
Degh!
Jantung Citra terasa berhenti sejenak mendengar kata itu. Dadanya berdenyut ngilu.
Steven menggeleng cepat. "Aku dan Citra nggak akan bercerai! Dan aku sangat mencintai Citra, Ma!" tegasnya.
"Apa kamu juga tahu tentang perjanjian Steven dengan Ayahmu, Cit?" Sindi bertanya pada Citra. Gadis itu pun menggeleng cepat.
"Aku nggak tahu, Ma. Sejak dulu ... aku sudah sering bertanya sama Om Ganteng dan Om Gugun tentang amanah Ayah. Tapi sampai sekarang mereka nggak mau bicara jujur padaku." Air mata Citra seketika luluh, tetapi dengan cepat dia pun mengusapnya.
"Gugun?" Sindi terlihat bingung mendengar nama itu. "Jadi Gugun juga tahu?"
"Iya."
"Gugun itu siapanya Ayahmu?"
"Asisten, dia asisten pribadinya Ayah."
"Gugun yang sebagai asisten dan Steven yang menjadi menantu tahu tentang perjanjian itu, tapi kamu sebagai anaknya nggak diberitahu?"
Aneh, kata itu yang saat ini terbayang dalam otak Sindi.
Citra mengangguk, wajahnya memerah. Dia tampak sedih sekali.
"Tapi dia Ayah kandungmu 'kan, Cit?"
"Tentu saja, Ma!" tukas Steven. "Citra itu anak semata wayangnya. Ayahnya punya alasan tersendiri kenapa dia nggak memberitahu. Dan alasannya adalah untuk yang terbaik, untuk masa depan Citra."
"Amanah Ayah sama sekali nggak baik untukku, Om!" seru Citra dengan dada yang bergemuruh. Mendengar beberapa rentetan pertanyaan dari Sindi, membuat rasa penasarannya sejak dulu kini hadir. Dan baginya, sekarang dia harus tahu segalanya. "Amanah Ayah membuat hidupku berantakan, begitu pun dengan hidup Om! Aku benci dengan sebuah janji yang terus Om sebutkan tapi sama sekali nggak ada alasannya! Aku muak sekali!" Napas Citra memburu dan linangan air matanya tiba-tiba mengalir membasahi pipi.
__ADS_1
Melihat Citra menangis, Steven langsung mengusap air mata di pipi. Tetapi dengan segera gadis itu menepisnya. Dia juga melepaskan rangkulan tangan Steven pada pinggangnya, lalu duduk bergeser untuk menjauh.
Angga sebenarnya ingin beranjak dan menghampiri Citra. Mulutnya bahkan ingin memaki Steven, tetapi salah satu kakinya diinjak kuat oleh Sindi. Juga bibirnya yang cerewet itu Sindi bungkam dengan salah satu tangan.
"Papa diam ditempat atau burung Papa Mama sate!" ancamnya. Suara Sindi pelan, tetapi penuh dengan penekanan. Angga menelan ludah, lalu mengangguk cepat.
'Kasihan Dedek Gemes. Pernikahannya dengan Steven sepertinya rumit. Andaikan saja aku yang mengenal ayahnya Dedek, bukan Steven. Pasti semuanya nggak akan begini,' batin Angga.
"Tapi, Cit. Itu—”
”Aku sudah bosan mendengar seribu macam alasan dari mulut Om!" sergah Citra cepat, menyela ucapan Steven. "Sekarang nggak lagi." Citra geleng-geleng kepala, lalu menyeka air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. "Kalau memang Om masih mau bersamaku, maka jujurlah. Jangan pernah ada yang ditutup-tutupi lagi!"
"Iya, kamu mending jujur saja. Nggak perlu memikirkan sebuah amanah itu lagi." Sindi ikut menyahut.
"Tapi kalau aku jujur bukannya aku akan berdosa? Janji adalah hutang, apa lagi itu janji dari orang yang sudah tiada." Steven menatap Sindi dengan penuh kebimbangan.
"Tapi dengan adanya perjanjian itu pernikahanmu dan Citra jadi nggak sehat, Stev," kata Sindi. "Nggak ada sebuah pernikahan ditutup-tutupi, apa lagi perjanjian itu nggak diketahui oleh Citra. Kamu 'kan berumah tangga dengan dia, bukan dengan Ayahnya."
Dia dan Citra sama-sama perempuan. Dan melihat Citra yang sejak tadi menangis, Sindi ikut terenyuh dan kasihan.
"Nggak, Mama nggak perlu melakukan hal itu." Steven menggeleng cepat. Tidak, dia tidak mau Sindi sampai mewakili untuk menanggung dosa. Itu sangat berat dan dia tak mau menjadi anak durhaka.
Steven pun lantas melipat bibirnya dan membuang napasnya kasar. Perlahan dia pun memejamkan mata. 'Ayah ... apa ini saatnya aku jujur?
'Maaf, kembali hanya kata itu yang bisa aku ucapkan. Ayah pernah bilang saat kita bertemu dimimpi ... kalau perjanjian itu sudah batal. Dan aku boleh meneruskan rumah tanggaku dengan Citra. Tapi Citra butuh kejujuran itu dan kali ini ... sepertinya aku nggak bisa menutupinya lagi. Sekali lagi aku minta maaf Ayah. Aku sayang sama Ayah dan Citra.'
"Malah tidur lagi, istrimu nangis terus itu!" sentak Sindi sambil menepuk kasar paha kiri Steven. Anaknya itu langsung terhenyak dengan mata yang terbuka lebar.
"Iya, iya. Aku akan ceritakan." Steven mengangguk cepat. "Tapi ... ini akan terdengar menyakiti, apa lagi untuk Citra." Steven menoleh ke arah Citra dan tersenyum manis padanya. "Tapi kamu juga harus percaya, kalau itu hanya perjanjian yang sudah berlalu. Begitu pun dengan hatiku. Yang ada sekarang aku sudah sangat mencintaimu, Cit."
__ADS_1
Steven yakin, dengan dia bercerita tentang perjanjian itu—pasti persoalan akan merembet kemana-mana. Sebab itu ada kaitannya dengan alasan dia tak mau mengenalkan Citra kepada orang tuanya. Dan pastinya akan banyak pertanyaan baru yang Sindi berikan nanti.
"Langsung bicara saja, Om. Nggak perlu basa-basi," kata Citra sambil menyeka air mata.
Niat awal ingin membuat gadis itu sedikit meleleh karena pernyataan cintanya, tetapi sepertinya tidak. Sebab Citra ingin bukti dari sebuah cinta Steven dan kejujuran itu masuk ke dalam kategori.
Perlahan Steven pun membuang napasnya. Lalu menatap lekat wajah Citra seraya berkata, "Perjanjian itu adalah perjanjian surat kontrak pernikahan. Seminggu sebelum kita menikah ... Ayah berulang kali terus memohon supaya aku mau menikahimu."
"Aku sering menolaknya, tapi Ayah terus memohon sampai aku sendiri nggak tega untuk menolaknya lagi."
"Tapi ... setelah aku bersedia menikahimu, Ayah justru memberikanku sebuah surat, Cit. Dan surat itu adalah surat kontrak pernikahan."
"Apa itu kontrak pernikahan? Dan apa surat itu ada di dalam map coklat?" tanya Citra. Lagi-lagi ucapan Gugun dia ingat. Momen berak di celana saat mencarinya juga tak mungkin Citra lupakan begitu saja.
Steven mengangguk cepat. "Iya, itu ada di dalam map coklat. Dan kontrak pernikahan itu adalah sebuah pernikahan yang memiliki jangka waktu. Ayah hanya meminta aku menikahimu hanya sampai kamu genap 20 tahun, Cit."
Mata Citra seketika terbelalak. "20 tahun?" Bola matanya seketika kembali berkaca-kaca. "Sebentar sekali, tapi kenapa Ayah begitu tega menginginkan anaknya cepat menjadi janda?"
"Bukan masalah Ayah mau kamu cepat menjadi janda. Tapi pernikahan itu hanya semata-mata ingin menyelamatkan harta warisan."
"Warisan?"
"Iya." Steven mengangguk. "Kamu masih ingat 'kan tentang harta warisan itu? Kalau kamu nggak dinikahi, Ayah nggak akan bisa memberikan harta warisan karena kamu belum genap 20 tahun. Dan sekarang aku yang menjadi walinya, demi menyelamatkan harta warisan itu."
"Dan perlu diingat," imbuh Steven. "Kedua Om-Ommu itu sejak dulu mengincar harta warisan Ayah. Mereka sama sekali nggak ada yang sayang padamu. Dan Itu juga alasan yang kuat untuk kamu dan aku menikah atas keinginan Ayah."
Air mata Citra seketika meleleh, tetapi dia masih terus menyekanya. Rasanya sedih sekali. Kenyataan itu terasa pahit.
...Butuh imun dong, kasih bunga sama kopinya 😭...
__ADS_1
...Ini juga imun buat kalian, Om Ganteng yang imut-imut kaya marmut....