
"Apa jaminannya?" tantang Angga sambil bersedekap.
"Kalau Fira melakukan tindakan seperti itu lagi, Bapak baru boleh memenjarakannya."
"Maksudmu, aku harus kasih Fira kesempatan untuk memaafkannya, begitu?"
"Iya." Nurul mengangguk cepat.
"Iya, Om. Maafkan aku. Jangan penjarakan aku," ucap Fira pelan.
Angga terdiam sebentar lalu memperhatikan Nurul yang masih terisak di hadapannya. Sesungguhnya dia paling tidak tega melihat seorang perempuan menangis. Apalagi menangis di depannya. Tetapi disisi lain, Angga merasa geram pada tingkah Fira. Yang menurutnya benar-benar sudah tak waras.
"Om akan tetap memenjarakanmu," jawab Angga tegas. Lantas menarik kursi kosong dan duduk di depan meja polisi.
Nurul sontak membulatkan matanya, lalu berdiri sembari menyentuh dadanya yang mendadak terasa ngilu. "Pak Angga, apakah nggak ada satu kali kesempatan untuk Fira? Tolong maafkan dia, Pak. Jangan—" Ucapan Nurul menggantung kala tubuhnya seketika tumbang. Dia merasakan jantungnya sakit sekali.
Bruk!!
Dia langsung jatuh tak sadarkan diri dengan posisi terlentang.
"Mama!" teriak Fira dengan mata yang melebar sempurna. Bejo dan Jarwo langsung melepaskan pergelangan tangan Fira, lalu berjongkok mendekati wanita itu. Fira juga melakukan hal yang sama. "Om, tolong bawa Mamaku ke rumah sakit!" pintanya sambil menangis.
Mau tidak mau, Angga yang hendak menulis laporan itu akhirnya tidak jadi. Dia memilih untuk mengantar Nurul ke rumah sakit terdekat dan tentunya bersama Fira.
Selama menunggu Nurul yang tengah diperiksa di dalam ruang IGD, Fira terus menangis di samping Angga. Wanita itu juga tak segan memeluk tubuhnya, padahal terlihat jelas jika Angga merasa risih.
*
*
Beberapa menit kemudian, akhirnya pintu ruang IGD itu dibuka oleh seorang dokter pria berkacamata. Segera, Angga melepaskan pelukan Fira dan langsung berdiri. Begitu pun dengan Fira.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Mamaku, Dok? Kenapa dengannya?" tanya Fira cemas.
"Mama Anda mengalami serangan jantung, Nona," jawab Dokter itu yang mana membuat Angga dan Fira membulatkan mata.
"Serangan jantung? Tapi Mamaku nggak ada riwayat sakit jantung, Dok."
"Serangan jantung juga bisa dialami oleh seseorang yang tidak mengalami riwayat sakit, Nona. Itu semua karena dia mengalami sebuah guncangan," jelas Dokter itu.
Fira langsung menoleh ke arah Angga, mimik wajahnya tampak kesal. "Ini semua gara-gara Om!" tuduhnya marah.
"Enak saja kamu menyalahkanku. Kamu sendiri yang gila. Kalau kamu nggak bertingkah ... Mamamu nggak akan masuk rumah sakit!" omel Angga yang sama marahnya.
"Kalian nggak perlu berdebat, kondisi pasien sekarang begitu kritis," ucap Dokter itu kemudian masuk kembali.
Mendengar hal itu, tubuh Fira seketika lemas, perlahan dia pun duduk kembali ke kursi.
Angga menghela napasnya dengan berat, lalu melangkah. Akan tetapi, baru saja beberapa langkah dia berlalu hendak meninggalkan Fira, begitu pun dengan Jarwo dan Bejo. Tiba-tiba saja, salah satu kakinya tertahan oleh Fira yang sudah bersujud di sana. Memeluk untuk memohon ampun.
Sayangnya sama sekali, Angga tak melihat air matanya itu sebuah ketulusan dari dalam hati. Fira seperti tengah berdusta.
"Kamu tetap Om penjarakan. Hanya saja tunggu nanti, kalau Mamamu sudah sembuh," jawab Angga. Lantas membungkuk untuk melepaskan kakinya dari pelukan Fira. Kemudian melangkah cepat meninggalkannya.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, merasa geram dengan keadaan. Lantas dia mengusap seluruh air mata yang membasahi pipi. Matanya memperhatikan punggung lebar Angga yang semakin jauh.
'Tega banget Om Angga sama aku. Masa cuma gara-gara aku jatohin kue dan makanan dia sampai menyeretku ke dalam penjara. Benar-benar nggak ada hati nurani! Padahal aku 'kan dulu calon menantunya!'
Fira menarik tubuhnya untuk berdiri, lalu mengambil ponselnya di dalam kantong celana untuk menghubungi Rizky. 'Aku harus beritahu Pak Rizky. Dia pasti akan membantuku.'
***
Sementara itu di rumah Mbah Yahya, pria tua itu menghentikan langkahnya saat melihat Rama berdiri di depan cermin sambil membereskan rambut di dalam kamar. Pintu kamar Rama terbuka agak lebar, jadi dia dapat melihatnya dari luar.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana, Ram? Apa kamu sudah punya gebetan?" tanya Mbah Yahya dengan wajah berseri. Dia melangkah masuk ke dalam kamar sang anak lalu menghampiri pria itu.
Rama menoleh, lalu membenarkan jasnya. Dia memakai stelan jas berwarna biru nevi. Wajahnya tampak segar, rambutnya pun basah seperti habis keramas.
"Aku lupa beritahu Daddy, kalau tadi pagi aku nerima undangan dari Om Angga. Sekarang aku mau pergi ke sana," ucapnya memberitahu.
"Undangan apa? Angga menikah lagi? Kok Daddy nggak tahu?"
"Bukan dia yang menikah, tapi Nissa. Sekarang lagi resepsi di hotel dan kebetulan sekalian mengadakan acara syukuran buat si kembar, anaknya Steven."
Dada Mbah Yahya sontak berdenyut. Sakit sekali hatinya, mendengar Angga yang tega menikahkan anaknya dengan orang lain. Bukan dengan Rama. "Si Nissa jadi menikah sama Tian?"
"Iya." Rama mengangguk. "Undangannya aku taruh di atas meja ruang tamu, Dad. Lihat saja coba."
"Kamu nggak usah datang deh, Ram." Mbah Yahya mendudukkan bokongnya di atas kasur.
"Kenapa memangnya?" Kening Rama mengerenyit. Dia pun menatap wajah sang Daddy yang mendadak sendu. "Om Angga mengundangku dan Daddy. Dua undangan yang aku terima, Dad."
"Iya, tapi nggak usah dateng kamu, Ram. Daddy juga nggak datang. Paling nanti titip amplop saja sama asisten Daddy."
"Lho, kenapa Daddy nggak datang? Bukannya Daddy suka makan makanan orang hajatan, ya? Aku juga mau lihat anaknya si Steven. Katanya kembar, pasti lucu."
Mbah Yahya menggeleng cepat. "Jangan. Nanti yang ada kamu sedih. Pasti kamu jadi kepengen punya anak. Si Angga juga kurang ajar. Bisa-bisanya dia mengundangmu. Padahal dia tahu, kamu calon suaminya Nissa." Mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan yang meremmas kaos putihnya.
"Aku nggak sedih kok. Biasa aja. Aku dan Nissa 'kan memang nggak berjodoh. Kalau Daddy nggak mau datang ya nggak apa-apa. Aku saja yang datang, aku mau lihat anaknya Steven." Rama menyemprotkan parfum pada jasnya, setelah itu dia melangkah keluar dari kamar. Mbah Yahya langsung berlari menyusul, lalu mencekal pergelangan tangan kirinya.
"Jangan datang, Ram. Apalagi sendirian. Daddy kasihan padamu," pinta Mbah Yahya. Berbeda dengan ekspresi wajahnya yang tampak sedih, Rama justru biasa saja.
"Malah lebih bagus sendirian, Dad. Siapa tahu aku ketemu jodoh di sana. Citra 'kan kata Daddy anak kuliahan. Pasti teman-temannya banyak yang datang."
"Nanti yang ada kamu malah ketemu Gisel, Ram. Kamu bisa-bisa digosipin!" tegur Mbah Yahya setengah berteriak. Tetapi anaknya itu tak mendengar, dia meneruskan langkahnya hingga menuruni anak tangga. 'Kasihan Rama. Sudah tua tapi belum dapat pasangan. Apa jangan-jangan jodohnya belum lahir kali, ya?' batinnya sedih.
__ADS_1
...Udah lahir, Mbah, jodohnya 🤣 cuma Author masih bingung nyari yang cocok 🙈...