
Xia Jiao terus memeriksa setiap sudut wilayah kerajaan Chu agar bisa menemukan letak markas besar sekte Kalajengking Merah.
Wanita itu pergi mencari suatu kota yang pernah di dengarnya dari Ma Guang, yaitu kota Shouchun tempat dimana markas besar sekte Kalajengking Merah berada.
Saat dia menjumpai suatu desa yang terlihat ramai, wanita itu langsung segera turun dan berjalan seperti biasanya.
Di saat dia bertemu dengan seorang penduduk desa, wanita itu langsung menanyakan letak kota Shouchun.
Orang itu langsung menjelaskan serta menunjukkan arah untuk pergi ke kota tersebut.
Xia Jiao langsung berjalan ke tempat yang sunyi kemudian melakukan perjalan dengan terbang.
Di kota Chiangrai.
Di suatu bangunan yang megah, duduk beberapa orang yang sedang asyik berbincang - bincang.
Salah satu di antara mereka adalah Ma Guang.
Pemuda itu kini duduk santai sambil menikmati hidangan serta arah yang di sediakan oleh keluarga bangsawan Mong.
Mereka sedang membahas tentang sebuah pergerakan sekte aliran hitam di wilayah kekaisaran Dvaravati itu.
Sekte aliran hitam itu adalah cabang dari sekte besar aliran hitam yang berada di benua tengah.
Dan ternyata sekte Kalajengking Merah juga adalah salah satu sekte yang menjadi cabang dari sekte tersebut.
Mendengar apa yang di sampaikan oleh pendekar yang baru saja di tolongnya itu, Ma Guang langsung mengerti mengapa anggota sekte Kalajengking Merah selama beberapa tahun terakhir tidak lagi melakukan pergerakan.
Kini dugaan pemuda itu tidak meleset, bahwa sekte aliran hitam yang ada di wilayah kekaisaran Zhou, pasti akan menjalin hubungan dengan sekte kuat aliran hitam yang ada di wilayah kekaisaran lain.
Tetapi yang membuat Ma Guang merasa terkejut bila sekte Kalajengking Merah adalah salah satu cabang dari sekte besar aliran hitam di benua tengah.
Sebab tentunya kekuatan mereka saat ini tidak bisa di pandang sebelah mata.
Thau Choi juga menjelaskan bahwa ada juga cabang dari sekte besar aliran putih dari benua tengah.
Namun sekte itu terletak di wilayah kekaisaran Mahajanapada, yaitu di sebelah Barat dari kekaisaran Dvaravati tersebut.
"Bagaimana kekuatan dari sekte tersebut?". Tanya Ma Guang penasaran.
"Sekte itu bernama 'Sekte Phoenix Api', menurut yang aku dengar, patriak dari sekte tersebut sudah menjadi seorang pendekar Dewa Bumi". Ucap Thau Choi menjelaskan kepada Ma Guang.
__ADS_1
Pemuda itu pun langsung menganggukkan kepalanya seperti telah mengerti dengan kekuatan dari sekte yang Thau Choi maksudkan itu.
"Terus, bagaimana kekuatan tertinggi yang ada di kekaisaran ini? Apakah ada juga yang sudah menjadi seorang pendekar Dewa Bumi?". Ma Guang kembali lagi bertanya kepada Thau Choi.
Pria tua itu kembali menjelaskan kepada Ma Guang bahwa di setiap wilayah kekaisaran, pasti ada seorang pendekar Dewa Bumi atau pun yang memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari itu.
Sebab para pendekar dewa yang berasal dari benua tengah mau pun dari tiga benua lainnya, pasti akan mengunjungi setiap benua yang ada di dunia itu.
Akhirnya Ma Guang langsung mengerti, memang benar dengan informasi yang dia miliki dari kitab Naga Surgawi tersebut.
Tetapi itu adalah jumlah setiap pendekar yang berasal dari benua mereka masing - masing, dan tidak menutup kemungkinan mereka akan pergi kebenua lainnya seperti yang dia lakukan saat itu yang ingin pergi ke benua tengah.
"Apakah pendekar Ma ingin bergabung dengan sekte tersebut?". Tanya Thau Choi.
"Sebenarnya aku sedikit tertarik untuk bergabung, tetapi anggota sekteKu juga saat ini sedang membuka cabang di setiap wilayah kekaisaran yang ada di benua utara ini". Ungkap Ma Guang jujur.
"Benarkah!? Apakah sekte Bambu Kuning akan di dirikan juga di wilayah kekaisaran kami ini?". Tanya Thau Choi.
"Bukan! Nama sekte tersebut bukan itu, tetapi sekte Naga Surgawi". Ucap Ma Guang meluruskan.
"Terus, bagaimana dengan sekte Bambu Kuning?". Tanya Thau Choi.
"Oh, jadi seperti itu yah!?". Ucap Thau Choi langsung mengerti dengan apa yang Ma Guang jelaskan.
Mong Nai tetap setia menyimak pembicaraan kedua pendekar berbeda usia tersebut.
Setelah beberapa saat kemudian, Ma Guang pun langsung pamit undur diri untuk melanjutkan perjalanannya ke benua tengah.
Namun sebelum pemuda itu melanjutkan perjalanannya, dia terlebih dahulu ingin bertemu dengan seorang murid yang akan mendirikan cabang sekte di kekaisaran itu.
Pemuda itu meninggalkan kediaman keluarga bangsawan Mong dan menuju ke salah satu penginapan di kota Chiangrai tersebut.
Setelah beberapa saat dirinya berjalan, akhirnya Ma Guang menemukan sebuah penginapan yang terlihat sederhana.
Pemuda itu langsung memasuki bangunan penginapan tersebut.
"Selamat datang di penginapan kami ini! Apakah ada yang bisa saya bantu?". Sambut seorang pelayan.
"Aku ingin memesan satu kamar untuk dua hari". Jawab Ma Guang.
"Ayo tuan, mari ikuti aku". Ucap pelayan tersebut.
__ADS_1
Pelayan itu langsung berjalan dan di ikuti oleh Ma Guang dari belakangnya untuk pergi menuju ke kasir agar terlebih dahulu menyelesaikan urusan administrasinya.
Setelah selesai membayar biaya sewa di penginapan itu, Ma Guang langsung di antarkan ke kamar yang akan di tempati pemuda itu.
Setelah tiba di kamar tersebut, pelayan itu kemudian meninggalkan Ma Guang.
Pemuda itu langsung bermeditasi dan menghubungi tetua Fei Yu untuk menanyakan posisi dari tiga orang murid yang berada di kekaisaran Dvaravati.
Tetua Fei Yu langsung memberitahukan posisi ketiga murid tersebut yang saat ini berada di ibu kota kekaisaran Dvaravati, yaitu kota Pitsanulok.
Yang jaraknya berkisar dua ratus kilo meter lagi dari kota Chiangrai dimana Ma Guang berada.
Pemuda itu langsung menggunakan kekuatan jiwanya untuk menghubungi ketiga murid itu.
Ma Guang langsung menelusuri setiap penginapan yang ada di ibu kota kekaisaran dan mulai mencari ketiga orang murid tersebut.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Ma Guang bisa menemukan ketiganya dan langsung menanyakan perkembangan dari usaha yang mereka lakukan.
Murid itu pun menjelaskan bahwa mereka mengalami kesulitan untuk mendirikan cabang sekte di kekaisaran tersebut, karena sang kaisar dan juga para petinggi sekte di kekaisaran tersebut, tidak mengijinkan sekte dari wilayah kekaisaran lain untuk bisa membuka cabang sekte di kekaisaran tersebut.
Mereka takut jika sekte cabang itu akan memberikan dampak buruk bagi dunia persilatan di wilayah kekaisaran itu serta bisa juga menjadi perpanjangan tangan bagi kekuatan kekaisaran asal untuk bisa menyerang kekaisaran tersebut dari dalam.
Mendengar apa yang di sampaikan oleh murid itu, Ma Guang langsung menyuruh ketiganya untuk mencari saja setiap anak yang berusia di atas dua belas tahun serta memiliki bakat di atas rata - rata untuk dibawah ke sekte Bambu Kuning dan berlatih disana.
Murid tersebut langsung menerima perintah tersebut dan mulai melakukannya.
Setelah memperoleh apa yang ingin di ketahui olehnya, Ma Guang langsung bermeditasi untuk mengembalikan kekuatan jiwanya.
Setelah dua hari bermeditasi, pemuda itu kemudian berniat untuk segera melanjutkan kembali perjalanannya.
Ma Guang langsung melesat terbang kearah barat untuk menuju ke wilayah kekaisaran Mahajanapada.
Saat dirinya sedang melakukan perjalanan, pemuda itu langsung bertemu dengan para pendekar agung yang di pimpin oleh seorang pendekar dewa Bumi tingkat dasar sedang bergerak untuk menuju ke kota Chiangrai yang baru saja di tinggalkan oleh Ma Guang.
Pendekar muda itu langsung berhenti di atas udara dan menatap kelompok pendekar tersebut yang berpakaian sama persis dengan para pendekar yang bertarung dengan rombongan bangsawan Mong Nai.
"Itu orangnya yang telah membunuh tetua Samduk!". Teriak seorang pendekar petapa yang melihat wajah Ma Guang saat membunuh orang yang namanya di sebutkan.
Orang yang di bunuh oleh Ma Guang itu adalah seorang tetua tingkat rendah di sekte besar aliran hitam yang ada di wilayah kekaisaran Dvaravati.
~Bersambung~
__ADS_1