Menjerat Hati Perjaka Tua

Menjerat Hati Perjaka Tua
351. Obat supaya orang bisa sakit perut


__ADS_3

Padahal sebenarnya tidak perlu masuk ke dalam ruang ganti. Sebab mencoba seragam pun tak lantas dengan membuka pakaian yang dipakai Juna saat ini.


Akan tetapi, Abi sengaja melakukannya karena ingin memberikan ruang terhadap dirinya supaya bisa berdekatan dengan Juna secara intens.


"Oh ya, Jun, di rumah Papi banyak sekali mainan baru dan PS untukmu lho. Kapan dong kamu main ke rumah Papi?" tanya Abi yang berjongkok sembari memakaikan dasi serta topi merah.


Bocah laki-laki itu terlihat begitu tampan sekali dengan memakai seragam SD. Makin terlihat sudah besar saja.


"Kapan-kapan," sahut Juna malas, lalu melepaskan kemeja putihnya sebab sang pelayan toko datang dengan membawa seragam Pramuka.


"Udah cocok belum yang merah putihnya, Pak?" tanya pelayan itu.


"Cocok." Abi mengangguk kemudian membantu Juna untuk melepaskan seragam merah putih dan kini berganti dengan baju Pramuka. "Besok Papi jemput kamu, ya, biar kamu main ke rumah Papi," bujuknya seraya mengusap pipi.


"Juna nggak mau." Juna menggelengkan kepalanya.


"Kenapa sih kamu nggak mau mulu? Memangnya kamu nggak kangen sama Papi, ya? Sesekali main nggak apa-apa lho."


"Kan sekarang Juna dan Papi sudah bertemu, masa bertemu lagi? Bosenlah!" gerutu Juna. Matanya menatap ke arah celah gorden, memperhatikan Tian yang tengah memandanginya dari jarak jauh sambil tersenyum.


Lama-lama Juna merasa jengah sekali pada tingkah laku Abi, sebab sejak tadi pria itu seakan mengulang-ngulang terus ucapannya, meminta supaya dia main atau pergi bersamanya. Sedangkan sekarang saja mereka sedang bersama.


"Hush! Jangan bilang bosen sama orang tua, Jun!" tegur Abi seraya menutup bibir Juna. Gemas sekali sebenarnya, ingin rasanya bibir lemes itu dia cengkeraman karena merasa jengkel. Tapi Abi tentu tak mungkin melakukannya, apalagi ada Tian.


'Lemes banget sih si Juna ini. Wajahnya saja yang mirip denganku, tapi sifatnya sangat jauh. Dia sudah masuk kategori anak durhaka. Kalau bukan karena harta ... nggak sudi banget aku dekati anak kurang ajar seperti dia,' batin Abi menggerutu dalam hati.


"Udah ah! Juna gerah!" Juna menarik topi Pramuka yang baru terpasang di atas kepala, kakinya hendak melangkah pergi untuk mendekat ke arah Tian. Akan tetapi tangan kanannya langsung dicekal oleh Abi, kemudian secara tiba-tiba pria itu memeluk tubuhnya dengan erat.


"Juna Sayang ... tolong jangan bersikap cuek dan judes seperti ini sama Papi. Papi sedih banget diginiin sama kamu, Nak ...," ucap Abi lirih dan merintih seolah-olah tengah menangis. Kemudian perlahan dia mengusap rambut kepala Juna. "Manusia itu ada berubahnya, ada tobatnya. Nggak melulu jadi jahat, Nak, begitu pun dengan Papi. Tolong hargai Papi sedikit saja ... Juna nggak mau 'kan, kalau dianggap anak durhaka? Apa Juna mau masuk neraka?"


"Kalau Papi nggak mau Juna jadi anak durhaka atau masuk neraka, tolong Papi nggak usah gangguin hidup Juna lagi. Mulai sekarang kita masing-masing saja, seperti dulu. Biarkan Juna bahagia bersama Mami, Papi Tian, Dedek Melati dan Dedek Silvi, Juna mohon ...," pinta Juna dengan sedih. "Papi juga sebaiknya rajin kencingin Aulia, biar dia cepat hamil. Kalau Papi punya anak baru darinya ... pasti Papi akan melupakan Juna. Juna yakin itu."


"Siapa Dedek Melati dan Dedek Silvi?" Bukannya menanggapi ucapan anaknya, Abi justru bertanya perihal nama yang sang anak sebutkan.

__ADS_1


"Dedek Melati itu Dedek bayi diperut Mami, sedangkan Dedek Silvi itu katanya anak Papi Tian dengan istrinya dulu," jelas Juna memberitahu. Dia juga melepaskan pelukan.


Abi sontak membulatkan matanya dengan lebar. Dia tampak terkejut mendengar Juna mengatakan tentang bayi diperut Maminya. "Jadi Mamimu sedang hamil sekarang?"


"Iya."


"Kok bisa? Kenapa cepat sekali," geramnya dengan penuh kecewa. Abi baru tahu tentang hal itu, karena Aulia sendiri kemarin tak mengatakan jika alasan Nissa dirawat karena hamil.


'Bisa-bisanya mereka akan punya anak lagi, sedangkan aku dan Aulia belum berhasil punya anak.' Tatapan Abi tampak kosong, dia betul-betul tak menyangka mendengar penjelasan Juna. 'Dan apa katanya tadi? Dedek Silvi adalah anaknya Tian sama istrinya dulu? Bukannya kata orang-orang Tian itu mandul, ya, karena nikah berkali-kali tapi belum berhasil punya anak. Mangkanya dia selalu ditinggalin istrinya. Tapi kok bisa sih ... ah ini benar-benar nggak adil banget! Pokoknya Juna nggak boleh aku lepaskan!' batinnya bertekad dalam hati.


"Ya bisalah, orang Mami dikencingi mulu tiap hari," sahut Juna. Dia lantas berlari menghampiri Tian dan memeluknya, kemudian memintanya untuk melepaskan seragamnya.


Abi mengepalkan kedua tangannya, lalu berdiri. Dadanya terasa bergemuruh memerhatikan Tian yang saat ini tengah tertawa dengan Juna. 'Aku nggak akan membiarkan semua yang kupunya kamu ambil, Ti. Termasuk kasih sayang Juna. Aku akan mengambil semua hakku,' batinnya.


Seusai membeli dua seragam dengan masing-masing lima stel untuk gonta-ganti, mereka pun akhirnya berpindah ke salah satu toko sepatu dan tas.


Namun sebelum masuk, Juna justru merasa ingin buang air kecil. Sehingga membuatnya refleks menyentuh inti tubuh.


"Ayok Papi—"


"Sama Papi saja!" sergah Abi cepat. Dia langsung menggendong tubuh Juna kemudian berlari membawanya menuju toilet pria terdekat yang ada di sana.


"Jangan lama-lama, ya!" titah Abi seraya menurunkan tubuh Juna di dekat kloset duduk, kemudian melangkah keluar dan menutup pintu.


Juna tampak kesal ketika dirinya dimasukkan ke dalam toilet kemudian ditinggalkan begitu saja. Jangankan untuk membantu membukakan celana, ditemani pun tidak.


Padahal awal dirinya mengatakan ingin kencing karena menginginkan kencing bareng dengan Tian. Tapi gara-gara tingkah Abi semua ekpektasinya hancur.


Juna disini sama sekali tak mau menyia-nyiakan momen, apalagi dia sebentar lagi akan punya dua adik. Pasti suatu saat ada kalanya Tian sibuk dengan adik-adiknya, sehingga membuatnya menjadi membagi kasih sayang.


'Memang harusnya mantan Papi itu nggak ikut! Hari-hariku jadi nggak seru karena ada dia yang menjadi penganggu!' gerutunya dalam hati. Kemudian melangkah keluar dari toilet.


"Ya ampun, kenapa dengan celanamu, Jun? Kok basah?" Abi tampak heran melihat sekujur celana sampai sepatu bocah itu basah kuyup. Dan seketika dia menghirup aroma pesing. "Kamu ngompol? Kok jorok, sih? Kan udah gede!" omelnya sambil menutup hidung.

__ADS_1


"Juna nggak tahan banget tadi, udah gitu resleting celananya susah dibuka. Lagian Papi nggak bantuin Juna tadi, kok malah langsung pergi? Kan tempat kencingnya juga tinggi," celoteh Juna kesal. Dia juga sudah bisa menilai, jika tak ada ketulusan sama sekali yang dilakukan Abi terhadapnya. Tapi anehnya pria itu selalu saja sok baik.


"Kamu yang kencing dicelana kok nyalahin Papi?! Nggak beres banget otakmu!" berangnya sambil melotot, kemudian membuang napasnya dengan kasar "Sebentar ... Papi ambilkan celana ganti."


Abi berlalu pergi sambil terus mengomel, dan tak berselang lama Tian menghampiri sebab dirinya merasa Juna sudah cukup lama di toilet.


"Jun, kamu kok lama, lho ... kenapa dengan celanamu, Sayang?" Tian langsung meralat ucapannya saat melihat apa yang terjadi. Perlahan dia berjongkok lalu meraba celana Juna, padahal sudah menghirup aroma pesing. "Kamu kok bisa ngompol? Apa nggak keburu tadi kencingnya?"


"Iya, Pi. Resletingnya susah kebuka sedangkan sudah diujung tanduk," jawab Juna dengan wajah bersalah.


"Ya sudah nggak apa-apa, ayok ganti celana dulu," ajak Tian dengan lembut.


Dia pun menggandeng tangan Juna, lalu membawanya masuk ke dalam toilet bersama. Tian langsung membantu bocah itu bersih-bersih dan memakaikan celana Pramuka yang dibelinya tadi, yang kebetulan Tian lah yang membawa barang belanjaannya.


"Terima kasih ya, Pi, Papi memang Papi yang terbaik di dunia ini," ucap Juna sambil memeluk tubuh Tian dari belakang. Saat ini pria itu tengah mencuci tangannya di depan wastafel.


"Sama-sama Sayang. Tapi di mana Papi Abi? Kok kamu ditinggal di sini?" tanya Tian heran.


"Nggak tau, dia memang nggak jelas," sahut Juna dengan bibir yang mengerucut. "Oh ya, Papi punya nomornya Om Supir nggak?"


"Punya. Mau apa memangnya?"


"Juna pinjem buat ngirim chat ke dia boleh nggak? Ada yang ingin Juna suruh sama dia soalnya."


"Kan nanti setelah kita keluar dari mall juga ketemu sama dia, Jun, ngapain ngirim chat segala?"


"Ini darurat soalnya, Pi, dan kita habis ini 'kan masih harus ke toko sepatu sama tas, terus belum ke toko emas. Jadi lama dong," ucap Juna.


"Oke deh, tunggu sebentar." Setelah menyeka tangannya yang basah dengan tissue, Tian pun merogoh saku dalam jasnya, kemudian mengambil ponsel dan membuka aplikasi Wh*tsApp. Barulah setelah itu dia mengklik salah satu chatnya dengan sang sopir yang kebetulan masih ada di ponselnya. "Ini, Jun," ucap Tian seraya menyerahkan ponsel. Tidak ada kecurigaan sama sekali dengan apa yang dilakukan Juna, padahal bocah itu akan melakukan misinya.


Juna melepaskan pelukan, lalu meraih ponsel itu dan mulai mengetik-ngetiknya. Isi chatnya adalah. [Om, ini Juna. Juna minta tolong sama Om untuk belikan obat supaya orang bisa sakit perut, terus nanti campurkan ke minuman apa saja. Terus berikan sama Juna, ya, tapi jangan kasih tau siapa pun. Oke?]


...Nakal kamu ya, Jun 😤...

__ADS_1


__ADS_2