Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 440. Meninggalkan Kota Quwo


__ADS_3

Setelah hati Ma Tian Shen merasa senang, remaja itu pun kembali mengajak Jiangjun dan juga Hong Yilan untuk kembali ke aula utama kota Quwo.


Namun Jiangjun segera beralasan bahwa dirinya sudah tidak mau lagi untuk bertemu dengan orang - orang yang hadir di acara jamuan makan itu.


Sedangkan para tamu undangan yang hadir, kini pikiran mereka di penuhi dengan tanda tanya atas kejadian yang baru saja terjadi.


"Mengapa sikap Penguasa Muda seperti itu? Bukankah Penguasa Ma sangat rendah hati!?".


"MenurutKu itu karena Penguasa Muda masih sangat muda serta belum memiliki wawasan yang luas".


"Aku dengar, selama 15 tahun ini, Penguasa Muda tidak pernah keluar dari markas sekte Naga Surgawi, sehingga hal itulah yang membentuk sifatnya seperti itu".


"Kalian semua harus membatasi dan menjaga kata - kata kalian itu, karena jika dia mengetahuinya dan merasa tersinggung, sudah bisa di pastikan kalian tidak akan di ampuni". Hao Dong memperingati para tamu.


Setelah menerima peringatan dari Hao Dong, para bangsawan yang sedang membahas tentang sikap Ma Tian Shen langsung terdiam.


"Tuan Hao Dong! MenurutKu situasi saat ini tidak terlihat baik, sehingga tidak menurunkan rasa hormatKu kepadaMu, aku pamit undur diri saja". Tutur salah satu bangsawan yang di undang oleh penguasa kota Quwo.


"Baiklah! Menurut apa yang kamu katakan itu, sepertinya tidak ada alasan lagi untuk menahanMu". Balas Hao Dong.


Satu persatu para tamu undangan pun mulai meninggalkan aula utama balai kota.


Kini yang tersisa tinggal para Jenderal serta Feng Liu dan juga putranya Feng Qi.


"Tuan Hao, sepertinya orang yang sangat bertanggung jawab atas masalah malam ini adalah putraKu Feng Qi".


"Masalah ini benar - benar tidak bisa dimaafkan".


"Tuan Hao, katakan, hukuman apa yang pantas Aku berikan kepada putraKu ini?". Tanya Feng Liu.


"Tuan Feng, sudahlah, semua ini telah terjadi, apa gunanya kita menghukum putraMu?". Ucap Hao Dong menanggapi pertanyaan Feng Liu.


"Acara sepenting ini, bagaimana bisa dirusak oleh kehadiran putraKu? Aku merasa telah gagal mendidiknya selama ini". Tutur Feng Liu.


"Tuan Feng, kembalilah ke kediamanMu masalah ini biar aku yang akan menyelesaikannya dengan Penguasa Muda". Ujar Hao Dong.


"Baiklah, terima kasih atas pengertian tuan Hao". Tutur Feng Liu sambil menangkupkan tangannya.


Feng Liu dan juga Feng Qi kini telah meninggalkan aula utama balai kota.


Sedangkan Hao Dong kini terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya serta sedang memikirkan tentang rencana yang sudah di sampaikan oleh Jiangjun.


Tidak lama kemudian, Jiangjun pun muncul di hadapan penguasa kota tersebut.


Kemunculan Jiangjun sontak saja membuat Hao Dong terkejut.


"Tuan Hao Dong, maaf telah mengejutkanMu".


"KedatanganKu ini hanya untuk memastikan bahwa rencana yang telah aku sampaikan itu besok pagi tetap akan kita jalankan".


"Sehingga aku berharap tuan Hao Dong harus mempersiapkannya".

__ADS_1


"Tidak hanya itu saja, aku juga mewakili Penguasa Muda memohon maaf atas masalah yang telah terjadi". Tutup Jiangjun.


"Dewa tidak perlu meminta maaf kepadaKu, karena menurutKu hal itu sangatlah tidak pantas hamba terima".


"Hamba hanyalah seorang manusia rendahan, tidak bisa di bandingkan dengan status Penguasa Muda". Balas Hao Dong menanggapi permintaan maaf dari Jiangjun karena merasa tidak wajar mendapatkan perlakuan tersebut.


"Tuan Hao tidak perlu merasa seperti itu, sebab Penguasa Ma pasti akan melakukan juga apa yang aku lakukan ini". Balas Jiangjun tulus.


"Terima kasih atas kebesaran hati Dewa karena telah bersikap sangat baik kepada hamba". Ucap Hao Dong sambil menunduk dan menangkupkan tangannya.


"Tuan Hao! Sebagai wujud atas permintaan maafKu, jika kamu berada dalam situasi terdesak, kamu bisa memanggilKu untuk bisa membantuMu".


"Sebut saja namaKu disaat kamu membutuhkan bantuanKu". Tutup Jiangjun sambil berbalik dan menghilang dari hadapan Hao Dong.


"Terima kasih Dewa...terima kasih Dewa!". Ucap Hao Dong yang segera bersujud.


Di saat pagi hari tiba, Jiangjun, Hong Yilan dan juga Ma Tian Shen segera bergegas menuju aula utama balai kota Quwo untuk berpamitan dengan Hao Dong.


Sedangkan Hao Dong sendiri kini telah menanti akan kedatangan mereka bertiga.


Saat ketiganya memasuki aula utama balai kota, semua yang hadir segera bersujud.


"Hormat kepada Penguasa Muda!".


"Hormat kepada Penguasa Putri!".


"Hormat kepada Dewa Jiangjun!".


Semua yang bersujud pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Jiangjun.


"Baiklah! Kedatangan kami bertiga kali ini bermaksud untuk berpamitan dengan tuan Hao Dong dan juga dengan kalian semua".


"Oleh sebab itu, kami tidak akan berlama - lama lagi di tempat ini".


"Terima kasih atas pelayanan yang telah diberikan oleh tuan Hao Dong selama kami berada disini".


"Kami pamit undur diri". Tutup Jiangjun yang sesaat kemudian menghilang dari pandangan mereka yang hadir di dalam aula tersebut.


Semua mata yang melihat cara perginya ketiga orang itu hanya bisa merasa takjub dengan kemampuan yang di tunjukkan oleh tiga orang tersebut.


Setelah meninggalkan kota Quwo, ketiganya kini sudah berada di hutan luar kota itu sambil menatap ke arah kota tersebut.


"Kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya". Ucap Jiangjun.


"Baik Paman!". Tutur Ma Tian Shen menanggapi ucapan Jiangjun.


Ketiganya pun kini memilih tempat yang nyaman untuk masing - masing mereka tempati.


Berita kepergian Jiangjun dan dua orang lainnya langsung menyebar ke seluruh sudut kota Quwo.


Tidak terkecuali juga untuk kelompok para perampok, mereka telah mendengar juga berita tersebut.

__ADS_1


"Sepertinya masalah kita sudah tidak ada lagi, sehingga kita bisa melakukan lagi apa yang kita inginkan". Tutur seorang pria yang adalah pemimpin perampok.


"Apakah kita akan beraksi malam ini?". Tanya salah satu anggotanya.


"Kita harus bersabar untuk melakukan hal itu, sebab jika kita terlalu ceroboh, kita akan mengalami kegagalan". Tutur sang pemimpin mengingatkan.


"Apakah masih ada hal lain lagi yang mengganjal?". Tanya anggotanya lagi.


"Hasil rampokan kita masih bisa menghidupi kita selama beberapa tahun kedepan, jadi untuk apa kita melakukan hal itu dalam waktu dekat ini?".


"Kita tidak boleh terlalu serakah, karena keserakahan itulah yang akan membuat kita jatuh".


"Sebaiknya kita menunggu beberapa bulan kedepan untuk beraksi lagi".


"Hal itu juga sedikit memberi rasa hormat kita kepada para dewa itu".


"Ketua memiliki wawasan yang sangat dalam, kami salut dengan apa yang Ketua putuskan". Puji anggotanya.


Setelah sudah 2 hari berlalu, tidak ada pergerakan yang di lakukan oleh para perampok.


Situasi di kota Quwo tetap dalam keadaan aman dan tentram.


Ma Tian Shen mulai merasa tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan.


"Paman! Sebaiknya kita pergi saja dari sini".


"Kita lanjutkan saja perjalanan kita untuk menuju ke sekte Beruang Matahari".


"Pekerjaan ini sangat membosankan!". Tutup remaja itu.


"Penguasa Muda! Kita tunggu sehari lagi, jika tidak ada yang terjadi, maka kita lanjutkan perjalanan kita". Balas Jiangjun menanggapi.


"Jenderal Jiangjun! Sepertinya untuk waktu dekat ini, aku merasa mereka tidak akan melakukan perampokan". Sambung Hong Yilan.


"Kenapa seperti itu?". Tanya Jiangjun.


"Jika mereka melakukan hal itu, berarti mereka itu terlalu serakah, atau mereka tidak ingin menetap di kota ini, sehingga mereka harus bertindak dengan cepat agar bisa meninggalkan kota ini".


"Akan tetapi jika mereka tetap tinggal di kota ini, mereka pasti akan bersabar untuk melakukannya lagi". Hong Yilan menjelaskan.


"Sepertinya apa yang Penguasa Putri katakan itu ada benarnya juga".


"Kita tunggu sehari lagi, jika mereka tidak bertindak, berarti kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita".


Akhirnya mereka menunggu sehari lagi.


Tetapi setelah satu hari berlalu, hal yang mereka nantikan tidak terjadi.


Akhirnya mereka bertiga melanjutkan perjalanan.


Namun sebelum pergi, Jiangjun kembali bertemu dengan Hao Dong dan mengingatkannya untuk meminta bantuannya jika sudah berada dalam situasi yang sangat buruk.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2