
Ma Guang langsung mengambil koin yang mereka miliki.
Tidak ada harta beda lain yang berguna yang kelompok itu miliki.
Mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk menuju ke kota Ji.
Saat hari sudah mulai gelap, akhirnya mereka kembali memasuki sebuah desa yang keadaannya sama seperti desa yang mereka pernah temui.
Desa itu terlihat makmur.
Terlihat prajurit sedang berjaga di pintu masuk desa tersebut.
Hal itu di di sebabkan karena desa tersebut adalah desa yang paling dekat dengan ibu kota kerajaan Yan, yaitu kota Ji.
Mereka berempat menunjukan tanda pengenal mereka masing - masing.
Empat orang dengan tanda pengenal yang berbeda - beda.
Dan yang lebih mengejutkan tanda pengenal Su Tian. Yaitu tanda pengenal keluarga bangsawan Su.
Komandan yang menjadi penanggung jawab keamanan di desa tersebut yang pernah memiliki hubungan baik dengan keluarga bangsawan Su langsung menyambut dengan baik kehadiran Su Tian.
"Tuan! Mari, silakan masuk!." Ucap komandan tersebut.
"Tuan! Apakah tanda pengenal ini yang terus tuan tunjukan kepada setiap penjaga yang memeriksa?." Tanya komandan tersebut dengan sopan.
"Iya! Kenapa?." Jawab Su Tian.
"Tuan! Kalian harus lebih berhati - hati, karena ada begitu banyak orang - orang yang tidak menginginkan keberadaan anggota keluarga bangsawan Su." Ucap sang komandan.
"Terima kasih komandan atas informasinya!." Ucap Su Tian.
"Bagaimana perkembangan situasi di ibu kota kerajaan? Apakah ada perubahan yang signifikan? Atau situasinya masih seperti biasa?." Tanya Su Tian.
"Tuan! Mari kita menuju ke kediaman milikKu." Ucap sang komandan.
"Tidak! Kami saat ini telah di awasi, jadi kami tidak akan melibatkan dirimu lebih dalam lagi dalam urusan pribadi keluargaKu." Ucap Su Tian.
"Kalau begitu, kami pamit undur diri dulu! Dan saya sangat berterima kasih atas apa yang telah kamu sampaikan. Jika ada waktu kita bertemu lagi, saya akan mentraktir dirimu untuk minum arak sepuasnya." Ucap Su Tian.
"Terima kasih tuan atas niat baiknya! Aku sangat berharap hal itu akan terjadi. Silahkan melanjutkan perjalanannya!." Ucap sang komandan.
Mereka berempat langsung melanjutkan perjalanan mereka dan mencari sebuah penginapan untuk mereka beristirahat.
Setelah tiba di depan sebuah penginapan, akhirnya mereka berempat langsung memasuki penginapan tersebut.
"Selamat malam tuan dan nona - nona! Apa ada yang bisa kami bantu?." Ucap sang pelayan dengan ramah.
"Kami membutuhkan empat buah kamar." Ucap Su Tian.
__ADS_1
"Maaf tuan! Untuk kamar di penginapan kami, semuanya sudah terisi penuh." Jawab sang pelayan.
"Apakah tidak tersisa walau pun hanya satu buah kamar?." Tanya Ma Guang.
"Tidak ada tuan! Kamar yang tersisa di penginapan kami ini, sudah di sewa oleh tuan muda Yun Yelu." Ucap sang pelayan.
"Apakah masih ada penginapan yang lain di desa ini?." Tanya Ma Guang.
"Tidak tuan! Hanya ini penginapan di desa ini." Jawab sang pelayan.
"Kalau begitu, apakah kami boleh memesan makanan dan beristirahat di tempat ini sampai pagi?." Tanya Ma Guang lagi.
"Bisa tuan!." Jawab sang pelayan.
"Baiklah! Kalau begitu kami memesan makanan dan minuman yang terbaik di tempat ini." Ucap Ma Guang.
Setelah beberapa saat kemudian, makanan dan minuman yang mereka pesan akhirnya sudah di hidangkan di depan mereka berempat.
Ma Guang langsung memeriksa makanan dan minuman yang di hidangkan apakah mengandung racun.
Namun semua makanan dan minuman yang di hidangkan semuanya sangat baik.
Akhirnya mereka berempat menikmati hidangan yang tersedia di depan mereka.
Setelah selesai menikmati makanan dan minuman yang tersedia, mereka berempat langsung mengambil posisi untuk beristirahat di tempat tersebut.
Suara seorang pemuda dari lantai dua terdengar.
"Kami tidak membutuhkan kebaikan yang di landaskan atas suatu dasar kemunafikan. Saya lebih baik tidur di hutan dari pada tidur di tempat yang empuk namun ada seekor binatang buas yang sedang siap untuk menerkam diriKu." Ucap Xia Jiao.
"Nona Xia! Seekor binatang buas tahu mana makanan yang harus dia makan, dan juga mana makanan yang tidak seharusnya dia makan. Jadi nona Xia harus mengetahui pemberian dengan hati yang tulus dan juga pemberian dengan tanpa ketulusan. Karena aku sangat tulus untuk membantu nona Xia." Ucap Yun Yelu dengan senyuman manisnya.
"Tuan muda! Kami tidak pernah mengganggu aktivitas dan juga urusan dari tuan muda, oleh karena itu, saya mohon untuk tidak mengganggu kami saat ini." Ucap Ma Guang.
"Hei anak muda! Siapa yang menyuruhMu untuk berbicara?." Ucap sang komandan pengawal Yun Yelu.
Mendengar perkataan tersebut, Ma Guang langsung melesat dengan cepat menuju ke arah tubuh pria itu dan langsung mencekik lehernya.
"Aaaaccchhhkkk."
Teriak pria itu karena lehernya telah di cekik.
"Mulut kamu begitu lancang kepadaKu! Apakah kamu sudah mulai bosan untuk hidup?." Ucap Ma Guang.
"Aku sudah begitu sabar untuk menghadapi orang munafik seperti diriMu ini. Apakah masih ada pembunuh bayaran yang kalian bayar untuk membunuhKu?." Lanjut Ma Guang.
"Pendekar Ma! Mohon ampuni dia, karena dia tidak mengenal pendekar Ma!." Ucap Yun Yelu.
"Jika dia tidak mengenal diriKu dan anda mengenal diriKu, apakah anda tidak memberitahukannya terlebih dahulu kepadanya? Ataukah anda memang sengaja membiarkan dia melakukan rencana agar bisa memuluskan keinginanMu untuk mendapatkan nona Xia?." Ucap Ma Guang.
__ADS_1
"Pendekar Ma! Apa yang kau pikirkan itu tidak mungkin aku lakukan. Anda keliru jika berpikir diriKu seperti itu." Ucap Yun Yelu.
"Mohon pendekar Ma mengampuni kelancangan komandan Jun Zun." Lanjut Yun Yelu.
Ma Guang langsung melepaskan cengkeraman tangannya di leher Jun Zun.
"Uhuk...uhuk."
Jun Zun terbatuk saat Ma Guang melepaskan cengkeraman tangannya.
"Sekali lagi kamu menyinggung diriKu, jangan harap kamu akan menghirup udara segar lagi." Ucap Ma Guang sambil berjalan menuruni tangga penginapan tersebut.
Orang - orang yang berada di tempat itu sangat tercengang menatap Ma Guang yang melesat dengan cepat dan tangannya langsung mencengkeram leher Jun Zun.
Yun Yelu dengan penuh percayah diri turun dan mendekati tempat dimana Ma Guang dan tiga orang lainnya berada.
Tindakan tersebut sangat membuat hati Xia Jiao dan juga Yuan Jiali menjadi gerah.
"Pemuda ini seperti tidak memiliki rasa malu sedikit pun." Gumam Xia Jiao di dalam hatinya.
"Tuan muda! Saya harap anda tidak mengganggu kami, karena kami saat ini akan beristirahat." Ucap Yuan Jiali.
"Nona Xia! Saya sebagai seorang pria, merasa tidak tega jika melihat seorang gadis beristirahat seperti ini. Jadi saya mohon terimalah tawaranKu untuk beristirahat di salah satu kamar yang telah aku sewah." Ucap Yun Yelu.
"Guru! Apakah aku harus menghajar pemuda ini?." Tanya Xia Jiao kepada Su Tian.
"Jiao'er! Jika kita melukainya, mungkin kita sudah tidak bisa lagi menghancurkan klan Jiulong di ibu kota kerajaan." Ucap Su Tian.
"Baiklah guru! Aku akan menahan diri untuk menghadapi pemuda ini." Ucap Xia Jiao.
"Nona Xia! Bagaimana dengan tawaranKu?." Ucap Yun Yelu lagi.
"Maaf tuan muda! Aku tidak bisa menerima kebaikan tuan muda!." Ucap Xia Jiao.
"Bagaimana dengan nona Yuan, apakah mau menerima tawaranKu?." Tanya Yun Yelu.
"Maaf tuan muda! Aku juga tidak bisa menerima kebaikanMu itu." Jawab Yuan Jiali.
"Tuan muda Yun! Sebaiknya anda saat ini pergilah untuk beristirahat, agar tenagaMu bisa terjaga untuk melakukan perjalanan besok." Ucap Su Tian.
"Kedua orang ini pasti akan aku singkirkan. Tunggu kalian jika sudah berada di ibu kota kerajaan. Aku akan menyuruh pasukan untuk menangkap kalian berdua." Gumam Yun Yelu di dalam hatinya.
~Bersambung~
Maaf jika cerita ini mulai membosankan.
Author saat ini sedang tidak enak badan, sehingga menulis cerita ini hanya untuk bisa selalu update.
Mohon bantuan hadiah, like n komentarnya untuk memberikan dorongan penyemangat untukKu.
__ADS_1