Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 157. Kedatangan Beberapa Tamu


__ADS_3

Di pintu masuk wilayah sekte Bambu Kuning terlihat ada lima orang yang berjalan dan sedang mendekati wilayah sekte tersebut serta ingin memasukinya.


Kelima orang tersebut langsung di hadang oleh empat orang murid yang bertugas untuk menjaga pintu masuk wilayah sekte.


"Berhenti...!!! Siapa kalian dan apa tujuan kalian untuk datang ke sekte kami ini!?". Tanya seorang murid kepada kelima orang tersebut.


"Siapa kami itu tidaklah terlalu penting, tetapi tujuan kami untuk datang ke sekte ini adalah untuk bertemu dengan patriak Yao Han karena ada hal penting yang akan di bicarakan dengan beliau". Jawab seorang yang terlihat seperti pemimpin di antara kelima orang tersebut.


"Hal apa yang ingin kalian bicarakan dengan patriak kami?". Tanya murid itu lagi.


"Hal yang akan kami bicarakan dengan patriak Yao Han adalah sesuatu yang bersifat sangat rahasia, sehingga kami tidak bisa memberitahukannya kepada kalian". Jawab orang itu lagi dengan sopan.


"Kami tidak akan membiarkan kalian masuk jika kalian tidak memberitahukan maksud kedatangan kalian ke sekte kami ini, sebab sekte kami ini baru saja mengalami sesuatu yang buruk baru - baru ini". Terang murid itu lagi.


"Tuan pendekar, percayalah kepada kami, kami datang kesini tidak bermaksud buruk sedikit pun, apa lagi kami ini hanya berlima, sehingga tidak mungkin kami melakukan hal yang buruk di sekte ini, mengingat kekuatan para pendekar di sekte ini yang begitu kuat". Ucap orang itu lagi untuk meyakinkan para murid yang menghadang mereka.


"Baiklah! Tetapi kami akan terus mengawasi kalian". Ucap murid itu lagi sambil mempersilahkan kelima orang itu untuk memasuki wilayah sekte Bambu Kuning.


Setelah mereka tiba di depan aula utama sekte, seorang murid pergi untuk melaporkan kepada patriak tentang maksud kedatangan kelima orang tersebut.


Tidak lama kemudian murid itu pun datang dan mempersilahkan kelima orang itu untuk memasuki aula utama sekte.


Di dalam ruangan aula tersebut, kini semua tetua sedang duduk dan terlihat sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting, karena semua tetua dari tingkat rendah hingga para petinggi lainnya sedang berkumpul di dalam ruangan tersebut.


Setelah lima orang utusan kaisar Zhou Muwang sudah berada di dalam ruangan tersebut, mereka berlima tidak ingin langsung untuk berbicara.


Hal itu karena tujuan mereka adalah untuk mencari tahu keadaan putri Zhou Lu Yun setelah terjadi penyerangan di sekte tersebut.


Kedatangan mereka sangat rahasia, sehingga mereka tidak menggunakan baju yang menunjukkan identitas mereka sebagai seorang prajurit kekaisaran.


Saat berada di aula, lima orang utusan itu belum juga mau berbicara di depan orang banyak, sehingga menimbulkan banyak spekulasi dari para tetua yang lain yang belum mengetahui identitas putri Zhou Lu Yun.


Patriak pun langsung bangkit dari tempat duduknya dan langsung mendekati para utusan tersebut.


"Sebenarnya apa tujuan kedatangan kalian ke sekte kami ini?". Tanya patriak.

__ADS_1


"Saya ingin berbicara dengan patriak secara empat mata". Jawab seorang dari kelimanya.


"Apa yang akan anda bicarakan denganKu sehingga tidak boleh di ketahui oleh orang lain?".


Mendengar pertanyaan patriak lagi, pria itu langsung menunjukkan secara sembunyi - sembunyi lencana yang dia miliki.


Melihat lencana tersebut, patriak langsung memahami apa tujuan mereka untuk datang ke sekte tersebut.


Patriak pun langsung menatap ke arah Ma Guang dan memberitahukan kepada pendekar muda itu apa tujuan kelima orang tersebut melalui telepati.


Hal itu di lakukan oleh patriak sebab hanya Ma Guang yang sangat mengetahui keadaan putri Zhou Lu Yu.


Ma Guang pun langsung bangkit dan berjalana mendekati ke lima orang itu sambil mengajak mereka untuk pergi melihat keadaan putri Zhou Lu Yun.


Lima orang itu langsung mengikuti pemuda tersebut dari belakang.


Tidak lama kemudian mereka memasuki tempat dimana putri Zhou Lu Yun sedang duduk bermeditasi sambil di jaga oleh nona Tjia Annchi dan juga Yuan Jiali.


"Saat ini tuan putri tidak bisa di ganggu, sehingga kalian berlima hanya bisa melihat dirinya yang dalam keadaan tidak kurang suatu apa pun, jadi kalian bisa melaporkan apa yang telah kalian lihat saat ini, dan kemungkinan besar, setelah tuan putri selesai bermeditasi, aku akan mendampingi dirinya untuk kembali ke ibu kota kekaisaran secepatnya". Ujar Ma Guang.


"Jangan terlalu sungkan, aku melakukan hal itu karena sudah berjanji kepada yang mulia kaisar, jadi sudah sepantasnya aku menjaga tuan putri dengan sebaik - baiknya". Ucap Ma Guang.


"Baiklah, karena kalian telah melihat keadaan tuan putri, jadi sebaiknya kita pergi dari sini agar tidak mengganggu proses meditasi yang di lakukan oleh tuan putri. Mari kita pergi ke kediamanKu saja untuk minum secangkir teh sambil berbincang - bicang di sana". Ujar Ma Guang sambil mempersilahkan kepada kelima orang tersebut untuk meninggalkan tempat itu.


Mereka kemudian di tuntun oleh Ma Guang untuk menuju ke kediamannya.


Setelah tiba di kediaman Ma Guang mereka pun langsung memasuki kediaman pendekar muda itu dan di persilahkan duduk di aula kediamannya.


Pelayan yang bertugas di kediaman Ma Guang langsung melayani mereka sambil menghidangkan secangkir teh kepada kelima orang tersebut.


Di pintu masuk wilayah sekte Bambu Kuning kini terlihat juga ada beberapa orang yang datang mendekat.


"Siapa lagi orang - orang ini? Kenapa ada lagi orang asing yang datang ke sekte kita ini?". Ujar seorang murid.


"Mungkin mereka juga sedang memiliki urusan pribadi dengan sekte kita". Ucap murid yang lain.

__ADS_1


"Mudah - mudahan mereka tidak membawa masalah yang baru di sekte kita ini, sebab sekte kita ini masih dalam keadaan pemulihan". Ujar seorang murid lagi.


"Ayo kita menyambut dan bertanya kepada mereka". Ajak seorang murid yang terlihat seperti pemimpin mereka.


"Berhenti...!!! Siapa kalian dan apa tujuan kalian untuk datang ke sekte kami ini?". Tanya pemimpin tersebut.


"Aku adalah kepala keluarga dari bangsawan Tjia, aku datang kesini untuk bertemu dengan putriKu Tjia Annchi". Jawab pria paruh baya tersebut dengan santun.


"Oh, ternyata anda adalah orang tua dari nona Tjia yah!? Bolehkan anda menunjukkan tanda pengenal bangsawan anda?". Ujar sang pemimpin.


Mendengar permintaan dari pemimpin kelompok tersebut, pria paruh baya itu langsung mengeluarkan serta langsung menunjukkan tanda pengenalnya kepada murid - murid sekte tersebut.


Setelah melihat tanda pengenal pria paruh baya itu, murid tersebut mempersilahkan mereka untuk memasuki sekte mereka dan di antarkan oleh salah satu murid.


Setelah tiba di depan aula utama sekte Bambu Kuning, murid tersebut langsung melaporkan kepada patriak akan kedatangan kepala keluarga Tjia tersebut.


"Murid memberi hormat kepada patriak dan juga kepada para tetua". Ucap murid tersebut.


"Ada hal apa lagi sehingga membuatMu kembali menghadap kepada kami?". Tanya tetua penegak hukum.


"Murid menghadap lagi untuk menyampaikan bahwa kepala keluarga Tjia sedang berada di depan untuk bertemu dengan patriak". Jawab murid tersebut.


"Oh, jadi seperti itu yah? Kalau begitu, cepat antarkan mereka ke kediaman nona Tjia Annchi, aku akan bertemu dengan mereka bila urusan kami sudah selesai". Ucap patriak.


"Baik patriak, murid akan melaksanakan apa yang di perintahkan, kalau begitu murid undur diri". Ucap murid tersebut sambil melangkah mundur beberapa langkah lalu berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan aula tersebut.


Murid itu langsung menemui kembali ayah nona Tjia Annchi dan mengantarkan mereka untuk menuju ke kediaman gadis tersebut sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh patriak.


Akhirnya rombongan kepala keluarga Tjia langsung berjalan mengikuti seorang murid yang sedang menuntun mereka untuk menuju ke kediaman Tjia Annchi.


Beberapa saat kemudian, rombongan tersebut telah sampai di kediaman Tjia Annchi.


Murid yang mengantarkan rombongan tersebut langsung memberitahukan kepada seorang pelayan tentang siapa rombongan beberapa orang yang baru di antarnya itu.


Setelah mengetahui hal tersebut, pelayan pun langsung mempersilahkan beberapa orang itu untuk masuk ke dalam kediaman tersebut dan mempersilahkan mereka untuk duduk dan menikmati teh hangat yang di siapkan oleh pelayan tersebut saat menunggu Tjia Annchi.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2