
Cukup lama Aldi berdiri di tempat, sembari memikirkan ide. Setelah itu dia pun segera mencari-cari nomor telepon seorang gadis yang sempat dia ajak kenalan di depan kampus.
Mungkin saja dia kenal Udin dan tahu di mana rumahnya, itu akan mempermudahkannya dalam menjalankan misi.
"Halo Nona cantik, selamat malam," sapa Aldi dengan ramah. Ada baiknya basa-basi dulu, biar terkesan manis.
"Malam. Ini siapa, ya?"
"Ini Abang ganteng yang minta nomormu di kampus."
"Abang ganteng yang mana? Abang tukang bakso?"
"Bukan. Masa Abang tukang bakso, ini Abang yang minta nomormu tadi siang masa lupa? Abang pakai kaos hitam, kan sempat berkenalan."
Gadis diseberang sana terdiam beberapa saat, kemudian berkata. "Oh iya. Maaf Bang, aku lupa."
"Nggak apa-apa. Oh ya, kamu kenal Udin Jamaluddin nggak? Anaknya jelek, giginya tonggos dan berkawat sama bau ketek."
"Kenal, dia temanku. Ada apa Bang?"
"Apa kamu tahu juga rumahnya? Abang punya urusan sama dia."
"Tahu. Mau dikirim alamatnya?"
"Ah boleh, boleh, terima kasih ya, cantik. Abang tunggu." Aldi mematikan sambungan telepon, lalu mencium layar telepon itu. Tak lama kemudian chat masuk yang berisi alamat rumah Udin.
Ini sebuah titik terang, segera dia pun menghubungi Ali. Mengajaknya ketemuan di lokasi itu dan memintanya untuk meminjam mobil, tak mungkin juga menculik tanpa menggunakan mobil.
*
*
Ali menghentikan mobil putih yang dia kendaraan di sisi jalan raya saat melihat Aldi ada di sana sedang melambaikan tangan. Segera dia pun turun dan menghampirinya.
"Mana rumahnya, Di?" tanya Ali.
"Itu." Aldi menunjuk dari kejauhan, sebuah rumah kecil yang berada di pinggir jalan bercat hijau. Rumah itu tampak sepi. "Oh ya, bagaimana dengan mobilmu? Apa kata polisi?"
"Sedang mereka urus katanya, agak susah juga soalnya nggak ada saksi mata."
"Terus itu mobil siapa yang kamu pinjam?" Aldi menunjuk mobil putih yang terlihat mahal dan mewah itu.
"Itu mobilnya Pak Angga."
"Dikasih?"
__ADS_1
Ali menggeleng. "Nggak, dia pinjamin. Tapi nggak bayar."
"Wah, baik ya Pak Angga."
"Iya, tapi nyaratnya habis kita menyelesaikan tugas ini ... dia minta kita cari burung Kakatua betina."
"Buat apa?"
Ali menggeleng. "Nggak tahu. Oh ya, beli masker nggak kamu? Nanti mabok lagi kita."
"Ini." Aldi mengambil sesuatu di dalam kresek putih. Kemudian memberikan kepada Ali. Dua buah masker sekali pakai. "Pakai dua sekaligus, Al. Aku juga pakai dua."
Temennya mengangguk, keduanya pun lantas memakai masker. Selain membeli masker Aldi juga membeli obat bius dan sapu tangan.
Tak lama kemudian, seseorang dari pintu rumah itu keluar sembari mendorong motor. Cepat-cepat Aldi dan Ali masuk ke dalam mobil kala orang tersebut adalah Udin.
Lelaki itu mengendarai motornya dengan memakai helm, hanya saja tidak dengan jaket.
"Al, kok aku deg-degan, ya?" ucap Aldi sembari menetesi obat bius ke sapu tangan. Temannya itu tengah mengemudi di belakang motor Udin. Seperti biasa, mereka akan mencari tempat sepi untuk melakukan aksinya.
"Deg-degan kenapa? Takut ketahuan?" tebak Ali yang masih berkonsentrasi. Matanya menatap ke depan.
"Bukan. Tapi takut gagal, kok aku trauma, ya, sama bau keteknya. Sekarang saja sudah enek duluan." Aldi menyentuh perutnya yang tiba-tiba terasa mual kala mengingat aroma Udin. Dan terlihat, kaos yang dipakai lelaki itu sama seperti tadi sore. Aldi yakin—jika Udin pasti belum mandi.
"Kita 'kan pakai masker. Ya semoga sih nggak. Aku juga baru nemu bocah sebau itu. Dan bisa-bisanya Nona Citra temenan sama dia. Dia 'kan cantik."
Ali mengangguk. Selang beberapa menit, akhirnya mereka melintasi jalan raya sepi. Secepat kilat dia pun menyalip motor Udin, kemudian mengeremnya secara mendadak ketika sudah berhasil berada di depan.
Ckiiittt!
Brakk!!
Sayangnya Udin kalah cepat mengerem motor, alhasil dia pun membentur badan belakang mobil dan langsung terjatuh bersama motornya.
Brukk!!
Melihat Udin berbaring terjepit motor sambil meringis, Aldi dan Ali pun bergegas turun dari mobil.
Sembari menahan napas, kedua pria itu berlari menghampirinya.
"Kalian mau apa? dan eemmmppp ..!" Ucapan Udin mengantung kala mulut dan hidungnya langsung dibekap oleh Aldi. Hanya dengan hitungan detik dia pun pingsan tak sadarkan diri.
Ali menatap seluruh tubuh lelaki bau itu. Tak ada yang terluka. Menurutnya aman, hanya saja spakbor motornya pecah dan badan belakang mobil Angga tergores.
Tidak masalah, yang penting sekarang Udin berhasil mereka buat pingsan tanpa kendala meskipun dirinya masih menahan napas.
__ADS_1
Ali membopong tubuh Udin, kemudian memasukkannya ke dalam kursi belakang. Sedangkan Aldi membenarkan posisi motor untuk berdiri. Supaya tak ada yang curiga nanti.
"Pak, kami sudah menculik Udin. Sekarang bagaimana? Ke dokter gigi mana kita bawa?" tanya Aldi saat menghubungi Steven. Mobil yang mereka tunggani sudah melaju tapi belum tahu arah tujuan.
"Aku akan kirim alamatnya, tapi nanti kalian harus bertemu dengan Dokter Ilham Firmansyah. Setelah ketemu ... kalian bilang orang suruhanku," jelas Steven.
"Baik, Pak."
*
*
Mobil putih itu berhenti di area khusus parkiran klinik. Mereka sudah sampai ditujuan.
Klinik itu berpusat di Jakarta Barat. Kliniknya bernama Ilham Dental Clinic, cukup besar dan seperti masih baru. Dilihat dari bangunannya yang tampak bening.
Klinik itu buka dari jam 08.00-22.00.
"Selamat malam, boleh saya bertemu dengan Dokter Ilham Firmansyah?" tanya Aldi yang turun lebih dulu. Dia bertanya kepada seorang satpam yang berdiri di depan pintu kaca.
"Bapak ini siapa? Kalau mau periksa langsung masuk saja dan daftar." Pria berseragam itu membukakan pintu kaca itu untuk Aldi masuk.
Namun, tak lama kemudian keluar seorang pria memakai jas putih. Dia tampan sekali. Tinggi, putih dan agak sipit. Mirip Oppa Korea. Umurnya seusia Steven hanya saja tak memiliki lesung pipi dan memakai kacamata.
"Bapak ini Ali atau Aldi?" tanyanya yang seolah tahu.
"Saya Aldi. Bapak ini ... ah, maksudnya Dokter. Dokter ini Dokter Ilham Firmansyah?" Aldi segera meralat ucapannya kala memperhatikan pakaian yang dipakai pria itu mirip seorang dokter. Tidak sopan rasanya.
"Benar." pria itu mengangguk cepat. "Silahkan bawa masuk Udin, Pak."
"Sebaiknya Dokter pakai masker dulu. Soalnya yang bernama Udin baunya menyengat," saran Aldi.
"Menyengat bagaimana?"
Kening Dokter Ilham mengerenyit. Tak paham dengan maksud Aldi.
Pria berbadan besar itu sudah berlalu pergi menuju parkiran, kemudian tak lama dia kembali dengan bersama Ali yang membopong Udin.
Semerbak aroma ketek itu langsung mengguar mendekatinya, membuat perutnya seketika bergejolak. Segera Dokter Ilham menjepit hidungnya, dan sekarang dia baru paham maksud dari omongan Aldi.
Satpam kliniknya segera berlari pergi, tetapi tak lama dia pun menghentikan langkahnya dan langsung muntah-muntah.
'Si Steven nggak kira-kira, ngasih pasien yang bau comberan. Kalau nggak lihat temen ... nggak mau aku.' Dokter Ilham mendengkus kesal. Dia pun langsung melangkah masuk, kemudian mengantar Ali untuk masuk kesebuah ruangan khusus untuk operasi gigi.
Pria berbadan besar itu langsung membaringkan tubuh Udin di atas ranjang. Dilihat Dokter Ilham sedang memakai masker double 3, begitu pun dengan seorang suster yang ada di sana.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, si Udin mau diapakan ya, Dok?" tanya Ali penasaran.
...Ada yang bisa nebak nggak Udin mau diapain? 😆...