Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 480. Delapan Belas Sosok Se Tianlan


__ADS_3

Ma Tian Shen segera mendekati tubuh ayahnya yang sedang terbaring ditanah akan tetapi tidak terlihat luka luar yang serius di tubuhnya.


Ma Guang kini hanya menderita luka dalam yang tidak terlalu serius sehingga tidak akan mengakibatkan kematian.


Ma Tian Shen pun segera menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Ma Guang dan menyalurkan energi Qi kedalam tubuh untuk menyembuhkan luka dalam ayahnya.


Setelah disalurkan energi ke dalam tubuhnya, Ma Guang pun terbatuk dan langsung siuman.


"Ayah! Apakah ayah sudah merasa lebih baik sekarang?". Tanya remaja itu


"Shen'er! Apakah kamu sudah selesai menguasai tubuh Dewa Naga Surgawi?". Tutur Ma Guang yang balik melontarkan pertanyaan kepada putranya.


Ma Guang tidak menjawab pertanyaan putranya itu karena merasa terkejut melihat bahwa remaja itu sudah berada di tempat pertempuran tersebut.


"Iya ayah! Aku sudah selesai menyerap dan menguasai seluruh energi kekuatan dari tubuh Dewa Naga Surgawi". Jawab Ma Tian Shen.


"Tetapi bagaimana dengan kondisi ayah, apakah sekarang sudah merasa lebih baik?". Lanjut Ma Tian Shen bertanya kepada ayahnya karena merasa sangat khawatir.


"Saat ini ayah sudah merasa lebih baik, tetapi dimana Se Tianlan?". Tutur Ma Guang menjawab pertanyaan dan dilanjutkan dengan pertanyaan.


"Ke sembilan sosok itu telah aku segel kedalam tanah, jadi ayah tidak perlu lagi mengkhawatirkannya". Ucap Ma Tian Shen.


"Shen'er! Tidak semudah itu untuk mengalahkan Se Tianlan".


"Dia pasti bisa meloloskan dirinya dari segel yang kamu ciptakan itu". Ujar Ma Guang.


"Apa lagi jika kamu melukainya sehingga mengeluarkan darah dari tubuhnya, itu akan menghidupkan sosok Se Tianlan yang lain".


"Bagaimana bisa seperti itu?". Kata - kata yang keluar dari mulut Ma Tian Shen karena merasa terkejut.


"Karena dia telah mendapatkan anugerah dari Dewa Agung penguasa alam langit".


"Dan anugerah yang dia terima juga adalah tidak akan terbunuh oleh senjata mana pun". Ma Guang kembali menjelaskan.


"Jika dia tidak tersegel dibawah tanah, akan lebih baik seluruh pasukan yang tersisa segera pergi meninggalkan tempat ini dan membawa seluruh pasukan yang tersisa". Tutur Ma Tian Shen.


Ma Guang pun hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda menyetujui perkataan putranya itu.


Ma Tian Shen pun segera memerintahkan seluruh pasukan serta seluruh petinggi sekte Naga Surgawi untuk meninggalkan tempat itu.


Dengan cepat semuanya segera melakukan apa yang di perintahkan oleh Ma Tian Shen.

__ADS_1


Remaja itu pun segera menyegel kembali wilayah sekte Beruang Matahari agar Se Tianlan tidak bisa keluar dari wilayah tersebut meskipun menggunakan portal ruang dan waktu.


Kini yang tersisa hanya Ma Guang dan juga putranya.


Keduanya sedang mempersiapkan strategi untuk menghadapi sembilan sosok Se Tianlan.


Sebelum Se Tianlan kembali, Ma Guang segera memulihkan kekuatannya serta mulai bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan datang.


Sedangkan Ma Tian Shen sendiri kini sedang mempelajari hasil perbuatan ayahnya terhadap kedua sosok Se Tianlan.


"Ternyata dengan kemampuan yang ayah miliki meskipun kultivasinya setara dengan satu sosok Se Tianlan, akan tetapi tetap bisa membuat dua sosok Se Tianlan seperti ini".


"Ayah memang sangat hebat, sehingga bisa melakukan hal ini kepada keduanya". Pikir Ma Tian Shen.


Disaat Ma Tian Shen sedang memeriksa dan mempelajari apa yang telah ayahnya perbuat kepada kedua tubuh Se Tianlan, Ma Guang segera memanggilnya.


"Shen'er! Cepat ciptakan formasi pelindung serta perisai pelindung untuk tubuhMu, sebab jika kita berdua akan melawan ke sembilan sosok Se Tianlan, itu akan sangat menyulitkan meskipun diriMu telah memiliki kekuatan yang sudah setara dengan Kaisar Dewa". Tutur Ma Guang dengan serius.


"Baik ayah! Aku akan melindungi tubuhKu dengan perisai pelindung serta tiga formasi pelindung yang telah ayah ajarkan". Ujar Ma Tian Shen menanggapi perkataan ayahnya.


"Sepertinya ini akan menjadi pertarunganKu yang terakhir".


"Akan tetapi, mati pun aku tidak akan menyesalinya, sebab aku sudah berusaha semampuKu untuk bisa menghalangi kehancuran dari tiga dunia". Pikir Ma Guang.


Setelah selesai menciptakan pelindung bagi tubuh mereka berdua, keduanya pun kini mulai menggunakan kekuatan spritual mereka untuk menemukan posisi tubuh Se Tianlan.


Dibawah tanah, kini tubuh Se Tianlan tidak lagi berjumlah sembilan sosok, melainkan kini sudah berjumlah 18 sosok.


Sebab setiap sosoknya kini telah menghasilkan satu sosok yang lainnya juga.


Saat Ma Guang dan juga Ma Tian Shen ingin menelusuri keberadaan sosok Se Tianlan.


Permukaan tanah disekitar mereka kini mulai bergetar.


"Shen'er! Bersiaplah dan jangan lengah". Ucap Ma Guang mengingatkan putranya.


Ma Tian Shen pun menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan ayahnya itu.


Ma Guang juga memberitahukan kepada putranya bahwa ada satu trik yang bisa mengatasi kemampuan Se Tianlan agar tidak akan menghadirkan sosok Se Tianlan yang lain saat terluka nanti, yaitu menggunakan jurus pedang cahaya miliknya.


Sedangkan Ma Tian Shen di perintahkan oleh Ma Guang agar menyegel setiap anggota tubuh milik Se Tianlan.

__ADS_1


Saat keduanya sedang berkomunikasi, kekuatan besarpun mendorong permukaan tanah yang mereka pijak untuk naik keatas udara.


Ma Guang dan juga Ma Tian Shen langsung melesat untuk menghindari juga serangan tersebut.


Sehingga bongkahan - bongkahan tanah sebesar rumah sederhana dengan cepat melesat ke udara hingga membentur formasi pelindung yang di ciptakan oleh Ma Tian Shen.


Tidak hanya bongkahan - bongkahan tanah, melainkan seberkas cahaya kemerah - merahan pun kini melesat ke udara.


Kehancuran di wilayah sekte Beruang Matahari pun makin tidak terelakkan lagi disaat ke 18 sosok Se Tianlan kembali telah muncul dipermukaan.


"Ha...ha...ha...ha...ha...apakah kalian berpikir semudah itu untuk mengalahkan diriKu?".


"Oh, ternyata apa yang aku cari ternyata sudah berada di hadapanKu saat ini".


"Tinggal sedikit lagi aku pasti akan menyerap energi tubuh Dewa Naga Surgawi yang kamu miliki".


"Dan itu akan menandakan bahwa dunia manusia ini akan berada dibawah kekuasaanKu serta sebentar lagi aku juga akan menguasai dunia atas". Tutur Se Tianlan yang kini sudah berada di atas udara di temani 17 sosok Se Tianlan yang lain.


"Lebih baik aku bertarung sampai mati denganMu dari pada membiarkanMu untuk menguasai seluruh dunia ini". Balas Ma Guang dengan nada suara yang penuh dengan kebencian.


"He...he...he...he...he...apakah kamu merasa memiliki kemampuan untuk hal itu? Ataukah kamu hanya bisa mengantarkan nyawaMu kepadaKu?".


"Kamu itu sungguh sangat naif, jika kamu mati, itu pertanda aku akan memiliki tubuh Dewa Naga Surgawi dan bisa menguasai ketiga dunia ini".


"Jadi apa gunanya kamu mati!? Jika kamu mau, lebih baik kamu membiarkan tubuh bocah itu menjadi milikKu dan juga kamu menjadi bawahanKu untuk membuat kekacauan di dunia atas...bagaimana? Apakah kamu merasa tertarik?". Ujar Se Tianlan memberikan tawaran kepada Ma Guang.


"Kamu ternyata terlalu menganggap rendah hubungan kami sebagai manusia".


"Kamu pikir bangsa Azura itu lebih mulia dari bangsa kami?". Tutur Ma Guang sambil tersenyum sinis menatap kearah salah satu sosok Se Tianlan.


"Kalian itu adalah makhluk yang paling lemah diantara ketiga penghuni dunia".


"Jadi, apa hebatnya kalian itu jika di bandingkan dengan bangsa kami yang memang terlahir didunia atas?". Balas Se Tianlan.


"Apa hebatnya kami? Apakah kamu sudah lupa bahwa pasukanMu saat ini sudah tidak ada yang tersisa?".


"Itukah yang kamu maksudkan bahwa bangsa kalian lebih hebat dari bangsa kami?". Ma Guang memberikan cibiran kepada Se Tianlan.


Sang pemimpin bangsa Azura itu pun kini baru menyadari bahwa seluruh bawahannya telah bergelimpangan dan terbujur kaku tidak bernyawa.


"Sialan! Ternyata aku terlalu meremehkan kalian! Aku harus membuat perhitungan dengan kalian karena telah membunuh para pengikutKu!". Teriak Se Tianlan dengan penuh kebencian sambil melesat melancarkan serangan kearah kedua lawannya.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2