Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
318. Deg-degan


__ADS_3

Malam hari di kamar Tian.


Nissa tengah berbaring seorang diri di atas kasur, sambil tertawa cekikikan melihat tayangan video yang Baim kirim.


Aksi suami dan anaknya saat ngamen sukses membuatnya tertawa bahagia. Dia juga tak menyangka, jika Juna bisa sebahagia itu hanya karena ngamen di lampu merah.


Ceklek~


Pintu kamar mandi dibuka oleh Tian. Dia pun melangkah keluar bersama Juna yang tengah digendong. Mereka berdua habis gosok gigi seusai makan malam.


"Lihat apa kamu, Yang? Kok kayaknya seneng banget?" Tian menurunkan Juna di atas kasur, bocah itu langsung mendekat ke arah Nissa dan berbaring di sampingnya.


"Ini, si Baim kirim video kalian ngamen. Celanamu bagian bokong robek tahu, Yang," kekeh Nissa. Dia memperlihatkan layar ponselnya ke arah Tian yang baru saja duduk di samping Juna.


Tian mengambil ponsel Nissa, lalu melihat video itu. Asli, dia langsung tertawa terbahak. Merasa konyol dan malu dengan tingkahnya sendiri.


"Hahahaha ... aku kayak orang gila ya, Yang," ucap Tian sambil menyentuh perutnya yang bergetar karena tawanya.


"Iya, konyol, sih. Di mana-mana ngamen itu joget, ini kamu malah silat. Si Juna juga ngapain coba lompat-lompat?" kekeh Nissa. Sangking merasa lucu, dia sudut matanya sampai berair.


"Untungnya tadi ada Pakde lho, Mi," ucap Juna menatap Nissa.


"Pakde ada di sana?"


"Iya, pas ada polisi nyamperin. Dua polisi." Juna memamerkan dua jarinya ke udara. "Mereka melarang kami ngamen dan sempat ingin mengambil uang hasil ngamen kami. Tapi untungnya Pakde datang dan sepertinya dia kenal sama Om Polisinya, Mi," jelasnya.


"Lalu, apa yang Pakde lakukan untuk menolong kalian?" tanya Nissa penasaran.


"Juna nggak tahu jelas, tapi mereka sempat mengobrol. Terus habis itu Om Polisi ngizinin kami untuk ngamen lagi, Mi. Sampai jam 5."


"Syukurlah. Tapi besok-besok kamu nggak boleh minta Papi untuk ngamen lagi, ya? Nanti bisa dimarahi Pak Polisi," tegur Nissa seraya menoel hidung mancung anaknya. Juna langsung mengangguk cepat.


"Udah sekarang kamu tidur. Ayok, Jun, ini sudah malam dan besok Senin, kamu sekolah," ucap Tian seraya berbaring, lalu memberikan ponsel Nissa ke pemiliknya.

__ADS_1


"Iya, Pi." Juna langsung berbalik badan menghadap Tian, perlahan dia mendekat dan memeluk tubuhnya. "Oh ya, Pi. Besok kita langsung ke panti asuhan terus ke rumah Om Dono, kan?"


"Habis kamu pulang sekolah saja, ya, kalau pagi-pagi 'kan toko emas belum buka," jawab Tian.


"Memangnya mau apa, Yang?" tanya Nissa.


"Hasil ngamen tadi, mau disumbangkan ke panti asuhan, Yang. Terus Juna bilang kepengen beliin Silvi anting. Katanya dia nggak pakai anting."


"Oh bagus itu, memang harus berbagi." Nissa tersenyum sembari mengelus rambut anaknya.


Pelan-pelan tangan Tian mengelus punggung kecil Juna, supaya memberikan rasa kenyamanan dan membawanya cepat tidur.


Nissa perlahan berbaring miring ke arah Tian, lalu menarik selimut di atas perut. "Habis ini jadi 'kan, Yang?" tanya Nissa berbisik. Suaranya itu sangat pelan dan bibirnya berbicara hampir menempel di telinga Tian.


"Jadi ke mana?" tanya Tian bingung.


"Masa kamu lupa? Tadi pagi bukannya kamu bilang iya."


"Tadi pagi?!" Alis mata Tian tampak bertaut, dia terdiam sebentar mengingat-ingat tentang hal apa yang dia lupa tadi pagi. "Apa, sih, itunya, Yang? Coba ngomong sekarang."


"Yang ...," panggil Tian pelan. Akan tetapi tak ada sahutan. Setelah melihat Juna terlelap, pelan-pelan dia pun menarik tubuhnya untuk bangkit. Lalu berpindah di dekat Nissa dan membelai pipi kanannya dengan mesra.


Wanita itu belum tidur, tapi bibirnya masih manyun.


"Kamu kenapa? Jangan marah dong, Sayang." Tian mendekatkan bibirnya, lalu mengecup bibir Nissa yang merah. "Ada apa? Coba ceritakan," bujuknya lembut.


"Ini lho, Yang. Masa lupa?" Nissa mendengkus. Akan tetapi tangan kanannya meraba inti tubuh Tian yang menggembung dari balik celana. Dari luar saja dia merasakan kerasnya benda itu, apalagi kalau sudah dibuka?


"Oh. Bercinta maksudnya?" tanya Tian sambil terkekeh. Nissa hanya mengangguk dengan wajah yang merona.


"Ya sudah, ayok sekarang. Mau pakai karpet dulu atau nggak?" tawar Tian. Kedua kakinya itu sudah turun dari ranjang.


"Nggak usah. Mau sambil berdiri saja aku, Yang."

__ADS_1


"Oh. Oke deh kalau begitu." Tian perlahan membungkuk hendak meraih tubuh Nissa, akan tetapi wanita itu menahannya.


"Minum susu dulu, aku sudah buatkan untukmu." Nissa menunjuk segelas susu di atas nakas. Dia sampai lupa memberikan itu tadi karena asik nonton video.


"Susu apaan ini?" Tian meraih gelas tersebut, lalu menenggaknya sampai tandas. Akan tetapi rasanya hambar, tidak semanis susu biasanya.


"Itu susu energi buat pria. Supaya kamu kuat nggak keluar duluan."


"Aku nggak perlu minum itu juga sudah kuat, Yang."


"Tadi pagi kamu keluar duluan. Jadi mengantisipasi saja."


"Kapan kamu beli?" Setelah menaruh gelas kosong di atas nakas, Tian pun membungkuk untuk meraih tubuh Nissa. Dia menggendongnya lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


"Sudah lama, tapi baru nyampe tadi sore. Soalnya aku beli lewat online."


Tian menurunkan tubuh Nissa di dekat kloset, lalu dia langsung menyambar bibirnya. Memberikan lumaatan yang begitu kasar dan penuh gairah.


Nissa yang tampak agresif itu langsung merogoh kolor sang suami. Dan langsung memainkan benda panjang nan besar itu sesuka hati.


Mereka melakukan pemanasan sebentar sambil nunggu minuman yang Tian konsumsi mengeluarkan efeknya. Setelah itu barulah mereka bergulat di dalam sana.


***


Keesokan harinya.


Tian dan Nissa duduk di kursi, di bawah payung tenda yang sebelumnya sudah Tian siapkan.


Mereka ada di makamnya Tina. Sehabis mengantarkan Juna ke sekolah—keduanya datang ke tempat pemakaman umum. Nissa juga ingin melihat proses makam itu dibongkar.


Tian sudah menyewa jasa penggali kubur. Dua di antaranya orang yang kemarin dan dua lagi dia sewa penggali kubur pada tempat pemakaman umum di tempat almarhum Danu.


Ada mobil ambulan yang Tian sewa juga, sudah terparkir rapih di dekat area kuburan. Selain itu, Tian juga membeli peti kecil untuk anaknya. Karena dia berpikir ukuran anaknya itu pasti sangat kecil, akan jauh lebih baik jika dia dimakamkan kembali dengan dimasukan ke dalam peti.

__ADS_1


"Yang, kok tiba-tiba aku deg-degan, ya?" ucap Tian seraya menoleh ke arah Nissa sembari menyentuh dadanya. Bukan hanya sekarang saja dia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, tetapi sejak tadi pagi. Dia juga merasa ketakutan entah karena apa sebabnya.


^^^Bersambung....^^^


__ADS_2