
Patriak Yao Han pun langsung memberitahukan rute yang di lalui oleh tuan putri dan juga yang lainnya dengan detail.
Setelah Ma Guang mendengar penjelasan dari patriak pemuda itu pun langsung bergegas untuk pergi.
Sebelum dirinya pergi, pemuda itu mengatakan beberapa hal kepada patriak untuk mengurus serta menugaskan para pendekar aliran hitam yang tersisa untuk membersihkan mayat - mayat yang berserakan di setiap sudut wilayah sekte sambil di awasi oleh pasukan dan juga anggota sekte Bambu Kuning.
"Nona Yuan...!!! Ayo kita susul tuan putri dan yang lainnya". Ucap Ma Guang mengajak Yuan Jiali sambil melesat pergi dengan cepat untuk menuju ke arah yang di beritahukan oleh patriak.
Yuan Jiali pun langsung mengikuti pemuda itu dari belakang.
Kemampuan ilmu meringankan tubuh keduanya sangat tinggi, sehingga gerakan keduanya hampir tidak dapat di lihat oleh seorang pendekar raja tingkat awal dan tingkat menengah.
Di dalam sebuah hutan yang lebat, terlihat sekelompok pendekar yang berjumlah sepuluh orang sedang melompat dengan cepat dari cabang pohon yang satu ke cabang pohon lainnya.
Mereka adalah kelompok dua ketua sekte besar aliran hitam yang sedang melarikan diri.
Setelah sudah satu jam meninggalkan wilayah sekte Bambu Kuning, dan merasa bahwa tidak ada yang mengikuti mereka, akhirnya kelompok tersebut berhenti untuk beristirahat sejenak.
Sepuluh orang itu langsung segera memulihkan tenaga mereka untuk di gunakan kembali saat melanjutkan pelarian mereka.
"Tidak kusangka, kekuatan sekte Bambu Kuning sekuat itu. Mereka bisa bertahan untuk menghadapi serangan kita walau pun dengan jumlah yang besar seperti itu". Gumam Xue Lugu.
Mendengar apa yang di katakan oleh Xue Lugu, Heise Chizi langsung menanggapinya.
"Pemikiranku juga sama seperti apa yang ketua Xue pikirkan. Aku berpikir dengan jumlah pendekar aliansi yang aku bawah itu, aku merasa bisa untuk meratakan sekte tersebut dengan mudah. Apa lagi mereka sudah bertarung terlebih dahulu dengan para pendekar yang ketua Xue bawah sebelumnya". Ujar Heise Chizi.
"Ini adalah kegagalan serta kekalahan terbesar kita, jadi pengalaman ini menjadi peringatan bagi kita agar secepatnya untuk meningkatkan ilmu bela diri kita. Sebab mereka pasti tidak akan membiarkan sekte kita untuk tetap berdiri kokoh di wilayah kekaisaran ini". Ujar Xue Lugu mengingatkan Heise Chizi.
"Sebenarnya aku sedang mempelajari jurus terlarang dari leluhurKu. Tetapi aku menemui kebuntuan untuk mempelajarinya, sehingga aku membutuhkan kitab yang sekte Bambu Kuning miliki untuk mencari petunjuk". Ucap Heise Chizi.
"Aku juga mengalami hal yang sama denganMu". Ujar Xue Lugu.
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan untuk menuju ke kota Qiansheng, dimana pangeran dan juga Xue Jian berada untuk menunggu kabar dari hasil penyerangan ke sekte Bambu Kuning.
Di aula istana kota Qiansheng, pangeran kini dalam keadaan hati yang tidak baik setelah jenderal Wang Xuesi datang dan melaporkan kekalahan yang telah mereka alami saat menyerang kota Laoling.
"Saat ini, aku hanya berharap agar penyerangan yang di lakukan ke sekte Bambu Kuning mendapatkan hasil yang memuaskan, agar aku bisa memberikan pelajaran kepada pemuda sombong itu". Gumam pangeran Qian Yuan.
__ADS_1
"Pangeran...!!! Aku merasa penyerangan mereka akan membawah hasil yang bisa membuat hati pangeran menjadi senang, sebab kemampuan serta jumlah pendekar yang menyerang sekte tersebut tidak sedikit jumlahnya. Kedua kekuatan yang di bawah oleh ayahKu dan juga oleh ketua sekte Gagak Hitam, bisa meratakan sebuah kerajaan yang berada di wilayah kekaisaran Zhou ini". Ucap Xue Jian sambil tersenyum penuh arti.
"Aku juga berharap hal yang sama dengan apa yang pendekar Xue katakan itu". Ujar Qi Yuan.
"Kita cukup bersabar untuk menunggu kabar gembira tersebut". Ujar Xue Jian.
Pangeran Qi Yuan hanya menganggukkan kepalanya menanggapi apa yang di katakan oleh Xue Jian.
Di tengah hutan yang lain, terlihat dua orang gadis beserta lima orang pria paruh bayah sedang beristirahat untuk mengumpulkan kembali tenaga mereka.
Jarak yang mereka tempuh baru sekitar sepuluh kilo meter dari wilayah sekte, hal itu di sebabkan karena medan yang mereka lalui sangat sulit, sehingga perjalanan mereka sangat lambat bagi seorang pendekar.
"Apakah jarak ke kota Qiantong sudah dekat?". Tanya putri Zhou Lu Yun kepada salah satu tetua.
"Mohon maaf tuan putri...!!! Perjalanan kita masih sangat jauh, jarak yang kita tempuh ini saja, belum mencapai setengah perjalanannya". Jawab tetua tersebut sambil menangkupkan tangannya.
"Kalau begitu, kita harus beristirahat sedikit lebih lama lagi, karena perjalanan menggunakan ilmu meringankan tubuh ini, sangat menguras energi tenaga dalam milikKu". Ucap Sang putri yang sudah terlihat sangat kelelahan.
Hal yang sama juga di alami oleh Tjia Annchi, gadis itu pun kini sudah terlihat tidak memiliki tenaga.
Beberapa saat kemudian, hari sudah mulai gelap, tempat yang di siapkan oleh seorang tetua sudah siap di gunakan oleh putri dan juga Tjia Annchi.
Kedua gadis itu pun langsung menempati tempat yang telah di sediakan untuk mereka.
Saat mereka baru ingin beristirahat, seorang tetua langsung bangkit dan memberikan isyarat kepada keempat rekannya untuk melindungi putri Zhou Lu Yun dan juga Tjia Annchi.
"Kita kedatangan tamu, entah mereka berniat baik atau tidak, aku belum bisa memastikannya". Ucap sang tetua.
Putri dan juga Tjia Annchi langsung bersiaga juga saat mendengar apa yang tetua itu ucapkan.
Di ujung pohon yang tinggi, terlihat dua orang pendekar yang telah merasakan keberadaan tujuh orang itu.
"Nona Yuan, aku merasakan bahwa mereka berada di sekitar tempat ini". Ucap Ma Guang dengan penuh keyakinan.
"Ayo kita mencari mereka". Ucap Yuan Jiali.
Ma Guang pun langsung menajamkan persepsinya untuk menemukan posisi tujuh orang tersebut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian, Ma Guang sudah menemukan posisi dari ketujuh orang tersebut.
Pemuda itu langsung memberi isyarat kepada Yuan Jiali untuk mengikutinya dari belakang.
Kedua pendekar muda itu langsung melompàt turun dari atas dahan pohon yang tinggi dan menuju ke tempat dimana ketujuh orang itu berada.
Saat para tetua ingin menyerang Ma Guang dan juga Yuan Jiali, kelima tetua itu langsung bisa mengenali aura yang Ma Guang miliki.
"Pendekar Ma...!!! Teriak putri Zhou Lu Yun yang juga bisa langsung mengenali aura pemuda tersebut saat sudah dekat dengan mereka.
"Tuan putri, nona Tjia dan juga para tetua, bagaimana keadaan kalian? Apakah baik - baik saja?". Ucap Ma Guang menyapa dan juga langsung bertanya kepada mereka.
"Iya...!!! Kami baik - baik saja, namun tuan putri merasa lelah untuk melanjutkan perjalanan, sehingga kami beristirahat dahulu untuk malam ini dan nanti akan melanjutkan perjalanan lagi esok pagi". Jawab salah satu tetua.
"Itu tidak perlu, sebab kekacauan yang terjadi di sekte, telah kita selesaikan". Terang Ma Guang.
"Jadi kalian telah mengalahkan para pendekar aliran hitam yang menyerang itu?". Tanya para tetua secara bersamaan.
"Iya...!!! Dan kemungkinan besar hanya ada beberapa orang yang dapat melarikan diri bersama kedua ketua sekte besar aliran hitam". Ucap Ma Guang menjelaskan kepada ketujuh orang tersebut.
"Dua sekte besar aliran hitam? Sekte apa yang tetua Ma maksudkan?". Tanya seorang tetua kepada Ma Guang.
"Aku mendengar mereka berasal dari sekte Lembah Tengkorak yang pertama - tama menyerang sekte kita dan sekte Gagak Hitam yang menyerang untuk gelombang kedua". Ma Guang menjelaskan.
Mendengar penjelasan Ma Gauang, para tetua langsung tersentak karena tidak menyangkah bahwa kedua sekte aliran hitam tersebut secara bersamaan telah menyerang sekte mereka dan bisa di menangkan.
Tetapi mereka juga belum mengetahui bahwa ada ratusan murid sekte yang terbunuh saat itu, sehingga kini di sekte Bambu Kuning, hanya tersisa ratusan murid saja.
"Kalau begitu, apakah kalian boleh melakukan perjalanan untuk kembali lagi ke sekte?". Tanya Ma Guang.
"Kalau kami, masih bisa melakukan perjalanan, tetapi tuan putri dan juga nona Tjia, mereka tidak bisa untuk melakukan perjalanan". Jawab salah seorang tetua.
"Tuan putri akan menjadi tanggung jawabKu, sedangkan nona Tjia akan menjadi tanggung jawab....".
"Dia akan menjadi tanggung jawabKu". Suara seorang pria menyelah perkataan Ma Guang.
~Bersambung~
__ADS_1