Pendekar Pemburu Yang Diburu

Pendekar Pemburu Yang Diburu
Bab 132. Pertarungan (IV)


__ADS_3

Potongan tubuh Ki Kebo Pengging kembali tersambung satu dengan lainnya sehingga kembali utuh seperti sedia kala.


"Sialan! Trik apa lagi yang pria ini miliki!?". Gumam Ma Guang dengan nada suara yang tidak percaya apa yang baru saja di lihatnya.


"Ha...ha...ha...ha...ha...ternyata kamu sudah bisa melukaiKu anak muda! Aku sangat salut dengan kemampuanMu sehingga bisa mengetahui dengan cepat kelemahanKu". Ucap Ki Kebo Pengging memuji lawannya.


"Jika kita melanjutkan kembali pertarungan kita, apakah aku bisa mengetahui kelemahannya yang satu itu? Ataukah aku yang lebih dahulu sudah terbunuh di tangannya?". Gumam Ma Guang di dalam hatinya.


Untung saja jarak Ma Guang kini sudah terpaut jauh dengan Ki Kebo Pengging, sehingga gumamannya itu tidak bisa di ketahui oleh lawannya tersebut. Jika di ketahui, sudah pasti Ki Kebo Pengging akan tertawa puas karena sudah bisa membuat nyali lawannya menurun dan hal itu akan sangat menguntungkan baginya untuk menyerang Ma Guang.


Sedangkan di tempat yang sama juga sedang terjadi pertarungan di antara ke delapan orang menghadapi lima lawan mereka.


Yuan Jiali tetap bertarung menghadapi pendekar yang tangan kanannya sudah buntung karena perbuatan gadis itu.


Sedangkan ke empat Su bersaudara, mereka membagi menjadi dua kelompok untuk menghadapi dua ekor harimau putih.


Tetua Agung Xiang Zhang dan juga tetua penegak hukum Zhu Li menghadapi seekor harimau putih.


Sedangkan Patriak Yao Han menghadapi sendiri seekor harimau putih.


Permainan tombak milik patriak sangat menguntungkan bagi dirinya dalam menghadapi hewan buas di depannya itu.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi patriak Yao Han untuk menumbangkan seekor harimau yang menjadi lawannya itu.


Tombak patriak Yao Han kini sudah menembus tubuh hewan tersebut dan mengenai juga jantungnya.


Pakaian pria tua itu kini sudah berlumuran darah milik sang harimau.


Hal yang sama juga yang di alami oleh tiga ekor harimau putih lainnya.


Kepala ketiga hewan buas itu kini sudah terpisah dari tubuh mereka masing - masing.


Kini tersisa hanya Yuan Jiali dan juga pendekar buntung yang menjadi lawannya yang masih bertarung.


Namun semangat pendekar itu langsung menurun drastis saat melihat ke empat hewan buasnya kini sudah terbaring dan tidak bernyawa lagi.


Situasi itu tidak di sia - siakan oleh Yuan Jiali, gadis itu dengan cepat melesat dengan pedangnya dan langsung menebas leher lawannya itu.


Kepala pendekar buntung itu langsung menggelinding di tanah dan di ikuti dengan ambruknya tubuh pendekar tersebut.


Pendekar yang paling awal menyerang Ma Guang kini mulai merasa tidak tenang, dia tidak menyangka bahwa dua orang yang baru saja bersama - sama dengannya, kini sudah tewas dengan sangat mengenaskan.


Setelah tubuhnya sudah merasa memiliki tenaga untuk bisa melarikan diri. Pendekar itu dengan penuh ke hati - hatian ingin memanfaatkan setiap kesempatan yang akan terbuka untuk dirinya agar bisa melarikan diri dengan sekuat tenaganya.

__ADS_1


Sedangkan Ma Guang dan juga Ki Kebo Pengging kini kembali lagi saling bertukar serangan.


Saat ini pria tua itu sudah lebih berhati - hati untuk menggunakan serangan cahaya miliknya.


Sedangkan Ma Guang sendiri, pendekar muda itu terus menerus menyerang tubuh lawannya dengan pedang dan tinju miliknya.


Tubuh mereka berdua sama - sama terdorong mundur beberapa kali, namun kembali lagi saling menyerang.


Hal itu membuat pertarungan itu terlihat seperti tidak akan pernah ada akhirnya, sebab keduanya seperti tidak bisa untuk saling mengalahkan.


Kemampuan ilmu bela diri Ma Guang terlihat lebih tinggi dari Ki Kebo Pengging, namun hal itu bisa terimbangi oleh karena pria tua itu memiliki sebuah cahaya yang selalu melindungi tubuhnya.


"Aku harus membuka celah agar dia bisa menyerang diriKu dengan cahaya yang melindungi tubuhnya itu". Gumam Ma Guang di dalam hatinya.


Namun hal itu bisa di ketahui oleh Ki Kebo Pengging.


"Ha...ha...ha...ha...ha...anak muda! Kamu pikir semudah itu untuk bisa memancing diriKu untuk melakukan serangan terhadap diriMu? Kamu sangat naif". Ucap Ki Kebo Pengging yang bisa mengetahui suara hati Ma Guang.


Wajah Ma Guang akhirnya langsung berubah menjadi merah merasa malu karena rencananya bisa di ketahui oleh lawannya.


Kini sinar matahari pagi sudah mulai menyinari tanah lapang yang luas tersebut dimana tempat pertarungan itu terjadi.


Pendekar yang ingin melarikan diri belum juga mendapatkan kesempatan yang baik untuk bisa melarikan diri.


Hal itu di sebabkan karena para petinggi sekte sudah berdiri di dekatnya dan terus mengawasi dirinya.


Ma Guang tetap memanfaatkan kecepatan serangan tinju serta jiwa pedang miliknya, namun hal itu belum juga memberikan hasil yang memuaskan.


Sudah puluhan kali tubuh Ki Kebo Pengging terdorong mau pun terpental saat menerima serangan dari tinju dan juga pedang milik Ma Guang, tetapi hal itu tidak membuat tubuh pria tua itu terluka sedikit pun.


Hal yang menguntungkan bagi Ma Guang, dirinya masih memiliki pil untuk mengembalikan kekuatan serta tenaga dalamnya.


Sedangkan kekuatan serta stamina Ki Kebo Pengging sedikit demi sedikit mulai menurun, dan hal itulah yang membuat dirinya secara terus menerus terkena serangan Ma Guang.


Ma Guang pun menarik kembali pedangnya yang terus di kendalikan dengan kekuatan jiwanya.


Kini pendekar muda itu berpikir untuk menggunakan jurus pedang cahaya yang di pelajari dari gurunya Su Tian.


Memang dari awal pertarungan, Ma Guang selalu mengandalkan kecepatan serangannya, sehingga dirinya terus menggunakan jurus pedang hampa dan juga jurus langkah bayangan miliknya.


Setelah pedangnya sudah berada di tangannya, akhirnya Ma Guang merubah pola permainan pedangnya.


Melihat hal itu, Ki Kebo Pengging langsung terdiam dan berpikir sejenak.

__ADS_1


"Jurus apa yang akan di gunakan oleh pemuda ini? Sepertinya gerakan pedangnya sudah berubah dari gerakan sebelumnya". Gumam Ki Kebo Pengging.


Nampak pedang Ma Guang kini muncul seberkas cahaya kuning yang seperti ingin berubah menjadi berwarna merah.


Tatapan mata Ki Kebo Pengging langsung terbelalak melihat hal itu.


Ma Guang langsung menyerang Ki Kebo Pengging dengan jurus pedang cahaya miliknya.


Ki Kebo Pengging sendiri langsung dengan cepat berusaha untuk menghindari serangan cahaya dari pedang tersebut.


Jurus pedang cahaya langsung di padukan dengan jurus langkah bayangan miliknya dengan cepat dan gesit menyerang tubuh Ki Kebo Pengging.


Hingga akhirnya serangan Ma Guang langsung mengenai targetnya.


Booommm


Ledakan sangat kuat terjadi saat cahaya yang di hasilkan oleh pedang Ma Guang membentur cahaya yang menyelimuti tubuh Ki Kebo Pengging.


Alhasil, akibat dari benturan itu, Ki Kebo Pengging langsung terpental jauh dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Ternyata jurus pedang cahaya ini lebih efektiv serangannya dari pada jurus - jurusKu yang lain. Mengapa aku baru menyadari hal ini?". Gumam Ma Guang dengan perasaan yang puas melihat hasil dari serangannya.


Memang pergerakan jurus pedang cahaya kalah cepat dengan jurus pedang hampa miliknya.


Hal itulah yang membuat Ma Guang lebih sering mengandalkan jurus pedang hampa miliknya di bandingkan jurus pedang cahaya tersebut.


"Brengsek! Ternyata jurus pedangnya itu bisa melukai diriKu, sekarang ini aku hanya bisa mengandalkan kemampuan tubuhKu yang bisa menyatu kembali". Gumam Ki Kebo Pengging yang kini sudah pulih kembali seperti semula.


Ma Guang kembali melesat dengan cepat menyerang kearah lawannya.


Kini Ki Kebo Pengging langsung membalas serangan Ma Guang dengan cahaya miliknya.


Duuuaaarrr...duuuaaarrr...duuuaaarrr


Bunyi ledakan kembali terdengar karena di akibatkan oleh benturan kedua serangan cahaya mereka berdua.


Ma Guang kini sudah mendapatkan rasa percaya dirinya yang tinggi untuk mengalahkan lawan di depannya itu.


Beberapa serangan kembali di lepaskan oleh keduanya hingga akhirnya, tubuh Ki Kebo Pengging kembali terpisah menjadi empat bagian.


Ma Guang tidak diam saja saat melihat hal itu.


Pemuda itu langsung menebas leher lawannya tersebut.

__ADS_1


Kepala Ki Kebo Pengging langsung menggelinding di tanah dan terpisah dari tubuhnya.


~Bersambung~


__ADS_2