Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 62. Membantu Duan Jun


__ADS_3

Setelah selesai mengajarkan teknik untuk membuka ruang di dantian milik nona Tjia, Ma Guang kini memfokuskan dirinya untuk memberikan petunjuk kepada putri Kaisar.


"Nona Yun! Apakah ada kendala untuk mencapai tingkat ke 7?."


"Saya rasa untuk saat ini, saya belum mendapatkan kesulitan dalam pelatihan Ku, melainkan hal ini memicu adrenalinKu agar bisa lebih giat lagi untuk berlatih." Ucap putri kaisar.


"Hebat juga gadis ini, bukannya merasa berat, melainkan membuatnya lebih bersemangat." Gumam Ma Guang dalam hatinya.


"Menurut Ku, nona Yun adalah seorang gadis yang sangat tangguh dan pekerja keras, aku sangat salut dengan semangat yang nona Yun miliki."


"Keadaan negara sudah seperti ini, bagaimana bisa aku hanya berleha - leha dengan kemewahan yang ku miliki saat ini!?."


"Pada akhirnya semua itu akan hilang dan sangat sulit untuk di pertahankan."


"Mengapa nona Yun mengatakan hal seperti itu?."


"Memang seperti itulah kenyataannya. Kekuasaan serta kekayaan akan selalu menjadi incaran orang lain, itu yang saya pelajari selama ini."


"Kekuatan serta kekuasaan yang di raih secara bersama - sama, pada akhirnya tidak akan bertahan lama, sebab orang yang berjuang bersama - sama itu, ingin juga berkuasa seperti yang lain."


"Nona Yun! Aku tidak mengerti dengan apa yang nona Yun katakan."


"Suatu saat, pendekar Ma pasti dapat mengerti apa yang baru aku katakan itu. Dan hal itulah yang mendorong diri Ku agar bisa menjadi kuat dan tidak ingin lagi bergantung kepada kekuatan orang lain."


"Baiklah, aku siap untuk membantu nona Yun."


Akhirnya Ma Guang menjelaskan hal - hal yang harus putri kaisar lakukan setelah mencapai tingkat 9 pendekar tahap awal.


Hal itu karena, Ma Guang berencana untuk melakukan perjalanan lagi.


Untuk bertemu kembali dengan gurunya Su Tian dan juga untuk menghancurkan sekte Kalajengking Merah.


Setelah selesai dengan kedua gadis itu, akhirnya Ma Guang kembali ke kediamannya yang jaraknya begitu berdekatan dengan kediaman tersebut.


Setelah tiba di kediamannya, situasi di tempat itu sangat tenang, hal itu di sebabkan karena ke tiga orang tersebut sedang melakukan latihan tertutup.


Sedangkan nona Yuan sedang berlatih di halaman belakang kediaman tersebut.


Di tempat biasa yang sering Ma Guang gunakan untuk berlatih.


Ma Guang lalu berjalan menuju ke halaman bagian belakang kediamannya.


Terlihat seorang gadis sedang berlatih sendiri.


"Hai nona Yuan! Apakah ada hal yang sulit untuk di mengerti?."


"Untuk saat ini saya belum merasakan kesulitan dalam berlatih."

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu! Jika merasa kesulitan, jangan sungkan - sungkan untuk memanggil diri Ku."


"Baik pendekar Ma!."


"Kalau begitu aku pamit undur diri" ucap Ma Guang.


Ma Guang langsung kembali menuju ke kamarnya untuk membersihkan dirinya dan juga mengganti pakaiannya.


Ma Guang langsung beristirahat untuk mempersiapkan energinya yang akan di gunakan saat akan membantu kedua kakak beradik yang akan membuka ruang di dantian mereka.


Jika hal itu sudah terlaksana, Ma Guang akan melakukan meditasi tertutup untuk membuka gerbang pertama pendekar suci.


Malam hari pun telah tiba, Ma Guang dan nona Yuan kini hanya berdua duduk bersama untuk makan malam.


Tiga orang lainya masih fokus dalam meningkatkan kekuatan mereka masing - masing.


"Pendekar Ma! Apa aku boleh bertanya?."


"Silakan! Apa yang ingin nona Yuan tanyakan!?."


"Jika pendekar Ma akan melakukan perjalanan kembali untuk mengambil misi lagi atau apa pun itu, apakah aku bisa ikut?."


"Nona Yuan! Ada saatnya untuk nona Yuan untuk bepergian, namun untuk saat ini, nona Yuan harus memfokuskan dahulu dalam meningkatkan kemampuan ilmu bela diri nona Yuan, agar di saat bepergian nanti, nona Yuan tidak akan sulit untuk menghadapi setiap gangguan dari orang - orang sekte aliran hitam."


"Baik! Aku akan berusaha secepatnya untuk bisa menjadi lebih kuat lagi." Ucap Yuan Jiali.


Sebenarnya Yuan Jiali sudah mengerti jawaban yang di berikan oleh pemuda di depannya.


Setelah selesai makan malam, Ma Guang akhirnya langsung bergegas menuju ke kediaman keluarga Duan.


Sesampainya disana, kedua kakak beradik itu sudah menanti akan kehadiran Ma Guang.


"Akhirnya dia datang juga! Aku kira dia akan mengingkari lagi apa yang dia janjikan tadi siang." Ucap Duan Meng.


"Jangan berpikir seperti itu, kamu juga harus bisa memahami posisi pendekar Ma di sekte saat ini." Ucap Duan Jun menasehati adiknya.


"Hai semua! Kelihatannya kalian berdua benar - benar sudah siap untuk melakukannya." Ucap Ma Guang sambil tersenyum menatap kedua kakak beradik itu.


"Yah iyalah! Kamu anggap diri Ku ini belum siap!?." Ucap Duan Meng dengan penuh percaya diri.


"Mantap kalau semangat Mu seperti itu! Tetapi hal yang akan kita lakukan sebentar, bisa membuat nyawa kalian berdua melayang jika terjadi kesalahan sedikit pun." Ucap Ma Guang dengan nada suara yang serius.


"Kakak Jun! Apakah sudah bisa di mulai?." Tanya Ma Guang.


"Iya! Saya sudah siap untuk melakukannya."


"Baiklah kalau begitu! Ayo kita ke tempat yang biasa di gunakan untuk berlatih." Ucap Ma Guang sambil melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Akhirnya kedua kakak beradik itu pun mengikuti dirinya dari belakang.


Setelah tiba di tempat yang Ma Guang maksudkan, pemuda itu mengarahkan Duan Jun untuk membuka pakaian bagian atas dan duduk bermeditasi di tempat yang strategis yang telah di tentukan oleh Ma Guang untuk membuka ruang di dantiannya.


Setelah Duan Jun sudah membuka pakaian bagian atas dan duduk dengan sikap meditasi, Ma Guang langsung duduk di belakang pemuda itu dan langsung menginstruksikan untuk memulai proses pembukaan ruang yang ada di dalam dantian bagian bawah.


Duan Meng yang melihat hal itu, pikirannya langsung menerawang jauh yang membuat pipinya perlahan mulai memerah.


"Jadi aku juga harus membuka pakaian Ku?." Gumam Duan Meng dalam hatinya.


Gadis itu pun mulai memperhatikan proses pembukaan ruang dantian milik Duan Jun dengan sangat serius.


Duan Jun langsung mengumpulkan serta mengontrol tenaga dalamnya untuk di pusatkan di titik dantian miliknya.


Ma Guang dengan sabar dan dengan sangat teliti memperhatikan apa yang Duan Jun lakukan.


Setelah 4 jam kemudian, akhirnya seluruh tenaga dalam milik Duan Jun telah di padatkannya dan sudah di pusatkan di titik dantian miliknya.


Ma Guang pun langsung memegang panggul milik Duan Jun dengan kedua tangannya, serta mengalirkan tenaga dalam miliknya untuk mengantisipasi ledakan tenaga dalam milik Duan Jun jika terjadi sedikit saja kesalahan.


Setelah Duan Jun merasa bahwa semuanya sudah sesuai dengan apa yang Ma Guang ajarkan. Akhirnya Duan Jun melepaskan tenaga dalamnya dan langsung terjadi ledakan di dalam dantiannya.


Duuuaaarrr


Bunyi ledakan dari dalam tubuh Duan Jun. Angin berhembus kencang kesegala arah yang berpusat dari kedua pemuda yang sedang duduk bermeditasi itu.


Duan Jun tidak mampu menahan ledakan yang terjadi di dalam dantiannya, sehingga membuat kesadaran dari pemuda itu menjadi hilang.


Ma Guang masih tetap mengontrol energi tenaga dalam milik Duan Jun yang sedang berputar - putar di dalam ruang dantiannya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya tenaga dalam milik Duan Jun menjadi stabil dan tenang kembali. Namun pemuda itu masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Melihat hal itu, Duan Meng langsung terperangah seakan tidak percayah bahwa hal itu memang bisa membuat nyawa melayang jika terjadi sedikit pun kesalahan.


Ma Guang langsung membopong tubuh Duan Jun dan di antarkan ke kamar milik pemuda itu.


Ibu Duan Jun langsung merawat pemuda itu.


"Guang'er! Terima kasih karena kamu sudah menjaga serta membantu Jun'er agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan."


"Itu sudah menjadi kewajiban Ku, karena diriKulah yang mengarahkan dia sehingga melakukan hal ini."


"Bibi Dawei! Saya mohon ijin juga untuk membantu Duan Meng."


"Guang'er! Bibi percayah pada Mu." Ucap ibu Duan Meng sambil menganggukan kepalanya.


"Bibi! Saya pamit undur diri dulu."

__ADS_1


Jia Dawei menganggukan lagi kepalanya menanggapi perkataan Ma Guang.


~Bersambung~


__ADS_2