Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
340. Bujuk mereka


__ADS_3

"Nanti Papa bujuk mereka supaya pulang. Sekarang Mama istirahat dulu. Biar Papa yang buatkan teh." Angga mengajak Sindi untuk melangkah masuk ke dalam rumahnya, sambil terus mengusap punggungnya.


"Bujuknya sekarang, jangan nanti," rengek Sindi.


"Habis selesai kondangan, nanti Papa mampir ke apartemen Steven."


"Bujuknya sampai mereka mau pulang ya, Pa?"


"Iya." Angga mengangguk, kemudian mengajak Sindi masuk ke dalam kamarnya. Membantunya untuk berbaring juga di atas kasur.


"Mama mau makan nggak? Apa cuma mau teh manis?" tawar Angga.


"Kalau bukan Kevin yang buat, Mama nggak mau." Sindi menggeleng. "Lagian Mama juga nggak percaya Papa bisa buat teh manis, pasti rasanya nggak enak."


"Ya elah, Ma, buat teh manis mah gampang kali. Orang cuma gula sama teh, sambil merem juga Papa bisa." Angga menepuk dadanya dengan sombong, merasa yakin jika dirinya bisa.


"Mama nggak mau, Mama maunya Kevin yang buat. Sekarang Papa minta ke Bibi saja untuk mengantar makan siang, Mama laper. Mau makan saja." Sindi mengusap perutnya yang tiba-tiba berbunyi.


"Oke Mama Cantik." Angga membungkuk untuk mengecup pipi kanannya, kemudian melangkah keluar dari kamar itu.


***


Sebelumnya....


"Wah, Nona Citra apa kabar? Apa bayi lucu ini anak Nona?" tanya Ajis yang melihat Citra turun dari mobil, dengan mengendong Vano.


Terakhir kali mereka bertemu saat dimana Citra hamil besar.


Awalnya Ajis bekerja hanya menjadi satpam untuk mengawasi Citra saja, tapi ternyata Steven memperkerjakannya cukup lama hingga sekarang. Selain itu dia juga sekarang ikut mengawasi apartemen dan menemani satu satpam yang ada di sana.


"Kabarku baik, Om,' jawab Citra sambil tersenyum. "Dan ya ... ini anakku. Namanya Vano dan yang satunya Varo." Citra melihat ke arah Suster Dira yang baru saja turun dengan menggendong Varo.


"Apa mereka kembar? Ganteng sekali dan mirip Pak Steven."


"Iyalah, orang aku Ayahnya!" sergah Steven. Dia baru saja turun dari mobil lalu mendekat ke arah Citra dan merangkul bahunya. "Ambilkan dua koper di dalam bagasi mobil, lalu bawa ke kamar apartemenku." Menyerahkan sebuah kunci, kemudian Steven melangkah mengajak Citra masuk ke dalam. Suster Dira juga melakukan hal yang sama.


"Kevin, serius kita mau tinggal di sini?" tanya Janet. Dia terbang di samping Kevin, mereka berdua dan kedua anaknya ikut serta mengikuti Steven hingga masuk ke dalam lift.


"Serius, Net. Memangnya kenapa? Kamu tidak mau?"


"Mau." Janet mengangguk cepat. "Tapi memangnya di apartemen Kakak Steven ada sangkar burung, buat kita?"


Iya juga, kenapa si Kevin tidak berpikir ke arah sana?

__ADS_1


Kevin langsung menatap ke arah Steven, wajah pria itu masih masam. "Kakak Steven, nanti saya, Janet, Luna dan Luki ... tidur di mana?"


"Ngapain pusing, kalian 'kan cuma burung. Tidur di lantai kan bisa!" jawab Steven dengan ketus.


"Kamu tenang saja, Vin," ucap Citra sambil tersenyum. "Ada lemari kayu di kamar yang nggak kepake, nanti kamu bisa tidur di sana."


"Lemari itu apa, Nona?" tanya Kevin bingung.


"Nanti aku tunjukkan."


Ting~


Setelah pintu lift itu terbuka di lantai 2, mereka semua lantas keluar. Kemudian masuk ke dalam apartemen Steven yang memiliki ruangan cukup luas dan dua kamar tidur.


Kevin, Janet, Luna dan Luki langsung duduk di sofa panjang. Keempat burung itu tampak bingung mau apa.


"Suster Dira tidur di kamar ini." Steven menunjuk sebuah kamar yang dulunya di tempati Citra ketika mereka belum saling mencintai. Kemudian membukakan pintunya. "Masalah pakaian nanti aku belikan yang baru, jadi nggak usah pulang ke rumah Papa untuk mengambil pakaian," tambahnya.


"Baik, Pak." Suster Dira mengangguk. "Saya tidur sama si kembar atau gimana?"


"Si kembar tidurnya sama aku dan Citra kalau malam, kalau tidur siang bisa sama Suster. Nanti aku pesan tempat tidur bayi dulu." Steven mendudukkan bokongnya pada sofa single, lalu menelepon Dika asistennya.


"Varo dibaringkan ke kamar Aa saja, Sus," ucap Citra. Dia melebarkan pintu kamar sebelahnya. Kamar utama di sana.


Suster Dira mengangguk, kemudian masuk bersama Citra dan bersama-sama membaringkan si kembar di atas kasur. Dua bayi laki-laki yang lucu itu terlihat tertidur pulas.


"Iya, Nona." Suster Dira mengangguk, lalu duduk di atas kasur sambil menepuk-nepuk pelan perut si kembar.


Citra melangkah menuju lemari kayu berukuran sedang yang berisi dua susun. Itu adalah lemari yang dia katakan tadi kepada Kevin. Dia pun lantas mendorongnya hingga keluar kamar. "Kamu mau tidurnya di mana, Vin?" tanyanya menatap Kevin yang masih terbengong.


"Di sana, Nona." Yang menjawab Janet. Dia sambil menunjuk ke arah balkon dengan sayap kanannya.


"Aku tadi telepon Dika, sekalian minta belikan sangkar burung buat mereka, Cit. Jadi nggak usah pakai lemari," ucap Steven. Dia telah selesai menelepon, lalu menoleh ke arah Kevin dan Janet yang terlihat girang mendengarnya. Kedua sayap mereka sampai berkibas-kibas. "Kalian boleh tinggal di sini, tapi jangan songgong, ya! Awas saja kalau songgong dan buat aku emosi, aku jadikan kalian sate!" ancamnya sambil melotot.


"Baik, Kak!" Kevin dan Janet menyahut secara bersamaan.


"Pak Steven, kopernya mau ditaruh di mana?" tanya Ajis yang baru saja masuk dengan mendorong koper.


"Taruh di dalam kamarku. Sekalian juga masukkan lemari itu ke dalam kamar." Steven menunjuk lemari yang berada di depan Citra.


Ajis mengangguk, lalu melakukan perintah Steven.


"Dia namanya Ajis, dia adalah satpam apartemen di sini. Kalau kalian butuh sesuatu ... minta tolong saja padanya," ucap Steven berkata pada Kevin dan Janet. Dua burung itu langsung mengangguk.

__ADS_1


"Apa Ajis tinggal di pos, seperti Om Bejo dan Om Dono?" tanya Kevin.


"Iya." Steven mengangguk. "Ada pos di dekat gerbang pas masuk gedung apartemen."


"Panggilnya jangan Ajis, Vin," tegur Citra. "Tapi Om, biar sopan."


"Baik, Nona." Kevin mengangguk.


***


Malam hari.


Citra duduk di kursi meja rias, sambil menyisir rambutnya. Dia tampak cantik sekali dengan gaun putihnya sebatas lutut. Wajahnya juga sudah full make up.


"Aa kok belum siap-siap? Kenapa belum mandi?" tanyanya seraya menoleh ke arah Steven.


Pria tampan itu tengah duduk di kasur sembari mengajak si kembar bercanda. "Bentar lagi aku mandi."


"Sekarang saja, A. Nanti rendangnya keburu abis."


"Kok ke rendang-rendang. Apa hubungannya?" Steven menoleh ke arah Citra, lalu memperhatikan wajah dan penampilannya. "Kamu mau tidur kok dandan segala? Oh, apa karena mentang-mentang tidur lagi sama aku, setelah sekian lama, ya? Jangan gitu lah, Cit, nanti aku kepengen bagaimana?" Wajahnya langsung bersemu merah. Tentu, dia sangat merindukan momen bercinta. Sudah cukup lama dan si Elang juga sudah berkarat, perlu diasah.


"Bukan mau tidur. Tapi 'kan kita mau pergi kondangan, A."


"Kondangan ke siapa?"


"Ke Om Rama. Kan dia menikah, masa Aa nggak tau?"


"Om Rama siapa, Cit?" Steven masih belum mengerti.


"Anaknya Om Yahya. Dih, katanya senior sendiri. Masa lupa." Citra mendengkus kesal.


"Aku inget, tapi aku baru tau kalau dia menikah sekarang. Soalnya aku nggak diundang." Steven mengerutkan keningnya. Mengingat-ingat, benar tidaknya dia tidak diundang.


"Mungkin lupa, tapi nggak apa-apa. Soalnya aku diundang sama Sisil."


"Hubungannya apa?"


"Dih, Sisil 'kan pengantin perempuannya, A."


"Sisil adiknya si Kumis Lele?"


"Om Gugun namanya, A. Udah cepet mandi, nanti nggak kebagian rendang. Aku juga mau lihat Sisil jadi pengantin."

__ADS_1


"Iya, iya." Sebelum beranjak dari kasur, Steven mengecup kening Vano dan Varo terlebih dahulu. Kemudian melangkah menuju kamar mandi. 'Seriusan, Kak Rama nikah sama adiknya si Kumis Lele?!' batinnya tak percaya. 'Kok mau sih Kak Rama, jadi adik iparnya. Si Kumis Lele 'kan nyebelin orangnya.'


...Jangan lupa vote dan giftnya ya, Guys. Yang rajin ngasih dukungannya, biar aku pun ikut rajin nulisnya 😌...


__ADS_2