Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
99. Ganteng dan banyak uang


__ADS_3

Steven memperhatikan foto tersebut. Bentuk wajah gadis itu terlihat mirip Citra. Mungil dan imut, panjang rambutnya sebahu.


"Oke, aku setuju dengan usulan kalian," jawab Steven seraya menatap Rizky dan Hersa. "Berarti kita tinggal sewa anak buah saja dong, ya?"


"Nggak musti, Om." Rizky menggeleng. "Aku sudah punya dua anak buah yang setia, aku akan suruh mereka saja. Biar mudah dan nggak perlu ribet."


"Apa mereka bisa diandalkan?" tanya Steven yang tampak tak yakin.


"Dari beberapa tugas yang pernah mereka dapat, sih, semuanya nggak ada yang gagal, Om."


"Ajak mereka ke sini dulu, aku mau bicara dengan mereka sebelum mereka bertugas."


"Iya." Rizky mengangguk, kemudian mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi anak buah yang dia maksud.


"Pa, Stev, Mama mau ke mall dulu, ya?" ucap Sindi saat baru saja datang menghampiri mereka berempat di ruang tamu. Wanita paruh baya itu menenteng tas jinjing brandednya.


"Kok Mama malah ke mall? Bukannya bantuin cari Dedek Gemes?" kata Angga. Dia tampak tak suka melihat istrinya mau pergi.


Sebab menurutnya, dia dan Steven sedang pusing tujuh keliling memikirkan Citra. Tetapi istrinya justru terlihat biasa saja dan malah mau bersenang-senang pergi ke mall. Yang Angga inginkan, Sindi juga ikut pusing.


"Ya itu 'kan ada Rizky sama Hersa, masa Mama ikutan juga, sih?" Sindi mendengkus kesal.


"Harusnya sih iya, soalnya—”


"Udah biarin aja Mama pergi, Pa," sela Steven cepat.


"Iya, Papa aneh. Kali aja Mama ketemu Citra di mall. Biar nanti Mama bawa pulang dia sekalian," kata Sindi sembari berlalu pergi meninggalkan mereka.


"Mana ada Dedek Gemes di mall, orang dia diculik. Iya, kan, Stev?" Angga menoleh ke arah Steven. Pria itu hanya mengangguk.


Selang beberapa menit, dua pria yang Rizky maksud itu datang ke rumah Angga. Mereka sekarang tengah berdiri di depan tiga pria yang duduk di sofa.


Tubuh kedua pria itu tinggi, besar, berotot, berkulit hitam manis dan berwajah garang.


"Namanya Ali dan Aldi," ucap Rizky memperkenalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Mereka mah sopirnya Nella sama Maya, Riz. Bukan anak buah," kata Angga yang tampak familiar dengan wajah keduanya.


"Sopir mah hanya sampingan mereka, Opa. Aslinya mereka itu bisa dalam berbagai hal. Ya contohnya menjadi anak buah," ungkap Rizky memuji keduanya. Dan terlihat, pipi kedua pria itu merona.


"Apa kalian bisa bela diri?" tanya Angga.


"Bisa, Opa," jawab Aldi.


"Dih, kenapa memanggilku Opa? Kalian pikir aku ini Opamu, apa?" Angga mengangkat sebelah sudut bibirnya. Dan menatap Aldi dengan sengit.


"Maaf, Bapak maksud saya." Aldi tersenyum dan membungkuk sedikit.


"Apa kalian punya ilmu kebal?" tanya Angga lagi.


"Papa sudah deh, kenapa Papa banyak bertanya masalah nggak penting?" Steven tampak marah dengan sikap Angga, matanya sedikit melotot. Bawel sekali pria itu menurutnya, dia yang ingin berbicara sejak tadi kepada keduanya sampai susah, sebab diserobot terus oleh pria tua itu.


"Papa 'kan hanya tanya, Stev. Barang kali dia juga kebal kayak Jarwo."


"Nggak kebal juga nggak masalah, Pa. Kan mereka itu hanya disuruh nyulik, bukan debus." Steven memutar bola matanya malas, Angga justru malah terkekeh.


"Nih! Culik gadis yang difoto ini!" kata Steven sembari mengulurkan tangannya ke arah Ali. Dia pun segera mengambilnya. "Namanya Sisil, pokoknya jangan sampai salah orang. Dan aku mau ... hari ini juga kalian dapat menculiknya!"


"Siap, Pak." Ali dan Aldi mengangguk secara bersamaan.


"Setelah diculik, dia dibawa ke mana?" tanya Aldi.


"Nanti aku akan sewa sebuah rumah kontrakan, Di. Kalian bisa bawa ke sana. Nanti aku kasih tahu alamatnya," kata Hersa.


"Hanya diculik saja? Nggak sambil diperkosa?" tanya Ali.


"Kotor sekali otakmu!" berang Steven. "Kalian hanya menculik saja, lalu menyandra dia selama beberapa hari sampai si Gugun kebakaran kumis mencari Sisil! Tapi jangan buat dia celaka apa lagi sampai mati!" tegas Steven.


"Oke, baik, Pak. Perintah Bapak akan kami laksanakan." Ali mengangguk cepat, bulu kuduknya seketika merinding kala melihat Steven melotot terus sejak tadi. "Kalau begitu kami permisi," imbuhnya kemudian seraya berlalu pergi bersama Aldi, meninggalkan rumah tersebut.


Steven membuang napasnya dengan kasar, lalu memijat dahinya. Kepalanya terasa berkunang-kunang. 'Semoga saja dengan begini aku bisa cepat bertemu kamu, Cit. Aku rindu sekali ingin cium, peluk, nyusu dan bercinta sama kamu.'

__ADS_1


***


Di Universitas ternama yang ada di kota Tangerang, seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam gerbang langsung berlari menghampiri Gugun pada halaman kampus, lalu memeluknya dari belakang.


"Kakak!" ucapnya yang mana membuat Gugun terhenyak. Sebab sejak tadi dia tengah fokus dengan ponselnya.


Gugun berbalik dan pelukan itu perlahan terlepas, lalu dia pun mengecup kening gadis di depannya.


"Mana Citra, Kak?" tanyanya seraya melihat ke dalam mobil Gugun. Pria itu memang berdiri di samping mobilnya.


"Baru saja masuk ke dalam. Kamu temenan yang baik sama dia ya, Sil. Jangan galakin dia apa lagi sampai buat dia nangis. Kakak nggak mau itu!" tegur Gugun.


Gadis di depannya itu adalah adik Gugun satu-satunya yang bernama Sisil.


Sebenarnya, awalnya Gugun ingin membawa Citra keluar negeri, tetapi gadis itu menolaknya. Dia bilang, tak mau pergi dari kota kelahirannya.


Jadi setelah dipikir-pikir, akhirnya Gugun memutuskan untuk memindahkan Citra kuliah di sana. Selain jarak dari Tangerang dengan Jakarta tidak terlalu jauh, dia juga memang sengaja karena adiknya kuliah di sana.


Gugun mau, Citra langsung mempunyai teman saat dia baru pindah kuliah. Sebab dia tak ingin membuat gadis itu kesepian yang akan berakibat dengan kesedihan.


Dia tentunya mengenal dekat bagaimana adiknya. Dan Gugun yakin, jika Sisil akan menjadi teman baik Citra bahkan lebih baik dari Lusi dan Rosa.


"Siap Kak!" Sisil mengangguk semangat. "Lagian Citra anaknya asik dan baik, aku suka padanya. Aku masuk dulu kalau begitu, Kakak jangan lupa transfer uang jajan untukku, ya?" Sisil meraih tangan Gugun, lalu mencium punggung tangannya. Setelah itu dia pun melambaikan tangan dan berlari pergi meninggalkannya.


Sementara itu di tempat yang sama, Ali dan Aldi tengah berdiri memantau di depan gerbang besi. Mereka sejak tadi juga memperhatikan Gugun dan Sisil, tetapi sayangnya keduanya tak dapat mendengar apa yang mereka katakan sebab jaraknya cukup jauh.


"Tadi gadis yang namanya Sisil 'kan, Al?" tanya Aldi. Dia memastikan sekali lagi sebab ingin mengingat ciri-ciri apa yang dipakai gadis tadi, supaya mempermudah dan tidak salah jika nanti waktunya mereka beraksi.


"Iya." Ali mengangguk sambil mengunyah kacang. "Tapi pria yang kumisan itu tadi siapa, ya? Apa pacarnya?"


"Ketuaan sih kalau pacar, mungkin Omnya," tebak Aldi.


"Lebih tua lagi Pak Steven kali daripada dia, tapi aku dengar dari Pak Rizky ... katanya pacarnya seumuran Sisil. Kok dia mau, ya, sama Pak Steven."


"Dia 'kan kaya, Al. Ganteng dan banyak uang. Siapa perempuan yang nggak suka sama pria seperti itu?"

__ADS_1


"Ah tapi tetap saja tua. Yang lebih muda 'kan banyak yang ganteng dan banyak uang."


...Malah ghibah lagi nih orang berdua 🙈 mana ghibahin bos baru. Semoga telinga Om Ganteng nggak berdengung, ya 🤣...


__ADS_2