
Pertempuran di depan tembok kota Yiqiu di hari kedua belum bisa memberikan hasil yang memuaskan kepada jenderal Xu Chen.
Sebab saat para pasukannya sudah berada di dekat tembok kota, mereka di siram dengan minyak oleh pasukan kota Yiqiu dan langsung di bakar.
Hal itulah yang membuat mereka tidak bisa memasuki kota Yiqiu.
Jenderal Xu Chen sendiri kini mulai frustrasi menyerang pertahanan pasukan kota Yiqiu.
Pria itu tidak menyangka bahwa dalam dua kali serangannya telah mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi pasukan yang di pimpinnya.
Tidak tanggung - tanggung, ada tujuh ribu pasukan yang di pimpinnya tewas dan empat ribu pasukan lainnya terluka berat dan tiga ribu pasukan lainnya kini terluka ringan.
Kini pasukan yang di pimpinnya sudah ada sembilan ribu yang telah tewas sedangkan ada sepuluh ribu pasukan yang terluka ringan hingga berat.
Tinggal sekitar sebelas ribu pasukan yang tersisa, jika di paksakan hanya sekitar lima belas ribu pasukan yang bisa melakukan pertempuran pada keesokan harinya.
Sedangkan untuk pasukan yang di pimpin oleh sang raja juga mengalami nasib yang sama dengan apa yang di alami oleh pasukan yang di pimpin oleh jenderal Xu Chen.
Sebanyak lima ribu prajurit yang tewas dan juga dua ribu prajurit yang terluka berat serta tiga ribu prajurit yang kini terluka ringan.
Jumlah itu adalah jumlah yang tidak sedikit, sehingga membuat sang raja menjadi sangat geram.
Saat malam hari, sang raja merencanakan penyusupan ke dalam kota Liangfu.
Ada puluhan prajurit yang di percayakannya untuk melakukan hal itu.
Namun sebelum mereka melakukan rencana tersebut, hal itu sudah di ketahui oleh pasukan yang berada di kota Liangfu.
Penguasa kota sudah mengantisipasi jika lawan mereka melakukan penyusupan.
Dengan jumlah pasukan yang masih banyak, sang raja mulai merencanakan untuk menghancurkan pintu gerbang kota dan juga tembok kota di sebelah kini dan kanan gerbang kota dengan melancarkan serangan hanya menggunakan alat pelontar yang mereka miliki.
Sedangkan untuk pasukan infanteri serta pasukan kavaleri yang lain akan bertugas untuk melindungi prajurit yang mengoperasikan alat pelontar tersebut serta bersiap untuk bertempur.
Mereka sudah mengukur jarak tembak terjauh anak panah milik pasukan yang berada di benteng kota Liangfu.
__ADS_1
Tempat itulah yang akan menjadi batas terakhir pasukan dari kerajaan Lu di saat prajurit yang lain mengoperasikan alat pelontar mereka.
Pada keesokan harinya saat matahari baru saja mulai menyinari tanah lapang tersebut, pasukan dari kerajaan Qi kini telah siap untuk bertempur secara terbuka dengan pasukan dari kerajaan Lu.
Hal ini di luar dari perhitungan sang raja, dia berpikir pasukan yang berada di dalam kota Liangfu masih akan tetap bertahan di balik tembok kota tersebut.
Namun saat pagi sudah menjelang, di saat pasukannya bergerak untuk kembali melakukan serangan ke kota tersebut, kehadiran mereka sudah di nantikan oleh pasukan dari kerajaan Qi.
Ada sekitar dua puluh lima ribu pasukan kerajaan Qi yang telah berbaris di depan tembok kota Liangfu dan untuk sisa pasukan yang ada masih tetap berada di atas tembok dan di dalam kota itu untuk menunggu perintah.
Sedangkan pasukan sang raja berjumlah tiga puluh ribu orang untuk menyerang kota Liangfu sisanya yang lain sedang merawat rekan - rekan mereka yang terluka berat.
Jarak kedua pasukan itu kini tinggal sedikit lagi sudah berada di dalam jarak tembak anak panah mereka masing - masing.
Strategi dari pasukan kerajaan Qi ialah memancing pasukan musuh agar merubah rencananya dan bertempur secara terbuka dengan mereka, agar supaya, posisi mereka akan berada di dalam jarak tembak pasukan yang berada di atas tembok kota.
Dan hal itulah yang tidak di ketahui oleh sang raja, sebab keberadaan pasukan di atas tembok kota kini sudah tidak terlihat lagi pergerakannya, hal itu di karenakan, semua pasukan yang ada sedang bersembunyi agar supaya tidak di ketahui oleh pasukan musuh.
Ribuan pasukan di atas tembok sedang bersiap melepaskan anak panah mereka masing - masing.
Pasukan kerajaan Qi mulai melakukan formasi yang mereka rencanakan, jarak berdiri satu prajurit dengan prajurit yang lain berkisar tiga meter, hal itu akan mempermudah mereka untuk menghindari setiap serangan batu dan juga bola api serta tombak yang akan di lepaskan oleh alat - alat pelontar milik pasukan kerajaan Lu seraya bergerak maju untuk melakukan serangan.
Formasi serangan mereka berbentuk seperti tombak yang melesat kearah formasi pertahanan pasukan kerajaan Lu.
Setiap formasi tersebut terdiri dari seribu orang prajurit kavaleri berkuda.
Namun formasi itu bisa berubah - ubah sesuai dengan situasi yang ada. Apa lagi jika menghadapi pasukan kavaleri kerajaan Lu yang menggunakan sebuah kereta kuda dengan sisinya yang memiliki senjata tajam bagaikan mata tobak tetapi terus berputar mengikuti putaran bola kereta kuda tersebut dan juga terdapat beberapa prajurit pemanah di atasnya.
Namun setelah formasi itu bisa menembus formasi pertahanan lawan, para prajurit yang berada di dalam formasi itu akan berpencar ke arah kiri dan kanan sambil kembali membentuk formasi seperti tombak yang lebih kecil yang terdiri dari seratus prajurit di dalamnya dan di pimpin oleh seorang komandan kompi. Begitu juga seterusnya hingga formasi itu hanya terdiri dari satu regu yang berjumlah sepuluh orang dan di pimpin oleh seorang komandan regu.
Pertempuran pun terjadi, pasukan pemanah dari kerajaan Qi melangkah maju sambil melepaskan anak panah mereka kearah pasukan kerajaan Lu yang menyerang.
Bola api dan batu menggelinding ke arah pasukan kerajaan Qi.
Sedangkan tombak di tembakkan juga kearah pasukan kerajaan Qi yang menyerang mereka.
__ADS_1
Beberapa formasi tombak tersebut menyerang ke arah alat pelontar, sebab alat tersebut akan membuat banyak dari prajurit kerajaan Qi akan terbunuh.
Sambil mereka menyerang, mereka di lindungi oleh pasukan pemanah yang menyerang pasukan pemanah musuh agar mereka tidak bisa dengan mudah untuk menyerang formasi tersebut.
Di kota Yiqiu sendiri, hal yang sama sedang terjadi, pasukan dari kerajaan Qi kini sudah meladeni pasukan kerajaan Lu dengan perang terbuka dan dari jarak dekat atau fisik dengan fisik.
Tetapi sudah terlihat bahwa keunggulan berada di pihak kerajaan Qi, sebab jumlah serta semangat dari pasukan kerajaan Lu sudah jauh menurun.
Sedangkan untuk pasukan yang di pimpin oleh jenderal Luan Zhi mereka sangat berhati - hati untuk maju menyerang ke kota Mengyin.
Prajurit mata - mata yang di utusnya kini kembali melaporkan bahwa pasukan dari kerajaan Qi sudah menanti mereka di sebuah lebah untuk menuju ke kota Mengyin.
Akhirnya jenderal Luan Zhi langsung menerapkan strategi untuk melumpuhkan pasukan yang akan menyambut mereka di lembah tersebut.
Setelah mereka membagi pasukan untuk menyergap pasukan kerajaan Qi dan pasukan pengalih perhatian terus bergerak di jalan yang akan mereka lalui, terlihat kepulan debu beterbangan di udara sehingga membuat pandangan mata pasukan kerajaan Qi tidak bisa mengetahui secara pasti jumlah pasukan yang datang.
Tidak beberapa lama kemudian datang seorang prajurit melaporkan bahwa pasukan kerajaan Lu akan menyergap mereka dari arah samping.
Jenderal yang memimpin pasukan tersebut langsung menarik mundur pasukannya dan bergerak menuju ke hutan di mana tempat setiap perangkap dan jebakan yang sudah mereka persiapkan.
Melihat hal tersebut, pasukan dari kerajaan Lu ingin bergerak untuk mengejar pasukan kerajaan Qi yang mundur tersebut.
Namun keinginan mereka langsung di cegah oleh jenderal Luan Zhi.
"Jangan mengejar mereka! Itu adalah upaya mereka untuk membuat kita masuk ke perangkap mereka".
Para prajurit yang awalnya ingin mengejar pasukan kerajaan Qi langsung berhenti dan kembali ke posisi mereka masing - masing.
"Saat ini, pasukan dari kerajaan Qi sedang menanti kedatangan kita, dan mereka juga pasti sudah mempersiapkan strategi untuk menyergap kita saat sudah memasuki wilayah hutan". Lanjut jenderal Luan Zhi lagi.
~Bersambung~
Mohon maaf jika author terus menyajikan pertempuran antara kedua kerajaan....
Hal itu juga muncul akibat dari keputusan sang raja yang mengikuti keinginan putranya. 🙏🙏🙏
__ADS_1