
Pasukan ras Rubah setelah berada di benua tengah, rombongan pasukan mereka di hadang oleh para anggota sekte Kelabang Neraka.
"Siapa kalian?". Tanya sang jenderal pasukan ras Rubah.
"Kami adalah para pengikut dari ras kalian terdahulu". Jawab seorang tetua.
"Apa? Jadi kalian adalah pengikut dari pasukan kami terdahulu?". Tanya sang jenderal ras Rubah.
"Iya Penguasa!". Jawab tetua itu lagi.
"Dimana markas kalian?". Tanya sang jenderal rsa Rubah.
Menanggapi pertanyaan sang jenderal ras Rubah, tetua itu pun segera menuntun mereka untuk menuju ke markas sekte Kelabang Neraka.
Setelah tiba di markas sekte Kalabang Neraka, sang jenderal dari ras Rubah langsung bisa merasakan jejak aura yang sangat kuat dari bangsanya.
Sedangkan kedatangan mereka segera disambut dengan baik oleh para petinggi sekte Kelabang Neraka.
Kekuatan sekte itu sendiri kini sudah tidak lagi sekuat seperti sebelum para petinggi mereka pergi ke Benua Utara.
Kultivasi tertinggi di sekte itu adalah seorang Pendekar Dewa Surgawi yang sekaligus sebagai ketua di sekte tersebut.
Dua orang Pendekar Dewa Langit serta Empat orang Pendekar Dewa Bumi.
Sedangkan sisanya adalah Pendekar Langit kebawa.
"Rupanya memang benar mereka pernah berkumpul di tempat ini". Pikir sang jenderal.
Sang jenderal pun melihat tingkat tertinggi kultivasi yang di miliki oleh para pendekar di sekte itu.
"Bagaimana mungkin tingkat kultivasi mereka hanya setingkat ini?".
"Jika mereka melawan pasukan Kilin Api dan juga pasukan ras Naga, itu sudah dipastikan hasilnya". Gumam sang jenderal.
"Apakah kalian mengetahui situasi yang terjadi di benua Utara puluhan tahun yang lalu?". Tanya sang jenderal.
"Iya Penguasa! Ada sekitar lima ras pasukan makhluk surgawi yang masing - masing di dukung oleh pasukan makhluk kuno dan di dukung juga oleh lima kekuatan besar dari Benua Selatan serta empat kekuatan besar dari Benua Tengah untuk menyerang Ma Guang dan juga pasukan ras Naga serta pasukan Kilin Api yang berada di Benua Utara".
"Karena sekte kami mendukung pasukan ras Rubah, sehingga para leluhur serta para prtinggi sekte lainnya segera pergi menuju ke Benua Utara untuk bertempur".
"Namun berita yang beredar bahwa, pasukan ras Rubah yang terlebih dahulu telah di kalahkan serta telah dibantai oleh pasukan Ma Guang".
"Sejak kabar itu kami dengar, sampai saat ini, tidak ada satu pun dari para leluhur serta para petinggi sekte kami yang kembali".
"Apakah ada hal penting yang membuat ke lima ras makhluk surgawi itu menyerang Ma Guang itu?". Tanya sang jenderal Rubah.
"Iya! Aku dengar, Ma Guang memiliki tubuh raja Naga Api Surgawi serta Ma Guang yang melindungi tubuh Dewa Naga Surgawi". Jawab sang Ketua sekte.
__ADS_1
"Tubuh raja Naga Api Surgawi serta tubuh Dewa Naga Surgawi?".
"Sepertinya memang hal itu sangat menggiurkan bagi siapa pun yang berada di dunia atas". Gumam sang jenderal lagi.
"Menurut yang kamu ketahui, sebenarnya seberapa kuat Ma Guang itu?". Sang jenderal bertanya lagi.
"Yang aku ketahui, selain orang - orang terdekatnya, kekuatan Ma Guang itu tidak ada yang mengetahuinya".
"Para pemimpin sekte aliran putih yang dekat dengannya saja tidak mengetahui seberapa kuat Ma Guang itu". Jawab sang Ketua sekte Kelabang Neraka.
"Sangat misterius, jika dinilai dari gabungan kekuatan yang menyerang mereka, sudah bisa di pastikan Ma Guang itu memiliki kekuatan yang sangat kuat".
"Karena hal itu kemungkinan besar dampak dari inti jiwa serta batu permata milik raja Long Huo yang dia miliki". Tebakan sang jenderal Rubah.
"Sepertinya, pasukan dari ras kami yang terlebih dahulu memulai permusuhan dengan pasukan ras Naga".
"Baiklah, kalau begitu, sebelum kami bisa untuk kembali ke dunia atas, untuk sementara kami akan tinggal di sekteMu ini". Tutup sang jenderal Rubah.
"Menjadi suatu kehormatan bagi kami jika Penguasa mau untuk tinggal sementara waktu di sekte kami ini". Ucap sang Ketua sekte sambil menangkupkan tangannya.
"Terima kasih atas keramahan kalian yang telah menerima kami semua di tempat ini". Balas sang jenderal Rubah.
Ketua Pan Jul pun menyiapkan tempat bagi jenderal Huli Wang serta para pasukannya.
"Silahkan Penguasa! Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dari apa yang kami sediakan untuk Penguasa dan juga bagi para pasukan". Ucap Pan Jul dengan perasaan yang rendah hati.
"Dengan apa yang telah Ketua sediakan ini saja, aku merasa telah merepotkan Ketua". Balas Huli Wang.
Setelah selesai menyediakan tempat bagi sang jenderal ras Rubah dan juga bagi pasukannya, ketua Pan Jul pun segera kembali ke kediamannya.
Tidak lama kemudian, sang jenderal pun segera datang untuk menemui sang Ketua sekte.
"Hormat kepada Penguasa!". Ucap seorang anggota sekte yang berjaga.
"Tolong katakan kepada Ketua Pan Jul bahwa aku ingin menemuinya". Ucap jenderal Huli Wang.
"Baik Penguasa!". Balas sang penjaga sambil bergegas memasuki kediaman untuk memberitahukan hal tersebut.
Sang anggota yang bergaja pun segera memberitahukan hal itu kepada ketua Pan Jul.
Mendapatkan kabar tersebut, dengan cepat Pan Jul langsung keluar dan menyambut kedatangan sang jenderal.
"Maafkan hamba yang sudah membuat Penguasa menunggu lama". Ucap Pan Jul sambil memberi hormat.
"Ketua Pan Jul jangan selalu bersikap terlalu formal seperti itu kepadaKu". Balas Huli Wang.
"Penguasa! Silahkan masuk". Ucap ketua Pan Jul mempersilahkan.
__ADS_1
Keduanya pun segera memasuki kediaman ketua sekte.
Mereka berdua kemudian duduk di aula utama kediaman ketua sekte.
"Maaf sebelumnya, akan tetapi hal penting apa sehingga membuat Penguasa datang ke kediamanKu ini?".
"Apakah ada hal penting yang ingin Penguasa bicarakan denganKu?". Tanya Pan Jul penasaran.
"Ketua! Melihat kultivasiMu yang masih berada di tingkat Pendekar Dewa Surgawi puncak, menurutKu itu adalah kekuatan yang sangat rendah menurutKu".
"Sehingga aku ingin memberikan sumber daya kepadaMu untuk meningkatkan kekuatanMu serta kekuatan para anggota di sekteMu ini". Tutur Huli Wang.
"Mohon maaf atas kelancangan hamba, tetapi sepertinya apa yang akan Penguasa berikan itu, hamba rasa itu terlalu berlebihan".
"Sebab hamba merasa, belum ada hal yang telah sekte kami perbuat untuk Penguasa, sehingga kami merasa berhak untuk menerima pemberian sebesar itu dari Penguasa". Ujar Pan Jul lagi.
"Dengan pelayanan yang telah dilakukan oleh Ketua Pan Jul serta semua anggota sekte ini, itu sudah cukup bagiKu untuk memberikan sesuatu sebagai hadiah bagi sekte ini". Balas Huli Wang dengan tulus.
"Terima kasih atas kebaikan Penguasa karena telah memandang penting dan berharga apa yang telah kami lakukan". Ucap Ketua Pan Jul menanggapi perkataan jenderal Huli Wang.
Huli Wang pun segera meraih sumber daya dari cincin penyimpanannya dan menyerahkan sumber daya itu kepada Ketua Pan Jul.
Ketua Pan Jul pun segera menerima pemberian tersebut dan langsung menyimpannya.
Pan Jul pun dengan cepat segera bersujud dan memberi hormat kepada jenderal Huli Wang.
"Terima kasih Penguasa!". Tutur Pan Jul tiga kali berturut - turut sambil memberi hormat.
"Ketua Pan! Berdirilah! Kamu harus segera berkultivasi agar bisa secepatnya menerobos menjadi Pendekar Raja Dewa".
"Dan aku sudah memutuskan untuk tinggal di sekte ini sampai sekte ini menjadi kuat dan tidak mudah di taklukkan oleh sekte - sekte yang lain". Tutur Huli Wang.
Mendengar pernyataan dari Huli Wang membuat hati dan perasaan Pan Jul sangat senang.
Karena memang hal itulah yang dirinya harapkan saat para petinggi sekte sudah tidak kembali lagi ke sekte.
"Terima kasih Penguasa! Terima kasih Penguasa! Terima Kasih Penguasa!".
"Kebaikan Penguasa selamanya tidak akan hamba lupakan". Ucap Pan Jul dengan hati yang gembira.
"Baiklah, aku akan segera kembali ke kediamanKu, aku berharap Ketua Pan Jul secepatnya untuk segera berkultivasi". Tutup Huli Wang yang langsung pergi meninggalkan kediaman ketua Pan Jul.
Ketua Pan Jul tidak henti - hentinya berterima kasih kepada sang jenderal pasukan Rubah.
Setelah sang jenderal sudah tidak terlihat lagi, Pan Jul pun akhirnya segera menuju ke tempat biasa untuk dirinya berkultivasi.
~Bersambung~
__ADS_1