Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
70. Gemes-gemes


__ADS_3

"Kenapa saya nggak boleh masuk, Bu?" tanya pria yang kini tengah menghentikan langkahnya. Dia adalah Gugun. Pria itu memegang parsel buah dan buket bunga mawar.


Sindi berjalan menghampirinya. "Tadi baru saja ada yang ingin menjahati Steven. Dua orang perawat pria tapi aku sendiri nggak tahu mereka siapa," jelasnya.


Gugun tampak terkejut, matanya mendelik sebentar. "Serius, Bu? Dijahati bagaimana? Terus keadaan Pak Steven bagaimana?" Gugun memiringkan kepalanya untuk bisa melihat keadaan Steven.


"Dia baik-baik saja, untungnya kejadian itu nggak sempat terjadi."


"Memang mereka menjahati Pak Stevennya bagaimana?" Gugun masih penasaran pada pertanyaan yang belum terjawab.


"Mereka ingin menyuntikkan racun ke dalam tubuh Steven," jelas Sindi yang mana membuat Gugun terkejut. Matanya membulat sempurna.


"Astaga, jahat sekali mereka. Nanti saya akan cari tahu."


"Nggak perlu," tolak Sindi dengan gelengan kepala. "Aku akan menghubungi Sofyan anakku, temannya seorang polisi. Biar dia yang akan mencari tahu."


"Eeemm baiklah."


"Aku bilang kamu dilarang masuk, Gun!" tekan Sindi. Dilihat Gugun malah hendak melangkah lagi.


"Tapi alasan saya nggak boleh masuk apa? Saya 'kan nggak berniat menjahati Pak Steven?"


"Tapi aku nggak percaya padamu, pokoknya mulai sekarang ... hanya aku, Pak Angga dan Fira saja yang boleh masuk menjenguk Steven. Kamu 'kan bukan keluarganya, jadi kamu nggak boleh masuk. Sekarang pergi dari sini." Sindi mengibaskam tangannya hingga membuat Gugun mundur beberapa langkah.


"Tapi Nona Fira 'kan bukan keluarganya juga, dia hanya sekertaris."


"Kata siapa? Fira itu calon istrinya Steven. Setelah dia sadar nanti ... mereka segera melangsungkan pernikahan."


'Menikah?' Gugun menggeleng cepat. 'Ah nggak. Pak Steven harus berpisah dulu sama Nona Citra, baru dia boleh menikah.'


"Kenapa masih diam saja? Pergi sana, Gun!" usir Sindi dengan nada yang agak tinggi.


"Ya sudah, tapi ini tolong diterima, Bu." Gugun memberikan apa yang dia bawa ke tangan Sindi. Wanita paruh baya itu langsung mengambilnya.


Setelah melihat Gugun pergi, parsel buah dan buket bunga itu langsung Sindi masukkan ke dalam tong sampah. Bukan karena dia tidak suka dengan apa yang dibawa Gugun, tetapi Sindi merasa takut jika apa yang pria itu bawa mengandung racun yang akan membahayakan Steven nanti. Sindi merasa sekarang tak bisa mudah percaya pada orang lain.


***

__ADS_1


"Kok Om cepat? Apa Om Ganteng belum sadar, ya?" tanya Citra saat melihat Gugun masuk ke dalam mobil. Mereka memang datang berdua, tetapi Citra sengaja menunggu di mobil karena tak mau bertemu Sindi.


"Belum, Nona." Gugun menggeleng.


"Tapi baik-baik saja 'kan Om Gantengnya? Om tadi di sana ketemu siapa saja? Apa ada Safira dan Mama Sindi?" tanya Citra penasaran.


"Hanya Bu Sindi saja."


"Tapi bunga dan buah dariku Mama Sindi terima 'kan Om?"


"Iya, dia menerimanya." Gugun mengangguk, lalu menyalakan mesin mobilnya. Dia merasa masalah tadi Citra tak boleh tahu, sebab nantinya gadis itu akan tambah memikirkan Steven. Yang dia mau—Citra harus membiasakan diri hidup tanpa pria itu. 'Kalau aku nggak boleh menemuinya, berarti Nona Citra juga dong. Ah nanti aku cari cara deh.'


***


"Lho, apa itu? Kok dibuang?" tanya Angga yang baru saja datang di depan kamar Steven, dia melihat seorang OB tengah membawa keluar tong sampah yang berisi buket bunga dan buah.


"Jangan diambil, Pa!" tekan Sindi saat melihat suaminya hendak meraih buket bunga.


"Kenapa? Itu bunganya cantik kok dibuang, sih?" Angga tidak jadi mengambil dan membiarkan OB itu berlalu pergi.


Mata Angga terbelalak. "Serius, Ma? Sampai bunga juga dikasih racun? Tega sekali orang itu!" Angga mengepalkan kedua tangannya. Kebetulan disaat Angga menaiki mobil bersama asistennya, Sindi mengirim pesan. Memberitahu semua kejadian yang telah terjadi.


Perlahan pria paruh baya itu langsung mendekati istrinya, dia merangkul dan mengajaknya untuk duduk bersama.


"Mama juga bingung. Kok ada, ya, orang yang jahat sama Steven. Padahal Papa 'kan tahu sendiri dia anaknya baik hati." Air mata itu kembali mengalir, Sindi menangis dalam pelukan suaminya.


"Mama sudah lapor polisi belum? Nanti Papa sewa bodyguard juga supaya mengawasi Steven di sini."


"Mama tadi telepon Sofyan. Katanya temannya seorang polisi. Kalau bodyguard Papa sewa saja yang banyak."


"Oke deh." Angga menatap Bejo yang tengah berdiri mematung di ambang pintu. Lantas dia pun melambaikan tangan padanya.


"Kamu jangan masuk Bejo!" tahan Sindi. Pria itu langsung menghentikan langkahnya.


"Dih, Bejo asisten Papa, Ma."


"Tapi dia orang lain. Kan Papa tahu, Mama sudah bilang kalau hanya keluarga saja yang boleh menjengkuk Steven."

__ADS_1


"Tapi Bejo sudah Papa anggap keluarga. Papa percaya dia." Angga kembali melihat ke arah asistennya dan mengibaskan tangannya. "Sini kamu!"


Dengan ragu-ragu Bejo menghampiri.


"Pijat bahuku, Jo. Pegal nih. Aku mau telepon seseorang," katanya seraya menepuk bahu. Pria itu hanya menghela napas, padahal dia kira ada sesuatu yang penting hingga memanggilnya. Perlahan dia pun menyentuh bahu sang bos, kemudian memijatnya pelan-pelan. "Duh, nomornya si Jarwo mana lagi, nih!" Angga menggaruk rambut kepalanya, melihat kontak hape yang hanya berisi nomor istrinya dan Bejo saja.


"Jarwo siapa?" tanya Sindi.


"Dia bodyguard, Ma. Yang dulu Papa sewa untuk mengawasi Nella."


"Tapi hape Bapak 'kan dijambret, Pak. Itu hape baru mangkanya nggak ada nomor Pak Jarwo." Bejo memberitahu, dia yakin jika bosnya yang pikun itu pasti lupa.


"Ah iya, aku lupa." Angga manggut-manggut. "Eemm ... Mama sekalian bilang sama Sofyan deh. Minta sewakan bodyguard," titah Angga pada istrinya. Sindi mengangguk kemudian menghubungi anaknya lagi.


"Eh, Pa. Coba lihat ini ... menurut Papa bagus yang mana?" Sindi memberikan ponselnya ke tangan Angga, menunjukkan beberapa pasang cincin kawin. "Setelah Steven sadar ... Mama mau dia dan Fira langsung menikah, Pa. Tadi Mama juga sudah menghubungi penghulu yang bisa siap menikahkan Steven kapan saja."


"Masa orang baru sadar langsung disuruh ijab kabul? Capek dong, Ma. Nanti saja, jangan buru-buru." Angga menggelengkan kepala.


"Ya nggak langsung, tapi besoknya saja."


"Tadinya Papa mau kenalkan Steven sama Dedek Gemes dulu. Siapa tahu Steven mau."


"Papa sudah deh nggak usah ngelantur. Baru ketemu sekali masa sudah mau dijadikan menantu?"


"Papa ketemu dia dua kali, Ma."


"Tapi Papa 'kan belum tahu asal usulnya, Papa juga tahu sendiri kriteria istri idaman Steven seperti apa dan menantu idaman Mama kayak apa. Semuanya sudah ada didiri Fira."


"Istri mah asal bisa goyang di ranjang itu sudah cukup sih menurut Papa."


"Yakin goyang doang? Papa 'kan doyan makan dan nggak mau makan kalau bukan Mama yang masakin. Memangnya Papa nggak mau dimasakin menantu dari Steven?"


"Masak mah bisa belajar, Ma. Mama juga awal menikah sama Papa pas masih gemes-gemesnya. Mungkin cebok juga belum bersih kali."


"Sudah deh, Pa. Papa ini semakin tua makin ngelantur ngomongnya. Mama 'kan minta suruh pilihin cincin, tapi Papa malah bahas Dedek Gemes. Mama bosen tahu nggak!" gerutu Sindi marah. "Gemes-gemes, masih gemesan Mama kemana-mana kali!" tambahnya sambil memanyunkan bibirnya.


...Yakin lebih gemesan Ibu? 🤣...

__ADS_1


__ADS_2