
Setelah merogoh ke dalam amplop. Angga pun mengambil salah satu buku tersebut.
Jantungnya makin berdebar kencang kala melihat buku itu ternyata memang buku nikah, warnanya hijau tua. Perlahan tapi pasti, Angga pun mulai membukanya.
Dan setelah dibaca, seketika matanya terbelalak. Kaget melihat tulisan yang ada di sana dan perlahan bola matanya berkaca-kaca.
"Coba Mama lihat." Sindi merebut buku itu dari tangan Angga, lalu dia pun membaca isi di dalamnya.
Tiba-tiba, Angga langsung memeluk tubuh Sindi dari belakang. Kemudian menempelkan wajahnya ke bahu kiri dan tak lama terdengar isakan tangis. Angga menangis. Meskipun pelan, tetapi dapat didengar mereka yang ada di sana.
'Ini sih benar-benar patah hati namanya. Si Steven tega banget, nikahin Dedek Gemes tanpa sepengetahuanku. Mana sudah tiga bulan yang lalu lagi,' batinnya dengan sedih, dada Angga terasa sesak.
"Papa nangis?" tanya Sindi. Dia merasakan baju tidur pada area bahunya basah.
Mendengar itu, Angga bergegas mengusap air matanya lalu menggeleng cepat.
"Nggak kok," elaknya.
"Kenapa Papa nangis?" Sekarang yang bertanya adalah Steven. Pria tampan itu menatap lekat manik mata Angga, wajah merah dan mata beceknya tak dapat berbohong kalau pria tua itu memang habis menangis. "Oh, apa Papa nggak suka setelah tahu aku dan Dedek Gemes sudah menikah?" tanyanya penuh selidik.
"Bukan nggak seneng, Papa seneng kok," jawab Angga. "Papa nangis itu karena Papa sedih, kamu kok menikahi Dedek Gemes nggak bilang-bilang sama Papa dan Mama dulu? Harusnya bilang dong, restu orang tua 'kan penting, Stev."
Sakit dan kecewa memang, tetapi ada perasaan lega di dalam hati Angga. Lega karena Steven sudah melepas masa lajangnya, bahkan sejak 3 bulan yang lalu.
'Apa ini artinya aku harus merelakan Dedek Gemes untuk Steven? Kalau memang mereka saling mencintai apa boleh buat. Mungkin ini yang dinamakan cinta tak harus memiliki,' batin Angga sembari membuang napasnya secara perlahan.
"Iya, kenapa kamu dan Citra menikah secara diam-diam?" tambah Sindi. Sebenarnya dia begitu kesal melihat sikap Angga, ingin marah juga. Tetapi untuk saat ini, dia tunda dulu, sebab rasanya hubungan di antara Steven dan Citra jauh membuatnya penasaran.
"Masalah itu besok saja deh dibahas, sekarang aku dan Citra mau istirahat. Ngantuk." Bukan Steven tak mau membasah sekarang, tetapi akan panjang nantinya. Dia sudah tak sabar ingin mengagahi Citra, miliknya di dalam sana sudah meraung-raung. Ingin masuk ke dalam sangkar.
__ADS_1
"Ceritakan sekarang! Jangan tunggu nanti-nanti!" tegas Sindi. Dia menahan Steven yang hendak bangkit dari duduknya.
"Ceritanya akan panjang dan masalahnya ini sudah malam, Ma," kata Steven dengan wajah frustasi.
"Ambil intinya saja dan sekarang sudah pagi. Bukan malam lagi." Sindi menunjuk jam dinding besar yang menempel di tembok. Di sana menunjukkan pukul dua. "Tanggung, kita begadang saja sampai pagi," imbuhnya.
"Mama nggak ngerti ih, aku mau buka puasa!" protes Steven kesal. Dia berusaha menarik tangan Sindi yang baru saja mencengkeram lengannya.
"Buka puasa apaan? Ini bukan bulan puasa, Stev! Cerita sekarang!" seru Sindi dengan penuh penekanan.
Steven mengusap kasar wajahnya. Sekilas dia menoleh ke arah Citra, gadis itu tampak diam dan begitu santai. Tidak seperti dirinya yang sudah gelagapan, bahkan sekujur tubuhnya terasa bergetar dan kepalanya berkunang-kunang.
"Setidaknya biarkan aku nyusu dulu, Ma. Biar kepalaku nggak pusing," pinta Steven dengan memelas.
"Bi! Bibi!" teriak Sindi memanggil Bibi pembantu yang berada di dapur. Tak lama wanita berdaster berlari menghampirinya.
"Ada apa, Bu?" tanya Bibi pembantu.
Steven mengerucutkan bibirnya, tampaknya Sindi tak paham dengan arti menyusu yang dia maksud. 'Bukan susu di dalam gelas yang aku mau, tapi susu di dalam behhanya Citra. Mama nggak peka!' gerutunya dalam hati.
Tak lama dua gelas susu hangat itu tersaji di atas meja di depan Steven dan Citra. Gadis itu pun segera mengambilnya sebab perutnya terasa lapar.
Dari siang, hingga sekarang, dia belum makan dan minum.
"Apa aku boleh langsung meminumnya, Ma?" pinta Citra sambil menatap Sindi. Wanita tua itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Dan segera Citra menenggak susu putih itu bahkan sampai habis tak tersisa.
"Ayok ceritakan, kenapa bengong?" tanya Sindi yang masih penasaran. Dia menatap serius ke arah Steven yang sejak tadi bengong menatap Citra.
Steven terhenyak, kemudian membuang napasnya dengan kasar. "Aku menikah dengan Citra secara mendadak, Ma, Pa. Mangkanya aku nggak cerita sama kalian."
__ADS_1
"Kan bisa besoknya setelah menikah kamu cerita. Tapi kenapa kamu nggak cerita, Stev? Dan apa alasanmu bilang kalau Citra itu pacarmu, bukan istri?" tanya Sindi.
"Itu terlalu rumit untuk dijelaskan. Ini mengenai sebuah janjiku pada Ayahnya Citra, Ma."
"Janji apa?"
"Janji kalau dia memintaku untuk merahasiakan pernikahanku dengan Citra. Dia yang memintaku untuk menutup mulut," jelas Steven.
Citra membelalakkan matanya, hatinya mendadak sakit. 'Ayah? Jadi Ayah juga meminta untuk merahasiakan pernikahan aku dan Om Ganteng?' batin Citra. 'Lagi-lagi Ayah tega padaku.'
"Kenapa begitu?" tanya Sindi penuh selidik. "Alasan untuk menutupi pernikahan itu apa? Dan kamu 'kan masih punya orang tua, itu berdosa namanya kalau berbohong."
"Aku hanya menuruti permintaan terakhir dari Ayahnya Citra, Ma. Dia membuat perjanjian semacam ...." Ucapan Steven menggantung seketika, dia teringat akan ucapan Danu yang mengatakan kalau perjanjian itu tak boleh diberitahu oleh siapa pun.
Beberapa saat Steven terdiam. Akan tetapi, bukankah janji itu telah batal? Karena Steven yang melanggarnya.
Dan dengan begitu apakah dia bisa memberitahu kepada orang tuanya bahkan kepada Citra juga? Steven bertanya-tanya dalam hati, boleh tidaknya dia berkata jujur.
"Membuat perjanjian apa? Dan siapa ayahnya Citra? Apa Mama kenal?" tanya Sindi yang makin penasaran.
"Stev!" seru Sindi. Sejak tadi Steven masih terdiam dalam lamunannya.
Pria tampan itu langsung terhenyak, lalu menggelengkan kepala. "Maaf, Ma. Tapi masalahnya perjanjian itu nggak boleh diberitahu oleh Ayahnya Citra. Itu amanahnya sebelum meninggal."
Rasanya berat untuk jujur, dia takut dan tak berani mengungkapkannya.
"Kok begitu?" Kening Sindi mengerenyit. "Tapi Mama penasaran. Dan sekarang, kamu berumah tangga dengan Citra serius atau nggak sebenarnya? Kalau memang kamu menikah tanpa cinta dan kamu nggak mencintai Citra, lebih baik kalian bercerai saja."
...Ayok jujur Om, jangan nangung-nangung. Biar puas buka puasanya nanti 😁...
__ADS_1
...Maaf ya, Guys, kalau nunggu lama. Mau up dari pagi sebenarnya. Tapi akunya lagi patah hati 😣 semuanya tak sesuai harapan 🥲...
...Nanti sore aku usahain up lagi 🤧...