
Para prajurit gadungan dan juga anggota kelompok dari sekte Seribu Racun langsung menyerang Ma Guang.
Duar...duar...duar...duar
Bunyi ledakan energi tenaga dalam yang di lepaskan oleh Ma Guang kearah orang - orang yang menyerangnya.
Brak...brak
Bunyi beberapa tubuh yang menabrak dinding penginapan dan menghancurkannya hingga terlempar keluar.
Ada sekitar 17 orang yang secara bersama - sama menyerang Ma Guang, namun setelah Ma Guang menyerang balik mereka, kini sudah tidak ada lagi yang bisa berdiri.
Beberapa di antara mereka sudah kehilangan nyawanya.
Sedangkan yang lain masih hidup namun sudah terluka parah.
Keadaan penginapan tersebut sudah dalam keadaan porak - poranda karena energi tenaga yang di keluarkan oleh Ma Guang selain di arahkan kepada para penyerang, juga menyebar kesegala arah.
Hal itu karena Ma Guang juga mengantisipasi serangan dari pihak lain yang ingin membokongnya.
Diluar penginapan juga sudah terdengar dentingan senjata yang saling berbenturan.
Tetua Sim Lan dan Yuan Gao, masing - masing sedang menghadapi satu orang yang menggunakan baju Zirah.
Sedangkan Xia Jiao menghadapi dua orang yang menggunakan baju zirah sambil melindungi Yuan Jiali.
Kabut bubuk beracun bertebaran di luar penginapan dan hal itu di lakukan oleh anggota kelompok sekte Seribu Racun.
Pertarungan yang awalnya mereka anggap akan sangat mudah untuk dihadapi, kini mulai tidak lagi terlihat mudah. Setelah muncul beberapa sosok yang menggunakan jubah hitam.
Beberapa sosok itu dengan cepat langsung melemparkan bola - bola hitam kearah tetua Sim Lan, Yuan Gao, Xia Jiao dan juga kearah Yuan Jiali.
Tetua Sim Lan langsung menyambut serangan bola hitam yang ukurannya sebesar bola tenis itu dengan pedangnya.
Yuan Gao juga melakukan hal demikian.
Sedangkan Xia Jiao menangkis dua bola hitam sekaligus.
Booommm
Booommm
Booommm...booommm
Bunyi ledakan yang terjadi saat ketiganya menangkis bola hitam yang mengarah kepada mereka.
Jika ketiga orang yang menangkis serangan itu masih berada di tingkatan pendekar Ahli tingkat awal kebawah, sudah tentu akan berdampak besar untuk mereka.
Untung ketiganya sudah mencapai pendekar raja dan pendekar suci sehingga ledakan itu tidak berdampak serius bagi mereka berempat.
Yuan Jiali juga tidak terkena dampak, karena posisi dirinya sedikit jauh dari ledakan dan juga ada perisai energi yang di buat oleh Xia Jiao.
Namun serangan itu tidak berhenti sampai disitu saja. Serangan susulan pun datang menyerang mereka dan hal ledakan itulah yang membuat mereka lengah.
__ADS_1
Empat buah pisau melesat kearah keempat orang tersebut.
Sret...sret...sret...sret
Tetua Sim Lan dan juga Yuan Gao tidak sempat menghindari serangan pisau tersebut. Karena posisi berdiri mereka yang tidak memiliki tumpuan dan momentum untuk merubah posisi tubuh keduanya.
Sedangkan untuk Xia Jiao sendiri, di tambah lagi dengan serangan pisau yang mengarah kepada Yuan Jiali, belum menjadi masalah untuknya.
Ting...ting
Dua buah pisau yang akan menghujam tubuh terua Sim Lan dan Yuan Gao, terlempar karena berbenturan dengan dua buah besi yang tajam milik Ma Guang.
Sedangkan dua buah pisau yang lain langsung di hindari dan di tangkap oleh Xia Jiao serta langsung melemparkannya kembali kearah datangnya pisau terbang itu.
"Ahhhccckkk."
Suara jeritan salah satu dari mereka yang terkena lemparan pisau terbang yang di kembalikan oleh Xia Jiao.
Duar
Duar
Bunyi ledakan yang terjadi di sekitar mereka dan langsung membuat asap tebal mengepul keluar dan langsung menyebar ke seluruh area tempat mereka bertarung.
Pandangan mata keempat orang tersebut langsung terbatas karena di batasi oleh asap putih tersebut.
"Sialan! Ternyata mereka memiliki trik kotor ini untuk mengalahkan kita." Ucap tetua Sim Lan.
"Buat perisai tubuh!." Teriak Ma Guang sambil melesat kearah orang - orang yang akan menyerang keempat rekannya itu.
Mendengar suara teriakan Ma Guang, keempat orang tersebut langsung melakukannya.
Puluhan anak panah melesat kearah keempat orang tersebut yang berada di dalam kepulan asap.
Hanya hitungan detik saja, beberapa anggota kelompok tersebut, baik yang menggunakan baju Zirah mau pun tidak menggunakan baju zirah. Sudah tergeletak di tanah karena telah tertebas pedang milik Ma Guang.
Sedangkan puluhan anak panah yang di lesatkan kearah kepulan asap yang di dalamnya berada empat orang rekan Ma Guang, tidak juga membuahkan hasil yang sesuai dengan harapan sang penyerang.
Semua anak panah itu tidak mampu menembus perisai energi yang melindungi tubuh dari keempat orang tersebut.
Keempat orang tersebut meningkatkan persepsi mereka masing - masing, karena pandangan mata mereka masih terhalang oleh asap putih tersebut.
Sedangkan Ma Guang masih tetap melesat dengan Langkah Bayangan seorang pendekar suci gerbang keempat serta terus mengayunkan tangannya menebas setiap sosok yang di temuinya.
Puluhan tubuh terbaring di tanah dengan tubuh yang sudah tidak bernyawa lagi dan dengan tubuh yang sudah tidak utuh lagi.
Setelah selesai menghabisi orang - orang yang berusaha mengeroyok keempat temannya, Ma Guang langsung menajamkan persepsinya untuk menemukan apakah masih ada anggota lain yang berada di dekat area tersebut.
Sedangkan tetua Sim Lan dan tiga orang lainnya langsung mengedarkan tenaga dalam mereka untuk menyingkirkan asap putih yang menghalangi pandangan mata mereka berempat.
Baru saja asap putih itu hilang dari area tersebut. Suara Ma Guang sudah terdengar berteriak kembali kepada keempat orang tersebut.
"Cepat menghindar dan berlindung!."
__ADS_1
Xia Jiao langsung melesat dan menyambar tubuh Yuan Jiali untuk menjauh dari tempat awal mereka berdiri.
Booommm
Booommm
Booommm
Bunyi ledakan yang ratusan kali lebih besar dari yang mereka terima.
Kehancuran besar terjadi di depan penginapan tersebut.
Ledakan itu meninggalkan tiga buah lubang berdiameter masing - masing sekitar 2 meter dengan kedalaman 75 Cm.
"Senjata apa yang mereka gunakan? Mengapa ledakannya bisa membuat kehancuran seperti itu?." Gumam Ma Guang.
Belum juga habis dari keterkejutan mereka tersebut. Terdengar seperti serangan beberapa rantai datang mengarah kepada mereka.
"Mengindar!." Teriak Ma Guang lagi.
Duar...duar...duar...duar
Bunyi terjangan rantai yang di ujungnya terdapat seperti sebuah besi sebesar kepalan tinju pria dewasa yang berbentuk seperti ujung tombak menabrak bangunan penginapan dan juga bangunan lain yang berdekatan dan saling berhadapan dengan penginapan tersebut.
Serangan rantai itu datang dari empat penjuru mata angin.
Ma Guang langsung melesat mendekati keempat temannya dan langsung menyuruh tetua Sim Lan, Yuan Jiali beserta ayahnya untuk menjauh dari tempat itu dan mencari tempat yang aman untuk mengawasi pertarungan mereka.
Saat ketiga orang tersebut melesat untuk menjauh dari tempat itu. Keempat rantai itu sudah bereaksi kembali dan menyerang mereka berlima.
Ma Guang dan Xia Jiao langsung melakukan perubahan bentuk energi tenaga dalam untuk di jadikan perisai pertahanan.
Duar...duar...duar...duar
Bunyi benturan keempat mata rantai dengan perisai pertahanan Ma Guang dan juga Xia Jiao.
Sedangkan tetua Sim Lan, Yuan Gao dan juga Yuan Jiali sudah bisa menjauh dari tempat itu.
Keempat rantai tersebut kembali muncul dan menyerang Ma Guang dan juga Xia Jiao.
Namun Ma Guang langsung melompat dan naik keatas rantai tersebut dan melesat dengan kecepatan penuhnya untuk menuju kearah asal salah satu rantai tersebut.
Xia Jiao juga melakukan hal yang sama.
Namun rantai yang ada dibawah kaki mereka itu dengan cepat bergerak seperti gelombang dan berusaha untuk melingkari tubuh kedua orang tersebut.
Ma Guang dengan pedang di tangannya dan juga mengandalkan kecepatan teknik Langkah Bayangan miliknya. Dia berusaha menghindar dan mencoba memotong rantai tersebut dengan menggunakan perubahan bentuk yang sudah di baluti di pedang miliknya.
Namun apa yang di lakukan oleh Ma Guang itu tidak bisa menggores sedikitpun rantai yang menyerangnya.
"Apa!? Senjata pendekar tingkat tinggi yang sudah di baluti oleh perubahan bentuk energi tenaga dalam tidak bisa sedikit pun menggores rantai ini? Apakah ini adalah senjata pusaka?." Gumam Ma Guang di dalam hatinya karena merasa tersentak dengan apa yang di alaminya.
~Bersambung~
__ADS_1