Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
231. Takut ditikung


__ADS_3

'Juna kok sama Tian jadi akrab banget kayak gini. Tapi, aku seneng lihatnya,' batin Nissa.


"Om kerja di mana sekarang?" tanya Juna.


"Di kantor, Jun. Baru kemarin Om diangkat jadi CEO."


"Wah, bagus tuh, Om. Semoga dengan begitu Om Tian nggak kere lagi, ya?"


"Amin."


Juna menoleh ke arah Nissa, bola matanya sontak melebar kala melihat wanita itu menitihkan air mata. Entah karena apa, namun bocah itu segera turun dan menghampirinya.


"Mami kok nangis? Kenapa, Mi?" Tangan kecil Juna terulur untuk mengusap air mata di pipi Nissa. Wanita itu pun langsung memeluk tubuhnya.


"Mami nggak apa-apa, Sayang."


Tian mengerutkan dahi. Dia terlihat heran dengan Nissa yang tiba-tiba menangis. "Kamu ada masalah, Nis?" tanyanya penasaran.


Nissa menggeleng dan tersenyum. Dia menangis bukan lantaran sedih, tapi bahagia karena melihat anaknya bahagia.


Momen yang mereka lakukan tadi benar-benar momen yang langka. Sebab Juna jarang sekali dipeluk atau mengobrol santai dengan Papinya. Pria itu seolah sibuk dengan hidupnya sendiri.


"Kalau nggak ada masalah, jangan menangis. Aku nggak suka melihatmu menangis."


"Memang kenapa?"


"Kan aku sudah bilang, kalau kamu itu jauh lebih cantik kalau sedang tersenyum ketimbang menangis."


"Ah gombal kamu, Ti." Nissa melepaskan pelukannya, lalu mencium kening Juna.


"Masa gombal, kan aku jujur." Tian tersenyum dengan wajahnya yang bersemu merah. Dia yang menggombal dia pula yang merasa berdebar. "Tanya Juna kalau nggak percaya."


"Iya, Mami lebih cantikan tersenyum." Juna menangkup pipi Nissa dan mengusap matanya yang masih basah. "Tapi Mami lagi ngapain aja cantik, sih. Eh, tapi kalau lagi ngomel Mami jelek ah. Juna nggak suka." Menggeleng dengan wajah cemberut.


"Memang kamu sering diomelin Mami, Jun?" tanya Tian. Bocah itu menoleh ke arahnya.


"Sering sih nggak. Cuma kadang-kadang, Om."


"Alasannya apa?"


"Banyak. Tadi pas di rumah sakit saja aku diomelin, padahal cuma mau lihat burungnya Om Rama."


Nissa langsung terbelalak mendengar apa yang Juna sampaikan.


"Jun, kan kata Mami jangan bahas Om Rama!" tekannya mengomel.


"Tuh, kan, Om. Mami ngomel lagi." Juna berlari menuju Tian, duduk lagi di sampingnya.


"Om Rama itu siapa? Dan kenapa kamu mau lihat burungnya? Itu 'kan nggak sopan namanya."


"Kenapa nggak sopan? Aku cuma mau lihat doang kok burungnya berdiri apa nggak. Soalnya kata Bu Gisel ... burungnya nggak berdiri, Om."

__ADS_1


Nissa berdecak lalu geleng-geleng kepala.


"Kok bisa nggak berdiri? Sakit apa memangnya?" tanya Tian penasaran.


Nissa memilih untuk membereskan bungkusan sisa sarapan mereka, lalu membuangnya ke tong sampah. Dia juga langsung melangkah keluar dari kamar, tidak mau ikut-ikutan membahas burung. Burung Tian saja tadi masih terbayang di otaknya.


"Memangnya burung di dalam celana bisa sakit, Om?" Juna berbalik tanya.


"Bisa."


"Sakit apa? Flu? Apa batuk?"


"Bukan sakit semacam itu. Ada penyakit yang buat dia nggak berdiri. Om juga nggak tahu namanya, tapi pernah denger aja."


"Oh. Tapi burung Om tadi aku lihat berdiri. Kata Mami kalau berdiri tandanya normal."


"Iya." Tian mengangguk.


Juna menurunkan resleting celananya, lalu menyembulkan burung mungilnya yang tengah tertidur itu di depan Tian. Pria itu sontak terbelalak.


"Kamu ngapain? Jangan dibuka, nanti masuk angin dia." Tian menutup burung Juna dengan telapak tangannya.


"Aku cuma mau mengecek dia. Tapi kok Juna merasa aneh, ya?!" Juna memasukkan lagi miliknya, juga membenarkan celana.


"Aneh kenapa?"


"Burung Juna nggak berbulu. Tapi kenapa burung Om berbulu?"


Tian kembali terkejut. Tapi wajahnya itu terlihat merah lantaran malu. "Kenapa bahas burung Om? Tadi bukannya lagi bahas burung Om Rama, ya?"


"Burung orang dewasa memang begitu, Jun. Itu namanya masa pubertas."


"Oh, berarti burung Om Steven sama Om Rama juga berbulu dong, ya?"


"Bisa jadi." Tian mengangguk sambil tersenyum aneh.


"Kalau burung Opa berbulu juga nggak, Om? Opa 'kan sudah tua."


"Coba kamu tanya sama Opa." Lama-lama Tian merasa aneh sendiri, membahas burung dengan Juna. Lebih baik mengalihkan topik. "Oh ya, kamu belum jawab tadi. Jadi siapa Om Rama?" Tian mengelus rambut Juna, bocah itu pun membuka sepatu dan kaos kaki lalu menaikkan seluruh kakinya ke atas kasur. Perlahan, dia menyandar di bahu Tian.


"Om Rama anaknya Kakek Yahya."


"Kakek Yahya itu sapa?"


"Temennya Opa. Om Rama lagi sakit, terus Kakek Yahya meminta Juna dan Mami untuk menjengkuknya."


"Om Rama itu sudah menikah belum?" Mendadak Tian jadi penasaran dengan orang yang bernama Rama. Ditambah papa pria itu adalah temannya Angga. Curiga, takut ditikung.


"Nggak tahu, Om. Juna nggak tanya." Juna menggeleng samar.


"Coba nanti tanya."

__ADS_1


"Tanya ke siapa?"


"Ke Om Rama, atau ke Kakek Yahya atau ke Opamu."


"Iya. Nanti Juna tanyain."


***


Siang hari, Angga dan Mbah Yahya tiba di Restoran Nissa. Selain ingin makan siang bersama, ada hal yang mereka bicarakan juga.


"Ini restorannya Nissa, Ya. Murni hasil kerja kerasnya," kata Angga saat kakinya melangkah bersama Mbah Yahya menuju meja VIP. Mereka pun lantas duduk bersama di sana.


"Hebat banget si Nissa ya, Ga." Mbah Yahya menatap sekitar restoran mewah itu. Merasa takjub dengan kesuksesan yang Nissa miliki. "Udah cantik, baik, banyak uang. Ah itu sih sempurna. Kamu beruntung banget punya anak perempuan satu-satunya seperti Nissa."


"Iya, aku sangat beruntung."


"Permisi, selamat siang Pak Angga. Bapak mau pesan apa?" tanya seorang pelayan pria yang datang menghampiri mereka. Dia menyapa dengan ramah.


Angga memberikan buku menu kepada Mbah Yahya, supaya pria itu memilihnya sendiri.


"Nissa ke mana?" Angga bertanya kepada pelayan itu, sambil menatap sekitar.


"Bu Nissa belum datang dari pagi, Pak."


"Kemana dia?"


"Saya kurang tahu." Pelayan itu menggeleng sambil tersenyum.


"Ini kok nggak ada sayur asem sama ikan asin?" tanya Mbah Yahya saat sudah melihat keseluruhan menu di sana. Wajahnya tampak kecewa, sebab makanan kesukaannya itu hampir semua tak ada di Restoran Nissa.


"Kamu ini aneh, mana ada sayur asem dan ikan asin di sini. Memang kamu pikir warteg?" tukas Angga sambil tertawa.


"Aku kira ada Ga. Tapi aku pengennya itu, bagaimana dong?"


"Kamu belikan ikan asin sama sayur asem di warteg di dekat sini." Angga menyuruh sang pelayan, menatap wajahnya. "Tapi nanti sajikan di piring dan nasinya ngambil di sini saja, ya?"


"Baik, kalau Bapak sendiri mau apa?"


"Sama, belinya agak banyak." Angga sendiri juga sudah lama tidak makan ikan asin. Mungkin sudah bertahun-tahun lamanya, Sindi sendiri tidak pernah masak ikan asin.


"Lalapannya juga, Ga. Terong sama timun, sambel terasi." Mbah Yahya menambahkan.


Pelayan itu langsung mencatat, takut lupa. "Minumnya apa?"


"Es teh manis."


"Es teh manis dua," lanjut Angga.


"Baik, tunggu sebentar ya, Pak." Pelayan itu pamit, lantas melangkah pergi.


"Oh ya, bagaimana pertemuan Nissa dan Rama? Lancar nggak?" tanya Angga. Sebelum makan siang mereka datang, mereka mengobrol santai dulu.

__ADS_1


"Lancar, malah aku inginnya Rama dan Nissa menikah secepatnya, Ga."


...Widih, buru-buru amat Mbah 🤣...


__ADS_2