
Setelah rombongan Ma Guang telah berada tepat di belakang rombongan pendekar aliran hitam yang mengejar dan terus menyerang para petinggi sekte Bambu Kuning yang masih tersisa, pendekar muda itu langsung memerintahkan pasukan dan juga pendekar yang berasal dari sekte Bambu Kuning untuk menyerang lawan.
Para pendekar aliran hitam yang posisinya berada paling belakang langsung menjadi sasaran empuk bagi rombongan Ma Guang.
Ratusan anak panah langsung menghujam para pendekar aliran hitam.
Ma Guang, Yuan Jiali, Yuan Gao, empat Su bersaudarah, ketiga leluhur, enam tetua tingkat tinggi, dua belas tetua tingkat rendah dan juga ratusan pendekar ahli beserta para komandan dan juga pasukan infanteri Ma Guang lainnya langsung menyerang.
Para pendekar ahli dan juga pendekar tingkat awal yang berada di posisi paling belakang rombongan mereka langsung menjadi korban keganasan Ma Guang dan rekan - rekannya.
Sedangkan bagi pendekar raja dan juga pendekar tingkat tinggi lainnya, ada beberapa juga yang terkena anak panah dari pasukan Ma Guang.
"Celaka...!!! Bantuan mereka telah tiba...ketua...!!! Apa yang harus kita lakukan?". Ucap seorang tetua kepada Xue Lugu.
"Patriak...!!! Rombongan Ma Guang telah tiba, ayo kita kembali menyerang mereka secara bersama - sama". Ucap tetua Agung kepada patriak Yao Han.
"Serang mereka...!!! Teriak patriak Yao Han.
Sedangkan Xue Lugu sendiri langsung mendekati Heise Chizi untuk menanyakan apa tindakan yang harus mereka lakukan.
"Ketua Heise...!!! Sepertinya pendekar muda itu adalah Ma Guang, apa yang harus kita lakukan saat ini?". Tanya Xue Lugu.
"Ketua Xue! Kelihatannya mereka juga memiliki kemampuan yang jauh berada di atas kemampuan kita. Sebaiknya kita harus menunda rencana kita kali ini". Ujar Heise Chizi.
Serangan pedang cahaya milik Su bersaudara langsung membuat banyak pendekar aliran hitam meregang nyawa.
Ma Guang, Yuan Jiali, Yuan Gao dan juga para leluhur dan tetua sekte tidak kalah beringasnya dengan keempat Su bersaudarah. Tidak sedikit pendekar aliran hitam yang menjadi korban mereka.
Dalam sekali serangan, sudah ada ribuan korban dari pihak pendekar aliran hitam yang menjadi korban karena tertembus anak panah serta serangan para pendekar tingkat tinggi yang baru saja tiba tersebut.
Hal itu terjadi karena tidak ada kesiapan di pihak lawan.
Ma Guang dan juga Yuan Jiali yang selalu berada di sampingnya langsung melesat di atas kepala para pendekar aliran hitam dan menuju kearah ketua Xue Lugu dan juga ketua Heise Chizi.
Saat kedua pria paruh baya itu melihat pendekar muda itu sedang menuju kearah mereka, keduanya langsung berteriak kepada para tetua mereka untuk menghalangi dan menyerang Ma Guang dan juga Yuan Jiali.
Empat orang pendekar suci yang baru membuka gerbang pertama langsung melesat ke udara dengan mengarahkan energi tenaga dalam milik mereka kearah datangnya kedua pendekar muda itu.
Xue Lugu dan juga Heise Chizi langsung beranjak dari tempat mereka berada dan mencoba untuk melarikan diri serta di ikuti oleh beberapa tetua mereka masing - masing.
__ADS_1
Sedangkan para ketua sekte aliran hitam lainnya, kini masih terjebak di dalam pertarungan menghadapi para petinggi sekte Bambu Kuning.
Pelarian kedua ketua sekte besar aliran hitam itu tidak di ketahui oleh para pendekar sekte Bambu Kuning, sehingga pelarian mereka berjalan dengan mulus.
Keempat tetua yang menghadang serta langsung menyerang Ma Guang dan juga Yuan Jiali, langsung di sambut oleh keduanya dengan tebasan pedang yang sudah di selimuti energi tenaga dalam berbentuk cahaya biru.
Duar...duar...duar...duar
Bunyi ledakan di atas udara yang di hasilkan oleh benturan serangan keempat tetua dan juga kedua lawan mereka.
Setelah energi tenaga dalam keempatnya saling berbenturan dengan energi tenaga dalam milik kedua lawan mereka, keempat tetua itu langsung terhempas ke belakang.
Namun Ma Guang tidak memberikan jeda sedikit pun kepada keempat tetua tersebut.
Pemuda itu langsung menyusul mereka dengan menggunakan jurus pedang hampa miliknya untuk menebas keempat tetua tersebut.
Alhasil, tubuh keempat tetua itu langsung terpisah menjadi dua bagian.
Setelah dirinya telah menghabisi keempat tetua tersebut, Ma Guang langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan kedua Ketua sekte besar aliran hitam yang awalnya akan dia serang.
Namun pemuda itu sudah tidak lagi mendapati keberadaan mereka.
Pendekar muda itu pun langsung melampiaskan amarahnya kepada pendekar aliran hitam yang masih tersisa.
Para pendekar suci dan pendekar raja tidak ada apa - apanya bagi serangan yang Ma Guang lancarkan.
Setiap satu kali serangannya, langsung membuat para pendekar tersebut kehilangan nyawa mereka.
Beberapa pendekar aliran hitam yang melihat hal itu, langsung melepaskan senjata mereka untuk mengisyaratkan bahwa mereka sudah menyerah.
Hal itu juga langsung di ikuti oleh para pendekar aliran hitam lainnya.
Ketiga leluhur agung, tujuh leluhur biasa, patriak dan juga lainnya yang melihat hal itu, langsung berhenti untuk bertarung.
Hal itu juga di karenakan kekuatan fisik serta tenaga dalam mereka yang memang sudah terkuras banyak.
Pasukan Ma Guang dan yang lain juga melakukan hal yang sama, karena mereka tidak ingin menyerang orang tanpa ada perlawanan sedikit pun.
Berbeda halnya dengan Ma Guang serta Yuan Jiali, keduanya masih tetap menebas para pendekar tersebut.
__ADS_1
Sudah sekitar puluhan pendekar aliran hitam tewas di tebas lehernya oleh Ma Guang dan juga Yuan Jiali saat sudah menyerah.
Emosi Ma Guang mulai meredah saat melihat tidak ada pendekar dari pihak musuh yang melakukan perlawanan lagi.
Akhirnya pemuda itu menghentikan perbuatannya dan di ikuti juga oleh gadis yang berada di sampingnya.
Saat ini, jumlah pendekar dari aliran hitam tinggal seribu orang lebih yang masih hidup.
Namun dari jumlah tersebut, tidak sedikit juga yang terluka ringan maupun yang terluka parah.
Duan Meng langsung berlari dan mendekati Ma Guang serta langsung memeluknya.
"Untung kamu cepat datang untuk membantu kami, kalau tidak, pasti kami semua sudah kehilangan nyawa kami". Ucap Duan Meng yang memeluk tubuh Ma Guang.
"Nona Duan...!!! Bagaimana keadaan keluargaMu? Apakah mereka baik - baik saja?". Tanya Ma Guang.
"Iya! Mereka baik - baik saja". Jawan Duan Meng sambil menatap kearah keluarganya berada.
Ma Guang pun menatap kearah tersebut dan langsung mendapati orang tua setta kakak Duan Meng yang sedang dalam keadaan baik - baik saja.
Setelah itu, Ma Guang pun menanyakan keadaan tuan putri.
"Dimana tuan putri? Bagaimana keadaannya?". Tanya Ma Guang dengan mimik muka yang sangat khawatir.
"Aku juga tidak mengetahuinya, sebab saat kami tiba di tempat ini, patriak dan juga para leluhur serta yang lainnya sedang dalam keadaan terdesak, sehingga aku tidak sempat memikirkan keadaan tuan putri". Jawab Duan Meng.
Karena tidak mendapatkan jawaban yang dia harapkan dari gadis itu, Ma Guang langsung berjalan menuju ke arah patriak Yao Han.
Melihat Ma Guang datang ke arahnya, patriak langsung melontarkan pertanyaan kepada pemuda itu.
"Guang'er...!!! Bagaimana dengan mereka ini? Apa yang harus kita lakukan kepada mereka?".
Ma Guang tidak langsung menjawab pertanyaan dari patriak Yao Han. Tetapi dirinya langsung mempertanyakan keadaan tuan putri Zhou Lu Yun.
"Masalah mereka nanti saja!...aku datang untuk menanyakan keadaan tuan putri, apakah dia baik - baik saja?".
Mendengar apa yang Ma Guang tanyakan, patriak langsung memberitahukan serta langsung menjelaskan dimana tuan putri berada.
"Tuan putri saat ini sedang menuju ke kota Qiantong bersama nona Tjia Annchi dan di antarkan oleh lima orang tetua yang memiliki kemampuan sebagai pendekar raja tingkat puncak". Ucap patriak Yao Han.
__ADS_1
"Kemana arah perginya mereka? Aku akan menyusulnya dan akan memastikan keadaannya". Ucap Ma Guang.
~Bersambung~