
"Istriku yang kedua, Pak. Dia memang terkena kutil di bokong," jawab Tian. "Awalnya aku dan dia nggak terlalu menganggap serius, tapi setelah diperhatikan ... semakin hari kutil itu makin membesar. Terus, kami coba untuk berkonsultasi ke Dokter. Sampai akhirnya Dokter menyarankan untuk dioperasi."
"Terus, dioperasi?"
"Iya." Tian mengangguk. "Sudah dioperasi tuh, terus selama masa pemulihan ada kali sebulan, kutilnya malah tumbuh lagi, Pak."
"Memangnya sebesar apa kutilnya?"
"Pas dioperasi dia sebesar jempol kaki."
"Jempol kakimu?" Angga menatap kaki Tian yang memakai sepatu.
"Jempol kaki Bapak," jawab Tian sambil menunjuk jempol kaki Angga.
"Memang jempol kakimu dan jempol kakiku lebih gede siapa?"
"Aku nggak tahu. Tapi yang aku ingat sebesar itu kutilnya dulu."
"Gede juga, ya." Angga memperhatikan jempol kakinya sendiri. "Terus, meninggalnya?" Mengangkat wajahnya, menatap kembali Tian.
"Pas mulai tumbuh laginya itu, Pak. Dia bilang sakit banget, terus demam tinggi sampai akhirnya kejang-kejang dan meninggal dunia."
"Bukan kutil kali, Ti, itu mah ...." Nissa menimpali. "Kayak semacam tumor ganas."
"Aku nggak tahu. Tapi Dokternya sendiri cuma bilang itu kutil, Nis. Dan ada rambutnya juga." Tian menatap ke arah Nissa.
"Di mananya?" tanya Sindi.
Juna mulai menguap, lama-lama dia mengantuk mendengar pembahasan yang menurutnya tidak penting itu. Perlahan dia pun mulai memejamkan mata, tetapi lengannya masih melingkar ke perut Tian dan pria itu sendiri mengelus rambutnya.
"Di kutilnya, Bu," sahut Tian.
"Sama istri pertama berapa tahun menikah? Terus istri kedua berapa?" tanya Angga.
"Yang pertama setahun. Tapi yang kedua dua tahun."
"Nggak punya anak kamu dari istri kedua?"
"Nggak." Tian menggeleng. "Belum dikasih."
"Terus istri ketiga?"
"Dia kabur ke Arab, Pak. Awalnya sih dia bilang mau liburan. Eh, tahu-tahu sampai dua bulan nggak pulang-pulang. Dan aku malah mendengar kabar dia menikah sama orang sana," jelas Tian jujur.
"Orang Arab?"
"Iya." Tian mengangguk.
__ADS_1
"Katanya denger-denger orang Arab burungnya gede-gede ya, Ti. Bener nggak tuh?"
"Papa ngapain bahas burung, sih?" Sindi mendengkus kesal. Lagi seru-serunya mendengar cerita Tian tapi bisa-bisanya Angga mulai ngelantur.
"Papa 'kan nanya, Ma. Papa juga denger dari Yahya kok."
"Tapi Tian mana tahu, Papa tanya sama Kak Yahya saja harusnya."
"Mangkanya itu, Papa nggak percaya sama dia. Jadi tanya ke orang lain," ujar Angga.
"Sudah, lanjutkan lagi, Ti," pinta Nissa penasaran. Dia mengabaikan pembasahan burung yang Angga katakan.
"Iya, jadi aku menikah sama dia setahun setengah. Menikahnya juga kemarin siri, dia yang minta sendiri. Jadi nggak ribet ngurus perceraiannya," jelas Tian.
"Sekarang yang keempat," ucap Angga melanjutkan cerita selanjutnya.
"Yang keempat istriku selingkuh, Pak. Yang lebih parahnya dia berselingkuh dengan temanku sendiri."
"Masa, sih?" Angga tampak tak percaya. "Bukan kamu yang berselingkuh? Kan kamu suka main cewek dulu."
"Aku jujur, Pak. Dia memang selingkuh." Bola mata tampak Tian berkaca-kaca. Terlihat jelas kalau apa yang dia katakan adalah sebuah kejujuran. "Kalau masalah aku suka main cewek, itu bukan mempermainkan cewek. Tapi lebih tepatnya jajan. Bapak ngerti 'kan maksudku?"
"Pas kamu masih punya istri 'kan tapi?" tebak Angga.
Tian menggeleng. "Nggak, pas aku sudah menjadi duda. Aku saat itu kesepian, jadi namanya laki-laki dan saat itu aku juga jauh dari agama. Jadi aku menyewa perempuan untuk semalam."
"Pakai k*ndom nggak tuh kamu? Nanti penyakitan lagi. Suka celap celup sana sini, mana bininya banyak lagi." Angga bergidik geli. Mendengar cerita Tian jadi membuatnya jijik.
Ya, meskipun memang itu adalah sebuah aib. Tetapi kalau memang Angga menginginkan dia jujur, Tian akan melakukannya.
"Kecuali kalau sama istri," tambah Tian. "Kalau Bapak takut aku punya penyakit, aku bersedia mengeceknya. Karena alhamdulillah, selama ini aku merasa baik-baik saja. Sakit paling kadang mencret sama batuk, pilek. Ya penyakit biasa gitu."
"Sepertinya memang harus dicek dulu." Angga manggut-manggut. "Tapi kita lanjutkan pernikahanmu yang kelima, itu bagaimana cerainya?"
"Itu sama Fira, alasannya 'kan Bapak sudah tahu. Karena dia memintaku untuk menguras harta Nissa. Aku nggak mau, dan dia memilih untuk meninggalkanku karena saat itu aku juga sedang jatuh. Lagi kere-kerenya."
Angga mengangguk, lantas berdiri. "Sekarang kita ke rumah sakit dulu, cek kesehatanmu. Kalau kamu terbukti sehat, kamu dan Nissa bisa langsung melangsungkan proses ijab kabul."
"Nissa nggak dipestain, Pa?" tanya Sindi menatap Angga. "Kasihan lho, dia. Masa nggak dipestain?"
"Nggak apa-apa, Ma. Aku nggak masalah," ucap Nissa. "Nikahnya sederhana saja, asalkan sah. Lagian, aku dan Tian menikah bukan untuk pertama kali."
"Mama tahu, tapi 'kan tetap harus ada pesta. Ini 'kan pernikahanmu yang terakhir, Nis. Mama berharap begitu," pinta Sindi.
"Kalau nggak, bagaimana pestanya besok saja, Bu?" usul Tian. Yang terpenting baginya adalah ijab kabul. Karena dengan begitu sudah tak akan ada lagi penghalang bagi mereka berdua. "Masalah pesta biar nanti semuanya aku yang urus. Alhamdulillah, memang dananya sudah aku persiapkan bahkan sebelum aku ketuk palu di pengadilan."
"Iya, bener juga, Ma," sahut Angga. Tumben dia menyetujui apa yang Tian katakan. "Nanti besok 'kan kita ada rencana mengundang anak-anak dari panti asuhan, mengadakan syukuran atas lahirnya si kembar ... jadi sekalian saja dengan pestanya Nissa dan Tian."
__ADS_1
"Jadi syukurannya di hotel juga maksud Papa?" tanya Sindi. Suaminya itu mengangguk. "Ya sudah, nanti Mama kasih tahu Steven deh."
"Iya."
***
Di rumah sakit.
Hanya Angga dan Tian saja yang pergi ke sana. Tian diminta untuk melakukan prosedur medical check up oleh dokter ahlinya. Dan setelah tiga puluh menit Tian selesai, mereka hanya tinggal menunggu hasilnya selama beberapa jam.
Sekarang, mereka duduk di kursi panjang di depan ruangan dokter. Di samping mereka ada Bejo yang tengah berdiri.
"Kamu yakin nggak, kalau kamu sehat, Ti?" tanya Angga. Dilihat Tian bersikap biasa saja. Padahal maunya Angga, pria itu minimal panas dingin. Takut kalau hasilnya dia punya penyakit lantaran sering kawin.
"Insya Allah yakin, Pak." Tian tersenyum menatap Angga, dibarengi anggukan kecil.
"Oh ya, aku lupa tanya. Kamu nggak ada kutil, kan?"
"Nggak, Pak."
"Tapi pernah kutilan?"
"Kutilan kayaknya sih belum pernah." Tian menggaruk kepalanya, sembari mengingat-ngingat.
"Saya yang kutilan, Pak." Bejo ikut menyahut sembari membuka telapak tangan kirinya. Ada sebuah kutil pada jari kelingkingnya. Bentuknya kecil dan ada dua.
"Awas hati-hati, Jo. Apalagi kalau membesar. Bisa mati kamu," tegur Angga.
"Kasih obat kutil juga sembuh. Mana mungkin mati," kata Bejo yang tampak tak percaya.
"Ah kamu kalau dibilangin ngeyel. Udah ada bukti, kalau kutil itu penyakit mematikan," tukas Angga dengan mata melotot. Dia berekspresi segarang mungkin. Sengaja, ingin menakut-nakuti Bejo. Sayangnya, pria itu tampak biasa saja.
Setelah menunggu lebih dari 2 jam, bokong sudah merasa panas, akhirnya seorang suster datang menghampiri mereka berdua. Memberikan sebuah amplop putih yang berisi hasil kesehatan Tian.
Angga lah yang membukanya, dan terlihat jelas di sana. Jika tak ada riwayat penyakit apa-apa. Tian sehat walafiat.
"Hebat sih ini, asam urat juga kamu nggak punya," ucap Angga menatap takjub dengan hasil itu.
"Asam urat bukannya penyakit orang tua ya, Pak," kata Tian. Dia memiringkan kepalanya, melihat hasil tersebut.
"Nggak juga, tua muda juga bisa kena." Angga mendengkus kesal. Meskipun dia senang Tian tidak mempunyai penyakit semacam HIV karena sering bergonta-ganti pasangan, tetapi setidaknya dia mau kalau Tian menemaninya mempunyai penyakit asam urat. Sayangnya ternyata pria itu tidak punya riwayat penyakit apa-apa.
Perlahan Angga merogoh kantong celananya untuk mengambil ponsel, lalu menghubungi istri tercinta.
"Halo, Ma," ucap Angga pada sambungan telepon saat sudah diangkat oleh seberang sana.
"Iya, Pa. Kenapa?"
__ADS_1
"Mama sewa jasa perias pengantin sekarang, untuk merias Nissa yang akan melakukan proses ijab kabul. Biar Papa yang urus penghulunya," perintah Angga.
...Cieee Om Tian 🤠otw jadi satu keluarga sama Juna, nih. 🤣...