
"Gilanya kenapa? Katanya Om mau air dingin." Citra menaruh baskom itu di atas meja tepat di depan Steven, kemudian dia masuk ke dalam kamar lalu membawa handuk kecil dan diulurkan padanya.
"Apa maksudnya?" Kening Steven mengerenyit. Dia terlihat heran pada istrinya.
"Om mau air dingin buat kompres, kan? Jadi ini handuknya."
"Siapa yang mau buat kompres?" Mata Steven langsung melotot. "Aku mau air dingin buat minum, Cit! Haus!" sungutnya dengan emosi yang meledak.
"Oh, haus. Bilang dong dari tadi." Citra terlihat sangat santai menanggapi, dia pun menaruh handuk itu ke atas meja, kemudian menuju dapur lagi.
Steven segera menyentuh dadanya, dongkol sekali rasanya di dalam sana. 'Citra ini beneran anak kandungnya Ayah Danu bukan, sih? Kok oon banget.'
Mungkin ini untuk pertama kalinya dia menyuruh gadis itu dan ternyata tak semudah dibayangkan padahal hanya air minum.
Citra pun kembali dengan membawa nampan yang berisi teko kaca yang cukup besar dan gelas. Di dalam teko yang terisi air itu ada es batunya.
"Ini, Om." Citra menaruh apa yang dia bawa di atas meja di dekat Steven, pria itu berdecak lalu geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ini kebanyakan, aku hanya butuh segelas doang." Sambil menggerutu Steven menuangkan air itu ke dalam gelas, belum sempat dia tenggak. Baru nempel dibibir lalu dia pun bertanya, "Ini air minum 'kan yang kamu bawa?" Steven ragu, takutnya Citra mengisi air kran.
"Iyalah."
"Ambil di mana kamu?"
"Dispenser."
Steven menghela napas lega, setelah itu dia baru bisa menenggaknya sampai habis, begitu segar, dingin mengaliri tenggorokannya.
"Oya, kamu pacaran sama si Bau, Cit?" Steven ngusap sisa air dibibirnya lalu menaruh gelas di atas meja. Wajahnya tampak kesal saat tiba-tiba teringat dengan wajah lelaki itu.
"Terus kamu cinta sama dia?"
"Pacaran saja nggak apa lagi cinta. Kan Om tahu kalau aku cintanya sama Om doang."
"Tapi dia tadi bilang kalau kamu sudah jadi pacarnya," ujar Steven asal. Dia sengaja mengatakan hal itu sebab ingin melihat saja bagaimana reaksi Citra.
__ADS_1
Gadis itu membulatkan matanya dengan lebar, lalu menggeleng cepat. "Nggak! Dia memang tadi siang nembak aku. Tapi aku tolak."
'Ah si Udin kurang ajar banget. Ngapain ngomong aku dan dia jadian, Om Ganteng pasti cemburu nih,' batin Citra. Entah mengapa dia menjadi gelisah, takut jika Steven marah padanya.
'Nembak? Si Bau itu nembak Citra? Apa nggak ngaca dulu dia?' Steven terkekeh sebentar.
"Aku berani bersumpah kalau aku dan Udin nggak ada apa-apa, Om," imbuh Citra sembari mengangkat dua jarinya yang membentuk huruf V.
"Aku nggak suka padanya, kamu bisa nggak sih, nggak usah temenan sama dia?" tanya Steven.
"Nggak sukanya kenapa?"
"Nggak musti aku jelaskan juga kamu pasti tahulah. Sejak melihatnya saja aku jijik, sudah begitu dia seperti anak berandalan."
"Udin 'kan manusia, Om. Masa Om bilang dia jijik. Apa nggak terlalu kejam?"
"Aku jijik sama penampilan dan baunya! Kamu ini paham nggak, sih?!" tukas Steven yang mulai emosi lagi, padahal dia sempat mencoba untuk menghilangkannya. "Lagian kamu juga, ngapain mau temenan sama anak seperti itu. Apa manfaatnya? Dia itu bikin polusi udara!"
__ADS_1
Citra menyentuh kedua telinganya, ucapan Steven yang cukup keras itu membuat telinganya berdengung. Tetapi dia sendiri memahami kalau Steven marah dikarenakan rasa cemburu menurutnya. "Aku temenan karena Udin baik orangnya, Om. Tapi kalau Om cemburu gara-gara aku dekat dengannya ... aku bisa menjauhi Udin demi Om."
...Cie elah, emang iya Om Steven cemburu? 🤣kalau nggak, jangan nangis ya Cit. ðŸ¤...