai seorang pendekar raja saja sudah banyak tingkahnya".
"Bagaimana jika sudah memiliki kemampuan sebagai seorang pendekar dewa!? Pasti merasa dunia ini sudah menjadi milik mereka". Ujar Ma Tian Shen.
Perkataannya dapat di dengar oleh para prajurit yang sedang mengelilingi mereka.
"Bagaimana bisa bocah ini bisa mengetahui tingkat kultivasi kita? Apakah dirinya seorang pendekar dewa atau pendekar langit!?". Pikir para prajurit.
"Siapa kalian!?". Teriak seorang prajurit.
__ADS_1
"Siapa kami itu tidak penting, karena jika kami memberitahukannya, kami pasti akan merasa kesulitan karena banyak orang yang akan meminta bantuan kepada kami". Jawab Ma Tian Shen.
"Tuan muda, jangan berkata seperti itu". Sela Jiangjun.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan kata - kataKu?".
"Bukankah tadi paman yang mengatakan hal itu kepadaKu lewat kekuatan spiritual!?". Balas Ma Tian Shen.
"Aduh...bisa kacau jika terus menerus di tanya oleh para prajurit seperti ini". Pikir Hong Yilan sambil menepak dahinya.
"Tuan, maafkan atas kelancangan ponakanKu ini, dia masih terlalu mudah dan belum bisa menempatkan kata - katanya dengan baik". Ucap Jiangjun meluruskan apa yang baru saja terjadi.
"Lancang? Apanya yang lancang? Apa yang aku katakan itu adalah benar, jadi tidak ada yang salah dengan ucapanKu barusan".
"Jika kalian mengetahui sebenarnya kami berasal dari mana, pasti kalian akan merasa sangat takut dengan kami". Lanjut Ma Tian Shen lagi.
"Tuan Muda! Ayo kita tinggalkan saja kota ini". Ajak Jiangjun agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.
"Aku tidak mau! Aku ingin meluruskan siapa sebenarnya kita ini".
"Jangan Penguasa Muda! Identitas kita tidak perlu di ungkapkan".
"Jika tidak diungkapkan, mereka akan tetap bertingkah".
"Shen'er! Kamu harus mendengarkan paman Jiangjun dan juga bibiMu ini". Sambung Hong Yilan.
"Apa? Jiangjun? Bukankah itu nama dari jenderal naga bawahannya Sang Dewa dari sekte Naga Surgawi!?". Tutur seorang prajurit.
"Mendengar perkataan salah satu rekan mereka, wajah puluhan prajurit itu pun langsung berubah menjadi pucat pasi.
"Iya! Dia adalah jenderal naga bawahan ayahKu! Kenapa? Apakah kalian sudah mengetahui identitas kami yang sebenarnya?". Ucap Ma Tian Shen membenarkan perkataan sang prajurit.
Setelah mendapatkan pengakuan dari Ma Tian Shen, puluhan prajurit itupun segera bersujud memohon ampun atas tindakan yang mereka lakukan sebelumnya.
"Kami memberi hormat kepada Penguasa Muda!".
"Mohon ampun atas kesalahan kami!".
Mereka meneriakkan kata - kata tersebut sambil bersujud dan tanpa henti.
Melihat apa yang puluhan prajurit lakukan, Ma Tian Shen pun langsung merasa iba.
"Hentikan! Jangan melakukannya lagi".
"Semuanya cepat berdiri".
Ucap Ma Tian Shen.
"Kami tidak berani untuk berdiri jika Penguasa Muda belum mengampuni kami". Ujar puluhan prajurit tersebut.
"Baiklah, aku mengampuni kalian".
"Cepatlah berdiri".
Telah mendengarkan ucapan Ma Tian Shen, akhirnya mereka pun segera berdiri.
__ADS_1
"Terima kasih Penguasa Muda!". Ucap mereka serentak.
~Bersambung~